Indonesia
NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jendela Mobil, Pelarian Sesaat, dan Napas Sang Ketua Kelas

Di dalam kabin SUV hitam yang melaju kencang membelah jalanan Beijing, ketegangan terasa begitu pekat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau.

Lin Xiao duduk di kursi penumpang dengan napas yang masih memburu. Tangannya gemetar memegang laptop yang menyala. Matanya bergerak liar menatap layar, otaknya dipaksa bekerja di luar batas manusia normal untuk memikirkan berbagai strategi pembelaan, rilis pers, dan langkah hukum.

Namun, tiba-tiba, sebuah tangan besar terulur dari kursi kemudi.

Lu Feng menutup layar laptop Lin Xiao dengan satu gerakan cepat, menimbulkan bunyi "klik" yang cukup keras.

Lin Xiao tersentak, menoleh dengan wajah panik. "Lu Feng! Apa yang kamu lakukan?! Aku sedang menyusun draf—"

Sebelum Lin Xiao menyelesaikan kalimatnya, Lu Feng merogoh saku jas wanita itu, mengambil ponsel operasional Lin Xiao, lalu mengambil ponselnya sendiri. Tanpa ragu sedikit pun, pria itu mematikan daya kedua ponsel tersebut dan melemparnya sembarangan ke jok belakang.

"Lu Feng!" Lin Xiao berteriak pelan, benar-benar panik. "Chen Hao sedang menunggu instruksi kita! Ribuan kurir itu—"

"Dunia nggak bakal kiamat kalau kita ngilang dua jam, Xiao," potong Lu Feng. Suaranya tidak tinggi, tidak membentak, melainkan sangat rendah, tenang, dan dipenuhi otoritas yang melembutkan.

Lu Feng memutar kemudi dengan tajam di persimpangan lampu merah, mengabaikan rute yang seharusnya menuju ke area pergudangan distrik selatan. Ia justru mengarahkan mobilnya menuju jalan tol pinggiran kota yang mengarah ke perbukitan Xiangshan.

"Kita mau ke mana?" tanya Lin Xiao, kebingungan mulai menggantikan kepanikannya.

"Nyari udara," jawab Lu Feng singkat. Mata sayunya menatap lurus ke jalan raya yang mulai sepi dari kendaraan komersial.

Lin Xiao menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil dengan lemas. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Ini gila. Kita sedang kabur dari masalah."

"Kita nggak kabur. Gue cuma lagi nekan tombol "pause"," Lu Feng mengulurkan tangan kirinya, meraih tangan Lin Xiao yang masih gemetar, dan menggenggamnya erat di atas konsol tengah mobil. Ibu jarinya mengusap punggung tangan wanita itu secara konstan, menyalurkan kehangatan. "Tangan lo dingin banget, Yang. Kalau gue biarin lo maju ke medan perang dengan kondisi otak mau meledak kayak gini, gue gagal jadi cowok lo."

Lin Xiao terdiam. Ia menatap tautan tangan mereka, lalu menatap profil samping wajah Lu Feng yang diterpa cahaya matahari pagi dari kaca jendela. Entah mengapa, rasa panik yang sejak tadi mencekik lehernya perlahan mulai mengendur.

Empat puluh menit kemudian, SUV hitam itu menepi di sebuah tebing pinggir jalan perbukitan Xiangshan. Tempat itu sangat sepi. Di bawah sana, kota Beijing terlihat seperti miniatur raksasa yang diselimuti kabut pagi tipis.

Lu Feng mematikan mesin mobil. Keheningan langsung menyergap mereka. Hanya terdengar suara angin musim gugur yang menyapu pepohonan di luar sana.

Pria itu melepaskan sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Lin Xiao. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Lin Xiao lekat-lekat, membiarkan keheningan itu mencuci bersih semua kekacauan di kepala mereka.

"Kenapa kita ke sini?" gumam Lin Xiao pelan, suaranya sudah tidak lagi bergetar.

"Buat ngingetin lo tentang sesuatu," Lu Feng melepaskan jas mahalnya dan melemparkannya ke jok belakang menyusul ponsel mereka. Ia lalu menarik pelan tubuh Lin Xiao hingga wanita itu bersandar di dadanya.

Lin Xiao tidak menolak. Ia justru membenamkan wajahnya di kemeja putih Lu Feng, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu. Aroma yang selalu membawanya pulang, tidak peduli seberapa jauh mereka tersesat.

"Lo inget nggak waktu kita pertama kali kabur dari sekolah pas kelas sebelas?" suara bariton Lu Feng mengalun pelan, bergetar di dadanya, menjadi melodi paling menenangkan bagi Lin Xiao. "Waktu itu gue maksa lo bolos piket kelas karena lo kelihatan capek banget dihukum sama Pak Zhang."

Lin Xiao tersenyum tipis di balik kemeja Lu Feng. "Tentu saja aku ingat. Kamu membawaku makan mi di kedai pinggir jalan. Itu pertama kalinya aku membolos seumur hidupku."

