Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Panggilan Tugas Satu Tahun dan Air Mata Keberanian
BAB 21: Panggilan Tugas Satu Tahun dan Air Mata Keberanian
Atmosfer bahagia sisa-sisa Pesta Rakyat Batalyon masih terasa hangat menyelimuti Mako.
Burung-burung gereja bertengger riang di dahan pohon mahoni, menyambut sinar matahari pagi yang cerah.
Di dalam ruang kerja Komandan Batalyon, Mayor Aris duduk tegap di balik meja jatinya.
Tangannya lincah menandatangani berkas-berkas laporan bulanan, sementara matanya sesekali melirik ke arah foto berbingkai perak di sudut meja foto Mayang yang tersenyum manis saat acara lamaran minggu lalu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ujar Aris tegas seraya menegakkan badannya.
Pintu kayu tebal dibuka. Kapten Yoga melangkah masuk, memberi hormat sempurna, lalu menyerahkan sebuah map cokelat tebal berstempel RAHASIA NEGARA dengan pita merah di ujungnya.
"Lapor, Mayor! Diterima Surat Perintah Dinas Rahasia langsung dari Markas Besar Angkatan," tutur Kapten Yoga dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat tebing, tegang, dan amat serius.
Aris menerima map tersebut, membukanya perlahan. Namun saat membaca baris demi baris instruksi di dalamnya, mata pekat sang Mayor seketika membelalak. Punggungnya yang tegap mendadak kaku.
"Penugasan Satuan Satgas Pengamanan Perbatasan Terluar dan Daerah Konflik..." baca Aris pelan, suara bass-nya bergetar. "Durasi penugasan... Satu Tahun Penuh."
"Siap, benar Mayor," sahut Kapten Yoga dengan nada prihatin.
"Perintah ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Seluruh Komandan Batalyon terpilih wajib memimpin pasukan di garis depan. Keberangkatan dijadwalkan lusa subuh."
Aris menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menarik napas panjang yang terasa sangat berat.
Satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Itu artinya, ia harus berpisah jarak ribuan kilometer dari Mayang, meninggalkan calon istrinya di Mako tanpa kepastian komunikasi yang lancar karena area konflik terluar sangat minim sinyal telekomunikasi.
"Yoga... pastikan berita penugasan ini belum bocor ke anggota lain sebelum saya bicara langsung dengan Mayang," perintah Aris tegas.
"Siap, laksanakan Mayor!" Kapten Yoga memberi hormat, lalu berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah berat.
Siang harinya, angin sepoi-sepoi berembus di area teras kantin perwira yang sepi. Mayang duduk seraya menyesap teh manis hangatnya. Ia mengenakan atasan kasual berwarna kuning muda yang segar, dengan kacamata barunya yang bertengger manis di hidung.
Saat melihat Aris melangkah mendekat dengan Pakaian Dinas Harian (PDH) yang rapi, Mayang langsung menyunggingkan senyum ceria. Namun, Mayang yang peka segera menyadari raut wajah Aris yang sangat pucat dan matanya yang dipenuhi beban yang amat berat.
"Mas Mayor kenapa?" tanya Mayang langsung saat Aris duduk di hadapannya. "Kok mukanya tegang banget? Ada masalah berat ya di Batalyon?"
Aris tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kekar meraih kedua tangan mungil Mayang di atas meja, menggenggamnya dengan amat erat—seolah takut kehilangan gadis itu dalam sekejap.
"Mayang..." panggil Aris dengan suara parau yang bergetar. "Saya... baru saja menerima Surat Perintah Dinas dari Mabes."
Mayang menatap Aris lurus-lurus. "Tugas luar kota lagi, Mas? Berapa hari?"
Aris menundukkan kepalanya sejenak, memejamkan mata rapat-rapat sebelum akhirnya menatap kembali manik mata Mayang.
"Bukan luar kota biasa, Mayang. Saya ditugaskan memimpin Satgas Pengamanan Perbatasan di daerah konflik terluar... selama satu tahun penuh."
Deg!
Gelas teh manis di tangan Mayang serasa hendak terlepas. Senyuman ceria di wajah cantiknya seketika membeku. Kata "Satu Tahun" dan "Daerah Konflik" bergema hebat di dalam dadanya, membuat napas Mayang mendadak sesak.
