Indonesia
NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33.Serangan terjadi.

Di kediamannya yang kini terasa sunyi dan dingin, Shi Yin melangkah masuk dengan langkah berat dan penuh amarah. Pintu di belakangnya ia banting keras hingga dinding ruangan sedikit bergetar. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan rasa sakit dan kecemburuan yang meluap-luap. Matanya memerah, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Pandangannya jatuh pada vas keramik indah di atas meja kayu — hadiah dari ulang tahunnya yang ke-16. Tanpa pikir panjang, ia menyambar vas itu dan menghantamkannya ke lantai keras-keras.

PRANG! Pecahan keramik berhamburan ke segala arah.

"Tidak... tidak!" teriaknya histeris, suaranya melengking di ruangan yang luas itu. "Li Hua tidak boleh menikahi Putra Mahkota! Hanya aku... aku yang pantas menjadi Putri Mahkota! Dia hanya gadis desa yang tiba-tiba muncul, tidak tahu sopan santun, tidak punya keanggunan sedikit pun! Kenapa semua orang selalu memihak padanya? Kenapa Kaisar lebih memilih dia daripada aku? Tidak adil! Semuanya tidak adil!"

Pelayan barunya yang berdiri di sudut ruangan terkejut, mendekat perlahan dengan wajah cemas namun tetap berusaha tenang. "Nona Shi Yin... mohon tenangkan diri Anda. Jaga kesehatan Anda, jangan terlalu emosi. Jika orang tahu nona meragukan titah kaisar,nanti bisa di hukum. Duduklah dulu, saya buatkan teh penenang."

"Duduk bagaimana aku bisa tenang?!" Shi Yin membalikkan badan, matanya melotot penuh amarah. "Selama delapan belas tahun aku hidup sebagai satu-satunya putri terhormat di rumah ini, dan sekarang dalam sekejap mata dia mengambil semuanya! Kediamanku, kasih sayang Ayah dan Ibu, bahkan masa depan yang seharusnya milikku pun dirampasnya! Aku membencinya... aku sangat membencinya!"

Belum selesai ia meluapkan emosinya, terdengar langkah kaki tergesa-gesa berlari mendekat dari luar pintu. Pelayan yang tadi berdiri di luar bergegas masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi.

"Nona! Nona Shi Yin!" serunya sambil membungkuk tergesa-gesa.

"Ada apa lagi? Apa dia datang untuk mengejekku? Katakan saja padanya aku tidak mau bertemu siapa pun!" bentak Shi Yin kasar.

"Bukan begitu, Nona... ini lebih mengerikan," ucap pelayan itu gemetar, matanya melirik ke arah pintu seakan takut ada sesuatu yang mengikutinya. "Tikus... tikus menyerang kediaman kita!"

Shi Yin mengernyitkan dahi, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Tikus? Apa yang kau bicarakan? Kediamanku selalu bersih dan rapi, tidak ada satu pun serangga atau hewan kotor yang berani mendekat. Dari mana datangnya tikus tiba-tiba?"

"Saya juga tidak tahu, Nona! Tapi benar-benar ada banyak sekali! Mereka sudah masuk ke gudang penyimpanan, dapur, bahkan sampai ke halaman depan kediaman kita!"

Shi Yin menyipitkan matanya, rasa heran perlahan berubah menjadi rasa tidak nyaman. "Itu tidak mungkin... ikut aku. Aku ingin melihat sendiri kebohongan apa yang kalian buat hari ini."

Dengan langkah tegas, Shi Yin berjalan keluar menuju halaman belakang diikuti kedua pelayannya. Namun baru saja ia sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti mendadak, mulutnya terbuka lebar tak percaya.

Pemandangan di hadapannya sungguh mengerikan. Di sudut halaman, tikus-tikus berukuran besar berlari ke sana kemari tanpa takut pada siapa pun. Tanaman hias kesayangannya yang dulu terawat rapi kini hancur lebur, pot-pot bunga pecah berantakan, tanah berserakan di mana-mana. Ia segera berlari menuju gudang penyimpanannya — dan di sana ia menjerit tertahan.

