"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Adam yang mulai kehilangan
Rosa melangkah lebar menerobos tubuh Adam, menyenggol bahu suaminya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Minggir, ah! Bikin sempit aja!" cetusnya jutek.
Brak!
Suara pintu depan dibanting keras sampai bergetar, meninggalkan Adam dalam keheningan yang makin bikin dada sesak.
Adam ngelus dadanya pelan. Dengan langkah berat, dia berjalan ke dapur, menyingsingkan lengan kemeja kerjanya, lalu ngambil sapu sama kain pel. Tangannya gemetar karena kelelahan fisik dan mental, tapi dia cuma bisa mulai menyapu dan mengepel sisa makanan yang berserakan di lantai.
Pas lagi menggosok noda lengket di keramik, ingatan masa lalu mendadak muter lagi di kepalanya. Dulu, dia nggak pernah perlu pusing mikirin lantai rumah bersih atau enggak. Nggak pernah pusing mikirin baju kerja yang menumpuk. Tiap kali pulang, rumah selalu wangi, kemejanya udah tergantung rapi, dan Fitri selalu nunggu di meja makan sambil senyum manis.
Fitri nggak pernah mengeluh, padahal jadwal koas kedokterannya padat banget dan masih harus ngerawat ibunya yang sakit. Cewek itu ngerjain semuanya tanpa banyak bacot, nggak pernah nuntut kemewahan atau baju bermerek.
"Kenapa... kenapa dulu aku bego banget sampai nggak bisa liat semua itu?" bisik Adam pelan ke ruangan yang sepi.
Adam terduduk lemas di lantai dapur yang dingin, memegangi gagang sapu erat-erat. Air mata penyesalan yang dari kemarin dia tahan akhirnya menetes juga, basahin keramik yang sekarang harus dia bersihkan sendiri.
Keesokan harinya, matahari siang lagi terik-teriknya di parkiran sebuah mal mewah daerah Jakarta Selatan. Adam duduk di dalam mobil. AC udah menyala dingin, tapi pelipisnya tetap basah kuyup sama keringat dingin. Di genggamannya, HP-nya bergetar terus tanpa henti.
Layar menampilkan notifikasi pesan dari bank: Transaksi Pembayaran Kartu Kredit Gagal (Over Limit).
Darah Adam serasa berhenti mengalir. Belum sempat dia tenangin diri, HP-nya mendadak berdering nyaring. Nama 'Rosa' tertera di layar.
Adam narik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Rosa?"
"Mas! Kamu gimana sih?!" suara melengking Rosa meledak seketika dari seberang telepon. "Malu-maluin aku banget, tahu nggak! Pas aku mau bayar tas sama dua pasang sepatu di kasir, kartumu malah ditolak! Ini temen-temenku lagi pada ngeliatin, Mas! Mau ditaruh di mana mukaku?!"
Adam memejamkan mata erat-erat, memegang setir mobil sampai buku-buku jarinya memutih. "Rosa, kartu itu over limit karena kamu udah pakai lebih dari tiga puluh juta bulan ini! Aku baru bayar tagihan minimal minggu lalu, kamu pikir uangku nggak ada habisnya?"
"Ya kamu transfer bank sekarang dong!" cecar Rosa tanpa beban. "Aku butuh lima belas juta sekarang juga buat melunasi belanjaanku! Malu tahu nggak kalau sampai barang-barangnya dibatalkan!"
"Aku nggak ada uang lagi, Rosa!" potong Adam, suaranya naik drastis meluapkan frustrasi yang udah numpuk di dadanya. "Tabunganku udah ludes! Gaji bulan ini baru masuk dua minggu lagi. Kamu bisa nggak sih, stop beli barang-barang nggak guna begitu?!"
Keheningan sejenak terjadi di seberang telepon, sebelum akhirnya tawa sinis Rosa terdengar. "Barang nggak guna kamu bilang? Mas, aku butuh semua ini buat tampil di acara ulang tahun temanku nanti malam! Kamu yang janji bakal nanggung hidupku dengan layak, sekarang malah bikin aku dipermalukan di depan umum!"
"Menafkahi itu bukan berarti nurutin gaya hidupmu yang makin gila!" sergah Adam emosi. "Coba kamu mikir pakai otak sedikit! Kita ini punya cicilan rumah, kebutuhan harian, terus utang sisa nikahan mewah yang kamu minta kemarin! Kenapa kamu cuma tahu meras uangku tanpa peduli kondisiku sedikit pun?!"
