Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkit Kembali
Selama beberapa hari masa pemulihannya di dalam kamar, Serena Amaryllis lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdiam diri, merenungkan kembali jalan hidupnya ke depan. Di luar dugaan, setelah badai emosi dan air matanya mereda, akal sehat Serena mulai bekerja.
Jika dipikir-pikir kembali dengan kepala dingin, semua ucapan Sergio ternyata ada benarnya. Meskipun ia adalah istri seorang pemimpin mafia dan dikelilingi banyak penjaga bersenjata, pasti akan tiba masanya di mana ia harus berdiri di atas kakinya sendiri dan mengandalkan kekuatannya sendiri saat dalam bahaya. Lagi pula, mayat, darah, dan senjata api adalah fondasi mutlak dari dunia bawah tanah yang kini ia tinggali, lari dari kenyataan tidak akan mengubah apa pun.
Tekad bulat itu akhirnya terbentuk di dalam hati Serena. Pagi itu, saat Anna datang membawa nampan berisi sarapan, Serena sudah duduk dengan rapi di tepi ranjang dengan mata yang menyiratkan ketegasan baru.
"Anna," panggil Serena mantap, menatap pelayan pribadinya itu lekat-lekat.
Anna yang sedang meletakkan nampan tersenyum ramah. "Ada apa, Nyonya? Apakah ada yang kurang dari sarapan Anda?" tanya Anna sopan.
"Bukan soal sarapan," balas Serena sambil menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Mulai hari ini, aku mau melanjutkan latihanku. Aku mau belajar menembak dan memanah lagi secara serius."
Mendengar pernyataan tak terduga itu, Anna sontak terkejut. Wanita paruh baya mantan pasukan elit tersebut mengerjap beberapa kali, tidak menyangka majikannya yang beberapa hari lalu sempat trauma berat hingga demam tinggi kini justru meminta dengan sukarela untuk kembali berlatih senjata.
Sesaat kemudian, senyuman kecil penuh kekaguman terukir di bibir Anna. Ia merasa kagum dengan mental baja yang perlahan tumbuh di dalam diri gadis muda di hadapannya ini.
"Pilihan yang luar biasa, Nyonya," puji Anna tulus, membungkuk hormat.
"Saya sangat bangga mendengarnya. Jika itu keputusan Anda, saya akan segera memerintahkan para penjaga khusus penembak jitu di mansion ini untuk menyiapkan jadwal latihan Anda di lapangan indoor."
Serena mengangguk mantap, lalu teringat sesuatu. "Oh ya, Anna! Kalau bisa, suruh Calum saja yang mengajariku seperti biasa," pinta Serena polos tanpa beban, mengingat pria berambut putih itu adalah instruktur aslinya sebelumnya.
Begitu nama Calum disebut, raut wajah Anna yang tadinya ramah mendadak sedikit terdiam. Gerakan tangan wanita paruh baya itu yang tadinya merapikan seprai seketika terhenti. Ada jeda beberapa detik sebelum Anna kembali mengangkat wajahnya dan memasang senyuman sopannya.
"Ehm... Mengenai Tuan Calum, Nyonya..." ucap Anna dengan nada berhati-hati.
"Untuk saat ini, beliau sedang tidak berada di mansion. Tuan Calum sedang ditugaskan oleh Tuan Sergio untuk mengurus pekerjaan penting di tempat lain."
Serena mengerutkan keningnya heran. "Oh ya? Ke mana?" tanyanya penasaran.
"Saya tidak berwenang mengetahui detail tugas luar beliau, Nyonya," jawab Anna sopan berkelit.
Padahal, alasan sebenarnya mengapa Calum tidak terlihat di mansion adalah karena pria itu tengah diistirahatkan atau mendapat sanksi tugas berat di garis depan oleh Sergio akibat kelalaiannya hampir membiarkan Serena celaka di hutan malam itu. Namun, Anna tentu tidak boleh menceritakan rahasia internal organisasi kepada majikannya.
"Ah, begitu ya... Sayang sekali padahal aku sudah terbiasa diajarinya," gumam Serena pelan, lalu mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Ya sudah, kalau begitu siapa saja instruktur yang ada, asalkan mereka sabar mengajariku dari awal lagi."
"Baik, Nyonya. Saya akan memanggil instruktur terbaik untuk mendampingi Anda di lapangan tembak bawah tanah pukul sembilan nanti," ujar Anna patuh.
Pukul sembilan pagi tepat, Serena sudah mengenakan pakaian latihan yang nyaman. Ditemani oleh Anna, ia melangkah masuk ke dalam lapangan tembak indoor bawah tanah yang sudah tidak asing lagi baginya. Dua orang instruktur pria berbadan tegap dan mengenakan lencana pengawas khusus sudah berdiri menunggu di dekat meja senjata.
"Selamat pagi, Nyonya Ziegler," sapa kedua instruktur itu serempak dengan gestur hormat ala militer.