"S-satu tahun, Mas?" suara Mayang mencicit pelan, matanya mulai berkaca-kaca menahan keterkejutan yang luar biasa. "Satu tahun penuh di daerah konflik? Berangkatnya... kapan?"
"Lusa subuh," jawab Aris pelan.
"Di sana sinyal sangat terbatas. Mungkin kita hanya bisa berkomunikasi satu atau dua bulan sekali lewat surat radio militer. Saya... saya minta maaf, Mayang. Kita baru saja tunangan, tapi negara sudah menuntut saya untuk pergi jauh meninggalkanmu."
Setitik air mata bening akhirnya lolos menetes di pipi Mayang. Bayangan perpisahan selama 365 hari dengan pria yang sangat dicintainya, dibayangi risiko keselamatan di daerah konflik, membuat hatinya terasa diiris-iris.
Namun, di tengah kesedihan yang membuncah, Mayang mengingat siapa dirinya sekarang. Ia adalah calon istri seorang Komandan Batalyon. Mayang menyapu air matanya dengan ujung lengan baju, lalu menguatkan hatinya.
Ia membalas genggaman tangan Aris dengan amat erat, menatap sang Mayor dengan binar keberanian yang luar biasa di balik kacamata beningnya.
"Mas Aris..." ujar Mayang dengan suara yang diusahakan sekuat mungkin,
"Mayang bohong kalau bilang Mayang tidak sedih atau takut. Mayang pasti bakal kangen setengah mati. Tapi... Mayang tidak akan pernah melarang Mas Aris pergi."
Aris tertegun, menatap gadis di hadapannya dengan rasa haru yang tak terkira.
"Tugas negara adalah kehormatan tertinggi buat Mas Aris sebagai prajurit," lanjut Mayang seraya tersenyum tegar di tengah sisa air matanya. "Satu tahun itu memang lama, tapi cinta Mayang tidak akan pernah berkurang sedikit pun.
Mayang janji akan menjaga Mako, membantu ibu-ibu Persit, dan mendoakan Mas Aris setiap detik sampai Mas Aris pulang memeluk Mayang lagi!"
Aris tak sanggup lagi menahan gejolak dadanya. Di hadapan beberapa perwira yang melintas di kejauhan, sang Komandan Batalyon menarik Mayang ke dalam dekapannya, merengkuh tubuh mungil gadis itu dengan sangat erat dan hangat.
"Terima kasih, Mayang... terima kasih atas keberanianmu," bisik Aris tepat di telinga Mayang, air mata haru menetes pelan di pundak seragam sang Mayor.
"Jaga dirimu baik-baik selama saya pergi. Saya berjanji akan kembali pulang kepadamu dengan selamat!"
Dua hari kemudian, suasana Mako Batalyon dipenuhi haru biru saat pelepasan Rombongan
Satgas Perbatasan. Ratusan prajurit, staf medis, serta keluarga berkumpul di lapangan utama.
Hujan gerimis tipis menyertai derap langkah para prajurit yang bersiap memasuki armada truk militer.
Dokter Siska melangkah mendekati Mayang yang berdiri tegar di barisan terdepan. Dokter Siska menepuk bahu Mayang pelan seraya menyunggingkan senyum tulus.
"Mayang, kamu wanita yang sangat hebat. Selama Aris pergi, kita semua di Batalyon akan menjaga kamu dan mendukung seluruh kegiatanmu di sini."
"Terima kasih, Dokter Siska," jawab Mayang penuh rasa syukur, mengusap air mata di sudut matanya.
Raungan mesin truk komando militer mulai menyala membelah keheningan pagi. Mayor Aris berdiri gagah di atas jeep komando memimpin barisan terdepan dengan baret hijau zaitunnya yang tegap.
Sebelum armada bergerak keluar melewati gerbang Mako, Aris mengangkat tangannya, memberikan hormat militer terakhirnya secara tegap khusus ke arah Mayang.
Mayang membalas hormat tersebut seraya mengibarkan bendera kecil dengan senyuman tegar terindah yang ia miliki, melepaskan sang pujaan hati menunaikan tugas negara demi kemanusiaan dan perbatasan selama satu tahun penuh.