Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan kecil
Obrolan group…
Devandra mengundang BOT
[DEVANDRA]
/Start
[BOT]
@DEVANDRA Truth or Dare?
[DEVANDRA]
Truth 😎
[BOT]
Kenapa masih jomblo?
Devandra mengeluarkan BOT
[KAEL WILLIAM]
HAHAHA ngakak anjing
[DEVANDRA]
Nggak suka gue sama pertanyaan kayak gitu 😒
[DIGO]
Sama 😭
Digo mengundang BOT
[DIGO]
/Start
[BOT]
@DIGO Truth or Dare?
[DIGO]
Dare
[BOT]
Prank bilang putus ke pacar
[DIGO]
@BOT sharelock, kita duel!
[MAHENDRA]
Sama aja, goblok!!!
[KAY MORGAN]
Jangan di undang lagi! Gue juga nggak suka sama BOT kayak gitu
[DEVANDRA]
Daku tertawa melihat ini 😔
Digo mengeluarkan BOT
[KAEL WILLIAM]
Anjing! Nggak kuat HAHAHAHA 😭
[KAEL WILLIAM]
HAHAHAHAHA
[KAEL WILLIAM]
Lo pada sih, jaman gini kok jomblo ... HAHAHAHA
Digo mengeluarkan Kael William
[DIGO]
Benci banget gue sama dia
[DEVANDRA]
Sama! Mentang-mentang udah ada cewek, sombong banget 🖕
[DIGO]
Mana kalau ngakak suka nabokin orang, suara ketawanya juga jelek banget!
[DEVANDRA]
Iya woi! Saking jeleknya, ngetik ketawanya aja kedengeran. Gelay gue sama dia!
[KAY MORGAN]
Jangan gitu!
[KAY MORGAN]
Gue kan jadi setuju
[MAHENDRA]
Gue kira mau belaan, anyink!
[MAHENDRA]
Kagak ada yang belain?
[KAY MORGAN]
@TRISTAN mau belain, kayaknya
[TRISTAN]
Gak! Skt
[DIGO]
Hah? Skt apaan, fuck?!
[KAY MORGAN]
Skt itu sikat
[DEVANDRA]
Sekat woi!
[TRISTAN]
Sakit, bego!
[DIGO]
@TRISTAN Maksudnya gimana?! Jangan bikin gue mikir!
[TRISTAN]
Kael William kl nabok sakit, gue gk mau belain. Dia sk nebeng jg
[TRISTAN]
Gt aja gk ngerti!
Digo mengeluarkan Tristan
[DIGO]
Keyboard dia ada masalah apa sih?! Setiap ngetik bikin orang main tebak kata!
[MAHENDRA]
HAHAHANJING!!! Tapi bener
[KAY MORGAN]
Parah lo, Dig!
[DEVANDRA]
WOIII 😭😭😭
[DEVANDRA]
Ngakak bangst
[DEVANDRA]
*Bangrt
[DEVANDRA]
*Banget, bangsat!!!
[DIGO]
-_-
Digo mengeluarkan Devandra
BRAK!
Devandra meletakkan ponselnya ke meja dengan kasar. Menimbulkan suara yang membuat semua orang di dalam ruangan itu menoleh. "Anjing, kok gue di kick?" tanya cowok itu dengan kesal ke arah Digo.
Digo yang sedang makan popcorn di sofa tersenyum miring. "Lo sih, ngeselin!"
Kay Morgan memutar bola matanya, jengah.
"Lagian kita ngapain chat-an, kan lagi kumpul?" desisnya merasa bingung sendiri, pasalnya saat ini mereka sedang kumpul di rumah Mahendra.
Ngapain? Biasalah! Morotin bokapnya Mahendra. Anjani sekali emang Om Agra—ngeliat mereka dateng langsung dipesenin makanan dari mas go-food, yang saking banyaknya bisa dibuat makan seminggu. Untung kagak dibeli setokonya.
Balik ke Kael William yang sedang mengangkat bahunya. Doi ikut bingung. "Nggak tau, gue cuma ngikut."
"Btw, Digo! Invite gue ke GC lagi!" pinta Kael William ikut-ikutan mendekat ke arah Digo dan Devandra.