"Pagi," balas Serena ramah, tersenyum kecil mencoba menepis sisa-sisa rasa gugup di dadanya. Ia tahu, ia harus menghadapi ketakutannya sendiri hari ini.
Seorang instruktur berambut pelontos maju ke depan, meletakkan sepucuk pistol jenis semi-otomatis di atas meja besi.
"Hari ini kita akan mengulang kembali dasar-dasar membidik, Nyonya. Apakah Anda siap?"
Serena menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk yakin. "Aku siap. Silakan ajari aku dari awal lagi."
"Baik. Pertama-tama, perhatikan posisi kaki Anda. Buka selebar bahu, rilekskan tangan, dan jangan kaku," instruksi instruktur itu sabar, mulai membimbing cara memegang gagang pistol dengan benar.
Serena mendengarkan setiap instruksi dengan saksama. Kali ini, tidak ada rasa terpaksa atau rengekan seperti di hari-hari pertama dulu. Pikirannya jauh lebih fokus. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan moncong pistol lurus ke arah papan target yang berjarak lima belas meter di ujung ruangan.
"Bagus, Nyonya. Jaga napas Anda, lalu tarik pelatuknya perlahan saat bidikan sudah pas di tengah," bisik sang instruktur.
Dorrr!
Suara letusan senjata menggema di ruangan tertutup itu. Serena mengerjap kaget sesaat, lalu buru-buru melihat ke arah papan sasaran. Pelurunya meleset sedikit ke sisi kanan lingkaran merah, namun itu jauh lebih baik dari perkiraannya.
"Lumayan, Nyonya! Untuk pemula yang sempat berhenti beberapa hari, akurasi Anda cepat kembali," puji instruktur tersebut.
Serena tersenyum puas. "Yey! Aku masih ingat teorinya!" serunya antusias, membuat Anna yang berdiri di pinggir lapangan ikut tersenyum lebar melihat semangat majikannya telah kembali.
"Hebat sekali, Nyonya. Anda belajar dengan sangat cepat," puji Anna memberikan tepuk tangan kecil.
"Terima kasih, Anna! Rasanya jauh lebih baik sekarang setelah aku tidak memikirkan hal-hal menyeramkan lagi," ujar Serena tersenyum ceria.
Setelah sesi menembak pistol selesai dan dianggap cukup memuaskan, latihan dilanjutkan ke sesi berikutnya yang sempat tertunda akibat insiden di hutan.
Di area matras terbuka bagian dalam mansion, sebuah papan target panahan standar telah disiapkan. Seorang instruktur ahli panahan menyerahkan busur modern ringan kepada Serena.
"Ingat, Nyonya, memanah memerlukan kestabilan otot lengan dan ketenangan pikiran. Tarik tali busurnya ke arah dada dengan stabil," terang instruktur panahan tersebut memberikan contoh.
Serena menerima busur itu dengan kedua tangannya. Mengingat bakat tersembunyinya beberapa waktu lalu, ia merasa sedikit lebih percaya diri. Ia memasang anak panah pada jalurnya, menarik tali busur sekuat tenaga ke arah belakang, membidik lurus target lingkaran merah di depannya tanpa ada bayangan-bayangan mengerikan tentang pohon atau mayat lagi di dalam kepalanya.
"Fokuskan pandangan pada satu titik, Nyonya..." bisik instruktur.
Syuuung!
Anak panah melesat mulus membelah udara, dan... Thub!
Anak panah itu menancap dengan sempurna tepat di lingkaran angka sembilan, sangat dekat dengan titik tengah target!
"Wahhhh! Masuk! Aku kena hampir di tengah!" teriak Serena kegirangan, melompat-lompat kecil di tempat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Anna tertawa renyah melihat tingkah laku majikannya yang kembali ceria dan penuh energi positif.
"Luar biasa, Nyonya! Anda benar-benar memiliki bakat terpendam di bidang memanah!" puji Anna tulus.
Serena tertawa senang, menaruh kembali busurnya di atas meja. "Iya kan, Anna?! Ternyata memanah itu seru banget kalau tidak dilakukan di dalam hutan seram waktu itu!" guraunya riang.
Meskipun dalam hati Anna tersenyum masam mengingat aturan ketat bahwa latihan memanah dan menembak yang sebenarnya di dunia mafia memang harus dilakukan di alam liar, ia memilih membiarkan Serena menikmati hari kebangkitannya ini dengan tenang.
Di sela-sela istirahat latihan, ponsel pintar hitam pemberian Sergio yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring menampilkan panggilan masuk. Serena melirik layar ponsel tersebut dan melihat nama kontak yang tertera di sana tanpa nama, namun ia tahu persis siapa pemilik nomor eksklusif itu.
Serena mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap Anna dengan senyuman penuh arti.
"Wah, sepertinya sang penguasa egois itu sudah tahu kalau aku mulai rajin latihan di sini," gumam Serena jenaka, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari suaminya yang sedang berada di luar kota.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