Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut yang Paling Aman

Langkah kami terhenti di area parkir, tepat di samping motor Adrian. Ia mengambil tas gitar kain berwarna hitam dari boncengan, lalu menyilangkannya santai di punggung.

"Yuk," ajaknya.

"Ke mana, Mas?" tanyaku bingung.

"Masuk lagi. Tapi tenang aja, Mas enggak bakal biarin kamu kesana lagi. Mas punya tempat yang lebih seru," jawabnya lembut seraya melempar senyum menenangkan.

Aku membalas senyumnya dan menerima ajakannya tanpa ragu. Kami berjalan kembali melintasi lorong kafe. Dari kejauhan, mataku sempat menangkap sosok Naura yang masih mengobrol heboh dengan Bastian, gaya bicaranya memang selalu ekspresif. Tak jauh dari situ, Ray duduk terdiam sendirian memperhatikan teman-temannya yang sedang perform di panggung.

Ada apa dengan Ray? Kenapa dia kelihatan semuram itu? terbesit pertanyaan di dalam benakku. Namun, sebuah detik kemudian aku tersadar... Ray bukan lagi urusanku. Apakah aku sudah benar-benar berpaling darinya? Entahlah, sepertinya iya.

Adrian berjalan di sampingku, menuntun langkahku menuju area kafe yang lebih dalam. Kami keluar melintasi pintu kaca belakang dan tiba di sebuah halaman kecil yang rindang. Tidak ada meja atau kursi untuk pengunjung di sini, hanya ada meja kayu kecil dan beberapa kursi sederhana di bawah naungan pohon besar. Pemandangannya langsung menghadap ke arah lorong dapur, tapi tidak memperlihatkan aktivitas di dalamnya secara langsung. Di sudut halaman, tampak papan catur kayu yang belum dirapikan dan sebuah bola sepak tergeletak di rumput.

Tempat ini begitu sunyi, sejuk, dan teduh. Mungkin ini sudut pribadi milik Bram untuk beristirahat, atau area bersantai para karyawan kafe.

"Duduk, Ser. Kok malah bengong?" tegur Adrian terkekeh pelan.

"Mas, ini tempat apa?" tanyaku takjub sambil memandangi sekeliling.

"Kamu suka?"

"Suka banget, Mas," jawabku bersemangat seraya menarik salah satu kursi kayu dan duduk di atasnya.

Adrian tersenyum hangat. Ia melepas tas gitar dari punggungnya, lalu mengeluarkan sebuah gitar akustik berwarna hitam yang dipenuhi stiker band rock klasik seperti Green Day dan beberapa stiker lainnya.

"Kamu bisa main gitar, kan?" tanya Adrian.

"Sedikit, Mas."

Adrian memangku gitar itu. Jemari panjangnya mulai memetik senar perlahan, menciptakan alunan nada yang amat merdu. Ia memejamkan mata, meresapi tiap getaran nada yang mengudara di sudut sepi ini.

Dia memang sangat tampan, gumamku dalam hati tanpa sanggup mengalihkan pandangan dari pahatan wajahnya.

Adrian membuka matanya, menatapku hangat. "Sekarang boleh Mas minta Sera yang mainin?" tanyanya menyodorkan gitar itu padaku.

"Lagu apa, Mas?" tanyaku mendadak gugup.

"Lagu yang kemarin Sera mainin di kamar Kania, boleh?"

"Lagu Semua Tentang Kita-nya Peterpan?" tanyaku memastikan.

"Yap," jawabnya mantap.

Aku menerima gitar itu dan memeluknya. Perlahan, jemariku mulai memetik senar demi senar, merangkai melodi pembuka yang sangat dihafal banyak orang. Adrian memperhatikan jemariku sebentar, lalu menyambung nada gitarku dengan suaranya yang khas.

"Waktu terasa semakin berlalu... tinggalkan cerita tentang kita. Akan tiada lagi kini tawamu, 'tuk hapuskan semua sepi di hati… Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala... Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa…"

Suara Adrian terdengar berat, hangat, dan sangat teratur. Sangat nyaman menelusuri pendengaranku. Aku terus memetik nada dengan tenang, sementara Adrian melanjutkan bait demi bait.

"teringat disaat kita tertawa bersama ceritakan semua tentang kita… Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala... Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa…"

Aku membiarkan petikan senar terakhir berdengung halus hingga nada benar-benar menghilang. Adrian masih memejamkan mata, meresapi sisa-sisa melodi peterpan yang baru saja kami selesaikan.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan riuh memecah keheningan di antara kami.

