Indonesia
NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *12

"Ya, Zihan Mulyadi yang pernah kuliah di kampus kalian. Yang dulunya adalah raja kampus karena wajahnya yang tampan juga dia anak orang kaya meskipun katanya, dia anak desa yang besar di kota."

Perempuan itu terdiam sejenak. Sepertinya, benak dari perempuan itu berusaha mencerna apa yang Diani katakan.

Setelah beberapa detik terdiam. Akhirnya, perempuan itu angkat bicara kembali. "Ya. Aku ingat dia sekarang. Aku benci pria itu karena dia sudah menyakiti kakakku sampai kakak memilih mengakhiri hidup karena di permainkan cintanya oleh Zihan, si brengsek itu."

"Nah, sekarang, kamu sudah ingat dia, bukan?" Diani berucap dengan perasaan lega karena usahanya untuk memancing amarah telah berhasil.

"Aku tidak akan lupa pria bajingan itu. Sejak lama aku berusaha mencari pria itu. Tapi sayangnya, aku tidak menemukan dia sama sekali. Dia seperti lenyap begitu saja."

"Aku tahu di mana dia. Dia menghilang karena sekarang, dia sudah punya istri."

"Apa!? Dia sudah menikah? Bagaimana bisa dia menikah dan hidup bahagia sedangkan kakakku tidak ada lagi di atas dunia ini. Aku tidak terima akan hal ini. Ini sungguh tidak adil." Perempuan itu bicara dengan nada tinggi membuat semua mata memperhatikan mereka seketika.

Diani yang merasa kalau ini tidak baik, ia pun langsung menenangkan si perempuan yang bernama Lula itu dengan cepat. Dan, ia juga menenangkan para pengunjung yang lain agar tidak lagi memperhatikan mereka berdua.

"Tenanglah. Jangan terlalu terbawa emosi, Lula. Ini tidak baik untuk kita."

"Bagaimana aku bisa tenang, Diani. Pria bajingan itu sedang berbahagia sekarang. Tapi aku, aku hidup dalam kesedihan karena kehilangan kakak satu-satunya yang aku miliki."

"Bukan hanya kamu yang kehilangan kakak, Lula. Aku juga."

Sontak, Lula pun langsung terdiam dengan tatapan lekat ke arah Diani. "Apa maksud ucapan kamu barusan, Diani? Kamu juga? Maksud kamu bagaimana?"

Diani pun menceritakan apa yang terjadi pada Lula. Tentunya, dengan wajah yang dia buat sangat sedih dan tidak lupa air mata yang mengalir perlahan. Tapi, cerita yang ia ceritakan tentunya ada cukup banyak perubahan agar kesalahan tertuju lurus ke Zihan, bukan karena kecelakaan yang sengaja ia rencanakan.

"Jadi ... kakak kamu juga meninggal karena Zihan si bajingan itu, Diani?" Kini, nada ucapan Lula sudah berubah. Tidak lagi berapi-api karena marah. Tapi, berubah prihatin dan terdengar ikut merasa sedih.

"Hiks, iya. Dia benar-benar malang," ucap Diani sambil menangis.

"Maafkan aku, Diani. Ternyata, kakak kamu bernasib lebih tragis dari kakak ku. Ya sudah, mari bahas apa yang ingin kamu bahas sebelumnya. Maksudku, untuk apa kamu ajak aku bertemu?"

"Sudah aku katakan sebelumnya, bukan? Aku datang untuk mengajak kamu balas dendam, Lula. Ayo balas dendam ke Zihan. Hancurkan rumah tangganya yang sekarang ia bina. Buat ia merasa menderita karena apa yang sudah ia lakukan terhadap kakak-kakak kita."

"Maksud kamu ... kamu ingin mengajak aku balas dendam dengan menghancurkan rumah tangga Zihan? Tapi ... bagaimana dengan istrinya, Diani? Bukankah istrinya tidak tahu apa-apa atas kesalahan yang Zihan perbuat? Istrinya tidak ada sangkut pautnya dengan niat balas dendam ini. Jadi ... kenapa kita harus menghancurkan rumah tangganya?"

