⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 1: Bidak di Atas Papan Catur
Awal cerita...
Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu berukir di kediaman Jenderal Shen. Aroma minyak melati yang menyengat bercampur dengan bau rempah mandi membumbung tinggi, memenuhi kamar luas yang terasa sesak dan mencekam.
Di tengah ruangan, seorang gadis bertubuh kurus duduk tegak di depan cermin tembaga yang besar. Wajahnya pucat pasi, bibirnya yang kering sedikit bergetar setiap kali jemari kasar para pelayan menarik rambutnya tanpa perikemanusiaan.
"Tarik lebih kencang lagi! Jangan biarkan ada satu helai pun yang berantakan!" suara nyaring dan dingin menggema dari arah pintu.
Jiang Xiuwei berdiri bersedekap. Gaun sutra mewahnya yang berwarna hijau zamrud berkilau diterpa cahaya lilin, melambangkan posisinya sebagai wanita yang kini memegang kendali penuh atas Kediaman Jenderal Shen.
Matanya yang tajam menatap dingin pada sosok gadis di depan cermin melalui pantulan kaca tembaga tersebut.
"Persiapkan Shen Yue dengan penampilan paling sempurna malam ini. Jangan sampai Putra Mahkota bahkan tidak mau meliriknya," perintah Jiang Xiuwei dengan nada penuh penekanan.
Tidak ada kehangatan seorang ibu di sana, yang ada hanyalah ambisi yang dingin dari seorang selir sang ayah.
"Baik, Nyonya!" seru tiga orang pelayan senior bersamaan.
Tangan-tangan mereka bergerak makin cepat dan kasar. Seorang pelayan menekan bahu Shen Yue dengan kuat agar gadis itu tidak bergerak, sementara yang lain menarik korset ketat di pinggangnya dengan sekali hentakan keras.
"Ah..." Shen Yue meringis pelan. Napasnya tertahan. Rasa sakit menjalar dari rusuknya yang terhimpit pakaian ketat itu. Tangannya yang kurus meremas pinggiran meja kayu hingga memutih di bagian buku-buku jarinya.
"Tahan rasa sakitmu, Nona Muda," bisik salah satu pelayan dengan nada meremehkan, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat pada putri sulung pemilik kediaman ini. "Malam ini adalah malam penting bagi Kediaman Shen. Jika Anda bertindak ceroboh dan membuat Putra Mahkota merasa terganggu, Nyonya Besar tidak akan segan-segan menghukum kita semua, termasuk Anda."
Shen Yue menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya yang panjang ditarik ke atas, dan disanggul tinggi dengan hiasan tusuk konde perak yang berat.
Ujung tajam tusuk konde itu sempat menggores kulit kepalanya, hingga menyisakan rasa perih yang menjalar, namun Shen Yue tidak berani bersuara.
Ia tau benar posisinya. Sejak ibunya meninggal dunia beberapa tahun lalu, kehidupan Shen Yue di kediaman ini tak ubahnya seperti seorang tawanan berpangkat tinggi.
Ayahnya, Jenderal Shen Longwei, adalah pria yang ditakuti di medan perang dan dihormati di istana. Namun di dalam rumahnya sendiri, mata sang jenderal telah dibutakan oleh pesona dan kebohongan Jiang Xiuwei.
Apapun yang dikatakan wanita itu, ayahnya selalu membenarkannya. Shen Yue yang lemah, pemalu, dan tidak memiliki bakat beladiri maupun intrik, perlahan-lahan disingkirkan hingga tak memiliki suara sama sekali.
"Angkat kepalamu, Yue-er," langkah kaki Jiang Xiuwei mendekat. Suara ketukan sepatunya di atas lantai kayu terdengar bagai ketukan lonceng kematian bagi Shen Yue.
