Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Keheningan kamar masa kecilnya kini terasa bagai benteng pertahanan yang tak tertembus. Di atas meja kerja, uap tipis dari Wagyu Steak lada hitam milik Mahika masih membubung lembut, menghembuskan aroma gurih yang menggugah selera. Mahika memotong daging itu dengan gerakan sangat tenang, menyuapnya perlahan, dan menikmati tiap gigitan tanpa terburu-buru.

​Rasa gurih lezat yang dulu selalu ia tekan demi menghemat uang kini memanjakan lidahnya. Sensasi ini bukan sekadar tentang makanan mewah, melainkan simbol bahwa rantai pengorbanan konyol yang membelenggunya selama bertahun-tahun telah ia putus secara mendasar.

​Setelah menyelesaikan makan malamnya dengan nikmat, Mahika mengelap jemarinya dengan tisu basah. Ia mendorong kotak makanan ke sudut meja, lalu menarik laptop lipat milik pribadi yang ia beli dari bonus proyek tahun lalu. Layar laptop menyala, memancarkan cahaya putih yang memantul di manik mata indahnya yang kini tampak dingin dan penuh perhitungan.

​"Kalian pikir aku akan menangis dan menyerahkan semuanya begitu saja?" bisik Mahika pada kesunyian kamar. Senyum tipis mengulas di bibirnya. "Reno... kamu terlalu meremehkan wanita yang selama ini kamu sebut polos."

​Malam ini adalah malam konsolidasi. Sebelum meledakkan bom utama pada hari pernikahan, Mahika harus memastikan seluruh aset dan hak finansialnya terkunci rapat. Ia tidak boleh menyisakan sedikit pun celah yang bisa dimanfaatkan oleh Reno maupun keluarga toxic-nya.

​Jemarinya menari lincah di atas papan ketik. Mahika membuka folder terenkripsi yang berisi seluruh dokumen digital terkait rumah dua lantai bernuansa Japandi Modern itu.

​Memang benar, sertifikat tanah dan bangunan sudah terbalik nama secara sah atas nama Kalea Mahika. Reno mengira tindakan manis itu adalah umpan mematikan untuk mengikat rasa percaya Mahika selamanya, sekaligus investasi jangka panjang karena mereka akan menikah. Reno beranggapan, setelah akad diucapkan, rumah itu otomatis menjadi milik mereka berdua yang bisa ia kuasai penuh bersama Gisella di belakang punggung Mahika.

​Namun Reno lupa satu hal rumah itu sepenuhnya terdaftar atas nama Kalea Mahika secara hukum.

​Mahika menatap dokumen sertifikat digital di layarnya. Ide liar yang sangat mematikan mendadak terlintas di kepalanya.

​Reno merasa rumah itu akan menjadi milik mereka berdua. Reno bahkan berencana membawa Gisel kencan gelap di sana di belakang punggungnya.

​"Mengapa aku harus memberi kompensasi sepersen pun pada pria brengsek yang sudah mengkhianatiku selama dua tahun?." batin Mahika dengan senyum dingin.

​Mentransfer uang kembali ke Reno? Tidak. Sama sekali tidak. Pria yang memanfaatkannya selama bertahun-tahun tak berhak mendapatkan satu rupiah pun dari hasil keringatnya.

​Mahika memutuskan sebuah rencana yang jauh lebih kejam ia akan menjual rumah itu secara diam-diam.

​Ia akan mencari pembeli cash secepatnya melalui agen properti independen terpercaya. Seluruh transaksi penjualan akan diselesaikan secara rahasia sebelum hari pernikahan tiba. Reno dan keluarganya akan dibiarkan tetap berimajinasi dan membayangkan masa depan manis di rumah baru itu. Mahika sengaja ingin melihat wajah Reno dan Gisella ketika mereka tersadar bahwa rumah impian yang mereka incar sudah berpindah tangan ke orang lain dan uangnya masuk penuh ke rekening pribadi Mahika tanpa sisa.

