Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bayang-Bayang Masa Lalu

Sore itu, setelah bel pulang berbunyi dan murid-murid berhamburan keluar gerbang, di ruangan teratas menara Akademi Langit, suasana hening dan megah. Di balik meja kayu hitam yang besar dan berukir lambang bintang-bintang, duduk Kepala Akademi, sosok yang dihormati dan ditakuti bahkan oleh para bangsawan sekalipun. Pintu ruangannya diketuk pelan.

"Masuk," suaranya terdengar tenang namun berwibawa.

Seorang pengajar muda masuk dengan langkah hati-hati, wajahnya tampak serius. Ia adalah saksi mata kejadian di halaman sekolah tadi siang. "Yang Mulia, saya datang untuk melaporkan kejadian yang terjadi saat jam istirahat tadi. Ada hal-hal yang perlu diketahui oleh Anda secara langsung."

Pengajar itu kemudian menceritakan semuanya dengan sangat rinci — mulai dari bagaimana Valerian mengganggu dan menginjak-injak bekal Angel, hingga saat gadis kecil itu mengeluarkan aura dingin yang membuat udara berubah mencekam. Ia juga menceritakan kedatangan Rebeca dan Kael, bagaimana mereka berdiri dengan keberanian yang tak terduga, dan bagaimana Panglima Langit — Caelus — yang datang dengan penuh amarah tiba-tiba menjadi gemetar dan tak berdaya di hadapan pria yang tampak seperti nelayan itu.

Kepala Akademi mendengarkan dengan tenang, namun seiring berjalannya cerita, matanya yang biasanya dingin mulai melebar perlahan. Jari-jarinya yang bersandar di meja perlahan mengepal. Saat pengajar itu selesai bercerita, keheningan menyelimuti ruangan cukup lama.

Lalu, perlahan sebuah senyuman muncul di wajah Kepala Akademi — bukan senyum ramah, melainkan senyum yang penuh makna, bercampur rasa takjub dan kerinduan yang mendalam.

"Jadi begitu..." gumamnya pelan, matanya menatap ke luar jendela menara ke arah cakrawala yang mulai memerah. "Sudah lama sekali... sudah sangat lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka. Setelah menghilang begitu lama, akhirnya mereka muncul kembali."

Pengajar itu bingung. "Anda... mengenal mereka, Yang Mulia? Orang-orang yang tampak begitu sederhana itu?"

Kepala Akademi tersenyum samar, namun tidak menjelaskan lebih lanjut. "Kau boleh pergi. Dan ingat — jangan pernah menyinggung hal ini kepada siapa pun. Biarkan saja mereka. Jangan ada yang berani mengganggu keluarga itu."

Pengajar itu mengangguk dan keluar dengan penuh keheranan.

 

Malam itu, rumah kecil di lembah kembali sunyi. Rebeca duduk di tepi tempat tidur Angel, menyisir rambut putrinya pelan-pelan. Wajah Angel sudah lebih tenang, namun matanya masih menyimpan jejak kesedihan dari kejadian di sekolah tadi siang.

"Ibu," panggil Angel pelan. "Kenapa ayah Valerian tadi... seolah takut pada Paman? Padahal dia Panglima Langit, kan? Dan Paman hanya nelayan..."

Rebeca berhenti menyisir sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ada hal-hal yang tidak bisa dilihat dari pakaian atau gelar, sayang. Kadang seseorang memiliki masa lalu yang tidak pernah diceritakan siapa pun. Dan kadang, seseorang pernah melihat hal-hal yang membuatnya tidak akan pernah berani menatap mata orang tertentu dengan sembarangan."

Angel mengangguk pelan, meski belum sepenuhnya mengerti. Setelah dibacakan dongeng dan ditidurkan oleh ibunya, Angel akhirnya terlelap. Namun di ruang tengah, cahaya lampu minyak masih menyala — Rebeca dan Kael duduk berhadapan, wajah mereka serius.

"Panglima Langit itu... dia mengenalimu," kata Rebeca pelan, memecah keheningan. "Saat matanya bertemu matamu, wajahnya langsung pucat."

