Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Jeritan sirine polisi di distrik St. Jude empat belas tahun lalu adalah musik latar bagi kehancuran dunia Evangeline.
Malam itu, setelah menatap jasad ibunya yang tak bernyawa dan menggenggam erat belati Serpent-Rose hingga telapak tangannya sendiri teriris darah, Eva kecil tahu satu hal, ia tidak boleh tertangkap oleh polisi.
Di kota sebusuk Verona Heights, polisi bukanlah pelindung. Polisi hanya perpanjangan tangan dari siapa pun yang memegang uang terbanyak.
Dengan belati berdarah yang terbungkus kain seprai lusuh di dalam pelukannya, Eva melangkah keluar dari flat sempit itu. Kaki kecilnya yang telanjang menerobos banjir air hujan dan lumpur hitam di sepanjang lorong-lorong kelam Distrik St. Jude.
Keluarga besarnya dari pihak ibu maupun ayah tidak ada yang mencari dirinya. Ketika kabar kematian Clara Cross menyebar di koran sore keesokan harinya, keluarga Cross yang terpandang justru membayar pihak kepolisian untuk menutup kasus itu secepat mungkin agar nama baik mereka tidak tercemar oleh skandal pembunuhan di pemukiman kumuh.
Eva dibuang. Sepenuhnya terhapus dari sisa-sisa garis keturunannya sendiri.
Selama tiga hari berikutnya, Eva hidup seperti tikus kota. Ia bersembunyi di balik tong-tong sampah industri, meminum air hujan yang menetes dari pipa bangunan tua, dan mengunyah sisa-sisa roti basi yang ia temukan di pembuangan restoran.
Tubuh sepuluh tahunnya yang ringkih tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk tulang dan rasa lapar yang membakar perutnya.
Demam tinggi mulai menyerang badannya. Pandangannya mengabur, sementara dadanya sesak oleh setiap helaan napas yang berat.
Pada malam keempat, badai salju pertama musim gugur turun menyelimuti Verona Heights.
Eva merangkak pincang menyusuri lorong di belakang The Iron Foundry, sebuah bekas pabrik peleburan besi terbengkalai di tepi dermaga yang terkenal sebagai kawasan terlarang bagi warga sipil.
Matanya yang kuyu memandang bayangan pintu besi besar di depannya sebelum kesadarannya menghilang total. Tubuhnya yang kecil ambruk di atas tumpukan salju yang membeku, menggenggam erat buntalan kain berisi belati mawar berular.
Ketika Eva membuka matanya kembali, rasa hangat yang asing menyapa kulitnya.
Ia tidak lagi berada di atas salju yang dingin, melainkan terbaring di atas tempat tidur besi di sebuah ruangan berdinding beton tebal. Bau busuk sampah menggantung di udara, bercampur dengan bau minyak pelumas senjata, tembakau murah, dan desinfektan yang tajam.
"Dia sudah bangun, Bos."
Sebuah suara serak terdengar dari sudut ruangan. Eva terlonjak dan langsung mendudukkan dirinya, refleks tangannya langsung meraba pinggangnya mencari belati milik ibunya.
"Jika kau mencari mainanmu, benda itu ada di meja," ucap seseorang dari arah kegelapan.
Seorang pria paruh baya melangkah keluar dari balik bayangan lampu gantung yang remang-remang. Pria itu berusia awal lima puluhan, memiliki janggut abu-abu tipis dengan bekas luka bakar yang melintang dari pelipis hingga ke leher kirinya. Matanya berwarna abu-abu gelap, menatap Eva bukan dengan kasihan, melainkan dengan penilaian yang sangat tajam.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai pendiri sekaligus pemimpin tertinggi The Crow’s Veil, sindikat pembunuh bayaran paling ditakuti di dunia bawah Verona Heights, Silas namanya.
"Kau bertahan hidup tiga hari dengan demam empat puluh derajat sambil membawa belati pembunuh," kata Silas, merogoh saku mantelnya dan melempar belati Serpent-Rose milik Eva ke atas tempat tidur.
Logam berat itu mendarat tepat di samping lutut Eva. "Siapa nama anak kecil yang pingsan di depan markasku?"
Eva menggenggam kembali gagang belati itu. Sensasi dingin baja itu memulihkan sedikit keberaniannya. Ia menatap Silas tanpa rasa takut, hanya ada kekosongan dan dendam yang membakar di matanya.
"Evangeline," jawabnya pendek.
Silas menatap mata hazel kecil di depannya. Pria tua yang telah melihat ribuan kematian itu mengenali kilatan di mata Eva. Itu bukan mata seorang anak kecil yang meratap meminta pertolongan, itu adalah mata seekor serigala terluka yang siap mengoyak leher siapa pun.
"Kau tahu apa tempat ini, Evangeline?" tanya Silas seraya menyalakan cerutunya. Asap tebal membumbung ke udara.
