Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Keesokan harinya, suasana di SMA Garuda berubah menjadi ladang ujian akademis yang sangat sengit. Papan pengumuman elektronik di lobi utama telah menyala sejak pukul enam pagi, menampilkan peringkat sementara Simulasi Komprehensif Beasiswa dan Ujian Akhir. Kerumunan murid kelas XII memenuhi lobi, saling bertukar bisikan cemas.
Kirana berjalan bersama Maya. Langkah kakinya mendadak melambat saat melihat kekacauan kecil di depan papan pengumuman.
"Ada apa sih, May? Kok heboh banget?" tanya Kirana heran.
"Gak tahu tuh, Kir. Katanya hasil simulasi komprehensif kemarin malam udah keluar rangkingnya secara nasional!" jawab Maya penasaran, langsung menerobos kerumunan murid. "Bentar, gue liatin nama lo sama Kenan!"
Kirana berdiri sedikit di belakang, menunggu dengan tenang. Ia percaya diri dengan pengerjaan soal Kimia dan Bahasa kemarin, apalagi Kenan sudah membimbingnya belajar hingga larut malam.
Namun, ketika Maya kembali dari balik kerumunan, raut wajah sahabatnya itu tampak aneh perpaduan antara bingung dan tidak percaya.
"Kir... ini aneh banget," bisik Maya seraya menarik lengan Kirana menjauh dari kerumunan.
"Aneh kenapa, May? Nilai gue anjlok?" tanya Kirana cemas.
"Bukan anjlok biasa, Kir! Nilai Kenan Alister tetap di posisi pertama paralel, tapi nilai modul komunikasi dan riset komprehensif lo... cuma dapet skor 62! Padahal modul itu kan yang dikoreksi langsung sama tim mentornya Mas Gabriel!"
DEG!
Dada Kirana berdesir hebat. Skor 62 untuk modul yang dikuasainya adalah hal yang sama sekali tidak masuk akal. Selama ini, nilai Bahasa dan Komunikasi Kirana tidak pernah menyentuh angka di bawah 85.
"Masa sih, May? Gue yakin banget kemarin semua kuesioner dan materi analisisnya udah gue jawab sesuai instruksi," kata Kirana, suaranya sedikit bergetar.
"Makanya gue bilang aneh! Dan lo tahu yang lebih gila lagi?" Maya menoleh ke kanan dan ke kiri, menyusutkan suaranya hingga nyaris tak terdengar. "Nilai riset Clarissa yang satu kelompok sama lo malah dapet skor 95! Padahal semua anak tahu Clarissa kemarin cuma numpang nama dan gak ngerjain bagian analisis kuesioner!"
Sementara itu, di dalam ruang rapat evaluasi guru, Kenan berdiri mematung di depan layar proyektor. Di samping Pak Suryo dan Pak Bambang, Gabriel duduk santai sambil memegang cangkir kopinya.
Kenan menunjuk lembar transparansi nilai di layar. "Maaf, Pak Suryo, Mas Gabriel. Sebagai Ketua OSIS sekaligus rekan satu kelompok Kirana dan Clarissa, saya ingin mempertanyakan bobot penilaian indikator kuesioner ini."
Pak Suryo mengernyitkan dahi, menatap lembar berkas di tangannya. "Ada apa, Kenan? Bukankah skor ini sudah dihitung otomatis oleh sistem scoring tim pertukaran luar negeri?"
"Sistem scoring luar negeri menilai berdasarkan fleksibilitas narasi akademis, Pak," sela Gabriel dengan suara baritonnya yang tenang dan sangat terstruktur. Ia meletakkan cangkirnya, menatap Kenan dengan senyum tipis. "Analisis yang dibuat Kirana sangat bagus, tetapi terlalu kaku dan berpatokan pada standar internal OSIS. Sementara analisis yang diserahkan Clarissa menggunakan pendekatan interdisipliner yang lebih disukai oleh penguji internasional."
Kenan melangkah satu tindakan lebih dekat ke meja Gabriel. Tatapan matanya tajam bagai sembilu. "Saya yang memeriksa draf asli Kirana dan Clarissa sebelum diunggah ke sistem, Mas Gabriel. Draf Clarissa adalah hasil duplikasi dari poin awal yang dibuat Kirana, sedangkan Kirana menyusun analisis lapangan berdasarkan data aktual. Bagaimana bisa hasil yang objektif nilainya terpaut 33 poin?"
