Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Dibalik Pintu Kedap Suara
Aroma kayu cendana dan samar wangi masakan khas Jepang memenuhi ruang VIP restoran yang terletak hanya dua blok dari lokasi syuting.
Pintu geser berbahan kayu shoji telah tertutup rapat, mengisolasi Ethan dan Mia dari bisingnya dunia luar. Di ruangan bernuansa minimalis itu, hanya ada satu meja rendah dan dua bantalan duduk yang memisahkan mereka.
Mia duduk dengan tegak, punggungnya kaku bagai garis lurus. Di sebelahnya, kotak beludru hitam berisi peralatan perawatan darurat perhiasan diletakkan tepat dijangkauan tangannya. Meskipun ia akhirnya menyerah pada ancaman terselubung Ethan mengenai keamanan kancing jas dan jam tangan platinum itu, ia menolak untuk terlihat kalah.
Ethan melepas jas hitamnya yang berharga fantastis, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di samping bantalan duduknya. Kemeja putihnya kini sedikit digulung hingga menyisakan jam tangan mewah yang masih melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Kilau platinum itu seolah menjadi pengingat konstan bagi Mia atas alasan keberadaannya di tempat tersebut.
“Kamu selalu memegang kendali saat bekerja, Mia. Tapi wajahmu tidak bisa berbohong,” tutur Ethan membuka suara. Ia mengarahkan teko keramik kecil untuk menuangkan teh hijau hangat ke cawan milik Mia.
“Terima kasih, Tuan Ethan,” potong Mia cepat sebelum Ethan sempat menggeser cawan itu terlalu dekat dengannya. Ia meraih cawannya sendiri, memilih untuk mengabaikan sindiran pria di hadapannya.
“Saya di sini murni karena tanggung jawab atas aset perusahaan. Tolong jangan menyalahartikan kepatuhan profesional saya.”
Ethan terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu menyapu ruangan yang tenang, memicu getaran familiar yang sangat ingin Mia abaikan. Ethan menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Mia dengan pendar mata yang begitu intens.
“Profesionalisme,” ulang Ethan lambat-lambatnya.
“Kata yang sangat aman untuk kamu jadikan tameng. Tapi katakan padaku, Mia... apakah tameng itu cukup tebal untuk menutupi fakta bahwa jemarimu masih gemetar tiap kali menyentuh kulitku?”
Mia memegang cawan tehnya lebih erat, merasakan hangatnya cairan itu membakar telapak tangannya yang dingin. Ia menatap lurus ke dalam netra Ethan, menolak untuk berpaling.
“Perasaan gugup seorang staf saat memegang barang senilai jutaan dolar adalah hal yang sangat manusiawi, Tuan Ethan. Jangan terlalu percaya diri,” sahut Mia dingin.
“Benarkah?” Ethan menegakkan punggungnya, sedikit memiringkan kepala.
“Lalu bagaimana dengan parfummu? Jasmine dan vanilla. Kamu tidak pernah mengubahnya sejak hari pertama kita menikah. Apakah itu juga bentuk dari profesionalisme?”
Kalimat itu terlempar bagai batu yang menghantam permukaan air yang tenang. Rasa sesak yang familier menyergap dada Mia seketika. Mengapa Ethan terdengar seolah ingin menggali masa lalu? Tidak tahukah Ethan dahulu Mia sempat jatuh hati kepadanya tetapi yang Mia dapatkan hanya sikap dingin pria itu?
Namun, sebelum Mia sempat merangkai kata untuk membalas provokasi itu, pintu geser ruang VIP mendadak didorong terbuka.
Marcus menyeret langkah tergesa masuk ke dalam ruangan. Wajah pria itu terlihat sedikit tegang saat matanya menangkap keberadaan mereka berdua di ruangan privat tersebut.
“Ethan, maaf mengganggu makan siangmu,” ujar Marcus cepat, mencoba bersikap senatural mungkin meski ia bisa merasakan ketegangan tebal yang melingkupi udara di antara Ethan dan Mia.
“Ada perubahan jadwal mendadak dari sutradara. Kita harus kembali ke set sepuluh menit lebih awal untuk briefing adegan luar ruangan.”
Ethan tidak langsung berdiri. Pandangannya masih tertambat pada Mia yang kini tampak menarik napas lega atas interupsi tersebut.
“Sepuluh menit lagi,” sahut Ethan datar tanpa menoleh pada manajernya.
“Aku akan kembali tepat waktu, Marcus.”
Marcus mengangguk singkat, memberikan tatapan penuh arti yang sarat kekhawatiran pada Mia sebelum akhirnya kembali menutup pintu geser.
Keheningan kembali merayap, namun kali ini terasa jauh lebih menekan.
