Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Jebakan
Layar ponsel Cassandra menyala di kegelapan kamar. Pukul sebelas malam, dan satu notifikasi masuk membuat sudut bibirnya terangkat.
“Gue bakal datang, Cas. Jam 7 pagi di parkiran samping. Lu tenang aja, jangan takut.”
Pesan balasan dari Narendra. Singkat, padat, tapi membawa nada protektif yang persis seperti perhitungan Cassandra. Cewek itu melempar ponselnya ke atas kasur empuk, lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Kamarnya yang luas terasa sepi—orang tuanya yang pengusaha selalu sibuk di luar kota, meninggalkan Cassandra sendiri di rumah megah ini.
Namun malam ini, kesepian itu terobati oleh sensasi kemenangan yang mulai terasa di ujung lidahnya.
"Anggita, Anggita... lu pikir lu bisa ngalahin gue cuma pakai gertakan foto?" bisiknya pada kegelapan.
Cassandra tahu persis siapa di balik nomor misterius itu. Siapa lagi yang punya akses ke kamera pengawas jalanan sekitar sekolah atau kenal dekat dengan cowok di foto itu kalau bukan kaki tangan Anggita?
Cowok di dalam foto bernuansa remang itu hanyalah sepupu jauh Cassandra yang semalam baru datang dari luar kota dan meminta dijemput di parkiran luar. Tapi sudut pengambilan gambarnya dibuat sedemikian rupa hingga terlihat seperti adegan intim.
Licik. Namun Anggita tidak tahu bahwa Cassandra jauh lebih licik.
Cassandra memejamkan mata, mematangkan setiap detik skenario yang akan dimainkannya besok pagi.
Pukul 06.45 WIB.
Parkiran samping SMA Garuda masih relatif sepi. Area ini dibatasi oleh tembok tinggi yang dipenuhi tanaman liar dan rimbun pohon mahoni, menjadikannya sudut tersembunyi yang ideal untuk transaksi gelap, perkelahian... atau jebakan drama.
Cassandra berdiri di dekat deretan sepeda motor yang berdebu. Seragam sekolahnya disengaja sedikit kusut di bagian lengan, rambutnya yang biasa terurai rapi disanggul asal-asalan untuk memberi kesan acak-acakan dan terguncang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion motor—ekspresi cemas yang pas, mata yang sedikit diredupkan agar terlihat ketakutan. Perfect.
Langkah kaki terdengar terburu-buru mendekat dari belokan lorong.
Cassandra melirik jam tangannya. 06.52 WIB. Narendra sebentar lagi sampai.
Di saat yang bersamaan, langkah kaki lain—lebih berat dan mantap—datang dari arah berlawanan. Seorang cowok berjaket kulit hitam dengan topi menutupi dahi melangkah mendekati Cassandra. Itu dia, si suruhan Anggita.
"Bagus, lu datang tepat waktu, Cassandra," suara cowok itu berat, mengintimidasi.
Ia merogoh saku jaketnya, menarik keluar sebuah amplop cokelat berisi cetakan foto semalam. "Gue nggak suka basa-basi. Jauhi Narendra dari sekarang, atau foto ini bakal tersebar di mading sekolah dan grup WhatsApp angkatan."
Cassandra melangkah mundur satu titik, membelakangi arah datangnya Narendra yang ia yakini sudah berada di balik dinding lorong.
"Kenapa lu lakukan ini?" suara Cassandra bergetar—sebuah akting luar biasa yang sanggup menipu aktor kelas atas sekalipun. "Gue... gue nggak ada maksud apa-apa sama Narendra. Foto itu salah paham! Tolong jangan hancurin gue..."
"Salah paham gundulmu!" geram cowok berjaket hitam itu seraya maju satu langkah, mencengkeram pergelangan tangan Cassandra dengan kasar. "Lu cewek bermasalah yang cuma mau merusak hubungan Narendra sama Anggita. Anggita itu cewek baik-baik, nggak kayak lu!"
Cengkeraman itu terasa menyakitkan, tapi di dalam hatinya, Cassandra justru bersorak girang. Terus, tahan tangan gue kayak gitu!
