Indonesia
NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembaran Baru

**

​Lebih dari 3 tahun yang lalu, Rafa masih ingat saat dia memutuskan untuk tinggal di apartemen sendiri. Pertama kalinya dalam hidup, memutuskan untuk pergi dari rumah untuk sebuah kata ingin 'mandiri'.

​Mungkin, sekitar setengah tahun yang lalu tiba-tiba ada anak kecil yang mengaku anaknya yang ternyata memang anaknya. Otomatis, kehidupannya berubah tanpa sadar. Kesendirian yang biasa ia dapat di apartemen, berubah menjadi berisik. Awalnya, memang menganggu tapi sekarang Rafa suka.

​Berbulan setelahnya, datang seorang wanita yang tak lain Ibu dari anaknya juga ikut tinggal. Hanya sekedar menumpang tinggal, tidak meminta pertanggungjawaban untuk dinikahi. Lucu, bukan!

​Rafa tersenyum tipis, mengelus sesuatu yang melingkar di jari manisnya. "Diumur gue yang mau 29 ini, akhirnya gue men--"

​"Woi, makan ayo!" teriak Andre tepat disamping telinga Rafa, yang langsung memeloti lelaki itu. "Lo ... gue dipanggil gak nyawut, suara gue udah abis ini!"

​Rafa menghela napas sejenak, berdiri memilih pergi meninggalkan Andre.

​"Sialan! Sekarang malah tinggalin!" Andre sudah berlari mengejar Rafa.

​"Gimana?" Andre menaik turun alisnya menggoda. Rasanya, Rafa ingin melempar wajan ke wah tengil itu.

​"Bukan urusan lo!" Rafa memilih kembali memakan bakso Mang kumis yang menjadi bakso favorit karyawan di kantor kantor karena pedasnya, untung bukan karena kumisnya, yah!

​"Gue sih, gak penasaran soal ...." Andre menepuk-nepuk kedua tangannya saling menindih, alisnya dinaik turunkan. "Soalnya, udah khatam gue mah begituan. Tapi, lo!" Andre tiba-tiba sudah menepuk pundak Rafa, untung saja dirinya tidak keselek karena baru saja ditelan bulat utuh.

​Rafa dengan cepat menyingkirkan tangan Andre. "Najis!"

​Andre semakin tersenyum menggoda. "Dulu kan, gak sadar sampai punya bocah gemes itu. Lo aja gak inget kan, rasanya gimana? Nah, sekarang gimana? Enak, kan? Ketagihan kan, lo? Gimana, asoy--anjing pedas, sialan!"

​Rafa akhirnya bisa bernapas lega saat melihat Andre sudah pergi untuk membeli minuman mungkin, karena Rafa baru saja memasukan sesendok sambal ke mulutnya saat mengoceh.

​"Harusnya, gue gak cerita ke orang sableng itu!"

​Memang benar, penyesalan selalu datang terlambat. Tapi, Rafa tidak berniat cerita juga sebenarnya. Andre saja, matanya terlalu jeli saat waktu itu langsung melihat cincin di jari manisnya. Lelaki itu terus mendesak, merengek, bahkan hampir berguling, sampai akhirnya Rafa terpaksa bercerita daripada malu menjadi pusat perhatian di kantor.

​Rafa kembali tersenyum memandang cincin dijari manisnya. Banyak keuntungan juga memakai ini, Rafa akhirnya bisa menolak para wanita dengan mudah. Saat ada seorang wanita yang berbicara dengan segala jurusnya, tinggal tunjukan saja cincin ini. Aman kan, sekarang hidupnya.

​"Jadi mau cepet pulang." Rafa menggeleng terus memukul kepala, bukan karena hal lain atau wanita itu tapi Rafa mau bertemu Elvan. Iya, pokoknya dia ingin segera bertemu Elvan!

​Semuanya, memang berjalan dengan cepat. Siapa sangka, jika sekarang dirinya sudah menikah? Iya, ini sudah seminggu lebih Rafa menikah dengan Felisa.

​Waktu itu, hanya sebuah akad, makan-makan kecil setelah itu mereka kembali ke Jakarta. Seperti dugaan, pasti terkena amuk dari sana-sini baik berupa nasihat dan pukulan. Beruntung, dia tidak dibunuh dan dikubur hidup-hidup oleh Papa. Berkat Elvan, Mama sama Papa lebih mudah untuk mencoba menerima semua ini.

