Banyak yang mengira bahwa Arjuna begitu bodoh, bahkan ada yang menyebutnya aneh, sehingga dia dipandang rendah oleh keluarga istrinya.
Padahal sebenarnya dia adalah seorang pangeran yang memiliki keahlian dalam dunia medis pada 1000 tahun yang lalu, yang memaksanya harus hidup di dunia modern yang terasa asing untuknya.
Dengan kemampuan medisnya yang dimiliki, dia akan membuktikan bahwa dia adalah seorang dokter genius yang hebat dan menjadi penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam hari itu juga Helena memilih untuk membawa Arjuna pindah ke sebuah mansion.
Awalnya dia sengaja membeli mansion itu untuk menjadi tempat tinggal dia dengan Reno setelah menikah nanti. Tapi ternyata Reno telah mengkhianatinya.
Disana, Helena mencoba untuk memperkenalkan berbagai macam alat teknologi pada Arjuna.
"Ini handphone untukmu." Helena memberikan sebuah ponsel pada Arjuna.
Arjuna mengerutkan keningnya. "Handphone? Benda apa ini?"
"Alat untuk berkomunikasi. Jadi walaupun jarak kita berjauhan. Kamu bisa menghubungi aku pakai ini. Disini, aku sudah menyimpan nomorku." jelas Helena.
Arjuna hanya bengong memperhatikan ponsel di dalam genggamannya, mencoba untuk mencerna apa yang dijelaskan oleh Helena.
Helena segera menyalakan televisi. Disana ada acara berita.
Arjuna nampak terperangah. "Bagaimana caranya orang itu masuk ke dalam benda itu?" ucapnya sambil memperhatikan televisi dengan perasaan bingung.
Bahkan dia menguncang-guncang televisi itu, berharap pembaca acara berita itu segera keluar dari sana.
Helena nampak melongo. Bisa-bisa dia gila melihat tingkah Arjuna. "Ini namanya televisi. Orang di dalam itu tidak benar-benar masuk ke dalam kotak ini. Gambar mereka hanya dipancarkan lewat gelombang sinyal, jadi kita bisa melihat mereka seolah-olah ada di depan mata kita."
Selain itu, Helena juga menjelaskan semua perlatan elektronik lainnya, termasuk fungsi lift di dalam mansion.
Arjuna hanya terbengong-bengong dengan semua kecanggihan di zaman modern ini. Tapi karena dia adalah seorang pria yang genius, sehingga dia bisa menghapal semua yang dijelaskan oleh Helena.
"Jadi, kamu paham dengan apa yang aku jelaskan?" tanya Helena dengan nada ketus.
Arjuna mengangguk. "Iya, aku sedikit paham."
Helena memberikan sebuah buku tebal pada Arjuna. "Ada banyak kosakata di zaman modern yang harus kamu pelajari."
Arjuna menerima buku itu. "Baik."
Helena menegaskan lagi. "Kita akan tidur di kamar terpisah. Kamu harus ingat dengan perjanjian kita, kita gak boleh tidur bersama, mengerti?"
Arjuna mengangguk. "Baik, kamu tenang saja. Aku juga ingin kembali ke duniaku dengan keadaan masih suci. Lagipula kamu bukan kriteria wanita yang aku inginkan."
Helena mendesis kesal. "Oke, baguslah kalau begitu."
Arjuna memperingatkan dengan nada serius. "Kamu harus jaga baik-baik kalungku itu. Jangan sampai hilang. Jika kalungku hilang, aku tidak akan bisa kembali ke duniaku dan nyawamu juga dipertaruhkan."
"Oke," jawab Helena dengan singkat.
Dia pun segera masuk ke dalam kamar. Dia sangat penasaran dengan kalung yang dia pakai, sehingga dengan iseng dia memotretnya. Hanya ingin mencaritahu jenis batu apa yang terpasang di kalung itu.
Betapa terkejutnya Helena saat mengetahui harga batu giok di kalung itu, bisa mencapai ratusan miliar.
"Wah, ternyata harganya semahal itu."
Tiba-tiba, Helena teringat dengan kompetisi medis yang harus dia hadapi beberapa hari lagi.
"Ada banyak dokter berpengalaman di Rumah Sakit Niroga. Aku harus memilih salah satu diantara mereka untuk menjadi timku."
Meskipun sebenarnya dia nampak ragu, mengingat rekam jejak Reno yang sangat menjanjikan. Dan mantan kekasihnya itu sudah pasti berada di pihak Nova.
Helena pun menguap, dia sangat merasa ngantuk. "Aku sangat ngantuk. Lebih baik aku pikirkan masalah itu besok."
Namun, baru juga dia terlelap. Dia dikagetkan dengan suara ponselnya yang berdering.
Beep...
Beep...
Beep...
"Siapa malam-malam begini menelponku?" gerutunya dengan nada kesal.
Ternyata Arjuna yang meneleponnya.
Helena segera mengangkatnya dengan perasaan kesal. "Ada apa?"
Terdengar suara Arjuna disebrang sana. "Tes... tes... tes! Ah jadi begini cara menghubungi seseorang."
Dia menambahkan lagi. "Aku hanya sedang latihan saja. Ya sudah, aku tutup lagi."
Helena menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa jengkel. "Bisa tidak kamu latihannya besok saja? Kamu sudah menganggu tidurku."
Arjuna malah menjawab dengan nada jahil. "Baiklah, kamu boleh tidur lagi. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Helena dengan ketus.
"Sebenarnya, aku ini bisa melihat arwah."
Helena langsung merinding.
"Ternyata di mansion ini ada banyak sekali arwah. Terutama di kamar kamu, jadi kamu harus hati-hati."
Setelah mengucapkan itu, Arjuna langsung menutup telepon.
Klik!
Helena langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dengan jantungnya berdebar-debar.
sok jadi pahlawan...
hutang nyawa lo bilang?..
mati saja kau reno😡
juna waktu kamu hanya tinggal sejam lagi, kompetisi babak kedua akan segera dimulai. jangan sampai terlambat datang helen sangat khawatir kamu semalam tidak pulang...
apalagi helen tahu kamu selamatin bukan reno merasa lega, reno hanya ngaku yg selamatin helen...
helen dari semalam khawatir sama juna tidak pulang-pulang, helen sijuna lagi dirawat terluka parah sampai babak belur...
direno menggungkit-ungkit telah selamatkam helen, padahal yg selamatkan helen adalah juna. jangan mau helen makan malam sama reno yg ada dilampir nova ngamuk nanti klo tahu🤭