Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEBUAH KEBEBASAN
Koridor itu begitu sunyi.
Hanya suara langkah kaki yang terdengar bergema di antara dinding-dinding beton yang dingin.
Kael berjalan paling depan, diikuti Darren dan Dante. Ketiganya tidak banyak bicara. Wajah mereka sama-sama datar, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengusik ketenangan mereka.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa mengerikan. Karena orang-orang seperti mereka tidak pernah berjalan tanpa alasan. Malam ini, mereka sedang mempersiapkan sesuatu.
Sesuatu yang mungkin akan mengubah banyak hal.
Beberapa meter di depan, seorang gadis muncul dari tikungan koridor.
Jessica.
Langkahnya terhenti ketika melihat ketiga pria itu. Tatapannya langsung tertuju kepada Dante. Kael dan Darren hanya melirik sekilas.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada basa-basi.
Keduanya terus berjalan, meninggalkan Dante dan Jessica di tengah koridor yang kembali sepi. Jessica berdiri tepat di hadapan Dante. Ia menatap pria itu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya,
“Jadi... aku harus bagaimana?”
Dante menatapnya dingin.
“Bersiap.”
Jessica mengangkat alis.
“Untuk?”
“Rencananya malam ini.”
Hening.
Bukannya takut, Jessica justru tersenyum. Senyum kecil yang perlahan berubah menjadi senyum lebar.
“Kau jadi mengajakku?”
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu langsung meraih lengan Dante dan bergelayut manja di sana. Dante mengembuskan napas panjang. Ia memutar bola matanya, jelas-jelas merasa terganggu.
Namun tangannya tidak menepis gadis itu.
“Jangan merepotkan.”
Jessica terkekeh.
“Kalau aku merepotkan, kenapa kau masih membiarkanku?”
Dante tidak menjawab.
Mereka akhirnya berjalan berdampingan menyusuri koridor. Jessica tetap bergelayut di lengannya, sementara Dante memasang wajah seolah keberadaan gadis itu tidak berarti apa-apa.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Dante tidak pernah benar-benar memperlakukan Jessica seperti orang lain. gadis itu tidak lebih dari tempat penyaluran hasratnya saja. Ia bisa bersikap dingin kepadanya, Mengabaikannya, Bahkan memperlakukannya sesuka hati.
Namun ketika Jessica benar-benar pergi, entah mengapa Dante selalu menjadi orang pertama yang mencarinya.
Mungkin karena kebiasaan.
Mungkin karena kenyamanan.
Atau mungkin karena ada sesuatu di antara mereka yang bahkan Dante sendiri tidak mau mengakuinya.
Jessica mendongak.
“Dante.”
“Hm?”
“Kalau malam ini berhasil...”
Gadis itu berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Setelah itu kita akan tetap bersama, kan?”
Langkah Dante melambat, Hanya sepersekian detik.
Namun Jessica menyadarinya, Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Jangan berpikir terlalu jauh.”
Jessica mengerucutkan bibir.
“Berarti tidak?”
Dante akhirnya menoleh, Tatapan keduanya bertemu. Dingin bertemu ceria, Gelap bertemu sesuatu yang entah bagaimana selalu berhasil mengusik kegelapan itu.
“Selama kau tidak mengganggu rencanaku,” ucap Dante datar,
“kau boleh ikut.”
Jessica tersenyum puas.
“Itu bukan jawaban yang kuminta.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Dante kembali berjalan.
“Diam dan ikut.”
Jessica terkekeh sebelum kembali bergelayut pada lengannya.
***
Sore perlahan jatuh di atas lapas.
Cahaya matahari menyelinap di antara jeruji besi, menumpahkan warna keemasan di atas lantai beton yang dingin. Dari kejauhan, suara para tahanan terdengar samar, bercampur dengan derit pintu besi dan langkah para sipir yang sesekali melintas.
Alesya duduk sendirian di sebuah bangku.
Reana sudah pergi entah ke mana.
Biasanya gadis itu akan terus berada di dekatnya, tetapi Alesya tidak terlalu memikirkannya. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya sejak tadi.