"Ogah!" tolak Digo seraya menarik ponselnya menjauh dari jangkauan Devandra dan Kael William.
Beda lagi sama Mahendra yang awalnya lagi duduk di sebelah Digo, cowok itu memilih pindah. Seolah tahu akan terjadi keributan di antara ketiganya. Kenapa sih—itu tiga orang bacot banget? Nggak bisa apa diem aja kayak Tristan?
Lah! Creepy dong, kalau mereka ngikut cosplay jadi batu nisan.
"Mabar nggak, Kay?" tawar Mahendra seraya duduk di depan PS bersama Tristan.
"Nggak!" tolak cowok itu dengan tatapan tanpa minat.
"Jangan di ganggu, adek Kay ini lagi sakit!" Suara Devandra mendadak terdengar.
"Sakit apa tuh?" seru Digo seraya menahan tawa.
"Sakit hati!" Keduanya tertawa keras detik selanjutnya.
"Najis!" umpat Kay Morgan seraya menatap tajam ke arah Devandra.
"Halah! Ngaku aja, lo cemburu kan waktu tahu Aurora Grey mau diantar balik sama kakak lo?" decak Kael William ikut-ikutan. Heran sama itu orang, hobi banget manas-manasin keadaan.
Kedua alis tebal milik Kay Morgan menukik naik.
"Cemburu?"
"Iya bahlul! Cemburu itu ketika lo nggak suka liat doi sama yang lain," jelas Devandra dengan tatapan menerawang ke depan.
"Cemburu itu artinya suka," imbuh Digo seraya melempar popcorn ke arah Kay Morgan.
"Suka?" cicit Kay Morgan agak nge-blank.
Kay Morgan menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi wajah tidak yakin. "Gue? Suka sama Rora?" Kay Morgan menggeleng keras setelahnya. "Nggak!"
Mendengar itu, ketiganya manggut-manggut. Iya in aja.
"Iya nggak suka, tapi mungkin ... CINTA!" goda Devandra dengan mata meledek ke arah Kay Morgan.
"YHAAAAA!!!"
"Nggak usah sok tau!" balas Kay Morgan, galak.
"Emang gue tau, wlee!!" sanggah Devandra seraya menjulurkan lidahnya.
Di tempatnya Kay Morgan langsung mematung dengan dahi berkerut.
"Kok adik Kay Morgan diem? Ucapan abang Devandra pasti bener!" selidik Devandra dengan ekspresi wajah puas.
Berbeda dengan Kay Morgan yang mendengus kesal. "Gue diem karena baru sadar, Devandra!" celetuk Kay Morgan yang membuat Devandra menoleh dengan wajah penuh tanya.
"Sadar apa? Kalau lo cemburu & suka Rora?" cerocosnya yang langsung membuat Kay Morgan menggeleng kalem.
Padahal mah, tangannya Kay Morgan udah gatel pengen jotos mukanya si Devandra—yang Demi Tuhan nyebelin banget.
"Gue baru sadar, kalau lo jelek!" Sontak perkataan Kay Morgan memancing atensi teman-temannya untuk tertawa keras.
"Sialan lo ya! Kagak ada sopan santunnya sama yang lebih tua."
"Liat aja, Kay! Kalau sampe ketahuan ternyata lo memendam rasa—"
"Lebay amat bahasa lo!" potong Mahendra di sela-sela tawanya. Seolah muak dengan ke-alay-an Devandra.
"Ganggu aja lo, Bon Cabe! Lagi serius nih gue!"
Devandra kembali beralih kepada Kay Morgan. "Gue bakal buat cerita kavak di saluran TV Sinema Pintu Taubat yang tayang di chanel ikan terbang."
"Judulnya?" sahut Kay Morgan pura-pura tertarik. Bukan apa-apa, hanya saja Kay Morgan senang menanggapi orang gila.
"Aku Mencintai Calon Ibu dari Anak-Anak Kakak Kandung Ku."
Mendengar itu Kael William langsung bertepuk tangan heboh bersama Digo. Mereka seolah lupa, jika beberapa detik yang lalu ketiganya bertengkar perihal grup chat.
Tapi gimana dong, situasinya si Kay Morgan lagi nista-able banget.
