"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 INTEROGASI
Malam Minggu itu, tepat pukul sepuluh kurang sepuluh menit, suara deru knalpot motor Honda CB 100 klasik terdengar membelah keheningan kawasan Jeron Beteng. Mesin tua berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri gang-gang sempit yang diterangi oleh lampu pilar rumah bergaya klasik khas Yogyakarta.
Di atas sadel motor tersebut, Wira merasa dirinya sedang tidak menginjak tanah. Pemuda itu merasa seolah-olah ia sedang melayang beberapa sentimeter di atas aspal, ditarik oleh gravitasi kebahagiaan yang begitu kuat hingga membuat sekujur tubuhnya terasa ringan.
Beberapa menit sebelumnya, ia telah mengantar Asmara kembali ke dekat gapura gang rumah gadis itu.
Perpisahan singkat di bawah bayang-bayang pohon beringin kecil itu ditutup dengan senyuman manis Asmara yang melambaikan tangan, sementara jaket denim Wira masih melekat dengan nyaman di tubuh mungil sang gadis.
Aroma melati yang tertinggal di udara seolah masih menempel di ujung hidung Wira, membuatnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum selebar-lebarnya sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di depan rumah Bude Ning, Wira mematikan mesin motor beberapa meter sebelum gerbang, lalu menuntun kendaraan milik Mas Yanto itu dengan sangat hati-hati ke dalam halaman. Ia tidak ingin suara bising knalpot membuyarkan ketenangan malam bibinya.
Dengan gerakan pelan, ia memarkirkan motor di teras samping, menguncinya dengan teliti, lalu melepas helm bogo retro miliknya. Wira melangkah ke teras depan dengan langkah riang, berniat langsung menyelinap masuk ke kamarnya untuk merayakan kemenangan malam ini di dalam mimpi.
Namun, semesta rupanya memiliki rencana lain yang jauh lebih menggelitik.
Begitu tangan Wira mendorong daun pintu kayu jati utama, ia mendapati ruang tamu rumah Bude Ning masih benderang oleh lampu neon putih.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, sosok wanita paruh baya berdaster batik itu sedang duduk tegak di kursi sofa rotan tunggal, menyesap teh poci hangat dari cangkir kecil keramik, dengan tatapan mata setajam elang yang langsung mengunci pergerakan Wira begitu pintu terbuka.
Wira tertegun di ambang pintu.
Satu kakinya masih berada di luar, sementara satu kakinya lagi di dalam.
Ia menelan ludah dengan susah payah.
"Loh... Bude? Belum tidur?" tanya Wira, mencoba memasang ekspresi senormal mungkin, meski suaranya sedikit melengking di atas normal.
Bude Ning meletakkan cangkirnya ke atas meja dengan bunyi "klotok" yang pelan namun tegas.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menyipitkan matanya, memindai penampilan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung sepatu kets.
Rambut Wira sedikit berantakan karena angin malam. Jaket denimnya sudah tidak dipakai karena diberikan pada Asmara, sehingga ia kini hanya mengenakan kaus hitam polos.
Dan yang paling fatal dari semua bukti kejahatan itu adalah ekspresi di wajah Wira: sebuah senyuman lebar yang bodoh, yang terpampang nyata tanpa bisa dikendalikan, membuat wajah pemuda itu bersinar-sinar layaknya lampu neon lima puluh watt.
"Mau nyelinap, Le?" tanya Bude Ning dengan nada suara yang sangat tenang, namun sarat akan interogasi tingkat tinggi.
"Jam berapa ini? Nyaris jam sepuluh malam. Pintar sekali anak zaman sekarang, jam malam dipatuhi lima belas menit dari janji, tapi pulangnya dengan senyum sepanjang polisi tidur."
Wira menutup pintu perlahan.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha menyembunyikan seringai bahagianya dengan batuk kecil buatan.
"Mana ada menyelinap, Bude... Wira kan masuknya lewat pintu depan, bukan lewat jendela," bela Wira membela diri, berjalan mendekati sofa dan menjatuhkan tas kecilnya ke atas meja.