​Kehadiran Elvan, memang semakin menambah ramai rumah Orangtuanya jika disatukan dengan Cio. Felisa juga termasuk wanita yang mudah bergaul dan mudah dekat dengan Mama. Jadi, semurnya sejauh ini memang berjalan lancar.

​Sampai sini, semua baik-baik saja bukan?

​"Papa!"

​Suara teriakan yang sangat Rafa rindukan. Tadi dia berangkat terlalu pagi, saat Elvan masih tidur karena ada kerjaan jauh di lapangan. Tapi, hari ini, Rafa bisa pulang lebih cepat sehingga lebih banyak waktu lagi untuk bermain dengan Elvan.

​"Mandi dulu, terus nanti makan. Aku udah siapkan makanan di meja makan." Felisa sudah berdiri di depan Rafa dan Elvan yang sedang asyik saling menggelitik di sofa.

​Rafa mengangguk. "Iya, aku mandi dulu kalau gitu." Rafa lalu mendudukkan Elvan di sofa. "Boy, Papa mandi dulu, ok?"

​Elvan mengangguk antusias. "Ok!"

​Tumben sekali anak itu tidak protes, biasanya jika Rafa sudah di rumah tidak mau ditinggal. Eh, tunggu apa ini?

​"Kamu ngapain ngikutin Papa? Sebentar, Papa mandi dulu, ok?"

​Bagaimana Rafa tidak kaget, saat akan menutup pintu kamar mandi ada Elvan yang sedang berdiri di sana.

​Elvan kembali mengangguk. Tadinya, Rafa sudah lega dan akan kembali menutup pintu. Tapi, tunggu? Elvan malah berlari masuk. Belum sempat Rafa protes, bocah itu dengan cepat sudah membuka baju dan naik ke bak mandi begitu saja.

​"Elvan, kamu di mana?"

​Nah, kan Mama-nya mencari anak itu. Alamat, pasti dia juga terkena amuk. Rafa baru mengetahui, jika wanita itu bisa menjadi terlalu bawel dalam banyak hal kecil yang selalu dipermasalahkan. Contohnya, jika Rafa terbiasa menyimpan sepatu begitu saja di depan pintu masuk, tapi Felisa langsung mengomel harus selalu menyimpan sepatu di rak. Saat Rafa lupa menutup pasta gigi, Felisa bisa mengomel setengah hari tentang hal itu.

​"Ya Tuhan, Elvan!" teriak Felisa jelas kaget, lalu menatap Rafa menyalang. "Kamu ajak Elvan mandi?"

​Rafa menggeleng, belum sempat menjawab tapi Felisa sudah masuk menerobos ke kamar mandi.

​"Ini udah sore mau Maghrib, malah ajak Elvan mandi!" Rafa langsung menggeleng. Felisa itu seperti mempunyai kekuatan super yang bisa membuat orang tidak bisa menjawab. "Gimana kalau Elvan sakit? Dia masih kecil, loh!"

​Hebatnya, kekuatan mulut dan gerakan tubuhnya seimbang. Saat dia mengomel ini-itu yang semakin panjang lebar, Elvan sudah dia tarik dari dalam kamar mandi dan sudah kembali berpakaian. Bahkan, Rafa dan Elvan hanya mampu terdiam mendengar omelan Felisa.

​"Cepat mandi! Setelah shalat, kita makan!"

​Felisa mendorong kasar Rafa masuk ke kamar mandi, sambil masih menggendong Elvan, setelah itu terdengar pintu ditutup kencang.

​Brakkk

​"Astaghfirullah, macan ngamuk lagi!"

​"Kentangnya dimakan, jangan di pinggirin!"

​Rafa dan Elvan saling melirik, terus melihat ke piring samping dimana mereka sama-sama menyisihkan kentang. Iya, mereka tidak suka makan kentang. Bukan alergi, tapi memang tidak menyukai umbi tidak berasa itu. Untuk banyak hal termasuk selera makan mereka memang banyak yang sama.

​"Makan kentang yang banyak!" Felisa malah kembali menambahkan sesendok besar kentang goreng ke piring Rafa dan Elvan.

