Indonesia
NovelToon NovelToon
Diam-diam Cinta

Diam-diam Cinta

Status: tamat
Genre:Dokter / Komedi / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:635.2k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.

"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.

“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.

“Eh -- "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Kangen

Bab 15

 

Lisa membereskan peralatan tugasnya. Timbangan digital, alat tensi serta pengukur suhu tubuh ke dalam laci meja lalu menuju ruang praktek Asoka. Merapikan dan mengembalikan peralatan pemeriksaan. Asoka pamit lima menit yang lalu menuju Bandung untuk keperluan pendidikannya. Paling cepat malam ini dia langsung balik atau hari minggu.

Sudah sepakat dengan dokter Agus akan menggantikannya besok kalau kepulangannya tertunda.

“Dokter Asoka kemana?”

Lisa menoleh sudah ada Marina di tengah pintu bersedekap menatap sengit kearahnya.

“Sudah pulang dok.”

“Maksudnya pulang ke Jakarta?”

Lisa menggeleng. Tidak ingin menjelaskan detail kemana Asoka pergi. Untuk apa pula berbagi informasi dengan rival. Hah, rival nih. Iya, Marina terlalu jelas menunjukan ketertarikan pada Asoka.

Namun, rasa percaya diri Lisa cukup tinggi dihadapan Marina karena sikap dan perhatian seorang Asoka Harsa.

“Terus kemana?”

“Yang saya tahu, mau temui dosen apa siapa gitu. Permisi, dok.” Melewati Marina keluar dari ruangan itu, Marina pun bergeser karena pintu akan ditutup oleh Lisa.

“Padahal udah janjian mau pergi weekend ini.”

Lisa mengernyitkan dahi mendengar ucapan Marina yang berlalu kembali ke ruang prakteknya. Agak ragu meyakini ucapan perempuan itu, tapi Marina sepertinya begitu yakin saat mengatakannya.

“Mereka janjian?” gumam Lisa.

“Mbak Lisa, dipanggil Rama,” seru Sapri.

“Ah iya, sampai Lupa.” Lisa bergegas menuju IGD, belum lama memang ada ramai yang membawa pasien kecelakaan. Motor dengan motor, maksudnya Lisa akan menyusul setelah membereskan mejanya, ternyata malah tertahan oleh mak lampir.

Mengabaikan dulu masalah Asoka dan ucapan Marina, fokus menolong pasien bersama Rama.

“Ram, yang ini ….” Pasien yang ditangani Rama, mendapatkan luka cukup parah bahkan tidak sadarkan diri.

“Iya gue tahu, Sapri udah panggil Bang Beni untuk siapin ambulance. Kebetulan banget, dokter Oka nggak ada. Urus yang di sana, Sa.”

Lisa berpindah brankar dan fokus dengan pasien satunya. Tugas sebagai perawat ia hanya membersihkan area luka dan membuat rekam medis, serta mendampingi dokter bertindak. Saat ini tidak ada dokter, pasien akan dipindah ke rumah sakit terdekat.

“Sudah siap, Ram,” pekik Beni lalu membuka pintu IGD lebar-lebar dan menurunkan brankar dari ambulance dan membantu Rama memindahkan pasien.

“Sa, gue ikut ambulance. Lo stand by di sini ya.”

“Iya,” sahut Lisa tanpa menatap, fokusnya menjahit luka dari pah4 pasiennya.

“Sapri, panggilin Yuli,” teriak Rama sebelum menutup pintu ambulance.

Caca, staf bagian pendaftaran mendatangi Lisa dengan kertas rekam medik. Menuliskan apa yang dijelaskan Lisa yan tangannya cekatan memberikan lima jahitan.

"Teh, hubungi dokter Agus ya, minta kesini lebih cepat. Jadwalnya dia piket sekalian periksa pasien ini,” titah Lisa pada Caca yang langsung sigap menghubungi sesuai permintaan.

Lisa membersihkan noda dar4h di ranjang pemeriksaan dan memposisikan agar pasien lebih nyaman. Melepas sarung tangan dan memasukan ke dalam keranjang limbah. Kembali menghampiri ranjang, tepatnya ke keluarga pasien.

“Tidak boleh pulang dulu ya, harus diperiksa dokter. Tadi ada keluhan pusing karena benturan ‘kan?”

“Iya, sus.”

“Nanti dokter yang putuskan, boleh pulang atau dirujuk seperti pasien yang tadi.”

Yuli tergopoh-gopoh mendatangi IGD dari pintu penghubung.

“Ada apaan Lis?”

