Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

​Pukul 07:00 WIB, matahari pagi di ufuk timur mulai memancarkan sinar yang menyengat, memanggang lapangan aspal SMA Garuda. Ribuan siswa berbaris membentuk peleton-peleton berdasarkan kelas. Di barisan paling belakang kelas 11 IPS 2, sebuah pemandangan anomali sedang terjadi dan menarik perhatian diam-diam dari siswa-siswa di sekitarnya. ​Biasanya, barisan belakang adalah wilayah kekuasaan Geng Bone Breakerz. Mereka akan berdiri dengan postur membungkuk, kemeja dikeluarkan, topi miring, sambil sesekali mengobrol atau bahkan diam-diam merokok jika guru kedisiplinan sedang lengah. Namun hari ini, pemandangan itu sirna.

​Bella Anastasia berdiri di posisi paling ujung kanan, posisi yang biasanya diisi oleh komandan peleton. Ia berdiri dengan sikap sempurna, tumit rapat, ujung kaki terbuka 45 derajat, punggung tegak lurus, dan pandangan mata lurus ke depan membelah kerumunan. Topi abu-abunya terpasang presisi, menaungi wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.

​Di sebelah kirinya, Dion, Rindi, Tono, dan Bono berdiri dengan penderitaan fisik yang nyata. Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipis Tono, Bono terlihat pucat, kakinya gemetar menahan berat badannya sendiri. Fisik mereka yang terbiasa nongkrong sambil mengonsumsi nikotin dan minuman manis kini memberontak saat dipaksa berdiri tegak di bawah sinar matahari selama tiga puluh menit berturut-turut.

​"Bos..." bisik Rindi dari sela-sela giginya, bibirnya nyaris tidak bergerak. "Kaki gue keram, Bos. Boleh jongkok bentar nggak? Sepuluh detik aja."

​Bella menoleh perlahan, hanya lehernya yang bergerak, menyerupai robot terminator. "Pelanggaran SLA Kedisiplinan saat Town Hall Meeting akan berakibat pada penerbitan SP-2. Tahan posisimu, Rindi. Ototmu hanya sedang mengalami shock karena kurangnya aktivitas jasmani, anggap ini training ketahanan fisik."

​Rindi menelan ludah dan memaksakan lututnya untuk kembali tegak. Di sebelahnya, Dion mengertakkan rahang. Ego Dion menolak untuk terlihat lemah di depan Bella, jadi ia memaksa dirinya berdiri setegak mungkin, meski napasnya sudah memburu. ​Bagi Sarah Paramitha yang berada di dalam tubuh Bella, upacara bendera ini bukanlah sekadar rutinitas sekolah, ini adalah sesi observasi massal. Matanya yang tajam memindai seluruh lapangan, melakukan asesmen terhadap sistem manajemen SMA Garuda.

​Di depan podium, Kepala Sekolah. Pak Surya, seorang pria paruh baya dengan perut membuncit dan kacamata tebal, sedang memberikan amanat pembina upacara.

​"Anak-anakku sekalian, kita harus meningkatkan kedisiplinan... eh... karena kedisiplinan adalah kunci kesuksesan. Dan juga, kebersihan lingkungan... tolong dijaga. Jangan buang sampah sembarangan..."

​Sarah menghela napas panjang dalam hati, public speaking yang sangat buruk, kritiknya secara mental. Ini adalah contoh Town Hall Meeting (Rapat Umum Perusahaan) yang membuang-buang waktu operasional. Pidatonya tidak memiliki struktur, tidak ada call-to-action yang spesifik, dan tidak ada KPI yang dikomunikasikan kepada siswa. Beliau hanya mengulang retorika kosong tanpa metrik yang bisa diukur, tidak heran tingkat kedisiplinan sekolah ini rendah, Top Management-nya gagal mengkomunikasikan visi secara efektif.

​Pandangan Sarah kemudian beralih ke sisi lapangan, di mana sekelompok siswa berseragam rapi dengan jas almamater biru tua sedang berpatroli. Mereka adalah anggota OSIS. Sarah memperhatikan Ketua OSIS, seorang remaja jangkung berkacamata dengan raut wajah kaku yang sedang mencatat nama-nama siswa yang terlambat di buku catatannya.