"Lepasin! Sakit!" jerit Cassandra cukup keras hingga bergema di area parkiran yang sepi.
"Woi! Lepasin dia!"
Sebuah bentakan nyaring memotong udara pagi. Persis sesuai dugaan Cassandra, Narendra muncul dari balik belokan. Wajah cowok itu memerah, matanya memancarkan kemarahan yang jarang sekali terlihat dari sosoknya yang biasanya tenang.
Narendra berlari cepat, menerjang cowok berjaket hitam itu dan mendorongnya hingga terpental menghantam dinding semen. Kotak-kotak helmet di dekatnya berserakan.
"Maksud lu apa kasar sama cewek, hah?!" bentak Narendra seraya memasang badan di depan Cassandra, menutupi tubuh cewek itu sepenuhnya.
Si cowok berjaket hitam terperanjat. Ia tak menyangka Narendra akan datang secepat ini. Panik karena aksinya terbongkar sebelum waktunya, ia menjatuhkan amplop cokelat di tangannya, berbalik, lalu berlari kencang menghilang ke arah gerbang belakang sekolah.
"Narendra... jangan kejar dia," bisik Cassandra dengan suara tercekat. Ia meremas bagian belakang seragam Narendra, tubuhnya sengaja dibuat gemetar hebat.
Narendra membatalkan niatnya untuk mengejar penyerang tadi. Ia langsung berbalik menghadapi Cassandra. Melihat raut ketakutan di wajah gadis di hadapannya, kemarahan Narendra meluluh berganti dengan rasa iba dan penyesalan yang mendalam.
"Lu enggak apa-apa, Cas?" tanya Narendra lembut, memegang kedua bahu Cassandra untuk memastikannya aman. "Ada yang luka?"
Cassandra menggeleng pelan, menundukkan kepala seraya mengusap pergelangan tangannya yang memerah bekas cengkeraman tadi. "Gue... gue takut banget, Ren. Orang itu neror gue dari kemarin sore. Dia tuduh gue mau ngerusak hubungan lu sama Anggita."
Narendra mengernyitkan dahi. Matanya tak sengaja menangkap amplop cokelat yang terjatuh di tanah. Ia memungutnya dan membuka isinya. Di dalamnya terdapat beberapa foto Cassandra bersama cowok di parkiran semalam, lengkap dengan tulisan spidol merah bertuliskan ancaman murahan.
"Ini... ini foto apa?" tanya Narendra heran.
"Itu sepupu gue, Ren," potong Cassandra cepat, matanya mulai berkaca-kaca—sebuah teknik emosi yang diasahnya dengan sempurna. "Dia baru datang dari Bandung semalam dan minta dijemput karena enggak tahu jalan. Tapi orang itu ambil foto dari jauh dan fitnah gue cewek murahan. Dia ancam mau sebarin ini kalau gue masih berani menyapa lu di sekolah."
Narendra menatap foto itu, lalu menatap pergelangan tangan Cassandra yang memerah. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti pukulan telak. Bagaimana mungkin cewek sepolos dan sebaik ini—yang kemarin memberinya susu cokelat saat ia sedang jatuh—harus menderita dan diintimidasi hanya karena menyapanya?
"Brengsek," umpat Narendra pelan. Ia meremas foto-foto itu hingga remuk dan melemparnya ke tempat sampah. "Lu enggak salah apa-apa, Cas. Ini makin bikin gue yakin kalau ada orang yang sengaja mau bikin lu kelihatan jahat."
Cassandra mendongak, menatap mata Narendra dengan pandangan rapuh. "Tapi gue takut, Ren. Gimana kalau orang itu menyerang gue lagi?"
Narendra menatap mata Cassandra yang berbinar basah. Tanpa sadar, tangannya terulur mengusap lembut pucuk kepala Cassandra, memberikan rasa aman yang amat dirindukan cewek itu.
"Mulai hari ini, lu enggak usah takut," tegas Narendra dengan nada mantap. "Selama ada gue, enggak akan ada yang berani nyentuh atau ngancam lu lagi. Gue yang bakal jaga lu, Cas."
Di balik raut rapuh dan tundukan kepalanya, senyum miring Cassandra makin melebar. Perangkapnya tidak hanya berhasil, tapi bekerja dua kali lebih efektif dari perkiraannya. Narendra kini merasa berutang perlindungan padanya.