"Bravo! Bravo! Luar biasa!" seru Bram melangkah mendekati kami sambil bertepuk tangan heboh. "Gue cari ke mana-mana, tahu-tahunya kalian malah berduaan di sini!"

"Sera bisa main gitar? Keren banget!" puji Bram antusias. "Ser, Yan... mau enggak kalian naik ke panggung di depan? Gantiin band gue sebentar. Sound system gitar listriknya mendadak bermasalah, jadi band gue batal perform. Kalian gantiin sebentar berdua ya?" mohon Bram penuh harap.

Aku dan Adrian kompak menggelengkan kepala.

"Sumpah, tadi kalian keren banget! Sayang banget kalau pertunjukan tadi cuma didengerin rumput halaman belakang kafe gue. Ayolah, Bro! Come on, satu lagu doang, sepuluh menit juga enggak nyampe!" bujuk Bram makin gencar.

Adrian menatap Bram jahil. "Bayarannya gue sama Sera boleh dinner gratis di kafe lo sepuluh kali?" tawar Adrian menaikkan alisnya.

"Gila lo! Ya enggak gitu juga lah, itu mah ngalahin honor band profesional! Dua kali dinner deh!" tawar Bram kembali. Ia lalu beralih menatapku dengan mata memohon. "Gimana, Sera? Mau ya, Ser... please..."

"Aku enggak pernah tampil di depan umum, Kak. Malu," jawabku jujur, merasa tak percaya diri.

"Yaaah..." desah Bram kecewa.

Adrian menoleh menatap mataku, memberikan rasa aman yang membuncah. "Ada Mas kok. Kamu cukup main dengan tenang kayak tadi aja. Gimana?" tanyanya lembut.

Aku menggigit bibir bawahku, menimbang-nimbang bujukan mereka sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Ya udah..."

"Yesss! Thanks, Bro! Thanks banget ya, Sera! Sekarang yuk!" ajak Bram girang.

Kami bertiga bergegas menuju area dalam kafe dan bersiap di balik panggung kecil. Panggungnya tidak terlalu tinggi, hanya sebuah area yang ditata khusus untuk peralatan musik dan beberapa mikrofon. Sementara Bram naik ke atas panggung untuk memberikan pengumuman, aku dan Adrian menunggu di samping panggung.

"Halo semuanya! Gue minta maaf banget karena River Band enggak jadi tampil malam ini karena ada kendala teknis" ucap Bram memegang mikrofon di panggung. "Tapi tenang aja! Sebagai gantinya, gue persembahkan penampilan akustik istimewa dari dua lovebird gue... Adrian dan Sera! Berikan tepuk tangan yang meriah!"

Mataku membelalak kaget. "Apa katanya tadi, Mas? Lovebird?" bisikku malu setengah mati.

Adrian tertawa terkekeh. "Sialan emang si Bram. Ya udah, ayok naik."

Aku dan Adrian melangkah naik ke atas panggung. Para pengunjung kafe bertepuk tangan secara sopan. Aku mencoba menetralkan degup jantungku yang bertalu-talu. Lagipula, apa yang kuharapkan? Tepuk tangan gemuruh bak konser besar? Memangnya aku siapa? Synyster Gates? Aku kan bukan siapa-siapa.

"Lihat? Biasa aja, kan?" bisik Adrian menenangkan keteganganku. "Jadi anggap aja mereka semua enggak lagi memperhatikan kita."

Namun di antara kerumunan pengunjung, aku melihat Naura berdiri dan berteriak sangat heboh. "Lihat! Sera mau perform!" serunya pada Ray dan Bastian. Tangannya sibuk mengarahkan kamera ponsel untuk merekamku. Di sebelahnya, Ray tampak terbelalak kaget, menatapku tak percaya dengan kedua tangan yang bertepuk pelan.

"Kita langsung mulai aja, Mas?" tanyaku memposisikan diri di kursi panggung.

"Yup! Mengalir aja kayak tadi, enggak usah pakai pembukaan," sahut Adrian tersenyum manis.

Aku memangku gitar hitam milik Adrian, mengatur napas, lalu mulai memetik senarnya. Begitu nada pertama bergema di seluruh ruangan kafe, raut wajah Adrian berubah sangat tenang. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menggenggam erat gagang mikrofon, dan mulai menyanyikan lirik lagu itu dengan penuh penghayatan.

Melihat ketenangan di wajahnya, rasa percaya diriku yang sempat hilang mendadak kembali utuh. Kami kembali bernyanyi bersama, persis seperti di halaman belakang tadi, namun kali ini, di hadapan puluhan pasang mata yang terpaku pada kami.

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!