Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 - Memaafkan

Malam kian melarut, membungkus kamar kontrakan sempit itu dalam kehangatan yang tak pernah Tia rasakan sebelumnya. Tia tertidur lelap dengan senyum manis yang masih mengembang di bibirnya. Bunga tidurnya malam itu penuh dengan bayangan indah tentang masa depan bersama sang pawang buaya yang kini bertransformasi menjadi pangeran miliarder.

Sementara itu, di lantai VIP Rumah Sakit Medika, atmosfernya seribu kali lebih hening dan syahdu.

Samsudin duduk di samping ranjang Papa Norman. Bunyi monitor detak jantung berbunyi bip lambat dan melemah. Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari ketika Norman perlahan membuka matanya. Tatapan pria tua itu samar, namun saat melihat keberadaan Sam di sisinya, segaris senyum tipis terukir rapuh di balik masker oksigennya.

"S-Sam..." panggil Norman dengan suara sehalus helaan angin.

Sam bergerak maju, menggenggam jemari ayahnya yang makin dingin dan kurus. "Iya, Pa... Sam di sini."

Norman mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, menatap wajah putra tunggalnya dengan pandangan penuh penyesalan, kebanggaan, sekaligus rasa lega yang luar biasa.

"Terima kasih... sudah mau memaafkan Papa..." bisik Norman terbata-bata, setiap katanya ditopang oleh sisa napas terakhir. "Kelola... kelola Norman Corp dengan baik, Nak... Gunakan bisnis dan harta itu... untuk menolong banyak orang... dan membahagiakan keluargamu... Papa percaya... kamu akan jadi pimpinan yang jauh lebih baik... dibanding Papa..."

"Iya, Pa," sahut Sam pelan, mengangguk mantap. "Sam janji."

Norman tersenyum tulus. Matanya pelan-pelan terpejam, napasnya menghembus panjang satu kali, dan grafik di layar monitor jantung perlahan merata menjadi garis lurus. Suara dengung panjang bernada datar memenuhi ruangan VIP tersebut. Norman telah pergi untuk selamanya.

Sam berdiri mematung di samping ranjang. Jujur, rasa duka di dadanya tidak sampai meremukkan jiwanya. Bagaimanapun juga, hubungan mereka terpisah oleh tembok waktu selama beberapa tahun, sehingga ikatan batinnya tak seerat ikatan anak dan ayah pada umumnya. Namun, ada rasa hormat, iba, dan kedamaian yang pekat mengalir di relung hati Sam. Dendam masa lalu telah tuntas, ditutup oleh keikhlasan dan pengampunan.

Setelah proses pemulasaraan jenazah Papa Norman diurus secara tertutup dan profesional oleh Hendra beserta tim Norman Corp, Sam duduk di ruang tunggu VIP rumah sakit. Hatinya menyadari satu hal penting yang tak boleh ditunda lagi.

Ia harus jujur pada sang ibu di kampung.

Selama ini, Sam sengaja menutupi keberadaan Norman demi menjaga kedamaian pikiran ibunya. Namun kini, setelah Norman berpulang dan seluruh warisan triliunan resmi jatuh ke tangannya, kejujuran adalah satu-satunya jalan.

Sam menyambar ponselnya, mendial nomor rumah di kampung halaman.

Begitu panggilan terhubung, suara lembut sang ibu menyapa. Tanpa berbelit-belit, dengan nada hati-hati dan penuh penghormatan, Sam membocorkan segalanya, tentang penderitaan penyakit Norman, momen pembalasan maaf di akhir hidupnya, hingga status Sam yang kini resmi menjadi pewaris tunggal imperium Norman Corp.

Panggilan telepon itu sempat hening selama sepuluh detik yang mencekik.

Lalu, ledakan emosi sang ibu terdengar menembus saluran telepon. Ibu Sam menangis histeris bercampur emosi jiwa!

"Samsudin! Kamu gila ya?!" cerocos sang ibu dari balik telepon dengan suara melengking. "Kenapa kamu baru cerita sekarang?! Kenapa kamu urus pria penipu itu tanpa memberi tahu Ibu?! Kamu menganggap Ibu ini apa, Din?!"

Sam meringis pasrah, memegangi keningnya. "Maafkan Sam, Bu... Sam cuma tidak mau Ibu kepikiran dan luka lama Ibu terbuka lagi..."

Di kampung halaman, ayah tiri Sam, pria tua bersahaja yang duduk di samping istrinya, langsung merebut ponsel tersebut. Berkat bantuan biaya pengobatan dan resep obat mahal yang rutin dikirimkan Sam akhir-akhir ini, penyakit asam uratnya sudah jauh lebih membaik dan kondisinya kini cukup sehat serta segar.

Pria tua itu mengelus bahu istrinya yang sesenggukan, lalu berbicara ke telepon dengan suara yang sangat tenang, bijak, dan penuh kasih sayang.