Kael mengangguk, menatap nyala api lampu. "Dia dulu anak buahku. Puluhan tahun lalu. Saat aku masih berdiri di samping Lazark, Tangan Kanan Dewa Penghancur. Dia baru saja masuk pasukan, masih muda dan penuh ambisi. Dia pernah melihatku sekali — saat aku menghukum tiga perwira tinggi yang berkhianat. Sejak hari itu, dia tidak pernah berani menatap mataku lebih dari tiga detik." Kael menghela napas panjang. "Dia tidak tahu aku masih hidup. Semua orang mengira aku sudah tewas dalam pertempuran di Garis Depan."

Rebeca menutup matanya, menarik napas dalam. "Kalau begitu, dia pasti akan menyelidiki kita. Dia tidak akan membiarkan ketakutan itu berlalu begitu saja. Dia akan mencari tahu siapa kita sebenarnya."

Sementara itu, di kediaman megah Panglima Langit, suasana sama sekali tidak tenang. Panglima — yang bernama Caelus — berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas, wajahnya penuh kegelisahan. Di hadapannya, Valerian duduk bersandar di kursi, masih kesal karena ayahnya tidak menghukum keluarga rendahan itu.

"Ayah! Kenapa Ayah membiarkan mereka pergi? Mereka berani menantang kita! Gadis itu bahkan mengeluarkan kekuatan aneh yang membuat udara menjadi dingin!" protes Valerian.

Caelus berhenti melangkah, menatap putranya dengan tatapan tajam. "Kau tidak mengerti... kau sama sekali tidak mengerti siapa yang baru saja kau hadapi, Valerian. Pria itu... matanya. Itu tatapan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku."

"Tatapan apa? Dia cuma nelayan bau ikan!"

Caelus melangkah mendekat, suaranya bergetar. "Puluhan tahun lalu, ada seorang pria yang berdiri di samping sosok paling ditakuti di seluruh alam semesta. Pria itu adalah murid langsung dari Lazark — Tangan Kanan Dewa Penghancur. Namanya Kael. Dan semua orang percaya dia sudah tewas. Tapi hari ini... aku melihat matanya. Itu pasti dia."

Valerian terbelalak. "Kael? Murid Lazark? Tapi... kalau begitu, wanita di sampingnya siapa? Dan gadis kecil itu?"

Caelus duduk di kursi besarnya, meremas pelipisnya. "Wanita itu... dia melindungi gadis itu dengan aura yang sangat mirip dengan Rebeca — Pembunuh Langit. Wanita yang konon hanya bisa dihentikan oleh Dewa Penghancur sendiri." Wajah Caelus pucat kembali. "Dan kalau mereka berdua ada di sana... bersama seorang gadis kecil berusia lima tahun... anak itu siapa?"

Pikirannya berputar kencang, dan satu kesimpulan mengerikan muncul di benaknya. Ia berdiri tiba-tiba. "Kau tidak boleh mengganggu gadis itu lagi, Valerian. Tidak boleh. Jangan sekali-kali menyentuhnya. Aku akan menyelidiki ini lebih dalam. Tapi sampai aku tahu pasti... kita harus berhati-hati. Jika dugaanku benar... kita semua sedang berdiri di atas tanah yang bisa runtuh kapan saja."

Keesokan harinya, suasana di dalam kelas terasa hening dan aneh. Tidak ada lagi bisikan ejekan yang terdengar secara terang-terangan, namun tatapan-tatapan penasaran dan penuh ketakutan terus mengikuti Angel ke mana pun ia bergerak. Valerian bahkan tidak berani menoleh ke arahnya sekali pun sepanjang pelajaran.

Saat bel istirahat akhirnya berbunyi, Angel berjalan sendirian menuju sudut halaman yang sama persis seperti kemarin — di bawah pohon tua yang rindang, tempat yang terasa sepi dan aman baginya. Ia duduk di atas rumput yang sama, mengeluarkan bekal sederhana yang dibuat ibunya, dan bersiap menikmati makanannya dengan tenang.

