[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Sama-sama Terkejut
"Sekarang langkah selanjutnya aku hanya perlu tinggal duduk manis menunggu Ayah pulang berkendara dari kota," ucap White pelan dengan nada suara lirih.
Ia mengalihkan pandangan matanya, melirik ke arah jalur jalan setapak bawah bukit yang kondisinya masih tampak sepi senyap. Kabut pagi yang tebal membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas, menyembunyikan ujung jalan di balik kepekatan fajar.
Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk duduk di atas sebuah bangku kayu panjang yang terletak tepat di bawah naungan pohon persik purba yang meranggas sepi. Untuk membunuh rasa bosan yang mulai menyerang akibat penantian, White merogoh sebuah ukiran teka-teki kayu kecil dari dalam saku pakaian olahraganya.
Ia mulai asyik memutar-mutar jalinan kayu rumit tersebut, sementara sepasang indra pendengarannya tetap diposisikan dalam tingkat siaga penuh untuk menunggu munculnya suara deru roda kereta kuda barang milik ayahnya.
Lucas Emerson sendiri tercatat sudah memacu keretanya berangkat meninggalkan rumah sejak fajar subuh buta tadi. Pria itu menuju ke arah Kota Luminara demi mengejar waktu pasar untuk menjual seluruh muatan karung kentang hasil pertanian mereka.
White sama sekali tidak lupa untuk mengenakan perangkat rambut palsunya—sebuah wig sintetis pendek berkualitas standar dengan gaya potongan maskulin. Rambut palsu itu secara instan mengubah impresi visualnya menjadi sesosok remaja pria yang teramat tampan dan menawan.
Wig itu adalah tameng perlindungan absolut utamanya jika sewaktu-waktu ibunya tiba-tiba terbangun dari tidur dan mengintip keluar jendela.
Semenjak usianya masih kecil, White memang diakui selalu merasa jauh lebih nyaman dan bebas mengekspresikan diri dengan menggunakan gaya penampilan yang tomboi. Ia menaruh rasa tidak suka yang besar pada penggunaan gaun-gaun cantik atau rok berbahan renda feminin yang dulu sewaktu kecil sering kali dibelikan oleh ayahnya.
Meskipun Lucas sempat melakukan berbagai upaya keras untuk mengarahkan tumbuh kembang putrinya agar menjadi seorang gadis yang anggun, namun pada akhirnya sang ayah memilih untuk menyerah kalah.
Pria itu justru berbalik memberikan dukungan penuh pada keunikan pilihan hidup putrinya tersebut. Bagi seorang White Emerson, kombinasi antara rambut palsu maskulin pendek dan setelan pakaian olahraga ini adalah representasi identitas yang paling terasa nyaman untuk dijalani.
Namun, tepat di tengah keasyikannya memutar ukiran teka-teki kayu di bawah naungan pohon persik, White sama sekali tidak menyadari satu fakta krusial. Di dalam salah satu ruang kamar tamu di lantai dua rumah kayunya, salah satu tamu misterius mereka mendadak membuka sepasang kelopak matanya secara instan.
Insting predator sang werewolf mendadak bergejolak hebat. Seiring dengan berembusnya angin fajar yang dingin, keharuman murni dari kombinasi aroma mawar dan sitrus segar mendadak menguar semakin kuat dan pekat.
Aroma itu menembus celah ventilasi kamar dan langsung membakar gairah jiwanya yang terpendam.
"Sial, sial, sial... aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata!"
Ethan menggeram penuh rasa frustrasi sembari mengacak-acak rambut birunya hingga berantakan tak beraturan. Ia memutar kepalanya, melirik tajam ke arah dua temannya yang berada di dalam kamar tamu yang remang itu.
Rasa iri yang pekat bercampur kejengkelan mendadak membuncah di dalam dadanya saat menyaksikan Alan dan Damian Dexter masih terbuai sangat nyaman dalam tidur nyenyak mereka. Damian bahkan tampak sangat pulas dan menikmati posisinya di atas hamparan karpet bulu tebal, seolah-olah permukaan lantai keras itu adalah sebuah kasur empuk nan mewah bagi tubuh dewasanya yang berbalut tunik katun pink.
Tak lagi sanggup bertahan terus berbaring dalam siksaan kegelisahan batin, Ethan menyibak ujung selimut wolnya dengan satu sentakan kasar. Ia bangkit berdiri dan melangkahkan kaki tegapnya menuju ke arah pintu balkon kaca yang membatasi area kamar tamu dengan udara luar.
Cklek!
"Ah, segarnya..."
Ethan melangkah keluar ke area balkon, menarik napas dalam-dalam ke paru-parunya demi menghirup udara perbukitan pegunungan yang menusuk tajam hingga ke tulang, namun terasa begitu murni. Ia meregangkan otot-otot kedua belah lengannya yang kaku, membiarkan embusan angin dini hari menerpa permukaan wajah tampannya. Namun, ketenangan yang ia cari hanya bertahan selama beberapa saat saja.
"Kenapa... kenapa aroma magis ini justru terasa semakin kuat dan pekat? Apa dia saat ini sedang berada di sekitar area ini?" gumamnya lirih dengan dahi berkerut dalam.