"Ini bukan rumah piatu. Ini adalah Sarang Gagak. Kami tidak memberi makan mulut yang tidak berguna. Jika kau keluar melalui pintu itu sekarang, dalam dua hari kau akan membusuk di selokan."
Eva tidak bergeming. "Aku tidak mau keluar."
Silas tersenyum tipis, senyuman dingin yang tidak mencapai matanya. "Kalau kau tinggal di sini, kau harus membayar harga sewa napasmu. Kau akan dilatih menjadi pedang. Kau akan membunuh, kau akan berdarah, dan kau tidak akan pernah memiliki kehidupan normal lagi."
Eva mengepalkan tangannya di atas belati ibunya. "Apakah pedang itu bisa membunuh pria yang memiliki belati ini?"
Pertanyaan itu membuat Silas tertahan sejenak. Pemimpin pembunuh bayaran itu menatap belati berukir Serpent-Rose di tangan Eva, lalu menyipitkan matanya. Silas mengenali simbol itu, simbol eksklusif dari faksi eksekutor kelas atas yang sangat tertutup.
"Jika kau cukup kuat untuk bertahan dari latihanku," jawab Silas pelan, "kau bukan hanya bisa membunuhnya... kau bisa meruntuhkan kekuasaannya."
Malam itu, kesepakatan telah dibuat. Evangeline Cross secara resmi mati bagi dunia terang, dan dilahirkan kembali sebagai murid paling muda di The Crow's Veil.
Tahun-tahun berikutnya adalah siksaan tanpa henti yang membentuk ulang tubuh dan jiwa Eva.
The Crow's Veil bukan sekadar tempat pelatihan, itu adalah tempat dimana kegagalan dibayar dengan nyawa. Bersama belasan anak-anak terlantar lainnya yang dikumpulkan Silas dari selokan kota, Eva menjalani latihan yang ketat.
Pada usia dua belas tahun, Eva dilatih menguasai seni anatomi manusia. Bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mengetahui persis di mana letak pembuluh darah utama yang jika disayat akan menghabisi nyawa lawan dalam hitungan detik tanpa menimbulkan suara jeritan.
Pada usia empat belas tahun, tangannya yang dulu lembut telah dilapisi kapalan dan luka parut bekas sabetan pisau. Silas membentuknya menjadi spesialis pertarungan jarak dekat dan infiltrasi.
Sementara anak-anak lain belajar menggunakan senjata api kaliber berat, Eva dilatih mengendalikan napasnya hingga detak jantungnya berada di titik terendah, memungkinkannya bergerak di balik bayangan tanpa memicu sensor gerak yang paling sensitif sekalipun.
"Rasa sakit adalah informasi, Eva!" teriak Silas suatu malam di tengah badai salju, menendang tubuh Eva yang tersungkur di atas lantai latihan yang basah oleh darahnya sendiri. "Rasa sakit memberitahumu di mana posisi musuhmu, Gunakan itu!"
Eva tidak menangis. Sejak malam kematian ibunya, kelenjar air matanya seolah telah mengering. Setiap kali tubuhnya memar, setiap kali tulangnya retak akibat benturan latihan, Eva hanya memejamkan mata dan mengingat ukiran ular dan mawar di belatinya.
Dendam adalah anestesi terbaiknya.
Pada usia delapan belas tahun, Eva melancarkan misi eksekusi pertamanya. Targetnya adalah seorang pengusaha perkapalan korup yang dilindungi oleh sepuluh pengawal bersenjata di atas kapal pesiar mewahnya.
Eva menyusup melalui lambung kapal di tengah malam, menghabisi seluruh penjaga satu per satu dalam kegelapan tanpa melepaskan satu tembakan pun, dan menyelesaikan tugasnya dalam waktu kurang dari tujuh menit.
Sejak malam itu, bisikan tentang pembunuh bayaran baru mulai menyebar di pasar gelap dunia bawah Verona Heights. Seorang pembunuh yang meninggalkan kelopak bunga mawar hitam di atas jasad targetnya.
Mereka menyebutnya The Ghost Rose.
Kini, di usianya yang ke-dua puluh empat tahun, Evangeline telah mencapai puncak hierarki di dunia bawah. Ia bukan lagi anak kecil yang gemetar di dalam lemari, ia adalah pembunuh bayaran paling efisien, paling mahal, dan paling mematikan yang dimiliki The Crow’s Veil.
Namun, seluruh kekayaan dari hasil misinya dan reputasi besar yang disandangnya tidak pernah berarti apa-apa bagi Eva. Ia masih tinggal di sebuah apartemen tersembunyi yang dingin, tanpa hiasan, tanpa barang-barang mewah, hanya berisi rak senjata, peralatan medis, dan sebuah kotak besi berisi belati Serpent-Rose.