"Terus lo nangis karena ngerasa jadi anak nakal," kekeh Lu Feng pelan, jemarinya mulai menyisir rambut Lin Xiao dengan lembut. "Waktu itu, gue sadar satu hal, Xiao. Lo itu selalu ngerasa harus jadi yang paling sempurna. Lo ngerasa harus nyelesaiin semua masalah, harus patuh sama semua aturan, dan harus jadi pelindung buat orang-orang di sekitar lo."

Lu Feng sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Lin Xiao. Ia menangkup kedua pipi wanita itu.

"Dengerin gue, Ketua Kelas," bisik Lu Feng, menatap mata Lin Xiao dengan ketulusan yang telanjang. "Hari ini, di detik ini... lepasin semua beban itu. Lupain kalau lo itu pengacara hebat. Lupain kalau lo itu petinggi yang harus mikirin nasib orang lain. Di sini, di mobil ini, lo cuma Lin Xiao. Cewek galak dari Jiangcheng yang selalu gue repotin."

Mata Lin Xiao mulai berkaca-kaca. Dinding pertahanannya benar-benar runtuh.

"Aku takut, Lu Feng," bisik Lin Xiao akhirnya, mengakui kelemahannya yang paling dalam. "Aku sangat takut. Bagaimana kalau aku tidak cukup pintar untuk melindungi apa yang sudah kita bangun? Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan dan semua ini hancur?"

Lu Feng tersenyum. Sebuah senyuman yang penuh dengan cinta dan penerimaan.

"Kalau hancur, yaudah hancur aja," jawab Lu Feng enteng, seolah ia sedang membicarakan cuaca.

Lin Xiao membelalakkan matanya, sedikit kesal. "Bagaimana bisa kamu bicara semudah itu?!"

"Karena dari awal, tujuan gue bukan ngebangun kekaisaran, Xiao," Lu Feng mendekatkan wajahnya, menempelkan hidungnya di hidung Lin Xiao. "Tujuan gue dari dulu cuma satu: pantes buat berdiri di sebelah lo. Selama lo masih ada di sebelah gue, mau kita tidur di "penthouse" mewah atau balik tidur di asrama sempit... gue nggak peduli. Harta, jabatan, atau nama besar itu cuma bonus."

Setetes air mata akhirnya lolos dari pelupuk mata Lin Xiao. Rasa lega yang luar biasa besar membanjiri dadanya. Kata-kata Lu Feng barusan adalah obat penawar dari semua racun kepanikan yang disuntikkan oleh dunia ke dalam pikirannya pagi ini.

"Kamu ini benar-benar tidak punya ambisi yang wajar," isak Lin Xiao pelan, memukul dada Lu Feng pelan.

"Ambisi gue ya elo," Lu Feng tertawa lepas, merengkuh tubuh Lin Xiao kembali ke dalam pelukannya. "Udah, nangis aja sepuas lo di sini. Keluarin semua capek lo. Gue bakal pinjemin bahu gue sampai kemeja gue basah kuyup."

Dan Lin Xiao benar-benar menangis. Ia melepaskan semua tekanan yang menumpuk di pundaknya selama berbulan-bulan terakhir. Ia menangis bukan karena sedih, melainkan karena ia menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pria ini. Pria yang tahu kapan harus menjadi pedang yang tajam, dan kapan harus menjadi tameng yang lembut untuknya beristirahat.

Setelah beberapa belas menit yang terasa sangat melegakan, tangis Lin Xiao perlahan mereda. Ia mengusap wajahnya, lalu menarik napas panjang. Udara pagi perbukitan yang masuk melalui celah jendela mobil terasa sangat menyegarkan.

"Sudah lebih baik?" tanya Lu Feng, memberikan beberapa lembar tisu pada Lin Xiao.

Lin Xiao mengangguk, menerima tisu itu. "Jauh lebih baik. Terima kasih, Lu Feng. Aku benar-benar membutuhkan ini."

"Sama-sama," Lu Feng tersenyum miring. "Jadi... Ketua Kelas udah siap buat turun gunung dan ngadepin berandalan-berandalan di bawah sana?"

Lin Xiao menegakkan tubuhnya. Matanya yang tadi sembab kini kembali memancarkan kilat ketajaman dan kepercayaan diri yang absolut. Ia bukan lagi gadis yang ketakutan, ia telah kembali menjadi dirinya yang utuh.

"Nyalakan ponselmu, Lu Feng," perintah Lin Xiao dengan suara yang mantap. "Mari kita bereskan kekacauan ini, lalu kita pulang untuk memakan sisa roti gosongmu."

Lu Feng tertawa keras. Ia mencondongkan tubuhnya, memberikan satu ciuman singkat dan dalam di bibir Lin Xiao, sebelum akhirnya menghidupkan mesin mobil kembali.

"Sesuai perintahmu, Yang Mulia."

Mobil SUV hitam itu memutar arah, melaju turun dari perbukitan, siap kembali ke medan perang. Namun kali ini, mereka berdua tidak lagi membawa beban ketakutan, melainkan hanya membawa keyakinan mutlak bahwa mereka tidak akan pernah bisa dihancurkan, selama tangan mereka masih saling menggenggam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!