Anehnya, mendengar ejekan yang jelas awalnya ditujukan untuknya—Kay Morgan tidak merasa kesal. Cowok itu justru ikut tertawa menikmati candaan bodoh yang dilayangkan oleh Devandra.
"Gimana, kece kagak?"
"HAHAHAHA GOBLOK!!! KECE-KECE!!!" Devandra langsung menoleh ke arah Kael William yang sedang tertawa layaknya orang kesetanan.
Raut wajah Devandra berubah menjadi serius.
"Sumpah ya, Kael! Ketawa lo jelek banget!" celetuk Devandra seolah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari.
"Creepy anjir!" imbuh Devandra yang membuat Kael William melotot tidak terima.
Bukan apa-apa, si Devandra udah mendem dari semester lalu. Kalau nggak di omongin malah jadi beban pikiran. Soalnya bentar lagi mereka lulus.
"BANGSAT! HAHAHAHA ... Perut gue kram!!!" Digo semakin tertawa puas di tempatnya. Bahkan sudut matanya hampir mengeluarkan air mata.
Ruangan itu terdengar sangat gaduh ketika Kael William mulai melempari bantal ke arah Devandra. Keributan itu sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan Tristan sempat menarik seulas senyum melihat Devandra bertengkar hebat dengan Kael William. Di tempatnya Mahendra juga tertawa lepas tanpa mengalihkan pandang dari karakter gamenya yang sedang dipukuli oleh Tristan.
"Mending yang jelek ketawanya. Daripada yang jelek mukanya, kayak lo!" pungkas Kael William membela diri.
"Bales Devandra! Bales!" kompor Digo mulai beraksi. Sesaat berhasil membuat Devandra terpancing sampai menunjuk wajah Kael William dengan sorot mata berapi-api.
Asik ... Ada tontonan gratis! Pikir Digo seolah menikmati situasi.
Namun, belum sempat Devandra membalas, sebuah suara terdengar menginterupsi secara tiba-tiba.
"Sama-sama jelek, nggak usah berantem!"
Duh! Nyelekit banget. Itu jelas suara Tristan—yang entah bagaimana membuat semua orang terdiam.
Mereka saling melempar tatap.
Tapi detik selanjutnya, ruangan itu langsung penuh dengan gelak tawa. Entah apa yang lucu. Tapi nyatanya di beberapa kesempatan, alasan untuk tertawa sangatlah sederhana. Seperti saat ini.
Sedangkan tempat yg lain saat ini rora dan shayen..
"MATEMATIKA FUCK YOU!!!"
Aurora Grey berteriak kencang. Sesaat gadis itu menoleh ke arah Shayen Morgan yang ternyata tengah menatap dirinya. Dengan ragu sebelah alis Aurora Grey terangkat. Kembali meminta izin untuk berkata kasar.
Di tempatnya Shayen Morgan hanya mengangguk kecil. Cowok itu terus menatapnya dengan sorot mata geli.
Seolah berkata, lanjut aja!
Langsung saja Aurora Grey tersenyum senang.
"ALJABAR FUCK YOU!!!"
"GEOMETRI FUCK YOU!!!"
"Geometri," ucap Shayen Morgan membenarkan dengan pelan.
"GEOMETRI FUCK YOU!!!" ralat Aurora Grey kembali berteriak kencang.
"WALAUPUN NGGAK TAU RUMUS LOGARITMA!!! RORA BAKAL TETEP BAKAL MASUK UI!!!"
"WALAU CUMA DAPET NILAI 58, RORA BAKAL TETEP SUKSES!!!"
"KARENA INI AURORA GREY!!! CEWEK YANG PALING CANTIK!!! PALING PINTER!!! PALING TERBAIK!!!"
"RORA LEBIH PINTER DARI ALBERTO! LEBIH IMUT DARI SHEILA! LEBIH LANGSUNG DARI RAMI!!!"
"FUCK YOU!!! FUCK YOU!!! FUCK YOU!!!" Aurora Grey bahkan mengangkat kedua jari tengahnya ke udara.
Shayen Morgan menahan senyumannya, memperhatikan Aurora Grey mengeluarkan semua beban di benaknya. Perlahan cowok itu bisa melihat jika wajah Aurora Grey kembali cerah. Sudah tidak semurung tadi.