Eva berdiri di depan cermin kamar mandinya yang buram di markas The Crow's Veil, membersihkan sisa-sisa noda darah dari jari-jarinya setelah misi pengeksekusian politisi korup di Apex Tower.
Pintu ruang latihannya terbuka. Langkah kaki Silas yang berat bergaung di lantai beton. Pria tua itu kini tampak lebih renta, namun tatapan matanya tetap sekeras baja.
"Kau menyelesaikan pekerjaan eksekusi Sterling dengan bersih, Ghost Rose," kata Silas, melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja perakitan senjata Eva.
Eva tidak membalikkan badan, menyapu air dari tangannya dengan handuk hitam. "Mana dokumen transaksi yang kau janjikan?"
"Ada di dalam map itu," jawab Silas seraya menyalakan cerutunya. "Tapi aku punya kabar yang lebih menarik untukmu."
Eva berbalik, menatap gurunya itu dengan mata hazelnya yang dingin.
Silas menghembuskan asap tebal. "Kartu undangan yang kau dapatkan dari kotak pribadi targetmu... itu bukan sekadar undangan lelang biasa. Itu adalah akses masuk ke lingkaran dalam Blackwood Manor untuk pesta perayaan ulang tahun kedatangan keluarga Blackwood minggu depan."
Jantung Eva berdesir pelan, namun wajahnya tetap seperti patung es. "Dominic Blackwood."
"Ya. Pemimpin baru Blackwood Syndicate," sahut Silas. "Sejak ayahnya, Arthur Blackwood, tewas delapan tahun lalu, Dominic mengambil alih kepemimpinan dan merestrukturisasi seluruh organisasi. Dia mengubah mafia elit itu menjadi ladang bisnis yang tampak bersih di permukaan, tapi memegang kendali atas sembilan puluh persen rute perdagangan gelap di pantai timur."
Eva melangkah mendekati meja, membuka map dokumen yang diberikan Silas. Di lembar pertama, tertera foto seorang pria berusia tiga puluh tahun dengan rahang tegas, rambut hitam pendek yang tertata rapi, dan sepasang mata yang memancarkan dominasi mutlak.
Dominic Blackwood.
"Dia pria yang sangat paranoid dan kejam," lanjut Silas. "Pengawalan di kediamannya tidak tertembus dari luar. Belum ada satu pun agen atau pembunuh bayaran yang berhasil melintasi pagar luar kediaman Blackwood dan kembali dalam keadaan bernapas."
Eva menatap foto Dominic. Pria itu tampak begitu tenang dalam balutan setelan jas kustomnya, berdiri di atas penderitaan orang-orang kecil yang dihancurkan organisasinya, termasuk ibunya.
"Bagaimana cara masuknya?" tanya Eva singkat.
Silas tersenyum tipis, mengeluarkan sebuah berkas identitas palsu dari dalam sakunya. "Divisi pelayanan kediaman utama Blackwood sedang merekrut staf domestik baru untuk acara lelang dan operasional harian. Prosedur pemindaian latar belakang mereka sangat ketat, tapi peretas kita sudah menyusupkan identitas barumu ke dalam sistem mereka."
Silas meletakkan berkas itu di samping foto Dominic.
"Identitas barumu adalah Evie Thorne, seorang anak yatim piatu dari distrik luar yang melamar sebagai pelayan pribadi," kata Silas.
"Kau akan berada di dalam rumah itu, membersihkan ruangan-ruangannya, menyajikan minumannya, dan berada cukup dekat untuk menancapkan belatimu ke leher Dominic Blackwood."
Eva meraba permukaan foto Dominic dengan ujung jarinya. Rasa dingin logam belati di pinggangnya seolah menjalar ke seluruh aliran darahnya.
Empat belas tahun penantian. Empat belas tahun latihan berdarah. Semuanya mengarah pada momen ini. Ia tidak peduli seberapa ketat penjagaan di kediaman Blackwood, atau seberapa kejam reputasi pria bernama Dominic itu.
"Siapkan penyamaranku," kata Eva dengan suara rendah yang sarat akan emosi terpendam. "Aku akan masuk ke rumah itu minggu depan."
Silas menatap murid terbaiknya itu lama, lalu mengangguk pelan. "Ingat, Eva. Dominic Blackwood bukan sasaran mudah yang bisa kau bunuh dalam kegelapan lalu kau tinggalkan begitu saja. Jika kau membuat satu kesalahan kecil saja di dalam tempat itu... kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup."
Eva menarik belati Serpent-Rose dari sarungnya, membiarkan pantulan cahaya lampu temaram menimpa ukiran mawar berduri di pangkal senjatanya.
"Aku tidak berniat untuk keluar sebelum iblis itu mati," jawab Eva dingin.
...Bersambung... ...