"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 - pergi dinas dadakan
Di rumah sakit, setelah tugasnya selesai, Indah berjalan keluar. Daffa sudah menunggunya di sana.
"Hai Indah, malam ini lu ada waktu nggak?"
Indah tersenyum tipis. "Maaf Daff, kayaknya hari ini gue harus pulang lebih awal deh."
"Oke deh, kalau gitu."
"Sampai ketemu lain kali ya, Daf."
"Iya dah, santai aja kok."
Daffa menatap punggung Indah yang perlahan menjauh. Dadanya terasa berat.
"Kenapa ya... Indah sepertinya sengaja menjaga jarak sama aku akhir-akhir ini. Apakah sikapku selama ini bikin dia risih? Atau ada hal lain yang membuat dia semakin menjauh?"
Belum lama dia termenung, terdengar suara ceria mendekat.
"Hai Kak Daffa! Aku cariin lho dari tadi."
Daffa menoleh. "Ada apa, Mawar?"
"Kamu lupa ya? Om dan Tante sudah menyuruh kita berangkat ke luar kota untuk program pertukaran dokter di daerah sana. Kita berdua yang terpilih. Besok pagi kita berangkat, ingat?"
"Oh iya... aku ingat kok."
"Yaudah yuk ke kantin, kita makan siang bareng!"
"Mungkin nanti aja ya, Mawar. Aku sudah makan tadi. Mau ke ruang perawat sebentar."
"Baiklah kalau gitu."
Daffa langsung berjalan pergi, meninggalkan Mawar sendirian di sana.
Mawar menghentakkan kakinya pelan, tapi senyum tipis tetap terukir di bibirnya.
"Ih Kak Daffa ini, selalu saja menolak aku. Tapi tidak apa-apa... mulai besok kita akan berdua terus selama di sana. Akhirnya aku punya waktu yang lama buat mendekati Kak Daffa sendirian."
Di ruang kerjanya yang hening, Indah duduk sendirian, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang melayang.
"Mungkin memang benar... aku harus menjaga jarak dengan Daffa. Ini cara terbaik, bukan? Aku tidak mau memberinya harapan yang tak akan pernah terwujud. Lebih baik aku menjauh sekarang, daripada dia semakin terluka nanti."
Dia menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya.
"Sakit memang. Setiap kali menolaknya, hatiku ikut terasa perih. Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Hatiku sudah dimiliki orang lain. Dan Daffa berhak mendapatkan seseorang yang sepenuhnya mencintainya, bukan hanya separuh seperti aku."
Indah tersenyum getir, air mata hampir jatuh namun berhasil ditahannya.
"Maafkan aku, Daffa. Bukan karena aku membencimu. Tapi justru karena aku menghargaimu... aku harus melepaskanmu perlahan."
Indah mengeluarkan foto lama mereka berdua dari laci meja kerjanya. Menatapnya lama sekali. Senyum Daffa di foto itu begitu tulus dan hangat.
"Kenapa ya Daffa... kenapa justru kamu yang jatuh cinta sama aku? Kamu orang baik, kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku."
Dia mengelus pinggiran foto itu pelan, matanya berkaca-kaca.
"Andai hatiku kosong... mungkin aku akan bahagia menerima kamu. Tapi kenapa harus saat hatiku sudah dimiliki orang lain? Kenapa kamu harus menyukai aku, padahal aku tak bisa membalasnya? Maaf ya Daffa... aku sungguh tidak bisa."
Ponsel di tangannya bergetar, seketika pikiran Indah teralihkan.
"Indah, nanti pulang cepat ya."
Jari-jarinya bergerak cepat membalas. "Iya Ma, Indah nanti pulang cepat kok."
"Oh iya, di rumah sudah banyak saudara yang berkunjung. Mama tunggu ya."
"Baik Ma, nanti Indah kabarin kalau sudah di jalan ya."
"Oke deh, sayang."
Indah tersenyum kecil. Setidaknya di rumah, ada tawa keluarga yang bisa menghibur hatinya yang sedang tak tenang. Semoga saja suasana hangat di sana bisa sedikit meredakan kegelisahannya hari ini. ❤️
Di sisi lain, Daffa masih duduk termenung di ruang kerjanya. Pikirannya tak lepas dari Indah.