Ethan berdiri dari duduknya, merapikan kemeja putihnya perlahan. Ia tidak langsung mengambil jasnya, melainkan melangkah mendekati tempat Mia duduk.
Mia reflek hendak berdiri, namun Ethan lebih dulu memotong jarak, menundukkan badan hingga wajah mereka kini berada pada garis sejajar.
“Istirahat kita memang terpotong,” bisik Ethan, suaranya begitu rendah dan dalam hingga terasa menggetarkan dada Mia.
“Tapi syuting hari ini masih panjang, Mia. Dan selama jam tangan ini masih ada di tanganku, kamu tidak akan pernah bisa benar-benar lari dariku.”
Ethan menyunggingkan senyum tipis. senyuman penuh kemenangan yang membuat Mia mengetatkan rahangnya. Tanpa menunggu respons dari wanita itu, Ethan mengambil jasnya lalu melangkah keluar dari ruang VIP, meninggalkan Mia seorang diri bersama degup jantungnya yang berpacu liar dan aroma sandalwood yang tertinggal di udara.
Mia pun mengembuskan napasnya lega. Ia tak menyangka takdir mempermainkannya seperti ini. Ethan, pria yang tak mungkin bisa ia gapai kini kembali mengusik ketenangannya.
****
Marcus menyamai langkah lebar Ethan begitu mereka keluar dari area restoran menuju lorong yang menghubungkan ke lokasi syuting. Setelah memastikan tidak ada kru atau staf lain di sekitar mereka, Marcus menyejajari Ethan dan memotong jalan pria itu dengan ekspresi wajah yang penuh keseriusan.
“Ethan, kita perlu bicara," pinta Marcus dengan nada tertahan namun tegas.
Ethan hanya melirik manajernya sekilas, terus berjalan tanpa memperlambat langkahnya.
“Aku mendengarkan, Marcus. Kita punya waktu tujuh menit sebelum briefing dimulai.”
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di ruangan itu tadi?” Marcus menahan lengan Ethan, memaksa pria itu untuk berhenti melangkah.
“Berdua saja dengan Mia di private room? Kamu tahu persis berapa banyak kamera media dan mata-mata paparazzi yang berkeliaran di sekitar lokasi syuting ini. Kalau ada yang mengambil foto kalian—”
“Mia hanya menjalankan tugasnya mengawasi barang-barang sponsor,” potong Ethan dingin, menghempaskan tangan Marcus dari lengannya perlahan.
“Jangan bodoh, Ethan! Aku kenal kamu bukan cuma sehari atau dua hari,” sahut Marcus, tatapannya menyipit tajam.
“Cara kamu menatap Mia tadi bukan tatapan seorang aktor kepada staf penanggung jawab perhiasan. Kamu memojokkannya.”
Ethan diam, memilih untuk tidak merespons dan kembali merapikan lengan kemejanya.
“Lupakan masa lalu kalian,” tekan Marcus lagi, menurunkan volume suaranya hingga hampir berbisik.
“Kalian sudah bercerai, Ethan. Dan yang paling penting... bagaimana dengan Jane? Hubungan kalian sedang menjadi sorotan publik. Jane adalah tunanganmu sekarang, dan agensi sudah menaruh pertaruhan besar untuk citra kalian berdua!”
Mendengar nama Jane disebut, garis rahang Ethan tampak makin mengeras. Kilat mata yang tadi membakar saat bersama Mia mendadak berubah menjadi dingin dan tidak tersentuh.
“Jane tahu posisinya, Marcus. Dan kamu tidak perlu mengingatkanku soal citra publik,” balas Ethan, suaranya terdengar datar tanpa emosi.
“Kalau begitu bertindaklah sesuai posisi itu!” bentak Marcus pelan.
“Mia sudah menata ulang hidupnya sebagai profesional. Jangan seret dia kembali ke dalam kekacauan hidupmu hanya karena ego atau rasa bersalah yang belum selesai. Jika Jane sampai tahu kamu menemui Mia secara pribadi seperti ini, dampaknya tidak hanya akan menghancurkan kariermu, tapi juga bisa menyulitkan posisi Mia di perusahaan sponsor itu. Apa kamu sudah lupa bagaimana kasarnya kamu menolak perasaan Mia dulu?”
Kalimat terakhir Marcus seolah berhasil menghantam titik saraf Ethan. Selama beberapa detik, keheningan tebal membentang di antara mereka berdua. Ethan menatap manajernya lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tipis yang terasa dingin.
“Terima kasih sudah mengingatkan tugasmu sebagai manajer, Marcus,” ucap Ethan penuh ironi. Ia menepuk bahu Marcus pelan sebelum melangkah melewatinya.
–tbc–