Wanita hamil itu.
Wajahnya masih terbayang jelas.
Alesya memainkan sebungkus permen di tangannya sambil menatap kosong ke depan.
“Kasihan juga...”
Ia mengembuskan napas. Tempat ini memang bukan tempat yang ramah bagi siapa pun. Apalagi bagi seseorang yang sedang membawa kehidupan di dalam tubuhnya.
Alesya memasukkan satu permen ke mulutnya. Namun belum sempat ia menikmati rasa manisnya, suara langkah kaki terdengar dari samping.
Seseorang duduk di sebelahnya.
Alesya menoleh.
Kael.
Ia hanya melirik pria itu sebentar, kemudian kembali menatap ke depan. Tanpa basa-basi, Alesya mengeluarkan satu permen dari bungkusnya dan mengulurkannya.
“Mau?”
Kael menatap permen tersebut, Kemudian menggeleng. Alesya menarik tangannya.
“Rugi sendiri.”
Ia memasukkan permen itu ke mulutnya.
Hening.
Dua orang itu duduk berdampingan tanpa merasa perlu mengisi keheningan.
Sampai akhirnya Kael bersuara.
“Bersiaplah.”
Alesya menoleh.
“Buat?”
Kael masih menatap lurus ke depan.
“Katanya mau keluar dari penjara.”
Alesya mengangkat alis.
“Jadi kapan?”
“Malam ini.”
Mata Alesya langsung berbinar.
“Oh.”
Ia bahkan tampak lebih penasaran daripada terkejut.
“Kamu serius?”
Kael mengangguk.
Alesya tersenyum kecil.
Kemudian ia teringat sesuatu.
“Kamu bilang nggak ada yang bisa keluar dari sini.”
“Karena mereka nggak bisa.”
Alesya terkekeh.
“Kalau kamu?”
Kael menoleh kepadanya.
Tatapan mereka bertemu.
“ga ada yang nggak bisa aku lakukan.”
Alesya menahan senyum.
“Emmm...”
Ia mengamati wajah Kael beberapa detik.
“Sombong.”
Tawa kecil keluar dari bibirnya, Kael kembali menatap ke depan. Alesya ikut tersenyum sambil memainkan bungkus permen di tangannya. Namun rasa penasarannya belum hilang.
“Terus rencananya gimana?”
Kael tidak langsung menjawab.
Ia justru memperhatikan rambut Alesya yang tercepol asal. Beberapa helainya jatuh berantakan di sisi wajah.
Tangan Kael terangkat. Alesya sempat melirik, Kael merapikan helaian rambut itu dan menyelipkannya ke belakang telinga Alesya.
Gerakannya begitu biasa, Seolah mereka masih berada di masa lalu. Seolah lima tahun tidak pernah memisahkan mereka. Setelah itu Kael kembali diam.
“Pembantaian.”
Alesya berkedip.
“...Hah?”
“Pembantaian.”
Kali ini Alesya benar-benar terdiam.
Bukan karena takut.
Melainkan karena jawaban itu jauh lebih gila dari yang ia bayangkan.
Ia menatap Kael dari samping.
“Semua orang?”
Kael mengangguk.
Alesya mengunyah permennya perlahan.
Kemudian menghela napas.
“Kenapa?”
“Mereka nggak salah apa-apa,”
lanjut Alesya.
“Kenapa harus dibunuh?”
Kael tetap tenang.
“Kalau nggak begitu, nggak ada cara lain.”
Alesya menyandarkan tubuhnya pada bangku.
Kael melanjutkan,
“Kalaupun kita keluar tanpa membantai semua orang di sini, di luar kita tetap akan menjadi buronan.”
Alesya terdiam.
Ia memahami maksudnya.
Keluar dari lapas bukan berarti semuanya selesai.
Justru setelah itu, dunia akan mulai mengejar mereka. Alesya memang ingin bebas, Tetapi mendengar rencana Kael tetap membuatnya menggeleng-gelengkan kepala.
“Kamu benar-benar memilih cara paling ribet.”
Kael meliriknya.
“Ribet?”
“Ya.”