"Baru kali ini aku merasa sesedih ini harus pergi jauh darinya. Apalagi harus LDR selama tiga bulan untuk program pertukaran dokter ini. Sungguh berat rasanya..."
Dia menghela napas panjang, menatap foto kecil di meja kerjanya.
"Apalagi aku sedang berjuang untuk memenangkan hatinya. Dan sekarang aku harus jauh darinya. satu tahun itu lama sekali... rasanya hatiku sudah ikut tertinggal di sini, bersamanya."
"Tapi... Indah belum tahu kalau aku akan berangkat bersama Mawar. Bagaimana ya nanti reaksinya? Apakah dia akan terkejut? Atau... dia akan sedikit saja merasa kehilangan dan merindukanku selama aku pergi?"
Daffa berdiri perlahan, tekadnya menguat.
"Aku harus menemui Indah sebentar. Walau hanya untuk berpamitan, walau waktunya tak lama. Besok aku sudah berangkat, dan aku tak mau pergi tanpa mengucap selamat tinggal padanya."
Jam pulang kerja akhirnya tiba. Indah merapikan barang-barangnya ke dalam tas sambil menggeleng pelan.
"Wah, pasti rame banget di rumah nanti. Biasalah, kalau ada arisan keluarga, pasti lengkap — ada Paman, ada Bibi, sepupu-sepupu juga datang semua."
Dia menarik napas panjang sambil tersenyum getir.
"Ya Tuhan... harus siap mental nih. Sudah pasti mereka bakal nanya-nanya lagi: 'Indah punya pacar belum?', 'Kapan nikah?', terus nanti disambung 'Kapan punya anak?'. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi banget, bikin aku harus sabar dan menahan diri supaya nggak ikut emosi. Sabar ya Indah, ini semua karena mereka peduli... setidaknya itu yang mau ku yakini sendiri."
Langkah Indah terasa sedikit berat saat keluar dari rumah sakit.
"Jujur... aku merasa minder banget. Kalau dibandingkan sama sepupu-sepupuku yang lain, rasanya aku tertinggal jauh. Mereka semua sudah punya keluarga, sudah ada anak. Sedangkan aku? Masih sendiri, bahkan untuk sekadar punya calon pun belum ada."
Dia tersenyum getir, meremas tali tasnya pelan.
"Orang pasti pikir aku terlalu pemilih ya? Padahal bukan begitu. Aku cuma sedang menunggu seseorang. Menunggu seseorang yang hatiku pilih. Tapi sulit sekali rasanya mengatakannya... memang kelihatannya bodoh, menunggu sesuatu yang belum tentu jelas. Tapi bukankah hati memang tidak bisa dipaksakan? Kalau bukan dia, siapa pun itu rasanya tetap salah."
Indah sudah memanggil taksi online dan menunggu di depan rumah sakit. Tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya.
"Indah, aku ingin bicara sesuatu. Boleh kan?"
"Boleh, silakan katakan."
Belum sempat Daffa membuka mulut, telepon dari pengemudi taksi berdering.
"Mbak, saya sudah sampai di titik lokasi. Mbak ada di mana ya?"
"Sebentar ya Pak, saya segera ke sana."
"Baik Mbak, ditunggu."
Indah menoleh kembali ke Daffa dengan wajah yang terburu-buru.
"Daffa, kamu mau ngomong apa? Katakan ya, aku agak buru-buru nih. Taksi-ku sudah sampai. Nanti saja kita ngobrol ya, aku duluan!"
Dia melambaikan tangan dan berjalan cepat.
"Iya... hati-hati ya, Indah."
"Iya, Daffa!"
Indah berlalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Daffa yang masih berdiri di sana dengan kata-kata yang belum sempat tersampaikan.
Daffa menatap mobil yang membawa Indah menjauh, perlahan menghilang di kejauhan.
"Indah... andai kamu tahu, sebentar lagi aku harus pergi jauh. Ternyata kita bahkan tidak sempat mengucap selamat tinggal dengan benar."
Dia menghela napas panjang, senyumnya terlihat getir namun pasrah.
"Sudahlah... mungkin memang belum waktunya. Nanti aku kirim pesan saja. Kalau kamu memang perlahan menjauh dariku, aku tidak akan memaksamu. Aku akan merelakanmu. Meski berat, aku akan belajar untuk ikhlas."