Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LINGKARAN BAHAGIA DAN JEJAK KEBAIKAN
Waktu bergulir bagaikan kepakan sayap burung yang melintas cepat di atas langit pesantren. Dua tahun berlalu sejak gema azan pertama Ammar mengangkasa di ruang bersalin, dan kini suasana rumah kami selalu bertenaga oleh langkah-langkah mungil yang tak pernah mau diam.
Muhammad Arkhan Zhafran telah tumbuh menjadi balita berusia dua tahun yang teramat aktif dan menggemaskan. Rambut hitam lebatnya sedikit ikal di bagian ujung, membingkai wajahnya yang sangat mirip dengan ayahnya mulai dari bentuk hidung mancung yang tegas hingga sepasang mata cokelat gelap yang jernih.
"Abi! Abiii... lihat! Arkhan punya belalang!"
Suara cempreng nan menggelegar milik Arkhan memecah keheningan teras belakang rumah pada suatu pagi yang cerah. Putra kecilku itu berlari-lari kecil dengan setelan piyama dinosaurus berwarna hijau melintasi rumput taman, kedua tangan kecilnya mengatup erat membawakan 'harta karun' barunya.
Ammar yang sedang duduk bersila di bale-bale kayu seraya membaca lembaran berkas laporan pesantren, seketika mengalihkan pandangannya. Garis-garis tegas di wajahnya melunak seketika, berganti menjadi sebuah kurva senyum hangat yang mengikis habis kesan dingin dan kaku yang dulu pernah melekat padanya.
"Arkhan, jangan lari-lari cepat begitu, Sayang! Nanti tersandung," seruku dari arah dapur seraya membawa nampan berisi cangkir kopi hitam manis kesukaan Ammar dan piring pisang goreng hangat.
Namun dasar anak laki-laki yang mewarisi sifat pantang menyerah ayahnya, Arkhan justru makin mempercepat langkahnya hingga akhirnya... buk!
Ujung sandal karet mungilnya tersangkut di tepi ubin teras. Tubuh kecilnya limbung dan jatuh menelungkup di atas rumput tebal.
"Aduh!" ringisku spontan, hampir saja menumpahkan kopi di nampan.
Aku bergegas hendak menghampirinya, namun Ammar memberi isyarat pelan dengan tangannya agar aku menahan diri. Ammar bangkit berlutut di tepi teras, menatap putranya dari jarak dua meter dengan tenang.
"Anak Abi laki-laki yang kuat, kan?" panggil Ammar dengan suara baritonnya yang mantap dan menenangkan. "Ayo berdiri sendiri, Nak. Lihat belalang di tangan Arkhan masih ada atau terbang?"
Arkhan bergeming sejenak di atas rumput. Bibir mungilnya yang merah sempat mengerucut, mata cokelatnya berkaca-kaca menahan rasa kaget. Namun mendengar suara mantap ayahnya, ia mengusap matanya dengan lengan baju piyama, lalu pelan-pelan menegakkan badannya kembali. Ia membuka tangannya sebentar, lalu berseru kaget ketika belalang kecil di telapak tangannya melompat pergi ke semak-semak.
"Yah... terbang, Abi!" seru Arkhan melupakan rasa sakit jatuh tadi, lalu kembali berlari menuju dekap Ammar.
Ammar tertawa rendah, sebuah tawa lepas yang menular hingga ke relung dadaku. Ia menangkap tubuh mungil Arkhan, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara hingga suara pekikan gembira Arkhan membumbung tinggi menyapa dedaunan pohon mangga.
"Masya Allah... jagoan Abi hebat sekali, tidak menangis," puji Ammar seraya mendaratkan Arkhan di pangkuannya dan mengecup kedua pipi empuk putranya bertubi-tubi.
Aku meletakkan nampan di meja kayu kecil dekat bale-bale, lalu duduk di samping mereka seraya mengusap lutut piyama Arkhan yang sedikit kotor oleh tanah. "Mas Ammar ini selalu saja mendidik Arkhan begitu. Dulu waktu dia baru belajar jalan juga dibiarkan jatuh bangun sendiri."
Ammar memeluk Arkhan dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu kecil anaknya. Pandangannya beralih menatapku dengan pendar kasih sayang yang teramat lebat. "Laki-laki harus dilatih tangguh sejak dini, Aisyah. Tapi setinggi apa pun dia jatuh kelak, dia harus tahu kalau Abi dan Ummahnya selalu menjadi tempat pulang yang aman."