"Udah?" tanya Shayen Morgan ketika Aurora Grey tidak lagi bersuara.
"Udah," jawab Aurora Grey seraya mengangguk lucu. Gadis itu tengah berusaha menetralkan napasnya yang sedikit tersenggal.
Sebelumnya, ketika perjalanan pulang. Aurora Grey bilang tidak ingin pulang dulu. Katanya belum siap dimarahi oleh bundanya. Yeah—masalah nilai ujian. Maka dari itu—Shayen Morgan mengajak Aurora Grey ke salah satu Mall metropolitan di tengah kota. Bukan! Bukan untuk berbelanja, tetapi untuk mencari tempat menyegarkan pikiran.
Seperti parkiran di lantai teratas misalnya. Entah berapa lantai, tapi ini sangat tinggi. Saat itu Aurora Grey menyadari jika tinggal di ibu kota tidak terlalu buruk. Dari atas, tempat berpijaknya—pemandangan yang tersaji sangatlah indah.
"Di sini nggak ada polusi, ya?" gumam Aurora Grey seraya menghirup udara yang bersarang di sekitarnya.
Gadis itu mencoba mengisi rongga dadanya dengan udara sejuk sore itu sampai terasa penuh, lantas menghembuskannya perlahan.
"Semua kelihatan kecil," tambahnya seraya menarik poninya ke belakang ketika angin terasa menerpa wajah dan rambutnya.
"Iya, kecil banget." sahut Shayen Morgan seraya mengusap puncak kepala Aurora Grey. Sesaat merapikan helai-helai rambut yang cukup berantakan itu. "Kapan tinggi?"
"Ish! Nyebelin! Aku sebenernya tinggi, kamunya aja yang kayak tiang!" gerutunya kesal.
"Tau nggak, El? Aku kira kamu mau ngajak bunuh diri—AW!" Ringisan Aurora Grey terdengar ketika Shayen Morgan menyentil dahinya tiba-tiba.
"Kenapa sih?!" tanya Aurora Grey seraya melemparkan tatapan kesal ke arah sang pacar.
"Jangan mikir aneh-aneh!" katanya Shayen Morgan.
"Nggak aneh-aneh, soalnya aku tadi takut beneran. Bunda pasti marah kalau tau nilai aku."
Pundak gadis itu kembali turun. Lagi-lagi gadis itu merasa sedih dan merutuki kebodohannya. "Harusnya aku nyontek aja, nggak usah sok-sokan belajar. Kalau nyontek—"
Tiba-tiba saja Aurora Grey merasakan tangannya ditarik oleh seseorang dengan pelan. Shayen Morgan—cowok itu menarik tubuh Aurora Grey untuk menghadap ke arahnya. Ditatapnya wajah gadis itu dengan sorot mata serius.
"Hey! Listen to me!" ucap Shayen Morgan dengan suara rendah.
"Jangan nyesel sama hasil usaha sendiri. Harusnya kamu bangga udah ngerjain jujur."
"Tapi hasilnya zonk! Aku nggak mungkin bisa masuk UI—"
"Bisa. Nggak cuma UI, kamu bisa masuk univ manapun, Rora." Melihat pandangan Aurora Grey yang kembali turun, Shayen Morgan menarik pipi Aurora Grey agar gadis itu sadar.
Dan berhasil—gadis itu kembali menatapnya. Netranya terkunci dalam pandangannya saat ini. Detik selanjutnya Shayen Morgan melangkah mendekat, memberikan impuls yang nyatanya selalu berhasil membuat Aurora Grey merasa tenang dan aman.
"Coba lagi, jangan nyerah. Kamu cuma kurang percaya diri." Mendapatkan tatapan tulus dan penuh perhatian itu membuat Aurora Grey mengulum seulas senyum.
Seolah energinya sudah terisi penuh.
"Makasih!" bisik Aurora Grey kepada sosok dingin yang nyatanya sangat pandai membantunya mempertahankan kepercayaan diri.
Tanpa sadar sorot mata Aurora Grey berbinar. Gadis itu jelas tengah mengagumi sosok sederhana di hadapannya. Sial! Berhadapan dengan gen Morgan nyatanya selalu membuat jantung Aurora Grey terpacu.