Ia melangkah mendekati pagar balkon besi yang terasa sedingin es. Indra penciuman supernatural ras Werewolf-nya bekerja dengan tingkat ketajaman maksimal. Ia menangkap kembali jalinan jejak aroma sitrus segar dan keharuman kelopak mawar yang sedari tadi terus-menerus mengusik inti jiwanya.
Sepasang manik mata merah darahnya bergerak aktif menyapu seluruh sudut halaman rumah kayu bawah yang kondisinya masih tampak remang-remang di bawah lindungan langit subuh.
Pandangan mata Ethan mendadak terpaku mati pada sesosok tubuh ramping yang tengah duduk sendirian di atas bangku panjang kayu, tepat di bawah naungan pohon persik purba.
"Akhirnya... aku berhasil menemukan keberadaanmu..."
Seulas senyuman lebar penuh kebahagiaan terukir indah di wajah tampan Ethan. Jantung werewolf-nya mendadak berdentum dengan ritme yang teramat kencang, seolah-olah ada ribuan kupu-kupu tak kasat mata yang mendadak beterbangan bebas di dalam rongga dadanya.
Inilah satu-satunya momen sakral yang paling ia nantikan sepanjang hidupnya: menemukan sosok sang Mate sejati.
Namun, tepat pada saat ia sedikit menyipitkan sepasang matanya demi memperjelas jangkauan penglihatan malamnya (night vision) di tengah kegelapan subuh itu, sebaris keraguan mendalam mulai menyergap logikanya.
'Kenapa... kenapa potongan rambutnya terlihat teramat pendek sekali seperti layaknya wujud seorang laki-laki?' Ethan membatin dengan dilingkupi kebingungan yang besar.
Sosok ramping di bawah sana tampak mengenakan pakaian jaket olahraga longgar dan posisi duduknya membelakangi balkon, menghadap lurus ke arah jalur jalan setapak bawah bukit.
"Ck. Persetan dengan gaya potongan rambutnya! Aku harus turun dan memastikannya secara langsung sekarang juga!"
Tanpa membuang waktu untuk berpikir panjang lagi, Ethan menggunakan kedua belah tangannya untuk bertumpu kuat pada pagar balkon besi.
Brukk!
Dengan satu gerakan atletis tingkat tinggi yang mustahil untuk bisa dilakukan oleh ukuran manusia biasa, Ethan melompat bebas dari lantai dua balkon. Pria berambut biru itu mendarat dengan sangat sempurna menggunakan tumpuan satu lutut tepat di posisi belakang punggung sosok tersebut.
White Emerson, yang pada detik itu sedang memfokuskan seluruh perhatiannya pada ukiran teka-teki kayu kecil di tangannya, tersentak hebat diserang keterkejutan instan. Ia merasakan adanya hantaman gelombang hawa panas supernatural yang mendadak muncul di belakang punggungnya dan secara refleks memutar tubuhnya ke belakang.
"AAAAAAA!"
Keduanya mendadak berteriak histeris secara serempak, koor jeritan mereka yang melengking tinggi memecah kesunyian fajar subuh perbukitan yang sunyi.
Ethan terlonjak mundur beberapa langkah ke belakang dengan gerakan panik. Rona di wajah rupawannya mendadak berubah menjadi pucat pasi. Ia mengalami syok yang teramat dahsyat bukan main saat melihat fakta realitas bahwa sosok yang berada di depannya memiliki struktur garis wajah yang tegas, rahang androgini yang kuat, dan gaya potongan rambut pendek—ciri-ciri fisik valid yang otaknya yakini sebagai seorang remaja laki-laki.
Di posisi seberangnya, White hampir saja melompat jatuh dari atas bangku kayunya akibat terkejut setengah mati melihat sesosok pria asing berambut biru terang tiba-tiba muncul membelah kegelapan dari arah atas.
Ukiran teka-teki kayu yang digenggamnya terlepas bebas dari jemarinya dan jatuh terjerembap ke atas hamparan rumput hijau yang masih basah tertutup embun pagi.
"Siapa kamu sebenarnya?!" bentak White.
White menjulurkan jari tangannya, menunjuk lurus ke arah wajah Ethan dengan jemari yang bergetar hebat. Nada suaranya naik satu oktav penuh akibat dorongan emosi dan kepanikan yang mendalam.
Ethan sama sekali tidak memberikan jawaban verbal. Ia hanya bisa berdiri diam mematung sekaku karang, menatap lurus ke arah wujud White dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pancaran tatapan mata yang sarat akan rasa hancur berkeping-keping.
'Ya Tuhan... kesalahan atau dosa besar apa yang sebenarnya telah aku perbuat di masa lalu? Mengapa garis takdir Dewi Bulan tega memberiku pasangan jiwa sejati seorang laki-laki? Apa di seluruh peradaban dunia fana ini memang sudah tidak ada lagi populasi perempuan yang melajang? Jika memang realitasnya harus seperti ini... aku bersumpah lebih baik memilih hidup sendiri tanpa pendamping sampai ajal menjemput, daripada aku dipaksa memiliki Mate sejati seperti dia!'