​Mahika segera membuka aplikasi agen properti langganan kantornya. Ia mengisi formulir pendaftaran penjualan unit rumah Japandi Modern tersebut dengan harga di bawah pasar sedikit agar cepat laku secara cash.

​"Nikmati mimpi kalian selagi bisa," bisik Mahika mantap seraya menekan tombol submit.

​Selanjutnya, Mahika mengeksekusi pengamanan fisik. Melalui aplikasi smart home yang terhubung ke rumah barunya, Mahika mengakses sistem gerbang dan pintu utama. Ia mengubah seluruh kata sandi akses digital, mematikan pemindai sidik jari atas nama Reno, dan mengaktifkan mode keamanan privat. Lusa, ketika Reno sedang dinas luar kota, tim teknisi yang sudah ia sewa akan mengganti seluruh silinder kunci manual dan memasang kamera CCTV tersembunyi di empat sudut rumah.

​Reno tidak akan pernah bisa melangkah masuk ke rumah itu lagi.

​Selesai dengan urusan rumah, Mahika beralih ke berkas finansial lainnya. Ia memeriksa rekening gabungan tidak resmi yang dulu mereka buat untuk operasional acara pernikahan. Dengan sapuan jemari yang cepat, Mahika memindahkan seluruh dana miliknya yang tersisa ke rekening rahasia. Ia membiarkan sisa saldo di rekening gabungan itu bernilai pas-pasan, hanya cukup untuk membayar sisa tagihan wedding organizer yang sudah terikat kontrak.

​Satu per satu benang pengikat finansial antara dirinya dan Reno ia putus secara bersih.

​Setengah jam berlalu dalam hening. Mahika menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kayu, membiarkan pikirannya menjelajah pada skenario besok siang. Pertemuannya dengan Ibu Aura bukan sekadar urusan memindahkan aset digital atau hak cipta desain, melainkan benteng pertahanan kariernya yang harus berdiri kokoh sebelum badai di rumah ini meledak.

​Mahika menyalakan kembali layar ponselnya. Ia menatap nama Ibu Aura (CEO Aura Fashion) di daftar obrolannya.

​Bagi Mahika, Ibu Aura adalah sosok penyelamat. Lima tahun lalu, saat Mahika masih menjadi desainer magang yang sering diabaikan dan karyanya hampir dicuri oleh senior, Ibu Aura-lah yang melihat percikan bakat murni dalam diri Mahika. Wanita paruh baya bertangan dingin itu menarik Mahika secara langsung, membimbingnya, hingga Mahika bisa menduduki posisi Lead Designer di usia muda.

​Bahkan, hubungan bisnis antara pabrik konveksi tempat Reno bekerja dan holding utama Aura Fashion terjalin murni karena draf-draf baju rancangan Mahika selalu laris manis di pasaran. Tanpa Mahika di sampingnya, posisi Reno sebagai Operational Officer sebenarnya sangat rentan. Reno hanya menjadi muka dari setiap keberhasilan karya yang Mahika buat di balik layar.

​Dan besok, panggung yang kubangun untuk Reno akan kuruntuhkan satu per satu, batin Mahika dingin.

​Mahika mengetik pesan dengan jemari yang mantap:

"Assalamu’alaikum, Bu Aura. Maaf mengganggu malam-malam. Jika Ibu ada waktu luang besok siang, apakah saya bisa meminta waktu sebentar untuk bertemu empat mata di ruang kerja Ibu? Ada hal sangat penting terkait draf rancangan koleksi utama dan beberapa hal strategis yang perlu saya sampaikan secara pribadi.

​Hanya butuh waktu kurang dari dua menit, balasan dari sang CEO masuk:

"Wa’alaikumsalam, Mahika. Tentu saja. Jam satu siang setelah makan siang, datang saja langsung ke ruangan Ibu ya. Kita bicara santai. Jangan terlalu lelah, calon pengantin tidak boleh stres."