Pak Bambang yang melihat suasana mulai tidak kondusif segera berdeham keras. "Ehem! Sudah, sudah. Kenan, penilaian dari mentor pendamping sifatnya mutlak untuk komponen beasiswa. Namun, karena ini baru simulasi pertama, nilai ini masih bisa disanggah jika ada bukti draf fisik yang otentik."
"Saya punya draf fisiknya, Pak," jawab Kenan cepat, tegas tanpa ragu. "Draf fisik dengan tanda tangan verifikasi saya dan catatan revisi asli dari Kirana ada di ruang OSIS. Saya akan mengajukan banding resmi siang ini."
Gabriel menatap Kenan, mengusap dagunya dengan tenang. "Prosedur banding diperbolehkan, Kenan. Tapi ingat, jika banding diajukan, seluruh draf Kelompok 1 harus diuji ulang lewat presentasi lisan terbuka di depan tim penilai yayasan besok pagi. Apa kamu yakin Kirana siap diposisikan di bawah tekanan sidang terbuka seperti itu?"
Pernyataan Gabriel adalah sebuah jebakan taktis. Gabriel tahu betul bahwa Kirana paling tidak suka menjadi pusat perhatian atau berhadapan langsung dengan jajaran direksi yayasan.
Namun Kenan tidak sedikitpun goyah. "Kirana siap. Dan saya yang akan mendampinginya sebagai Ketua Kelompok."
Jam istirahat kedua menjadi momen yang amat menguras emosi. Di ruang sekretariat OSIS yang terkunci rapat, Kirana duduk di kursi kerja Kenan dengan mata berkaca-kaca. Di depannya, lembar penilaian simulasi tercetak jelas dengan angka 62 berwarna merah.
"Gue udah berusaha sebisanya, Ken..." bisik Kirana, menahan nafasnya yang sesak. "Gue belajar tiap malam sama lo, gue kerjain analisis itu jujur. Kenapa Kak Gabriel tega bikin nilai gue kayak gini cuma buat membuktikan opininya?"
Kenan berlutut di sebelah kursi Kirana. Tangan tegapnya meraih kedua telapak tangan Kirana yang dingin, menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat.
"Jangan menangis, Kirana," bisik Kenan lembut, suaranya sarat akan ketenangan yang menghanyutkan. "Ini bukan karena kemampuan lo yang kurang. Nilai lo dipotong karena dia mau memancing emosi kita."
Kirana menatap mata hitam legam suaminya. "Tapi kalau nilai ini gak berubah, peringkat rata-rata gue bakal jatuh, Ken. Gue gak akan bisa masuk perguruan tinggi negeri di Bandung bareng lo lewat jalur undangan."
Kenan mengangkat salah satu tangan Kirana, mendaratkan kecupan lembut di buku-buku jemari istrinya.
"Gue udah mengajukan banding resmi ke Pak Suryo," kata Kenan mantap. "Besok pagi jam sembilan, akan ada sidang presentasi ulang untuk Kelompok 1 di depan tim penilai yayasan. Gue yang bakal memimpin presentasinya, dan lo cuma perlu menyampaikan bagian analisis data yang udah lo kuasai."
Kirana membelalakkan mata kaget. "Sidang terbuka di depan yayasan. Kenan, gue... gue takut kalau gue makin kacau pas ngomong di depan penguji..."
"Lihat gue, Kirana," ucap Kenan tegas namun penuh kelembutan, menangkup kedua pipi Kirana dengan tangan hangatnya. "Lo gak sendirian. Ada gue di sana. Gue Ketua OSIS-nya, gue ketua kelompok lo, dan yang paling penting... gue suami lo. Gue gak akan biarin siapa pun menjatuhkan lo di ruangan itu."
Tatapan Kenan yang begitu kokoh bagaikan benteng perlindungan yang tak tertembus. Rasa cemas dan panik di dalam dada Kirana perlahan luruh, berganti dengan rasa percaya yang membakar semangatnya kembali.
Kirana mengangguk pelan, mengusap sudut matanya. "Oke. Gue bakal berjuang besok."
Kenan tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang sangat indah. Ia mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di kening Kirana selama beberapa detik. "Pintar. Sekarang makan siang dulu, gue udah beliin sup ayam favorit lo di kantin."
….
Malam harinya di rumah minimalis dua lantai mereka, persiapan sidang banding berlangsung sangat intens.
Lampu ruang tengah menyala terang. Meja kaca dipenuhi oleh lembaran grafik, modul komunikasi, slide presentasi, dan dua cangkir cokelat hangat yang masih mengepulkan uap.
Kenan berdiri di samping layar papan tulis portabel yang disewanya, bertindak sebagai penguji galak. Ia mengenakan celana pendek santai dan kaos polos hitam, memegang pena penunjuk.
