Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Wawancara di Sarang Musuh
Kantor Praetora Nusantara menempati dua lantai gedung menengah di kawasan Kuningan, jauh lebih rapi dan profesional dari yang Raka bayangkan untuk perusahaan yang diam-diam menjadi kaki tangan keamanan Andratama. Ia dan Bara duduk berdampingan di ruang tunggu, masing-masing memegang berkas lamaran dengan nama palsu yang disiapkan Wulan semalam — lengkap dengan riwayat kerja, nomor telepon aktif, bahkan testimoni dari "atasan lama" yang sebenarnya nomor Wulan sendiri.
"Bagas Purnomo dan Yudi Setiadi?" panggil seorang wanita berseragam rapi, membaca dari clipboard.
Mereka berdiri, mengikuti wanita itu ke ruang wawancara kecil, di mana seorang pria berusia lima puluhan sudah menunggu di balik meja — badan tegap, potongan rambut cepak, gaya duduk yang terlalu disiplin untuk sekadar manajer HR biasa.
"Pak Harun. Mantan Kopassus, sekarang kepala operasional lapangan Praetora," bisik Bara sebelum pintu terbuka, mengenali wajah itu dari database lama yang pernah ia lihat.
Raka menahan napas sejenak. Dunia militer Indonesia tidak terlalu besar di level elite — kemungkinan mereka pernah bersinggungan jauh lebih tinggi daripada yang nyaman.
Wawancara berjalan standar selama beberapa menit — pengalaman kerja, ketersediaan waktu, kemampuan fisik dasar — sampai Pak Harun menatap Raka lebih lama dari yang seharusnya.
"Kau punya postur seperti orang yang pernah dilatih formal," katanya, nadanya santai tapi matanya tajam menilai. "Di unit mana dulu?"
"Wajib militer daerah, Pak. Nggak lama, cuma setahun," jawab Raka, datar, sudah menyiapkan jawaban itu sejak semalam.
Harun mengangguk pelan, tidak sepenuhnya percaya tapi juga tidak punya alasan untuk menyelidik lebih jauh — sampai matanya berhenti di titik kecil di leher Raka, bekas luka lama dari serpihan granat yang seharusnya sudah tersembunyi rapat di balik kerah kemeja.
"Luka itu bukan luka wajib militer daerah," kata Harun pelan, hanya untuk mereka bertiga di ruangan itu.
Hening sejenak. Bara mengalihkan pandangan sedikit, siap bergerak kalau situasi memburuk.
Tapi kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi. Harun tersenyum tipis, hampir seperti seseorang yang mengenali kode yang sama dalam bahasa yang sudah lama tak ia dengar.
"Aku tidak akan tanya lebih jauh," katanya, menutup berkas lamaran. "Orang-orang seperti kita punya alasan sendiri untuk menyimpan masa lalu. Yang aku butuhkan cuma dua orang yang bisa diandalkan untuk pengamanan acara minggu depan, bukan riwayat lengkap hidup kalian." Ia menyodorkan dua lembar kontrak kerja sementara. "Kalian diterima. Briefing hari Kamis, jam sembilan pagi."
Di luar gedung, setelah semuanya selesai, Bara menghela napas panjang. "Untuk sesaat aku pikir kita harus lari lewat tangga darurat."
"Aku juga," Raka mengakui, meski wajahnya tetap datar. "Tapi orang seperti Harun tahu kapan harus bertanya dan kapan harus berhenti. Itu yang membuatnya berbahaya di sisi lain — dia mungkin sudah tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan."
Malam itu, makan malam di rumah utama keluarga Wijayakusuma berlangsung lebih tegang dari biasanya. Handoko meletakkan sendoknya perlahan, menatap Raka yang berdiri di sudut ruangan seperti biasa, menunggu untuk membersihkan meja.
"Raka," panggilnya, nada yang tidak biasa ia gunakan untuk seorang sopir. "Duduklah. Sekali ini saja."
Kakak ipar Cinta, Reza, mendengus pelan dari ujung meja, jelas tidak setuju tapi tidak berani membantah ayahnya secara langsung.
Raka duduk, canggung di antara peralatan makan mahal yang tak pernah ia sentuh.
"Aku sudah menyewa perusahaan investigasi untuk memeriksa latar belakangmu," kata Handoko, langsung tanpa basa-basi. "Bukan karena aku tidak percaya kejadian di lampu merah itu murni keberuntungan. Justru karena aku terlalu percaya itu bukan keberuntungan."
Jantung Raka berdegup sekali, cepat, sebelum kembali tenang dengan latihan bertahun-tahun mengendalikan reaksi tubuhnya sendiri. "Saya tidak menyembunyikan apa pun yang perlu dikhawatirkan, Pak."
"Kita akan lihat itu," jawab Handoko, matanya menyipit menilai. "Hasilnya akan keluar akhir minggu ini — tepat sebelum penandatanganan merger." Ia mengambil kembali sendoknya, seolah percakapan itu baru saja membahas cuaca. "Aku harap, demi putriku, kau memang seperti yang kau klaim."
Di seberang meja, Cinta menatap suaminya dengan mata yang menyembunyikan kepanikan di balik wajah tenang yang dipaksakan — karena mereka berdua tahu, identitas palsu Raka selama tiga tahun ini dibangun untuk menipu pengawasan biasa, bukan investigasi menyeluruh yang bisa dipesan oleh kekayaan tak terbatas seorang konglomerat.