Kain-kain sutra indah yang ia simpan rapi, termasuk gaun pemberian Jun Yi dan hadiah dari orang tuanya, semuanya rusak. Ada bekas gigitan di mana-mana, kain-kain itu berlubang-lubang kotor, bahkan tumpukan kotak berisi perhiasan kecil pun tergeletak berantakan di lantai.

"Ini... ini kain sutra termahal!" jeritnya hampir menangis, memegang sepotong kain yang kini sudah tidak layak pakai. "Siapa yang berani melakukan ini? Semua barang berhargaku hancur!"

Suara keributan terdengar dari arah dapur. Shi Yin segera bergegas ke sana, dan di dapurnya para pelayan sedang sibuk memukul-mukul dengan sapu dan sendok kayu, berteriak sambil mengejar tikus-tikus yang berlarian di antara peralatan masak. Wadah berisi beras tumpah ke lantai, sayuran berserakan, dan lantai dapur terlihat sangat kotor dan berantakan.

"Cukup! Cepat usir mereka semua!" perintah Shi Yin lantang, suaranya bergetar karena marah dan takut. "Bagaimana bisa tikus sebanyak ini muncul tiba-tiba di sini? Bersihkan sekarang juga, sebelum mereka menyebar ke seluruh kediaman!"

Namun saat sekawanan tikus berlari melewati dekat kakinya, wajah Shi Yin langsung pucat pasi. Ia berteriak histeris dan langsung berlari mundur, bersembunyi di belakang pelayan barunya sambil menunjuk dengan tangan gemetar.

"Cepat... cepat singkirkan mereka dari sini! Jangan biarkan satu pun mendekatiku! Mengapa mereka begitu besar dan berani? Ayo, kerjakan sekarang juga!"

Sementara di kediaman Li Hua, suasana begitu tenang dan damai. Tidak ada keributan, tidak ada teriakan. Li Hua duduk di teras sambil menatap ke kejauhan, dahinya berkerut dalam pikiran yang dalam.

Bahkan sampai lupa untuk mengetahui hasil kejahilan dirinya memberikan hukuman untuk Shi yin, dia hanya diam termenung setelah menerima titah kaisar.

Bukankah di cerita aslinya, Kaisar menikahkan Shi Yin dengan Putra Mahkota karena mereka sudah saling mencintai diam-diam? Lalu aku dipanggil kembali ke kediaman Zhang sebagai pengganti? Tapi sekarang... kenapa justru Shi Yin yang dinikahkan dengan putra mahkota Tang liang, dan aku yang dinikahi dengan Putra Mahkota? Apakah kedatanganku mengubah alur cerita ini yang merubah jalan cerita sebenarnya? Atau jangan-jangan... takdir kematian ku bisa aku ruba?

"Nona... Nona Hua'er?" sapa Qiao'er pelan sambil menyentuh bahu tuannya dengan lembut. "Apa yang sedang Nona pikirkan? Wajah Nona terlihat serius sekali."

Li Hua tersadar dari lamunannya, tersenyum tipis pada pelayannya. "Aku hanya sedang berpikir, Qiao'er. Bukankah seharusnya Shi Yin yang menikah dengan Putra Mahkota?seluruh kota Ye lu juga tahu hubungan mereka,tapi kenapa malah memberikan pernikahan itu padaku?.bukankah,aku dipanggil kemari untuk menggantikan pernikahan politik dengan negeri Tang liang.bagaimana bisa aku yang jadi putri mahkota?."

Qiao'er tersenyum riang. "Mungkin saja Dewi Keberuntungan sedang memihak Nona sekarang! Bukankah itu hal yang baik? Nona tidak perlu lagi menikah di negeri jauh untuk menikah,jika nona menikah di sana nona pasti akan menjadi janda muda karena putra mahkota sekarang kabarnya sedang sakit."