"Sebutkan tiga variabel utama yang membuat analisis kuesioner lo lebih valid daripada metode kualitatif biasa," uji Kenan dengan nada dingin buatan.
Kirana yang duduk tegak di sofa menjawab dengan lancar. "Pertama, tingkat partisipasi responden mencapai 92%. Kedua, deviasi data menunjukkan pola konsisten pada siswa kelas XII. Dan ketiga, instrumen yang digunakan telah disesuaikan dengan kurikulum standar nasional tanpa menghilangkan objektivitas."
Kenan menurunkan penanya, menatap Kirana dengan pandangan puas. "Bagus. Tatapan mata lo harus tetap fokus ke penguji utama, jangan pernah melirik ke arah Gabriel kalau dia mencoba memotong pembicaraan lo."
Kirana helaan napas lega, menyandarkan tubuhnya ke sofa yang empuk. "Aduh, Pak Ketos galak banget sih kalau lagi mode latihan gini!"
Kenan berjalan mendekati sofa, mematikan lampu papan tulis, lalu duduk di samping Kirana. Ia merangkulkan tangannya di bahu Kirana, menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya.
"Gue harus galak malam ini supaya besok lo gak canggung menghadapi pertanyaan Gabriel," gumam Kenan pelan, mencium puncak kepala Kirana yang harum.
Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenan, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Tangan kecilnya melingkar mengelus pinggang Kenan.
"Ken..." panggil Kirana pelan.
"Kenapa?"
"Kalau besok Gabriel tetap memunculkan isu pribadi atau mencoba menyudutkan status kita... gimana?"
Kenan diam sejenak. Tangannya yang mengusap lengan Kirana bergerak makin protektif.
"Gabriel itu cerdas, tapi dia emosional kalau menyangkut lo," jawab Kenan tenang. "Dia memakai isu pribadi karena dia sadar secara akademis dan hukum, dia gak punya alibi buat memisahkan kita. Besok di depan yayasan, yang dinilai adalah data dan fakta. Dan disana... dia gak akan bisa menyentuh lo."
Kirana mendongak, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. "Lo kok bisa sepercaya diri itu sih, Ken?"
Kenan menunduk, menatap bibir manis Kirana yang merona. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Karena gue punya alasan paling kuat buat menang. Gue berjuang buat masa depan istri gue sendiri."
Kalimat sederhana itu sukses membuat jantung Kirana berdesir hebat. Kirana berjinjit kecil di posisi duduknya, mendaratkan ciuman lembut di rahang Kenan, berpindah ke bibirnya. Kenan membalas ciuman itu dengan penuh kehangatan, mempererat dekapannya seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan cintanya pada Kirana untuk pertempuran besok pagi.
…
Keesokan harinya, pukul 08.45 WIB. Suasana di depan ruang rapat utama yayasan SMA Garuda terasa sangat tegang.
Tiga penguji dari jajaran direksi yayasan telah duduk di dalam ruangan, didampingi Pak Suryo. Gabriel duduk di meja mentor dengan berkas-berkas penilaiannya, sementara Clarissa berdiri di sudut ruangan dengan wajah gelisah.
Pintu ruangan terbuka. Kenan melangkah masuk dengan seragam OSIS yang sangat rapi, jas almamater hitamnya terkancing sempurna, dan membawa laptop dinas. Di belakangnya, Kirana melangkah anggun dengan seragam sekolah yang bersih, memegang map dokumen berisi draf asli riset mereka.
Mata Gabriel mengunci langkah Kirana, namun Kirana tidak lagi menunjukkan keraguan. Tatapan matanya lurus, tenang, dan penuh keyakinan.
Kenan berdiri di podium presentasi, menyambungkan kabel laptopnya ke proyektor utama. Ia menatap tiga penguji yayasan, lalu melirik Gabriel sekilas dengan tatapan dingin yang siap bertarung.
"Selamat pagi, Dewan Penguji yang terhormat," buka Kenan dengan suara baritonnya yang mantap dan berwibawa, menggelegar di seluruh penjuru ruangan. "Saya Kenan Alister, Ketua OSIS sekaligus Ketua Kelompok 1, hadir hari ini untuk menyampaikan uji komparatif dan bukti otentik atas sidang banding evaluasi riset komprehensif."
Di sudut meja mentor, Gabriel memiringkan kepalanya, memperbaiki posisi duduknya. Pertempuran akademis dan harga diri di antara dua pria itu resmi dimulai.
Bersambung…