"Kamu kok ganteng banget sih, Shayen?" gumam Aurora Grey tanpa sadar terpesona. Gadis itu juga menyentuh ujung hidungnya tiba-tiba.
Ya gimana dong! Hidungnya Shayen Morgan itu kayak prosotan anak TK. Mana ada choco chips kecil di ujungnya. Kan Aurora Grey gemes setiap liat.
Lain halnya dengan Shayen Morgan yang langsung mengerjap. Masih tanpa ekspresi apapun. Beberapa detik berlalu, sampai ketika Aurora Grey menyentuh lengannya, cowok itu baru tersadar.
"Kenapa, Shayen? Kesurupan ya?" tanya Aurora Grey merasa ngeri sendiri.
Iya sih emang, Shayen Morgan itu pendiam—tapi kalau mendadak jadi patung kayak gebetannya Rami kan Creepy.
"Kenapa? Kamu nggak suka dikatain ganteng?" tanya Aurora Grey agak panik.
Detik selanjutnya Shayen Morgan tertawa. Cowok itu mengalihkan pandang ke arah lain. Aneh mendapati dirinya malu dan senang secara bersamaan. Pastilah banyak yang memujinya demikian ketika dirinya di luar sana—tapi itu hanya pujian yang dilayangkan orang asing ketika melihatnya secara sekilas.
Hanya sebuah bisikan—bisikan tanpa maksud apapun. Mudah sekali berlalu. Shayen Morgan jelas bukan jenis orang yang menyadari hal seperti itu di sekitarnya. Bahkan Mamanya sendiri—Anastasya tidak pernah memuji fisik kedua putranya.
"Kamu baper, ya?" goda Aurora Grey seraya menarik lengan Shayen Morgan untuk kembali menghadapnya. Bukan apa-apa, sejak tadi cowok itu terus menghindari tatapannya.
Membuang wajah ke arah lain. Shayen Morgan menggeleng. "Nggak." Cowok itu jelas mengelak saat ini.
"Ayo pulang!"
"Ish! Di sini dulu, nggak mau pulang." decak Aurora Grey.
"Oke. Tinggal!"
"Heh!!!" Langsung saja Aurora Grey menahan lengan Shayen Morgan yang ingin berlalu dari hadapannya. "Di sini dulu, bentar!"
"Kamu nggak mau coba?" tanya Aurora Grey mengalihkan topik.
Bukan apa-apa, masalahnya kalau dia belum siap mental denger ceramahnya Bunda Laura.
"Coba apa?" tanya Shayen Morgan, tidak mengerti.
Aurora Grey menunjuk pembatas Rooftop. "Teriak kayak aku tadi."
"Nggak."
"Ayo pulang."
"Bentar ihhh! Foto dulu." Shayen Morgan masih diam ketika Aurora Grey mulai merogoh saku seragamnya, mencari-cari benda pipih kesayangannya.
Emang ya! Gimana pun keadaannya, kebutuhan status tetap penting.
Aurora Grey menyerahkan ponselnya kepada Shayen Morgan. "Fotoin! Yang bagus!"
"Liatin langitnya!" Shayen Morgan masih bergeming ketika Aurora Grey telah berjalan ke sisi pembatas.
Sejurus kemudian, gadis itu mulai melakukan beberapa pose aneh yang entah bagaimana membuat Shayen Morgan menahan tawa. Percayalah, gadisnya sangat lucu.
"Fotoin biar nggak keliatan pendek!"
"Iya," sahutnya menurut.
Click!
Shayen Morgan mengambil beberapa potret sebelum menurunkan kameranya.
"Liat hasilnya!" pinta Aurora Grey seraya mendekat ke arah Shayen Morgan dengan wajah antusias.
"Mana?" Bukannya memberi akses untuk Aurora Grey, Shayen Morgan justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Nggak keliatan astaga!" rutuk Aurora Grey seraya terus mencoba menggapai ponselnya dari tangan Shayen Morgan.
Sumpah ya! Ini orang tinggi banget, waktu bayi makan bambu apa gimana?
Aurora Grey kembali berjinjit-jinjit untuk melihat foto di ponselnya, namun Shayen Morgan terus menghindar. Sial! Cowok itu juga tertawa. "Hasilnya jelek pasti?!" tuduhnya merasa tidak percaya diri.
