Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Masih di rumah sakit
Davina duduk di depan ruang operasi dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Sejak Ammar dibawa masuk oleh tim medis ke ruang operasi, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan terburuk. Petugas polisi dan pengemudi mobil yang menabrak Ammar sudah pulang setelah menyelesaikan administrasi.
Dan ketika pintu ruang operasi akhirnya terbuka, ia langsung berdiri menghampiri dokter yang keluar masih mengenakan pakaian operasi.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Operasinya berhasil, bukan?" tanyanya terburu-buru.
Dokter itu melepas masker, kemudian menatap Davina dengan ekspresi serius. "Operasinya sudah selesai dan berjalan lancar. Namun, pasien masih membutuhkan pemantauan ketat karena kondisi tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Untuk sementara, akan dipindahkan ke ruang ICU."
Kedua lutut Davina terasa lemas. Ia berpegangan pada tembok untuk menahan diri agar tidak jatuh.
"Dokter, apakah suami saya akan baik-baik saja?"
"Kami akan terus memantau perkembangannya. Saat ini, yang terpenting adalah memastikan kondisinya stabil dan mencegah komplikasi. Kami belum bisa memastikan berapa lama pasien membutuhkan perawatan intensif."
Davina menutup mulutnya, berusaha menahan tangis yang sejak tadi memburu. "Terima kasih, Dokter."
Setelah dokter tersebut pergi, ia kembali duduk dengan tubuh gemetar dan perasaan cemas. Ada sedikit kelegaan karena Ammar berhasil melewati operasi, tetapi terselip juga ketakutan menghadapi kemungkinan yang belum pasti.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Ammar keluar dengan ranjang dorong, masih belum sadarkan diri dan terpasang berbagai alat medis.
Davina segera menghampiri ranjang suaminya. Ia berjalan mengikuti petugas medis yang membawa Ammar menuju ruang ICU, sesekali menatap wajah pucat pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Sesampainya di ruang ICU, Davina hanya diizinkan melihat Ammar dari balik kaca untuk sementara waktu. Ia berdiri terpaku, menahan tangis saat melihat suaminya terbaring tak berdaya di antara berbagai alat pemantau.
"Mas, kamu harus bertahan," bisiknya lirih. "Aku masih di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Ia tahu Ammar mungkin tidak bisa mendengar ucapannya. Namun, hanya itulah yang bisa dilakukannya saat ini.
*
Beberapa saat, petugas medis memberi ijin Davina masuk untuk melihat Ammar dari dekat. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wajah suaminya yang pucat, lalu menggenggam tangannya dengan hati-hati.
"Mas, bangunlah. Aku mohon."
Tentu saja tidak ada jawaban karena Ammar masih belum sadarkan diri, sementara alat pemantau terus mengawasi kondisinya.
Davina mengusap punggung tangan pria itu, berusaha meyakinkan pada dirinya sendiri, bahwa Ammar akan melewati masa kritis ini. Namun, ketika matanya beralih pada kaki suaminya yang telah dioperasi, rasa takut kembali menyergap.
Ia tidak tahu bagaimana keadaan Ammar setelah sadar nanti. Ia juga belum tahu berapa lama suaminya harus menjalani pemulihan atau apakah cedera itu akan meninggalkan dampak jangka panjang. Yang ia tahu, untuk saat ini, Ammar masih berjuang di antara hidup dan mati.
Davina menarik kursi mendekat, lalu duduk di samping ranjang. Ia tidak ingin pergi ke mana-mana sebelum mengetahui perkembangan kondisi suaminya.
Di luar ruang ICU, aktivitas rumah sakit terus berjalan seperti biasa. Namun, bagi Davina, waktu seolah berhenti di tempat itu.
Dengan mata sembab dan jemari yang masih menggenggam tangan Ammar, ia menunduk, membisikkan doa agar pria itu segera membuka mata.
Sebab, apa pun yang terjadi di antara mereka, Davina belum siap kehilangan satu-satunya orang yang kini menjadi tempatnya bergantung.