"Wira tepat waktu kok... Nggak lebih dari jam sepuluh malam. Janji sama Bude kan ditepati..."
Bude Ning berdiri dari kursinya.
Beliau melangkah mendekati Wira, mencium aroma udara malam yang melekat di tubuh keponakannya.
Alis wanita paruh baya itu langsung menukik tajam.
"Bau apa ini?!" cerca Bude Ning, mendekatkan hidungnya ke arah bahu Wira.
"Bude tahu loh, Wir... Ini bukan bau asap knalpot motor Mas Yanto. Ini bau... bau wangi bunga. Jangan bilang kamu habis main ke toko kembang, Wira?"
Wira tertawa canggung, mundur selangkah.
"Bude ada-ada aja... Toko kembang mana buka jam sembilan malem? Ini cuma bau angin malem dicampur wangi sabun mandi Wira tadi sore."
"Halah... Alasan!" potong Bude Ning cepat, melipat kedua tangannya di depan dada. Beliau menatap Wira lekat-lekat, menyelami manik mata pemuda itu yang berbinar-binar terang.
"Bude ini sudah makan asam garam kehidupan, Wira. Jangan coba-coba membohongi Bude. Wajahmu itu tidak bisa menipu. Dari semenjak kamu pulang dari Bukit Bintang... eh, maksud Bude, dari semenjak kamu pulang main sama teman-temanmu, mukamu berseri-seri seperti orang menang undian rumah."
Mendengar kata 'Bukit Bintang' terucap dari mulut Bude Ning, jantung Wira nyaris copot dari tempatnya.
Wajahnya seketika memucat panik.
"B-Bukit Bintang? Siapa yang ngomongin Bukit Bintang, Bude? Wira kan cuma bilang dari nongkrong," sangkal Wira terbata-bata, keringat dingin mendadak mengucur di pelipisnya.
Bude Ning mendengus geli, meski ekspresi wajahnya tetap dibuat seseram mungkin.
"Tuh kan! Belum juga Bude sebut nama tempatnya secara lengkap, kamu sudah kelabakan sendiri. Tadi kamu bilang cuma nongkrong, sekarang malah keceplosan sebut Bukit Bintang. Wah, wah, wah... sepertinya otak encermu itu sudah kecantol sama anak gadis orang, ya?"
Wira menyadari ia telah masuk ke dalam perangkap psikologis yang dipasang oleh bibinya sendiri. Preman Bogor itu akhirnya menyerah.
Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, menyandarkan punggungnya dengan pasrah sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.
"Ampun, Bude... Ampun... Jangan diinterogasi kayak maling ayam begini, dong!" gerutu Wira, meski di bibirnya masih tersisa senyuman geli.
"Iya... Iya... Wira ngaku... Wira dari Bukit Bintang."
Bude Ning ikut duduk kembali di kursi seberang Wira.
Wajahnya yang tadinya tegang kini melunak, digantikan oleh senyuman penuh kemenangan seorang orang tua yang berhasil membongkar rahasia anak muda.
"Nah, begitu dong dari tadi... Kan enak... Nggak usah bohong-bohong, bikin dosa!" ujar Bude Ning puas. Beliau mengambil cangkir tehnya lagi dan menyeruputnya pelan.
"Jadi... pergi sama siapa kamu sampai pulangnya senyum-senyum begitu? Anak gadis mana yang sudah berhasil membuat preman pasar malam-malam naik motor tua ke gunung?"
Wira mendengus pelan, menatap lurus ke arah Bude Ning dengan tatapan yang sedikit memohon agar bibinya tidak meledeknya terlalu berlebihan.
"Bude tahu sendiri orangnya, kan? Nggak usah pura-pura nggak tahu deh!"
"Mana Bude tahu kalau tidak kamu sebut namanya!" pancing Bude Ning dengan nada menggoda.
"Asmara, Bude..." sebut Wira akhirnya, menyerah telak. Suaranya meluncur pelan, namun ada nada bangga yang tak bisa ia sembunyikan saat menyebut nama gadis itu.