Ucapan Lula barusan membuat Diani sangat kesal. Ingin rasanya ia marah dengan nada tinggi pada Lula sekarang. Tapi, hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia butuh partner yang sejalan dengannya. Untuk itu, dia harus bertahan sekarang.

'Perempuan bodoh ini benar-benar bikin muak. Balas dendam, tapi tidak ingin menyakiti orang lain? Dia kira, balas dendam seperti apa yang ingin ia lakukan? Dasar perempuan yang benar-benar bodoh.' Diani mengumpat dalam hati.

"Lula dengar! Istrinya mungkin adalah orang yang sudah sangat mengerti bagaimana kehidupan masa lalu Zihan. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa menerima Zihan sebagai suaminya."

"Tapi ... bagaimana kalau perempuan itu tidak tahu apa-apa, Diani? Bukankah sesama perempuan, dia juga adalah korban?"

"Ya ampun, Lula. Kamu lupa apa yang Zihan lakukan pada kakak-kakak kita? Mereka telah tiada. Aku heran padamu, tadi kamu begitu bersemangat ingin membalas perlakuan Zihan setelah tahu kalau Zihan sudah menikah, kamu jadi marah besar. Tapi sekarang, kamu malah bilang seperti ini. Kamu bikin aku jadi sangat bingung, Lula."

Lula terdiam sesaat. "Ya ... aku akui aku kesal akan pria bajingan itu. Tapi, aku tidak berpikir untuk bertindak sangat jauh sampai menghancurkan rumah tangga orang lain."

"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan? Kamu ingin jadi penonton saja, begitu? Menonton kebahagiaan Zihan dengan istrinya?"

"Dengar Lula, perempuan yang Zihan nikahi juga belum tentu perempuan yang baik, bukan? Karena perempuan yang baik tidak akan mau menikah dengan pria yang berlatar belakang seorang badboy juga playboy."

"Dan ingat juga satu hal. Kita kehilangan orang yang kita sayangi. Jika Zihan berpisah dengan istrinya, maka itu masih belum seperih sakit yang kita alami karena kehilangan satu-satunya saudara kita. Jadi, jangan terlalu berbesar hati terhadap Zihan, Lula."

Ucapan demi ucapan yang Diani ucapkan ternyata bisa membakar perasaan Lula kembali. Amarahnya bisa muncul lagi dan niat untuk balas dendam kembali membara. Meskipun sebenarnya, hati terdalam Lula menolak untuk berbuat terlalu jauh hanya untuk menghukum orang yang mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang ia alami.

Dan, kesepakatan untuk bekerja sama pun akhirnya terjalin juga. Diani begitu bahagia karena bisa mengajak Lula masuk dalam rencana untuk merebut Zihan. Sedangkan Lula yang tidak tahu alasan sebenarnya Diani saat ini, hanya bisa merasakan setengah-setengah dari hatinya yang saling bertolak belakang.

Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di taman bunga kediaman Zihan dan Lia. Zihan akhirnya datang ke taman itu setelah beberapa waktu hubungan mereka merenggang karena kedatangan Diani.

Ketika Zihan datang, Lia sedang sibuk dengan taman bunga yang baru saja mulai berbunga. Lia yang fokus dengan taman, awalnya tidak sadar akan kedatangan Zihan. Tapi, ketika ia melihat Zihan datang, tentu saja jantungnya mendadak jadi tak karuan.

"Ee ... Kak Zihan. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Mm ... apa aku tidak boleh datang ke sini, Lia?"

"Ah, bukan itu. Bukan tidak boleh. Hanya saja, kamu sudah lama tidak ke sini. Jadi, aku merasa seperti ada hal yang aneh saja saat kamu tiba-tiba muncul. Seperti kamu yang membutuhkan sesuatu begitu?"

Zihan tersenyum lebar. "Tidak. Aku tidak butuh sesuatu. Eh ... sepertinya iya, aku butuh sesuatu sekarang."

"Apa?" Lia berucap dengan wajah serius.

"Perhatian." Zihan berucap enteng.

"Perhatian?" Lia dengan wajah bingung pun menatap lekat wajah Zihan yang masih mempertahankan senyum kecil di bibirnya.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!