“Oh, ini pasien kecelakaan,” sahutnya sambil menuliskan kejadian tersebut di agenda IGD. “Rama antar pasien ke RS. Kamu standby di sini aja ya, biar gampang kalau butuh."

“Oh,” jawab Yuli menempati kursi berseberangan dengan Lisa.

“Teh, ibu, dokter tolong istri saya,” seseorang berteriak di depan IGD menunjuk ke arah mobil pick up.

Yuli dan Lisa langsung bergerak keluar. Mendapati seorang wanita berbaring ditemani wanita paruh baya, mengusap perut yang membola sepertinya akan melahirkan.

“Bisa turun?” tanya Yuli dan pasien mengangguk meski sedang kesakitan.

Si bapak menurunkan pintu belakang mobil pick up. Lisa yang tubuhnya lebih kecil dari Yuli langsung naik untuk membantu pasien turun. Yuli dan si bapak bersiap di bawah menyambut pasien.

“Pelan-pelan aja bu, duduk dulu lalu geser pelan. Kita ke belakang ya, poned di belakang.”

Lisa memanggil Sapri, karena pasien sudah dibantu Yuli, serta keluarganya untuk ke gedung belakang untuk tindakan melahirkan.

“Kenapa mbak?”

“Hubungi bang Beni, kalau udah sampe suruh langsung balik. Jaga-jaga ada yang harus dirujuk lagi.”

“Okeh, siap mbak.”

***

Lisa mengeratkan jaketnya, di luar hujan dan dia masih berada di IGD mengawasi kondisi pasien. Dokter Agus sudah memeriksa dan pasien dalam observasi. Dia menguap melihat jam dinding hampir pukul 5 sore.

Yuli menemani pasien yang tadi akan melahirkan ke rumah sakit, ternyata ada riwayat sungsang dan asma. Tidak memungkinkan untuk tindakan di puskes.

“Gantian, ngopi dulu sana.” Rama menepuk bahu Lisa lalu menghampiri pasien dan menanyakan keluhannya.

Malas beranjak karena di luar hujan, pulang pun di rumah sepi. Mungkin hanya ada Sapri. Lisa membuka ponselnya, ada pesan dari Asoka.

...Dokter Asoka...

Lagi apa? Aku baru sampe

“Ck, nggak nanya,” gumam Lisa, kesal mengingat ucapan Marina siang tadi. Padahal ia bisa saja menanyakan langsung pada Asoka, tapi tidak enak. Khawatir dianggap cemburu buta dan posesif.

...Dokter Asoka...

Sibuk? Kok dibaca doang

^^^Iya, ada pasien^^^

^^^Tadi ada yang nyariin dok^^^

Siapa?

^^^Dokter Marina^^^

Oh. Kamu nggak nyariin?

Nggak kangen?

“Dih, gombal.” Meski hatinya kesal, tapi bibirnya mengu-lum senyum. Ada pesan lainya dari sang dokter.

Kalau aku udah kangen lagi nih

Pesan berikutnya dari pak dokter. Aahh, hati, jantung, masih oke 'kan?

1
Mei Saroha
aq baca kisah rama purwangga duluan thorr 😄
Mei Saroha
ud seminggu ini marathon karya kak dtyas. seruuuu 😁😁😁
dtyas (ig : dtyas_dtyas): wah, semoga betah ya 🤭😊
total 1 replies
Gia Nasgia
Outo bingung inimah baca yg mana dulu 😂🤭
Gia Nasgia
Terhibur banget kakak Othor dan semoga makin sukses untuk karya selanjutnya 👍💪
Gia Nasgia
Ternyata cuma Darma yg belum siap jadi ayah
Gia Nasgia
otw kakak othor
Gia Nasgia
Happy ending 😍🥰🥰
Gia Nasgia
Tahu aja lu Ram 😂🤣
Gia Nasgia
ciee bu Bidan jodohnya Dokter juga 😍
Gia Nasgia
Kering gigi klau baca grup sengklek 😂
Gia Nasgia
Next
Gia Nasgia
Asli koplak emang 🤣🤣🤣
Gia Nasgia
ciee pucuk di cinta jodohnya Rama lagi otw 💃🥰
Gia Nasgia
Hahaha 🤣🤣🤣🤣🤣
Gia Nasgia
penasaran kisah cinta nya Darma 🤔
Gia Nasgia
Ngenes banget kisah cinta nya Rama 😂
Gia Nasgia
wah Dokter Oka makin berani aja 😂
Gia Nasgia
otw halal pak Dokter abd Lisa😍😍🥰🥰
Gia Nasgia
Rama gass kan 😂
Gia Nasgia
Ciee jodohnya Rama di depan mata 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!