"Asmara Putri namanya... Anak Abdi Dalem keraton yang dulu Bude sempat dengar cerita hukumannya dari Pak Anton."
Mendengar nama itu, ekspresi Bude Ning berubah total.
Gurat-gurat geli di wajahnya berangsur-angsur menghilang, berganti dengan sebuah keterkejutan yang nyata, disusul oleh binar kekaguman di matanya.
"Asmara?! Beneran Mbak Asmara?! ulang Bude Ning memastikan, alisnya terangkat tinggi.
"Anak gadis yang jadi pengawas kamu di Ruang Budaya itu? Wah, wah, wah... hebat juga selera keponakan Bude ini... Berani sekali kamu mendekati kembang perawan Jeron Beteng."
Wira menegakkan duduknya, merasa harga dirinya sebagai laki-laki sedikit terkuak oleh komentar Bude Ning.
"Bukan berani atau nggak berani, Bude... Wira emang niatnya tulus kok... Asmara itu anak baik-baik. Pintar, sopan, dan... yaaa, intinya dia beda dari yang lain lah, hehehehe..."
"Beda bagaimana maksudmu?" tanya Bude Ning serius, meletakkan cangkirnya kembali ke meja.
Wira terdiam sejenak. Ia merangkai kata-kata di dalam kepalanya, mencoba menjelaskan betapa berartinya Asmara dalam proses transformasinya di kota ini.
"Dia nggak kayak cewek-cewek lain yang gampang terpesona sama gaya tengil atau tebar pesona Wira," cerita Wira, suaranya melunak, matanya menerawang jauh mengingat momen-momen mereka bersama.
"Waktu pertama kali ketemu, dia marahin Wira habis-habisan karena Wira bikin onar di sekolah. Dia ngajarin Wira arti kesabaran, arti menghargai hal-hal kecil, dan... dia nggak pernah ninggalin Wira pas Wira lagi hancur-hancurnya di kota ini."
Bude Ning mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sebagai seorang bibi yang mengamati langsung bagaimana keponakannya datang dari Bogor dengan membawa sejuta amarah, dendam, dan frustrasi, Bude Ning adalah orang yang paling tahu betapa tersiksanya Wira di minggu-minggu pertama kedatangannya.
Melihat Wira sekarang—yang duduk di hadapannya dengan mata berbinar, penuh kedamaian, dan menceritakan seorang gadis dengan rasa hormat yang begitu besar—Bude Ning merasakan kelegaan yang luar biasa dalam di dadanya.
Namun, sebagai orang tua, Bude Ning tahu persis apa tugasnya saat ini.
Beliau tidak boleh membiarkan anak muda ini terlena begitu saja oleh euforia cinta pertama.
"Bude senang mendengarnya, Wira," ucap Bude Ning pelan, suaranya berubah menjadi sangat bijak.
"Bude melihat sendiri bagaimana kamu berubah selama dua bulan terakhir ini. Kamu jadi lebih rajin, lebih tenang, dan jarang mengeluh. Kalau perubahan itu terjadi karena ada Asmara yang membimbingmu ke arah yang lebih baik, Bude sangat bersyukur."
Wira menatap bibinya dengan pandangan terkejut.
Ia mengira Bude Ning akan menceramahinya panjang lebar tentang larangan berpacaran, mengingat latar belakang keluarga Asmara yang sangat konservatif dan terhormat.
"Bude... nggak marah Wira ajak anak gadis orang jalan malam-malam?" tanya Wira hati-hati.
Bude Ning mendengus pelan. "Marah? Kenapa harus marah? Bude ini bukan penjara militer, Wira. Bude tahu kamu sudah besar, sudah tujuh belas tahun, wajar kalau mulai tertarik sama lawan jenis. Lagian, Asmara itu anak yang baik. Didikan keluarganya sangat ketat. Kalau kamu bisa mendekati anak seperti dia, itu artinya kamu juga harus membuktikan diri bahwa kamu pantas berada di sisinya."