​Mahika mengukir senyum tipis senyuman yang sarat akan makna tersembunyi. Calon pengantin. Kata itu sebentar lagi akan menjadi lelucon terbesar yang menghancurkan karier dan reputasi Reno Alamsyah.

​Pertemuan besok dengan Ibu Aura adalah kartu as berikutnya. Mahika tidak hanya akan memindahkan seluruh hak cipta dan paten desain terbarunya agar terikat murni secara hukum atas nama pribadinya (bukan atas nama divisi operasional yang dipegang Reno), tetapi ia juga akan mulai membuka jalan untuk mencabut posisi Reno di perusahaan. Tanpa karya Mahika, Reno hanyalah seorang staf operasional biasa yang tidak memiliki nilai tawar.

​Tepat pukul sebelas malam, pintu kamar Mahika mendadak tergetar pelan oleh ketukan ragu dari luar. Suara langkah kaki yang tertahan terdengar di lorong rumah.

​Mahika menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik. Ia tidak bersuara, membiarkan orang di luar sana menunggu.

​"Mahika... kamu sudah tidur?" suara Bu Maya terdengar dari balik pintu, suaranya tak lagi melengking galak seperti di meja makan tadi. Ada gema ketakutan dan kegelisahan yang amat sangat dalam nada bicaranya.

​Mahika mendengus pelan tanpa nada. Ia sengaja membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dari meja kerja tanpa beranjak berdiri.

​"Sudah mau tidur, Bu. Ada apa?" jawab Mahika datar.

​Pintu dibuka pelan dari luar. Bu Maya berdiri di celah pintu yang terbuka sedikit. Di belakangnya, tampak Pak Bambang berdiri mematung di lorong temaram dengan wajah yang dipenuhi kegelapan. Tidak ada lagi gertakan galak dari Pak Bambang, yang ada hanyalah raut wajah cemas seorang ayah yang sadar bahwa kebohongan besarnya mulai goyah.

​"Ibu... Ibu cuma mau tanya soal katering dan gaun pernikahan kamu," ucap Bu Maya berhati-hati, matanya melirik ke arah laptop Mahika yang masih menyala. "Tadi sore kan Reno bilang acara tetap berjalan lancar. Tapi sikap kamu malam ini... kok seperti orang yang sedang marah besar?"

​Mahika memutar kursinya, menatap kedua orang tuanya secara langsung dari balik temaram lampu meja. Tatapannya begitu dingin, lurus, dan hampa.

​"Aku marah?" tanya Mahika dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Marah kenapa, Bu? Bukannya di rumah ini yang sering marah-marah itu Ibu sama Bapak kalau aku tidak mau mengalah buat Kak Gisel?"

​Pak Bambang berdehem keras, mencoba menguasai suaranya. "Mahika, Bapak sama Ibu ini orang tuamu. Sikapmu malam ini di meja makan tadi betul-betul tidak sopan! Kamu memperlakukan Kakakmu seperti orang asing."

​"Kak Gisel memang terasa seperti orang asing buatku belakangan ini, Pak," potong Mahika cepat. "Bukan cuma Kak Gisel, tapi Bapak dan Ibu juga."

​Wajah Bu Maya mendadak pias. Tangannya meremas pinggiran kain daster batiknya. "Maksud kamu apa ngomong begitu, Mahika?!"

​"Maksud aku?" Mahika berdiri anggun dari kursinya, melipat kedua tangannya di dada. "Aku cuma mau mengingatkan Ibu dan Bapak. Acara pernikahan ini tinggal tiga puluh hari lagi. Seluruh dana yang dipakai buat bayar gedung, katering, dan gaun... itu dari uangku. Jadi kalau ada hal-hal yang tidak sesuai sama kemauanku, atau ada orang-orang di rumah ini yang coba-coba menusukku dari belakang... aku tidak akan ragu buat membatalkan semuanya."

​Kalimat ancaman itu terlempar begitu tegas di udara kamar.