Jam pelajaran pertama dimulai, namun atmosfer di kelas XII-IPA 1 terasa tegang. Anggita duduk di barisan depan dengan anggun seperti biasa, tetapi matanya terus melirik ke arah pintu. Ia menunggu kabar dari orang suruhannya bahwa Cassandra telah tunduk dan ketakutan.
Namun, harapan Anggita hancur berantakan ketika pintu kelas terbuka.
Narendra masuk lebih dulu, membawa tas sekolahnya. Dan di belakangnya, berjalan tepat di sampingnya, adalah Cassandra. Pergelangan tangan Cassandra tampak terbebat perban tipis, dan sikap Narendra padanya terlihat begitu perhatian—cowok itu bahkan membukakan kursi untuk Cassandra sebelum berjalan ke mejanya sendiri.
Anggita membelalakkan mata. Rahangnya mengeras. Ia menatap Cassandra dengan tatapan membunuh dari kejauhan.
Cassandra yang baru saja duduk di kursinya menoleh ke arah Anggita. Di depan Narendra dan teman-teman sekelasnya, Cassandra memasang wajah polos dan tersenyum tipis nan ramah pada Anggita. Tapi saat Narendra berbalik untuk mengambil buku dari tasnya, Cassandra secara halus melayangkan tatapan tajam nan mengejek ke arah Anggita, disambung dengan sebuah anggukan kecil yang seolah berkata: Cuma segini kemampuan lu?
Wajah Anggita memerah padam karena menahan marah. Ia tahu, rencananya telah gagal total dan justru membalikkan keadaan.
Saat istirahat tiba, Cassandra sengaja berjalan menuju toilet belakang yang sepi. Seperti yang sudah ia duga, langkah kaki terburu-buru mengikutinya dari belakang.
BRAK!
Pintu toilet didorong kasar saat Cassandra baru saja berdiri di depan cermin. Anggita masuk dengan napas memburu, matanya berkilat penuh amarah. Ia langsung mengunci pintu toilet dari dalam.
"Maksud lu apa tadi pagi, Cas?" bentak Anggita, suaranya menggema di ruangan berdinding keramik itu. "Lu pura-pura jadi korban di depan Narendra, kan?"
Cassandra mencuci tangannya santai di bawah kran air yang mengalir. Ia mengeringkan jemarinya dengan tisu sebelum berbalik pelan menatap Anggita. Sikap rapuhnya tadi pagi menguap tanpa bekas, berganti dengan tatapan dingin dan dominan.
"Pura-pura?" Cassandra terkekeh pelan, nada suaranya terdengar sangat meremehkan. "Lu yang suruh cowok kroco itu buat ngancam gue pakai foto sepupu gue, kan, Ta? Sayang banget... taktik lu terlalu dangkal."
"Lu... cewek ular!" Anggita maju satu langkah, menunjuk muka Cassandra dengan jarinya yang gemetar. "Narendra itu pacar gue! Dia enggak akan pernah berpaling ke cewek bermasalah kayak lu!"
Cassandra melangkah mendekat, tak gentar sedikit pun. Tinggi badannya yang setara membuat ia bisa menatap langsung ke dalam mata Anggita. Ia memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum kemenangan.
"Pacar lu?" bisik Cassandra tepat di samping telinga Anggita. "Lu sebut dia pacar lu, tapi waktu kakeknya sakit, lu cuma peduli sama reservasi restoran. Lu cuma peduli sama gengsi lu sendiri, Anggita."
Anggita melebarkan matanya, terkejut bagaimana Cassandra bisa tahu soal perdebatan mereka kemarin.
"Narendra itu rapuh di dalam, dan lu terlalu buta buat melihat itu," lanjut Cassandra seraya menepuk pelan bahu Anggita. "Gue enggak perlu merebut dia dengan paksa. Lu sendiri yang bakal dorong dia ke pelukan gue dengan semua kesombongan lu."
"Coba aja kalau lu berani!" jerit Anggita, suaranya mulai serak karena emosi.
"Gue bakal bongkar semua kebusukan lu ke Narendra!"