"Sudah, Bu... Jangan marahi Udin..." panggil sang ayah tiri lembut pada istrinya. "Udin itu anak yang sangat berbakti. Lihat sendiri, biarpun sibuk di kota, dia tetap tidak pernah lupa kirim obat asam urat terbaik buat Bapak sampai Bapak bisa jalan segar lagi sekarang."

"Tapi Pak! Pria jahat bernama Norman itu—"

"Norman sudah tidak ada, Bu," potong sang ayah tiri dengan kehangatan yang sanggup meluluhkan es batu. "Sepuluh tahun lalu, dia memang membuat kesalahan besar pada kita. Tapi di akhir hidupnya, dia sudah bertobat dan memastikan Udin tidak kekurangan lagi. Maafkanlah dia, Bu... Kasihan almarhum. Biar beliau tenang di alam sana. Dan kita... harus bersyukur punya anak sehebat Udin."

Mendengar bisikan tulus dan kedewasaan dari suami sederhananya yang kini sudah sehat itu, pertahanan amarah Ibu Sam runtuh seketika. Tangis emosinya berubah menjadi tangis haru yang terisak pelan.

"Iya, Pak... Ibu maafkan..." bisik sang ibu akhirnya dengan napas lega. "Din... maafkan Ibu ya. Ibu cuma kaget. Ibu bangga sama kamu, Nak..."

Sam menghembuskan napas panjang yang terasa begitu ringan. Beban terbesar yang selama ini menggelayut di pundaknya resmi terangkat tuntas. Dampingan ayah tirinya yang bijak dan pengampunan tulus dari ibunya membuat jalan hidup Sam kini benar-benar bersih tanpa bayang-bayang masa lalu.

Sinar mentari pagi mulai menerobos masuk melalui jendela lantai VIP rumah sakit. Samsudin berdiri tegap, merapikan kerah kausnya, lalu menoleh ke arah Hendra dengan binar mata yang mantap.

"Mas Hendra..." ujar Sam.

"Ya, Mas Sam?"

"Urus penguburan Papa dengan penuh penghormatan," perintah Sam mantap. "Setelah itu... antar saya pulang ke kontrakan. Istri saya pasti sudah bangun dan menunggu saya."

"Siap, Mas CEO," sahut Hendra seraya tersenyum bangga.

Sam melangkah keluar dari rumah sakit dengan dada membusung tegap. Pria yang dulunya hanyalah pawang buaya berpenghasilan kasbonan, kini melangkah mantap menyongsong takdir barunya sebagai pimpinan konglomerat sejati, suami tercinta bagi Tia, dan anak idaman bagi keluarga besarnya.

1
Rommy Wasini Khumaidi
wah...sultan pulang kampung
Faidah Ida
jujur tentang Tia jg Sam sama ibumu....
Ardan
tunjukan pesona mu bang 😄👍
Rommy Wasini Khumaidi
pamer dong sama Nia,buruan tlp Nia,bilang suaminya CEO,trs habis dibeliin tas,sepatu sama gaun seharga setengah milyar
Ardan
beuuhhh duhai senang hati mbak tia,
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄
Ardan
duh mustinya bilang ikut untuk mendampingi dong, greget juga nih udah jadi menantu yg diangkat derajatnya oleh harta mertua, kok ga ada empati sih mbak 😌
Arin
Biar tuh pada bengong Tia dan calonnya melihat siapa pemilik perusahaan dia bekerja
Arin
Mas Sam adalah real pewaris yang menyamar🤣🤣🤣🤣😁😁😁😁
Ass Yfa
masih mikirin pinjol...mb Tia pinjolmu udah lunas dari awal
Ass Yfa
kok bentar lagi tamat....yg manis2 aja belum🤭🤭...masih mngglnya mbk lagi😄😄
Arin
Sudah saatnya Tia bahagia. Biarpun dari awal cuman niat nikah kontrak dengan sistem kredit🤭🤭🤭. Demi bungkam mulut saudara-saudaranya. Malah dapat pewaris kaya raya...
Ardan
sedih sih novel bagus kalo udahan, padahal bab nya baru dikit.
Faidah Ida
jgan mengada2 ya thor, no tamat yah, masih mau liat bucin akutnya Sam ke Tia
Dewi kunti
yaaaaahhh mosok Ndak tamat thor
Maya
melongo melongo dah tuh si Tia. jadi org kaya kamu Tia.😄
Anonim
ibunya Tia sama tantenya apa nanti gak pingsan tau menantunya triyulner
Arin
Bagaikan dapat durian runtuh Mba Tia nikah dengan Mas Sam😁. Nikah yang awalnya hanya tuntutan karena sudah berumur. Malah ternyata dapat sang pewaris perusahaan besar
Faidah Ida
atw bucin akut....
Ass Yfa
mau bukti apalagi Tia...sok..mas Sam tunjukkan
Ardan
tenang sam, akan tiba saatnya pada waktu yang tepat untuk sosok sang milyuner muncul dihadapan mba tia👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!