Namun belum sempat ia menyentuh rotinya, langkah kaki pelan namun ringan terdengar mendekat — langkah yang hampir tidak menimbulkan suara, seolah-olah orang itu melayang di atas tanah.

Angel mendongak dengan kaget. Di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki seumuran dengannya, berpakaian sederhana namun rapi. Wajahnya tampak tenang, matanya tajam namun tidak menyakitkan. Itu adalah Rey Vonder — anak yang jarang berbicara dengan siapa pun, yang diketahui hanya tinggal bersama ibunya dan tidak pernah menceritakan siapa ayahnya. Rey adalah seorang pembunuh bayaran berbakat, yang sejak kecil telah dilatih untuk bergerak dalam keheningan dan bayang-bayang. Di balik lengan bajunya yang agak longgar, samar terlihat gagang belati berukir gelap yang terselip rapi — senjata andalannya yang selalu ia bawa ke mana pun.

Rey berhenti beberapa langkah di depannya, menatapnya sejenak tanpa berkata apa-apa. Gerakannya begitu halus dan cepat, seketika ia sudah berada di dekatnya tanpa diketahui bagaimana caranya.

"Kau tidak perlu takut," kata Rey pelan, suaranya rendah namun jelas. "Aku tidak datang untuk menyakitimu."

Angel menegakkan tubuhnya, memeluk bekalnya erat. "Lalu... kenapa kau menghampiriku? Semua orang lain menjauhiku..."

Rey melangkah maju selangkah, lalu duduk di atas rumput tidak jauh dari Angel dengan gerakan yang begitu cepat dan luwes, seolah tubuhnya tidak memiliki berat. Matanya menatap lurus ke mata Angel, tanpa ada sedikit pun tatapan merendahkan.

"Aku melihat apa yang terjadi kemarin. Dan aku melihat bagaimana mereka memperlakukanmu," kata Rey tenang. "Aku juga tinggal hanya bersama ibuku. Banyak orang memandangku sama seperti mereka memandangmu — karena tidak ada ayah yang dikenal, karena keluarga sederhana. Jadi aku tahu rasanya."

Angel terdiam, menatapnya dengan mata terbelalak. Tidak ada yang pernah berkata demikian kepadanya sejak hari pertama masuk sekolah. "Kau... tidak takut padaku? Atau menganggapku rendahan?"

Rey tersenyum tipis, namun di matanya tersimpan kewaspadaan yang tajam — kebiasaan yang dimilikinya sejak kecil, karena sejak dini ia sudah harus melindungi dirinya dan ibunya. "Orang yang sebenarnya lemah adalah mereka yang menilai hanya dari apa yang terlihat. Lagipula..." Rey berhenti sejenak, menatap ke arah kerumunan anak-anak yang menonton mereka dari kejauhan dengan wajah bingung. "...aku merasakan sesuatu padamu. Sesuatu yang berbeda. Dan aku tahu seseorang yang memiliki kekuatan sepertimu tidak akan pernah benar-benar lemah."

Belum sempat Angel bertanya lebih lanjut, Rey tiba-tiba bergerak — begitu cepat hingga mata hampir tidak bisa mengikutinya. Dalam sekejap ia sudah berdiri di samping Angel, menatap tajam ke arah sekelompok anak yang berani-beraninya berjalan mendekat dengan niat buruk. Gerakannya begitu lincah dan mematikan, samar terlihat ujung belatinya berkilat sebentar di balik jubahnya sebelum hilang kembali. Anak-anak itu langsung berhenti langkah, ketakutan, dan berbalik pergi.

Rey kembali duduk di samping Angel seolah tidak terjadi apa-apa, wajahnya kembali tenang. "Selama aku di sini," katanya pelan, "tidak ada yang berani mengganggumu."

Angel menatapnya dengan perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di akademi. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri di sisinya — bukan karena takut pada kekuatan keluarganya, melainkan karena mengerti.

Dan di kejauhan, di balik jendela menara, Kepala Akademi memperhatikan pemandangan itu dengan senyum samar. "Benih-benih persahabatan mulai tumbuh," gumamnya pelan. "Dan pertemuan ini... mungkin akan mengubah segalanya."

 

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!