Wira mengangguk, menyimak setiap kata yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu dengan sepenuh hati.
"Tapi," Bude Ning menaikkan telunjuknya, memasang wajah tegas ala seorang tetua yang memberikan petuah sakral.
"Dengar baik-baik apa kata Bude ini, Wira Aji Pratama."
"Iya, Bude. Wira dengerin," jawab Wira patuh.
"Berhubung kamu ini sedang mendekati anak dari keluarga priyayi keraton yang menjunjung tinggi tata krama dan unggah-ungguh, maka batasan pergaulanmu harus dijaga dengan sangat ketat," pesan Bude Ning dengan suara berat dan berwibawa.
"Jangan pernah berani merusak nama baiknya! Jangan buat orang tuanya kecewa atau menangis karena kamu berbuat sembrono di luar batas!"
Wira meneguk ludahnya. Ia mengangguk dengan sangat serius.
"Wira paham, Bude... Wira nggak bakal macam-macam! Tadi malam aja waktu pulang, Wira antar dia sampai depan gang rumahnya, nggak berani masuk lewat gerbang utama karena menghargai aturan keluarganya."
Mendengar itu, Bude Ning mengangguk puas. Senyuman tipis kembali tersungging di bibirnya.
"Bagus... Itu artinya otak encermu masih berfungsi dengan baik. Laki-laki sejati itu bukan yang bisa berbuat apa saja pada perempuan yang dicintainya, melainkan yang bisa menahan diri dan melindungi kehormatan perempuan tersebut."
Bude Ning berdiri dari kursinya, merapikan daster batiknya. "Sudah, malam makin larut. Jangan kebanyakan melamun atau senyum-senyum sendiri di kamar nanti, pamali. Cepat cuci muka, ganti baju, dan istirahat. Besok hari Minggu, jangan bangun kesiangan."
"Siap, Bude!" jawab Wira sigap.
Bude Ning berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamar tidurnya, menyisakan Wira yang masih duduk bersandar di sofa. Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, Bude Ning sempat melirik sekilas dan berkata, "Oh ya, jaket denimmu mana? Kok nggak ada? Jangan lupa dicuci besok. Wangi melatinya sudah nempel di sekujur tubuhmu itu."
Wira merona merah di sekujur wajahnya, membuat Bude Ning tertawa kecil di balik pintu kamarnya.
Setelah keheningan kembali menguasai rumah tersebut, Wira bangkit dari sofa. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah ringan.
Setibanya di dalam kamar, ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut.
Matanya menyapu seisi kamarnya yang tadi pagi berantakan karena ia bingung memilih baju. Sekarang, kekacauan itu terasa tidak penting lagi.
Yang penting adalah malam Minggu yang baru saja ia lewati bersama Asmara.
Pelukan di pinggangnya saat masih di atas motor, obrolan hangat di Bukit Bintang, dan jaket denim yang kini menjadi saksi bisu betapa dalamnya ia telah jatuh ke dalam pesona sang gadis keraton.
Wira merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Ia menatap langit-langit kamar sambil memutar ponsel di tangannya.
Senyuman lebar kembali merekah di wajahnya, menghapus seluruh sisa kelelahan hari itu.
.....
.....
Di tempat yang berbeda, di dalam kamar tidurnya yang bernuansa klasik di kawasan Jeron Beteng...
Asmara Putri sedang berbaring menatap jendela kamarnya yang terbuka...
Membiarkan angin malam berhembus membelai pipinya.
Gadis itu memeluk erat jaket denim Wira yang terlipat rapi di dadanya, menghirup aroma citrus yang menenangkan.
Meskipun malam ini mereka berdua tidur di bawah atap rumah yang terpisah oleh jarak beberapa kilometer...
Namun, hati mereka telah sepenuhnya terpaut di tempat yang sama.
Sebuah awal dari babak baru yang jauh lebih mendebarkan, yang siap menyambut mereka di minggu-minggu berikutnya di SMA Budi Bangsa.