*​Divisi Kepatuhan (Compliance Department) internal sekolah* batin Sarah. Mereka mencatat pelanggaran, tetapi apakah mereka melakukan Root Cause Analysis (Analisis Akar Masalah) mengapa keterlambatan itu terjadi? Kemungkinan besar tidak. Mereka hanya menangani gejala, bukan penyakitnya.

​"Tegak, Tono," tegur Bella pelan namun tajam saat melihat bahu Tono mulai merosot, membuat Tono seketika tersentak dan menarik bahunya ke belakang seperti tersengat listrik.

​Pukul 07:45 WIB, barisan akhirnya dibubarkan. Saat komandan upacara membubarkan pasukan, terdengar helaan napas lega yang kolektif dari ribuan siswa. ​Dion langsung membungkuk, memegang kedua lututnya sambil terengah-engah, Bono langsung duduk di aspal lapangan.

​"Gila... gue berasa habis lari maraton," keluh remaja itu sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan topinya.

​Bella menatap anak buahnya yang berantakan dengan tatapan mengevaluasi. "Kapasitas fisik kalian berada di bawah standar operasional. Jika terjadi eskalasi konflik fisik dengan geng musuh, kalian akan tumbang dalam lima menit pertama akibat defisit oksigen. Ini adalah kelemahan strategis. Mulai minggu depan, kita akan menambahkan lari pagi ke dalam rutinitas harian."

​"Hah?! Lari pagi?!" Rindi nyaris menangis mendengarnya.

​"Tidak ada bantahan. Sekarang, bergerak ke kelas. Saya akan mengadakan inspeksi mendadak di sana." Bella berbalik dan melangkah pergi, memancarkan aura dominasi yang memaksa keempat remaja laki-laki itu untuk menyeret langkah mereka mengikutinya bagai anak itik yang ketakutan.

~Ruang Kelas~

​​Kelas 11 IPS 2 adalah representasi nyata dari kekacauan manajerial. Saat Bella memasuki ruangan, kelas itu bising seperti pasar tradisional. Siswa-siswi duduk di atas meja, kertas-kertas berserakan di lantai, dan papan tulis penuh dengan coretan tidak senonoh. ​Bella berjalan menyusuri lorong antarmeja menuju bangkunya di sudut belakang, siswa-siswa lain yang melihatnya otomatis menyingkir dan terdiam. Reputasi Bella sebagai bos berandal yang kejam masih melekat kuat. Namun, kebisuan mereka hari ini bukan hanya karena takut, melainkan karena terkejut. Mereka menggosok mata, tidak percaya melihat Bella Anastasia masuk ke kelas dengan seragam yang sangat rapi dan potongan rambut bob hitam elegan layaknya siswi teladan, diikuti oleh pengawalnya yang tampak kelelahan.

​Sesampainya di mejanya, Bella tidak langsung duduk. Ia mengambil tisu basah dari dalam tasnya, yang sudah ia persiapkan tadi pagi dan mulai mengelap mejanya hingga bersih dari debu dan coretan pensil. ​Dion, Rindi, Tono, dan Bono berdiri canggung di sekitar meja Bella, tidak tahu harus berbuat apa.

​"Duduk di kursi kalian masing-masing," perintah Bella sambil membuang tisu kotor ke tempat sampah di pojok ruangan. "Lalu, letakkan tas kalian di atas meja. Buka semua resletingnya, keluarkan isinya. Sekarang!" ​Instruksi itu dilontarkan dengan intonasi mutlak yang tidak memberikan ruang untuk negosiasi.

​"S-sekarang banget, Bos?" tanya Rindi panik, memeluk tas ranselnya yang terlihat menggembung.

​"Ini adalah Audit Internal Mendadak (Sidak). Dalam manajemen, Sidak diperlukan untuk memastikan tidak ada aset ilegal atau barang terlarang (contraband) yang dapat merusak citra perusahaan jika sewaktu-waktu terjadi pemeriksaan eksternal oleh guru. Keluarkan isinya. Hitungan ketiga, atau SP-2 keluar. Satu... Dua..."

​Dengan panik, keempat anggota geng itu melempar tas mereka ke atas meja dan menumpahkan isinya.