Dagu Shen Yue dicengkeram pelan namun penuh ancaman oleh jemari Jiang Xiuwei yang dihiasi cincin giok. Wanita itu lantas memaksa Shen Yue menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Lihat dirimu," ujar Jiang Xiuwei sambil tersenyum tipis. "Wajah cantik ini adalah satu-satunya aset berharga yang kau miliki. Ayahmu telah mengorbankan darah dan nyawanya di garis depan untuk mempertahankan posisi keluarga kita, dan malam ini adalah tugasmu untuk memastikan posisi itu tetap aman. Putra Mahkota Zhao Xiao akan datang."
Nama itu membuat tubuh Shen Yue makin gemetar. Zhao Xiao. Sang Putra Mahkota yang terkenal dingin, kejam, dan tidak berhati. Pria yang memandang semua orang hanya sebagai angka dan alat politik.
"Ingat peranmu malam ini," lanjut Jiang Xiuwei, berbisik tepat di samping telinga Shen Yue. "Kau hanya perlu duduk, tersenyum tipis saat diminta, dan menunjukkan betapa penurutnya calon Putri Mahkota dari klan Shen. Jika kau mengucapkan satu kata saja yang salah dan membuat Yang Mulia Putra Mahkota tersinggung... kau tau betul apa yang terjadi pada pelayan-pelayan pribadimu yang berada di kediaman belakang, bukan?"
Ancaman itu membuat dada Shen Yue makin sesak. Ia tidak takut pada apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri, tubuhnya yang lemah ini sudah terbiasa dengan rasa sakit dan penghinaan. Namun ia tidak ingin orang lain menanggung akibatnya.
"S-saya mengerti... Ibu," bisik Shen Yue dengan suara yang sangat pelan dan bergetar.
"Bagus," Jiang Xiuwei melepaskan cengkeramannya pada dagu Shen Yue lalu mengibaskan tangannya pada para pelayan. "Beri dia bedak dan riasan bibir yang paling merah. Buat wajah pucatnya itu terlihat hidup. Kita tidak ingin Putra Mahkota berpikir kita menyuguhkan mayat di meja jamuan."
Para pelayan pun kembali bekerja. Bedak tebal dibalurkan ke wajah Shen Yue yang mulus, disusul perona merah pada pipi dan bibirnya. Pakaian berlapisan sutra merah muda dan emas yang amat berat kini melekat di tubuhnya yang ringkih.
Setelah hampir dua jam siksaan persiapan itu berlangsung, para pelayan akhirnya melangkah mundur.
Gadis berusia 20 tahun itu kini berdiri di tengah kamar. Penampilannya sungguh luar biasa cantik jelita. Gaun mewahnya mekar dengan sempurna, riasan wajahnya menegaskan mata cantiknya yang berbentuk buah almond, dan kulitnya tampak sehalus porselen terbaik dari istana.
Siapa pun yang melihatnya dari jauh pasti akan terpesona oleh kecantikan sang putri sulung Jenderal Shen.
Namun, jika ada yang melihat lebih dekat, terutama pada mata itu... mereka akan menemukan kehampaan yang mendalam.
Tatapan mata Shen Yue redup, seolah tidak memiliki pijar kehidupan. Ia bagaikan boneka porselen mahal yang dihias sedemikian rupa, siap untuk dipajang dan dijual kepada pemenang tertinggi di atas papan catur politik istana.
"Nyonya, pengawal di gerbang depan melaporkan bahwa iring-iringan kereta Kuda Yang Mulia Putra Mahkota Zhao Xiao telah memasuki jalan utama kediaman," seorang pelayan pria berlutut di luar pintu kamar.
Mata Jiang Xiuwei berkilat penuh ambisi. Ia membalikkan badan dan menatap Shen Yue untuk terakhir kalinya.
"Waktunya tiba," kata Jiang Xiuwei tegas. "Jaga sikapmu, Shen Yue. Masa depan keluarga ini dan nasibmu ditentukan malam ini."
Bersambung...