​Bu Maya dan Pak Bambang membeku seketika. Tubuh Bu Maya bergetar tipis. Ketakutan terbesar mereka yaitu reputasi keluarga hancur karena pernikahan batal dan kebohongan perselingkuhan Gisella terbongkar di depan publik kini membayang nyata di depan mata.

​"Kamu jangan aneh-aneh ya, Mahika!" tegur Bu Maya dengan suara bergetar panik. "Undangan sudah dicetak! Malu keluarga kita kalau sampai ada apa-apa!"

​"Kalau begitu, jaga sikap kalian," balas Mahika dingin. "Jangan ganggu aku lagi malam ini. Aku mau istirahat."

​Tanpa menunggu balasan dari kedua orang tuanya, Mahika melangkah mendekati pintu, lalu menutup pintu kayu itu tepat di depan wajah Bu Maya dan Pak Bambang.

​Klik.

​Suara kunci yang diputar menggema tegas.

​Di luar pintu, terdengar bisikan panik dari Bu Maya dan helaan napas berat Pak Bambang sebelum suara langkah kaki mereka perlahan menjauh menuju kamar depan.

​Mahika menyandarkan punggungnya di pintu kamar yang terkunci. Ia menghembuskan napas panjang, merasakan kepuasan yang mendalam melihat betapa mudahnya membuat ketiga penjahat di rumah ini gemetaran hanya dengan gertakan halus.

​Mereka semua tidak tahu bahwa sang domba yang selama ini selalu mengalah, kini telah menjelma menjadi serigala yang sedang menuntun mereka masuk ke dalam jurang kehancuran yang diciptakan oleh keserakahan mereka sendiri.

​Mahika melangkah menuju tempat tidur, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur temaram di sudut meja. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, memejamkan mata dengan dada yang penuh akan kepastian.

​"Kalian menikmati malam ini dalam ketakutan yang semu," bisik Mahika pelan sebelum memejamkan matanya. "Tidurlah yang nyenyak... selagi kalian masih punya tempat untuk tidur."

1
sutiasih kasih
gmn rasanya... klean jdi gembel😅😅
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
Ernaaaaa
makasih Thor
merry
jdi gelandangan dech klian
merry
bisa gk hdp tnp mahika dan kluarga mu reno dan untuk cari krj susah nama mu dh terkenal 🤭🤭🤭🤭
sutiasih kasih
smpe sana.... rumah udh di jual😂😂😂😂😂😂
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
Lee Mba Young
selamat menikmati jd gembel
Mundri Astuti
mang dah bener ma pas ya, si Reno ma keluarga si sel ..sel..
Mundri Astuti
owh ortunya Reno org ada toh, tapi ko anaknya dompleng mahika yak🤔
sutiasih kasih: knaoa mndompleng mahika yg dri kalangan biasa....
mmbingungkn🤔🤔🤔
total 2 replies
Lee Mba Young
tanpa harta selamat mnikmati
Mundri Astuti
mang bisa tuh anak kesayangannya bangun atap aja, jangan bangun rumah dah
sutiasih kasih
di bangun lgi dunk rumah yg sdh runtuh.....
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
Tining Revi
bukanya mahika berhijab thor. kok "puji Tuhan"
merry
pdhl tdi mau bongkar ditmpt mrk resepsi dihotel tau ya mrk cm resepsi di tanah kosong dan mahika lewat live ig buat mrk maluu 🤭🤭🤭🤭se kanoha pd tau lhh
Mundri Astuti
sekali tepok ....jatuh semua .... gayanya mahika kereeennnn....Badas....😂😂😂
sutiasih kasih
tamatlah sudah riwayat para pmbohong & penghianat......
😂😂😂😂😂😂
Heni Setiyaningsih
Mahika,,,,,,, KEREN!! gk perlu teriak teriak cuma tunjukkan hasil dari kerja kamu, siapa itu Reno dan klrg toxic, hempaskan😂😂
Agunk Setyawan
bacanya deg"an banget🤣
Humay Uum
dtunggu bomy KK Thor 💪💪💪💪
falea sezi
kelamaan bertele tele 🤣
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!