Cowok itu mulai menggeser satu per satu foto yang menampakkan pose aneh dari Aurora Grey. "Bagus," puji Shayen Morgan di sela tawanya.
"Jahat! Balikin!"
"Ini kamu lucu banget!" Sial! Cowok itu masih tertawa geli.
"Jelek itu! Kamu nggak ikhlas fotoinnya pasti." Ditariknya lengan Shayen Morgan agar sedikit menunduk.
Jemari Shayen Morgan kian menggeser layar. Satu persatu foto terlihat. Sampai satu potret berhasil membuat pergerakan tangannya terhenti. Cowok itu jelas tidak memperkirakan foto sosok itu akan berada di dalam ponsel Aurora Grey.
Kay Morgan.
Di tempatnya Aurora Grey yang sama terkejutnya langsung menarik tangan Shayen Morgan, mengambil alih ponselnya dengan cepat. Jemari gadis itu langsung bergerak cepat untuk menghapus foto Kay Morgan dari galerinya.
Ingat ketika Aurora Grey mengambil foto Kay Morgan secara diam-diam saat mereka di toko kaset? Sial! Kenapa juga Aurora Grey masih menyimpannya?
Beralih, pandangan Shayen Morgan menatap penuh tanya kepada sosok gadis di hadapannya. "Kamu kenal Kay Morgan?"
Detik itu juga, jantung Aurora Grey terasa berhenti berdetak.
"Ke-kenal," jawab Aurora Grey yang masih sedikit menunduk menatap ponselnya.
Shayen Morgan jelas belum menampilkan ekspresi yang berarti. Itu justru membuat Aurora Grey semakin cemas. Tangannya terasa dingin tanpa alasan.
Sial! Kok dia kayak orang yang ketahuan selingkuh?
"Ini pasti foto dari grup chat. Nggak sengaja ke unduh." Aurora Grey menelan salivanya dengan kasar.
"Oh!"
"Dia adik aku," ucap Shayen Morgan yang sukses membuat kerongkongan Aurora Grey tercekat.
Sekarang Aurora Grey harus gimana? Pura-pura bodoh dengan bertingkah seolah tidak tahu fakta itu?
"A-adik! Oh ya?" balas Aurora Grey pura-pura terkejut. Gadis itu langsung mengerjapkan mata ketika Shayen Morgan menunduk ke arahnya.
"Kamu deket sama dia?" tanya Shayen Morgan yang sebenarnya tidak ada maksud apapun.
Langsung saja Aurora Grey menggeleng, gadis itu kembali menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya yang berubah menjadi pucat pasi. Mencoba mengendalikan diri dengan yang lutut yang terasa kian lemas, tidak heran jika setelah ini dirinya hampir kehilangan pijakan.
"Ng-nggak."
Helaan panjang milik Shayen Morgan terdengar bersamaan dengan detak jantungnya yang kian menggila.
Apa dia ketahuan berbohong? Skenario terburuk mendadak menghampirinya. Tidak! Ini tidak benar. Kegilaan ini harus segera dihentikan.
Belum sempat Shayen Morgan membalas ucapannya, Aurora Grey sudah dulu menyela dengan membuka suara.
"Shayen! Ayo pulang!" ajak Aurora Grey seraya menggandeng tangan Shayen Morgan.
"Tangan kamu dingin," komentar Shayen Morgan seraya menyentuh permukaan kulit tangan Aurora Grey.
Gadis itu langsung menghindar, menatap ke arah lain dengan sorot mata gusar. "Disini dingin, ayo pulang. Aku laper."
Mendengar suara Aurora Grey yang terdengar bergetar—bukannya kecurigaan, justru pancaran kekhawatiran muncul dari sorot mata Shayen Morgan. "Tunggu sini, aku ambil mobil."
Aurora Grey menggigit bibir bawahnya menatap punggung Shayen Morgan yang kian menjauh. Ini salah. Gadis itu sadar, jika dirinya tidak harus berbohong seperti itu. Tapi nyatanya Aurora Grey tidak siap untuk mengatakan yang sejujurnya. Tidak! Gadis itu sangat takut.
Tetapi Aurora Grey janji, tadi itu yang terakhir.