"Oh, sekarang kamu berani ngungkit-ngungkit masalah uang sama aku?"sahut Rosa dengan nada dingin yang bikin sakit hati. "Dengerin ya, Adam. Kalau kamu emang nggak sanggup biayai hidupku, bilang dari awal! Nggak usah sok kaya ngajak nikah! Kamu pikir aku mau hidup melarat sama kamu? Mending aku cari cowok lain yang lebih kaya daripada bertahan sama suami kere kayak kamu!"
TUT! TUT! TUT!
Sambungan telepon diputus sepihak. Adam melempar HP-nya ke kursi penumpang. Dia menyandarkan kepala ke jok, napasnya memburu kencang. Kata-kata Rosa bener-bener kayak nampar harga dirinya sebagai laki-laki.
Rasa penyesalan di dada Adam berubah jadi rasa pahit yang dalam banget. Dulu, dia membela Rosa mati-matian di depan almarhumah ibunya. Dia merendahkan Fitri, mengabaikan ketulusan mantan istrinya yang rela hidup sederhana dan berhemat. Fitri nggak pernah sekali pun nanyain sisa gajinya, nggak pernah nuntut barang bermerek, dan selalu pintar mengelola uang dapur.
Tapi sekarang? Cewek yang dulu dia agung-agungkan justru injak-injak dia, cuma dijadiin mesin ATM berjalan.
Adam ngeliat bayangan dirinya sendiri di kaca spion. Wajahnya kusam, matanya sayu, dan kantung matanya menghitam. Di tengah mobil-mobil mewah di sekelilingnya, Adam baru sadar satu hal: dia udah buang permata cuma demi dapetin kerikil tajam yang sekarang malah melukai kakinya sendiri.
Malam makin larut, tapi suasana di rumah justru makin panas.
Brak! Pyar!
Suara barang dibanting dan diinjak pecah bersahut-sahutan. Adam berdiri di tengah ruang tamu yang berantakan, menatap Rosa dengan mata merah menahan amarah.
Di atas meja kaca, beberapa lembar surat tagihan berserakan. Nggak cuma kartu kredit yang menunggak, Adam baru aja ngecek m-banking dan mendapati fakta bikin elus dada: uang simpanan darurat di rekening bersama udah ludes tanpa sisa.
"Uang lima puluh juta di rekening simpanan ke mana, Rosa?!" bentak Adam, suaranya menggelegar di dalam rumah. "Itu uang cadangan buat bayar cicilan rumah sama biaya darurat! Kenapa bisa nol rupiah?!"
Rosa yang berdiri di dekat sofa sama sekali nggak takut. Cewek itu malah menyilangkan tangan di dada, mendengus keras sambil menatap balik dengan tengil.
"Ya kupakai lah! Memangnya buat apa lagi?" balas Rosa enteng. "Kemarin teman-temanku mau ngajak liburan ke Bali buat bikin konten. Masa aku pergi nggak bawa uang saku? Lagian baju, tas, sama koperku kan harus baru semua biar nggak keliatan kampungan di kamera!"
"Nggak kampungan kamu bilang?!" Adam tertawa sumbang, hampir frustrasi. "Kamu sadar nggak sih, kamu itu numpukin utang di mana-mana cuma demi gengsi media sosialmu itu?! Itu uang darurat, Rosa! Uang darurat!"
"Duh, berisik banget sih, Mas! Tinggal cari lagi apa susahnya?!" Rosa mengibaskan tangannya santai. "Lagian kamu jadi cowok kok perhitungan banget sama istri sendiri? Cuma lima puluh juta aja diributin kayak mau kiamat!"
"Cuma kamu bilang?" Adam maju satu langkah, menunjuk muka Rosa dengan tangan gemetar. "Lima puluh juta itu hasil keringatku kerja lembur tiap hari sampai sakit! Sedangkan kamu? Kamu cuma tahu foya-foya! Tau gitu, dari awal aku nggak usah pedulikan kamu dan tetep sama Fitri!"
Mendengar nama itu, ekspresi Rosa langsung berubah makin sinis. "Oh... mulai kan? Mulai banding-bandingin aku sama mantan istrimu yang udik itu? Basi tahu nggak, Mas! Kalau emang Fitri sesempurna itu, kenapa dulu kamu ninggalin dia demi aku? Hah?!"
~Bersambung~~~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.