​"Please ...." Rafa dan Elvan sama-sama memohon dengan mata dibuat semerana mungkin.

​"No, makan sekarang!"

​Felisa sudah sibuk kembali makan, mengabaikan dua orang yang sedang menatap prihatin piringnya. Mereka saling menatap sesaat, setelah itu sama-sama mengepalkan satu tangan saling menyemangati tanpa suara. Sebenarnya, Felisa dari sudut matanya melihat itu, kemudian tersenyum tipis.

​"Ayo Papa, bobo!" teriak Elvan yang sekian kalinya karena Rafa masih duduk di sofa disudut kamar dengan laptop di depannya.

​"Kamu duluan aja." Rafa menjawab tanpa sama sekali melihat Elvan, membuat bocah itu semakin kesal.

​"Gak mau!"

​"Elvan sini, ayo bobo duluan! Biarin Papa kerja dulu cari uang buat Elvan jajan!" teriak Felisa yang langsung membuat Rafa sadar, jika Elvan sudah meninggalkan mama-nya di kasur.

​Belum Rafa mendongak, bocah itu sudah duduk di pangkuannya. "Siang kerja di kantor, masa di rumah kerja juga? Ayo, bobo! Gak mau bobo, kalau Papagak bobo!"

​"Tapi--"

​"Udah baring dulu aja, nanti lanjut lagi kalau dia udah itu. Gak akan diem dia kalau gak diturutin!" saran Felisa yang langsung diangguki Rafa, apalagi saat melihat Elvan sudah memeluk Rafa erat seperti seorang bocah koala.

​Tangan Rafa masih telaten, mengusapi punggung Elvan yang sepertinya sudah tertidur memeluk dirinya erat, seakan takut Rafa akan kabur. Sebenarnya, bocah ini sudah resmi mempunyai kamar sendiri yang tadinya kamar Felisa. Entah apa yang diucapkan Mama, tapi sepulang dari pesantren Elvan dengan sok dewasanya, meminta untuk tidur sendiri. Tapi baru semalaman, sudah ketakutan meminta untuk tidur bertiga lagi.

​Ada baiknya juga, Elvan meminta untuk tidur bertiga karena Rafa masih merasa canggung jika hanya tidur berdua dengan Felisa. Pernikahan mereka memang penuh drama, bahkan mungkin sampai saat ini belum tanpa cinta. Rafa hanya merasa nyaman, tapi dia yakin belum merasa jatuh cinta. Tapi, setelah menikah tidak harus ada drama juga bukan? Drama pisah ranjang? Kontrak pernikahan? Tidak!

Sekarang, hanya biarkan waktu yang berjalan menjawab akhir pernikahan mereka. Biarkan, semuanya berjalan semestinya.

​"Udah tidur?"

​Rafa baru saja akan memejamkan mata, berniat tidur dan tidak melanjutkan pekerjaan tapi, pertanyaan Felisa kembali membuatnya tersadar.

​"Belum, kenapa gak bisa tidur?"

​Rafa bisa melihat, Felisa yang tadinya tertidur terlentang berubah menyamping menghadap ke arahnya.

Jika tidak ada Elvan, posisi mereka mungkin sudah sangat dekat. Apalagi, sekarang Felisa juga tengah memeluk Elvan.

​"Aku mau minta izin?"

​"Izin?" Rafa menaikan alis. Masih belum terbiasa juga, saat mendengar seorang wanita meminta izin kepadanya selain Alexa. "Izin kemana?"

​"Mau ketemu asisten kerja aku?"

​Mendengar jawaban Felisa, seketika Rafa langsung beranjak duduk. Lupa, jika ada Elvan sedang tertidur memeluknya. Untung bocah itu kebo hanya mengerang sebentar, lalu setelah diusap kembali tertidur. Rafa selalu penasaran tentang wanita yang sudah menjadi istrinya ini, tentang kehidupannya dimasa lalu baik berupa pekerjaan atau apapun itu.

​"Aku juga belum tahu, dulu kamu kerja apa?" Rafa kembali tersenyum geli saat panggilan 'aku' mulai mereka gunakan. Waktu itu, kata Mama harus diganti supaya kita tidak saling canggung.