Alesya mengangkat bahu.
“Kalau bisa keluar diam-diam, kenapa harus bikin satu lapas jadi kuburan?”
Kael tidak menjawab.
Alesya menatapnya lagi.
“Kamu sanggup membunuh mereka semua?”
Nada suaranya bukan takut.
Justru terdengar seperti seseorang yang sedang memastikan apakah orang di sampingnya benar-benar sudah kehilangan akal sehat.
“Mereka banyak.”
Ia mengangkat satu jari.
“Jumlah sipir aja nggak sedikit.”
Jari kedua.
“Mereka punya senjata.”
Jari ketiga.
“Dan kita cuma tahanan.”
Alesya mengangguk sendiri.
“Gila.”
Kael tetap diam.
Kemudian menjawab,
“Aku sudah memperhitungkan nya"
Tatapannya kembali lurus.
“Gak bakal gagal.”
Alesya mendengus pelan.
“Percaya diri sekali.”
Tidak ada ketakutan dalam wajahnya. Tidak ada keraguan tentang apakah ia akan ikut atau tidak.
Yang ada hanya satu hal—
Gadis itu mencoba memahami manusia di sampingnya.
Alesya menatap wajah Kael dari samping.
Dulu, pria itu memang keras.
Tetapi tidak seperti ini.
Tidak sedingin ini.
Tidak setenang ini ketika berbicara tentang kematian. Alesya tidak tahu apa yang terjadi selama lima tahun terakhir. Tidak tahu luka apa yang pernah ditinggalkan dunia kepadanya.
Tidak tahu berapa banyak hal yang telah direnggut darinya hingga yang tersisa hanyalah sosok seperti ini.
Kael.
Pria yang dahulu ia kenal. Dan sekaligus seseorang yang terasa begitu asing.
Monster.
Kata itu sempat melintas di benaknya. Namun Alesya buru-buru menyingkirkannya. Karena monster seharusnya tidak melakukan hal-hal kecil seperti menyelipkan rambut seseorang ke belakang telinga.
Tapi mungkin...
justru itulah yang paling menakutkan.
Bahwa sesuatu yang mengerikan masih bisa menyisakan sedikit kelembutan.
Alesya tidak tahu di mana batas itu berada.
Mungkin batas tersebut sudah lama dihancurkan oleh sesuatu yang terjadi selama lima tahun ketika mereka tidak bersama.
Alesya tersenyum tipis.
“Kael”
“Hm?”
“Kalau nanti rencanamu gagal...”
Kael menoleh.
Alesya menyeringai.
“Jangan mati dulu.”
Kael menatapnya beberapa detik.
Kemudian kembali menghadap ke depan.
“Tidak akan.”
Alesya terkekeh.
“Bagus.”
Setelah itu, keduanya kembali diam.
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Matahari semakin rendah.
Di balik pagar lapas, danau tampak berkilauan diterpa cahaya senja. Permukaannya tenang, seolah tidak tahu bahwa beberapa jam lagi tempat ini mungkin akan berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Alesya memandanginya sambil mengunyah permen.
Indah.
Ironisnya, pemandangan seindah itu justru menjadi saksi terakhir sebelum sesuatu yang buruk dimulai.
“Semua tahanan!”
Suara sipir memecah kesunyian.
“SEGERA KEMBALI KE SEL!”
Alesya berdiri.
Kael ikut bangkit.
Mereka berjalan menuju bangunan lapas, Alesya sempat menoleh sekali lagi ke arah danau. Tidak ada rasa takut di matanya, Tidak ada penyesalan.
Hanya rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi malam ini. Karena bagi Alesya, kematian bukan sesuatu yang membuatnya gentar.
Yang membuatnya penasaran justru satu hal:
Seberapa jauh Kael telah berubah selama lima tahun terakhir?
Dan malam ini...
ia akan melihat jawabannya sendiri.
***
Hallo para fans nya Kael Alesya.....
yang udah sampai sini ...
makasih banyak yaaa atas dukungan kalian.... vote yang banyak juga yaa bessstyy supaya aku semangat terus nulis nya...
byee bye.....