​Pemandangan di atas meja mereka adalah bencana logistik. Dari dalam tas Dion, keluar sebuah brass knuckles (besi buku lima), sebungkus rokok, korek api Zippo, dan satu buku tulis tipis yang lecek. Tas Rindi memuntahkan puluhan koin logam dan lembaran uang ribuan lecek hasil pemalakan minggu lalu, dua set kartu uno, beberapa peralatan make-up murahan yang serupa dengan apa yang ditemukan di meja rias Bela kemarin, dan ya tidak ada alat tulis sama sekali. Tas Tono dan Budi berisi baju ganti yang bau keringat, majalah otomotif, dan bungkus kuaci bekas.

​Bella melipat tangannya di dada. Matanya menyipit dengan tingkat kekecewaan yang sangat profesional.

​"Luar biasa," desis Bella, suaranya sedingin angin kutub. "Kalian datang ke institusi pendidikan tanpa amunisi akademis, melainkan membawa peralatan untuk tindak pidana ringan dan asusila. Riko, serahkan komik dan uang itu."

​"Bos, ini uang kas kita! Hasil keringat gue nagihin anak kelas 10!" Rindi mencoba mempertahankan asetnya, walau sepertinya akan berakhir sia-sia.

​Bella mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Rindi tepat di manik matanya. "Itu adalah uang hasil fraud (penipuan) dan extortion (pemerasan), praktik itu mencemarkan nama baikku sebagai pemimpin kalian. Masukkan uang itu ke dalam amplop, catat nama-nama siswa yang kamu palak. Besok, kembalikan semuanya dalam bentuk refund. Jika ada satu perak yang tidak kembali, aku akan patahkan jari kelingkingmu."

​Ancaman fisik itu disampaikan dengan nada yang sangat tenang dan birokratis, membuatnya terdengar jauh lebih menakutkan daripada teriakan preman jalanan. Rindi buru-buru memasukkan uang itu ke dalam amplop dengan tangan gemetar.

​"Dion, serahkan besi itu dan rokokmu. Tono, Budi, buang sampah itu ke luar," lanjut Bella. Ia menyita semua barang terlarang dan memasukkannya ke dalam tas jinjing kulit hitamnya.

​"Mulai hari ini, SOP tas kalian minimal tiga buku tulis, satu tempat pensil, dan buku cetak sesuai jadwal," Bella menetapkan Key Performance Indicator (KPI) baru. "Saya akan melakukan Sidak seperti ini secara acak. Jika saya menemukan barang ilegal lagi, kalian akan menghadapi skorsing internal dari geng."

​Tepat saat Bella selesai mengamankan barang sitaan, bel masuk berbunyi. Seorang guru wanita paruh baya memasuki kelas. Beliau adalah Bu Ratna, guru Sejarah yang terkenal killer. Kelas yang tadinya bising perlahan mereda, meski beberapa siswa masih mengobrol berbisik-bisik. Bu Ratna meletakkan tumpukan buku di meja guru, lalu menatap lurus ke arah pojok belakang, bersiap untuk meneriaki geng Bella seperti biasa. Namun, kalimat makian Bu Ratna tertahan di tenggorokan.

​Di pojok sana, Bella Anastasia duduk tegak, tangan terlipat di atas meja, menatap ke arah papan tulis dengan konsentrasi penuh. Di sebelahnya, geng berandalnya duduk kaku seperti patung, memegang pulpen dengan canggung seolah itu adalah benda asing dari luar angkasa.

​"Baiklah..." Bu Ratna berdehem, berusaha menyembunyikan kebingungannya. "Buka buku LKS Sejarah halaman 45. Kita masuk ke materi Perang Dunia II."

​Saat Bu Ratna mulai menjelaskan dan menulis di papan tulis, Bella dengan sigap membuka buku catatan hitamnya dan mulai mencatat. Gerakan penanya sangat cepat, membuat diagram akar masalah (fishbone diagram) tentang penyebab Perang Dunia II, alih-alih menyalin mentah-mentah dari papan tulis. ​Dion yang melirik ke arah catatan Bella merasa pusing, bos lagi nulis mantra apa sih? Kok ada grafik sama panah-panah segala?

​Karena takut mendapat teguran lagi, Dion menyikut lengan Rindi, memberi isyarat agar mereka juga pura-pura mencatat. Selama sembilan puluh menit pelajaran Sejarah, untuk pertama kalinya dalam sejarah berdirinya SMA Garuda, anggota Geng Bone Breakerz tidak ada yang tidur di kelas. Mereka terjaga sepenuhnya, dihantui oleh teror nyata dari sang Bos yang kini menjelma menjadi mesin produktivitas tanpa ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!