"Bongkar aja," jawab Cassandra santai seraya berjalan menuju pintu toilet. Ia membuka kuncinya, lalu menoleh sekilas ke arah Anggita yang berdiri kaku. "Tapi ingat satu hal, Ta... Sekarang di mata Narendra, lu adalah pengancam jahat, dan gue adalah korban yang harus dia lindungi. Menurut lu, siapa yang bakal dia percaya?"
Tanpa menunggu balasan dari Anggita yang membisu kehabisan kata-kata, Cassandra melangkah keluar toilet dengan dagu terangkat penuh kemenangan.
Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi. Hujan deras mendadak mengguyur SMA Garuda, menciptakan tirai air yang lebat di halaman sekolah. Banyak murid tertahan di koridor, menunggu hujan reda atau jemputan tiba.
Cassandra berdiri di teras depan gedung sekolah, memperhatikan rintik hujan yang jatuh deras. Ia sengaja tidak membawa payung.
"Cas, lu belum pulang?"
Sebuah suara familiar terdengar dari belakang. Narendra berjalan mendekat membawa payung hitam di tangannya. Cowok itu menyelaraskan langkahnya di samping Cassandra.
"Belum, Ren. Driver gue mendadak enggak bisa jemput karena ban mobilnya bocor," bohong Cassandra halus. Padahal ia yang menyuruh supirnya tidak usah datang.
Narendra menatap hujan lebat, lalu menatap Cassandra yang tampak kedinginan memeluk lengannya sendiri. Insting pelindung yang sudah tertanam sejak tadi pagi langsung bekerja.
"Gue bawa motor hari ini, tapi ada payung," ujar Narendra. "Gue antar lu pulang naik taksi online aja, gimana? Sekalian gue mau pastikan lu sampai rumah dengan aman."
Cassandra menoleh, berpura-pura terkejut. "Eh, enggak usah, Ren. Nanti Anggita marah lagi kalau tahu lu antar gue."
Narendra menghela napas panjang. Ada raut kekecewaan yang dalam saat nama Anggita disebut. "Anggita udah pulang duluan dijemput supirnya. Lagipula... gue udah telpon dia tadi siang buat bicarain sikapnya, tapi dia malah marah-marah dan banting telepon."
Narendra menggelengkan kepala. "Gue butuh ketenangan dulu dari dia."
Cassandra menahan senyum puas di dalam hatinya. Celah itu... kini makin terbuka lebar.
"Yaudah kalau gitu, makasih ya, Ren. Lu baik banget," ucap Cassandra lembut, menatap Narendra dengan binar mata tulus yang selalu berhasil melelehkan pertahanan cowok itu.
Narendra tersenyum tipis. Ia membuka payung hitamnya dan melangkah keluar ke bawah guyuran hujan, lalu mengulurkan tangannya pada Cassandra. "Yuk."
Cassandra menyambut uluran tangan Narendra. Hangat sentuhan jemari cowok itu menjalar ke dadanya, menimbulkan getaran yang bukan lagi sekadar bagian dari rencana licik, melainkan rasa yang mulai berakar nyata.
Saat mereka berjalan berdua di bawah satu payung menuju gerbang sekolah, dari lantai dua gedung OSIS, sebuah sosok berdiri menatap mereka dari balik jendela kaca.
Anggita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit penuh dendam menyaksikan Narendra melindungi Cassandra di bawah hujan. Namun, Anggita tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri seorang cowok tinggi berbaju basket yang memegang sebuah dokumen tebal.
"Lu yakin mau pakai cara ini buat hancurin Cassandra?" tanya cowok berbaju basket itu pada Anggita.
Anggita memutar tubuhnya, memamerkan senyum dingin yang penuh amarah. "Cassandra pikir dia satu-satunya orang yang pintar bermain drama. Dia enggak tahu kalau gue pegang rahasia masa lalu keluarganya yang paling kelam—hal yang bikin dia terus-terusan diusir dari sekolah lamanya."
Anggita menerima dokumen tebal itu dan meremas tepian kertasnya. "Kita lihat, Narendra... apa lu masih mau jadi pahlawan buat cewek penjahat yang sebenarnya?"