*
*
*
Di tempat berbeda
Hubungan Alfa dan Ayudia semakin dekat seiring berjalannya waktu. Di tengah kesibukan mengelola usaha konstruksi dan toko bangunan, pria itu mulai menyediakan waktu untuk mengenal gadis yang dahulu hanya dianggap sebagai atasan sekaligus calon pasangan pilihan orang tua mereka.
Awalnya, Alfa memang sedikit canggung setiap kali berhadapan dengan Ayudia. Dirinya sudah terlalu lama menutup hati setelah pengkhianatan Davina, sementara persoalan pemeriksaan kesuburan masih menjadi beban yang sesekali mengusik pikirannya.
Namun, Ayudia tidak pernah memaksanya untuk bercerita atau menuntut perhatian berlebihan. Gadis itu justru mendekatinya dengan cara sederhana. Ia sering menghubungi Alfa untuk menanyakan kabar, sesekali mengirimkan makanan ke kantor, bahkan tidak segan melontarkan candaan ketika melihat pria itu terlalu serius memikirkan pekerjaan.
Perlahan, kecanggungan di antara mereka mulai menghilang. Alfa bahkan beberapa kali membalas candaan Ayudia, sesuatu yang jarang dilakukannya sejak rumah tangganya berantakan.
Seperti siang itu, Ayudia kembali datang ke kantor Alfa. Pria yang duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa laporan keuangan itu, langsung mengangkat kepala ketika terdengar suara mengetuk pintu ruangannya.
"Assalamualaikum... Masih sibuk, Mas?" tanya Ayudia.
Ia masuk ke ruangan Alfa sambil menenteng kantong makanan di tangannya.
"Waalaikumsalam..." jawab Alfa.
Pria itu melirik jam dinding lalu kembali menatap gadis itu. "Kalau kamu datang membawa makanan, sesibuk apa pun pasti bisa meluangkan waktu."
Ayudia tertawa kecil. "Wah, ternyata ada juga yang bisa mengalahkan pekerjaan Mas Alfa."
"Memangnya selama ini aku terlihat seperti orang yang tidak bisa diganggu?"
"Bukan begitu. Aku cuma takut Mas Alfa lupa makan karena terlalu sibuk bekerja."
Alfa tersenyum, lalu menutup berkas di hadapannya. "Kalau begitu, hari ini aku patuh. Silakan, Bu Dokter."
Ayudia mengernyit geli. "Lho, kok aku jadi dokter?"
"Karena kamu perhatian sekali. Sebentar lagi mungkin kamu juga akan menyuruhku minum obat dan tidur tepat waktu."
"Kalau Mas Alfa susah diatur, bisa saja aku melakukan hal itu."
Keduanya lantas tertawa bersama sebelum mulai menikmati makan siang. Obrolan ringan mengalir di antara mereka, membuat suasana yang biasanya dipenuhi urusan pekerjaan terasa lebih santai.
Di sela-sela makan, Ayudia melirik Alfa yang tampak lebih tenang dibandingkan beberapa waktu lalu.
"Bagaimana pemeriksaan terakhir Mas? Apa sudah ada perkembangan?" tanyanya hati-hati.
Alfa meletakkan sendoknya, menatap gadis di hadapannya. "Alhamdulillah, sudah ada kemajuan. Dokter bilang hasilnya memang belum bisa dijadikan kesimpulan akhir, jadi aku masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan."
"Syukurlah." Ayudia tersenyum lega. "Semoga hasil berikutnya lebih baik."
"Aamiin. Aku juga berharap begitu."
Ayudia mengangguk. Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi keraguan membuatnya mengurungkan niat. Namun, setelah beberapa saat, gadis itu akhirnya memberanikan diri mengangkat wajah.
"Mas, aku tahu mungkin tindakanku dianggap lancang, tapi aku tidak ingin Mas Alfa menghadapi masalah ini sendirian," ucapnya.
Alfa menatapnya dalam diam menunggu kalimat selanjutnya.
"Emmm... bagaimana kalau kita menikah saja?"
Begitu kalimat itu selesai terucap, Ayudia langsung merutuki diri sendiri yang keceplosan bicara.
'Oh, ya ampun. Ngomong apa aku barusan? Kenapa tiba-tiba aku bisa berkata seperti itu? Apa aku baru saja melamarnya? Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana kalau dia... ' batin Ayudia panik.