Li Hua tersenyum tipis, namun di dalam hatinya pikiran-pikiran itu berputar kencang. Jika aku tidak menikah dengan Putra Mahkota negeri Tang Liang... berarti aku tidak akan terjebak di istana itu. Aku punya waktu lebih banyak untuk bersiap. Aku bisa pergi sebelum perang meletus. Aku bisa menghilang ke tempat yang jauh, hidup sederhana namun aman, sebelum Li Yun — Raja Iblis itu — menghancurkan negeri ini dan membunuh semua orang yang aku kenal. Ya... itu pilihan terbaik. Kabur sebelum terlambat.

Malam pun tiba. Langit malam tampak tenang dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip lembut. Di kediaman Li Hua, lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu, suasana damai menyelimuti segalanya. Namun jauh di sana, di kediaman Shi Yin, kegelisahan belum juga usai. Para pelayan sudah berusaha sekuat tenaga sepanjang siang untuk mengusir tikus-tikus itu, namun mereka seakan datang dan pergi sesuka hati, tidak pernah benar-benar habis.

Shi Yin akhirnya merasa lelah luar biasa. Dengan wajah kusut dan pakaian yang sedikit berantakan, ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Ia memastikan semua sudut ruangan aman, lalu naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai leher.

"Akhirnya... tenang juga," gumamnya pelan, memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

Namun baru saja ia mulai merasa rileks, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin dan bertekstur kasar merambat pelan di bagian kakinya yang sedikit terbuka di bawah selimut.

Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ia membuka mata perlahan, menatap ke bawah dengan napas tertahan. Bayangan gelap bergerak di sana, lalu menghilang ke arah ujung tempat tidur.

Itu bukan halusinasi.

Shi Yin menarik selimutnya tergesa-gesa, dan saat melihat apa yang ada di sana... ia langsung berteriak sekuat tenaga, suaranya melengking menembus keheningan malam.

"AAAAAAHHHH!!! TIKUSSS!!!"

Ia bergegas berdiri di atas ranjang, menendang selimut ke lantai dengan mata terbelalak ketakutan. "Keluar! Keluar dari sini! Pelayan! Pelayan cepat datang!"

Pelayan barunya segera berlari masuk dengan wajah cemas. "Nona! Ada apa?! Apa yang terjadi?"

"Di bawah... di bawah tempat tidur tadi ada tikus! Periksa sekarang juga!" tunjuknya dengan tangan gemetar hebat.

Pelayan itu berlutut memeriksa di bawah tempat tidur dengan hati-hati, namun belum sempat ia berbicara, terdengar suara gesekan halus dari arah lemari pakaian. Pintu lemari sedikit terbuka, seakan ada yang mendorongnya dari dalam. Pelayan itu berjalan mendekat dan perlahan membukanya lebar-lebar.

Isi lemari itu membuatnya menutup mulut dengan kedua tangan, nyaris berteriak kaget.

"Nona... ini... lihatlah..."

Shi Yin yang masih berdiri gemetar di atas kasur menatap ke arah lemari itu. Saat melihat apa yang terjadi di dalam sana, wajahnya kehilangan semua warna. Gaun sutra paling disayanginya — yang ia simpan untuk acara penting — kini penuh lubang bekas gigitan, sebagian kainnya sudah hancur, dan di antara tumpukan pakaian itu terlihat ekor-ekor tikus yang menghilang ke celah-celah rak.

Itu adalah pakaian termahal dan paling berharga yang ia miliki. Hadiah khusus dari ayahnya yang dibawa dari perjalanan jauh.

"Ini... tidak mungkin..." suara Shi Yin bergetar lemah, kakinya perlahan lemas. Matanya terbalik ke atas, dan sebelum pelayan sempat menangkapnya, tubuhnya meluncur jatuh ke lantai dengan bunyi yang pelan namun mengerikan.

"Nona Shi Yin!!!" jerit pelayan itu panik, langsung berlutut memeriksa napas tuannya. "Tolong! Cepat panggil tabib! Nona pingsan!"

​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!