​"Aku seorang model. Melakukan banyak pemotretan, melakukan peragaan busana. Terakhir, aku dikontrak oleh label di Paris. Tapi demi keselamatan Elvan, aku berhenti sampai terpaksa membayar denda."

​Sekarang, mereka telah sama-sama terduduk. Lewat sudut mata, Rafa memperhatikan Felisa. Wanita itu cantik, mempunyai tubuh yang bagus, jadi memang tidak salah jika pekerjaannya memang seorang model. Tapi memang lucu juga, jika mengingat latar belakang keluarganya. Dia sudah seperti anak ayam yang tersesat dan kehilangan arah.

​"Kenapa, aneh kan seorang anak ustad jadi model?" tanya Felisa yang sepertinya melihat senyum ganjil Rafa. "Mungkin, jiwa aku tertukar sama anak orang lain. Gak ada sedikitpun, keinginan buat mengabdi di pesantren. Mungkin, jiwaku juga banyaknya berasal dari keluarga ibu."

​Rafa meringis merasa bersalah, karena sempat meremehkan tadi. "Kehidupan kamu itu punya kamu. Kamu tidak ada kewajiban lakuin apapun untuk memenuhi ekspektasi, keinginan orang-orang terhadap kamu. Lakuin apapun yang kamu mau, jangan pernah merasa bersalah. Kamu punya kendali penuh buat hidup kamu."

​"Walau jadi anak pembangkang? Sesat agama?"

​Rafa menoleh, melihat Felisa tersenyum miris. Rafa memilih meraih tangan Felisa. "Kamu tidak melakukan hal buruk, yang jauh dari agama. Sampai detik ini, kamu masih menganut agama sedari kamu lahir, kan?" Rafa melihat Felisa mengangguk. "Jadi, gak ada yang salah tentang semua yang kamu lakukan. Kalau kamu ingin jadi model dan tidak menjadi ustadzah apakah akan membuat dunia hancur? Keluarga kamu hancur?"

​Rafa melihat Felisa menggeleng. "Kamu harus tahu satu hal ini. Kebahagiaan kamu adalah milik kamu, sudah tugas kamu untuk membahagiakan diri kamu selama itu tidak melukai orang lain. Bahagia orang lain bukan tugas kamu yang urus, jadi gak ada kewajiban untuk bahagiakan siapapun kecuali diri kamu sendiri."

​Untuk sesaat mereka berdua kembali saling terdiam, saling menatap mencoba meresapi.

​"Kamu bahagia nikah sama aku?" Felisa bertanya dengan pandangan mereka masih menyatu.

​"Kalau gak bahagia, mana mungkin aku bisa tersenyum seperti ini."

​Felisa ikut tersenyum. Tangan-nya sudah mengelus pipi Rafa. "Kamu tahu? Menikah dengan aku sangat tidak mudah. Banyak hal berat yang akan kamu lewati. Keluarga Abah cuman contoh kendala kecil. Masih ada satu pihak lagi yang harus kamu hadapi."

​Rafa ikut menggenggam tangan Felisa yang masih di pipinya. "Aku gak bisa janji kedepannya, kita bakal selalu baik-baik aja. Aku gak bisa janji bakal selalu buat kamu dan Elvan selalu senyum. Tapi satu hal yang bisa aku janji, apapun yang terjadi kedepannya, seberat apapun itu, aku selalu akan memastikan jika nanti ada tangis, dengan cepat akan aku ganti dengan senyum lagi. Aku akan selalu memastikan kebahagiaan kalian dengan segala cara apa yang aku bisa. Kita akan selalu bersama untuk melewati semua hal berat itu."

​Entah siapa yang memulai, bibir keduanya sudah kembali bertemu untuk saling berbagi kecupan. Rafa sedikit beranjak di atas tubuh Elvan, untuk lebih memperdalam kecupannya.

​Hampir setiap tahun, cita-cita Rafa selalu berubah. Kali ini cita-citanya juga berubah, hanya sederhana selalu bisa melindungi dan memastikan Felisa dan Elvan bahagia dan selalu baik-baik saja. Menghadapi sisa hidup hanya bersama mereka, mudah bukan?

##

1
Siti Musyarofah
lagi, lagi Thor tahu2 udah abis aja
uriarmy16: sabar pemirsa 🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
lanjut thor
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!