Aku tersenyum lembut, menyapukan jemariku di pelipis suamiku yang terhiasi sedikit bulir keringat. "Iya, Suami Paling Bijaksana... diminum dulu kopinya sebelum dingin."
Arkhan yang melihat cangkir kopi ayahnya seketika menunjuk-nunjuk piring pisang goreng. "Ummah! Mau pisang! Pisang goreng Ummah paling enak!"
"Antri dulu dong, Jagoan," goda Ammar seraya mengambil sepotong pisang goreng dan meniupnya pelan sebelum menyuapkannya sedikit demi sedikit ke mulut mungil Arkhan.
Melihat interaksi manis antara ayah dan anak di hadapanku ini membuat dadaku kerap berdesir oleh luapan rasa syukur. Rumah tangga yang dulunya dibangun di atas serpihan keraguan dan ujian berat, kini berdiri teguh bagaikan pohon rimba yang berakar menghujam bumi dan berdaun lebat memberikan keteduhan.
Siang harinya, kompleks Pesantren Syekh Ali kedatangan tamu kehormatan dari Kementerian Agama serta perwakilan lembaga pendidikan internasional dari Mesir. Kedatangan mereka bertujuan untuk meresmikan program pertukaran santri dan akreditasi internasional bagi gedung pusat studi Al-Qur'an yang dikembangkan oleh Ammar selama satu tahun terakhir.
Di aula pertemuan utama yang baru, ratusan santri, pengurus, serta wali santri berkumpul dengan rapi. Pesantren yang dulu sempat diguncang oleh upaya keji pencemaran nama baik, kini telah menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan Islam percontohan tingkat nasional.
Aku duduk di jajaran kursi undangan wanita bersama Umi Khadijah dan Nabila. Arkhan yang sudah ganti pakaian menggunakan setelan baju koko putih dan peci hitam—persis miniatur ayahnya—duduk tenang di pangkuanku seraya memangku buku gambar mewarnai.
Di atas mimbar, Ammar berdiri dengan anggun berbalut jas hitam berpadu sorban putih yang tersemat rapi di bahunya. Kharisma kepemimpinannya terpancar sempurna ketika ia menyampaikan pidato dalam bahasa Arab yang amat fasih, memukau seluruh perwakilan tamu asing yang hadir.
"Masya Allah... suamimu itu ya, Aisyah, kalau sedang berdiri di mimbar seperti itu auranya benar-benar bikin segan," bisik Nabila menyenggol lenganku pelan dengan raut takjub.
Umi Khadijah yang mendengar bisikan itu tersenyum simpul, membelai punggung tanganku yang terbebas. "Itu bukan cuma karena kepintarannya, Nabila. Tapi karena ada doa dan ketenangan yang disiapkan istrinya di rumah. Pria hebat itu terbentuk dari wanita yang luar biasa di sampingnya."
"Umi bisa saja..." balasku malu-malu, menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona hangat di pipi.
Namun sejujurnya, perkataan Umi Khadijah ada benarnya. Keharmonisan rumah tangga kami menjadi pondasi utama dari setiap keberhasilan yang dicapai Ammar di luar sana. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi rasa saling curiga; yang ada hanyalah keterbukaan penuh dan rasa saling menopang dalam setiap helai napas kehidupan.
Usai acara penandatanganan memorandum kesepahaman dan pemotongan pita peresmian pusat studi baru, para tamu dijamu di ruang VIP. Ammar menghampiri kami yang sedang berdiri di dekat koridor aula.
"Abiii!" seru Arkhan langsung melepaskan genggaman tanganku dan berlari mendekati Ammar.
Dengan refleks yang lihai, Ammar membungkuk dan mengangkat Arkhan ke dalam dekapannya hanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi menyambut tanganku.
"Bagaimana tadi pidatonya, Sayang? Kurang panjang atau terlalu kaku?" tanya Ammar pelan di dekat telingaku, mengabaikan beberapa pengurus pesantren yang lalu lalang seraya tersenyum melihat kemesraan kami.
"Sempurna, Mas," jawabku jujur, menatap matanya yang hangat. "Tadi tamu dari Universitas Al-Azhar sampai mengangguk-angguk kagum mendengarkan aksen bahasa Arab Mas Ammar."
Ammar tertawa halus, lalu mengecup keningku singkat tanpa peduli ada Arkhan di antara kami. "Itu semua karena ada energi dari bidadari saya dan jagoan kecil di barisan depan."
"Abi! Arkhan juga hebat tadi tidak nakal!" celetuk Arkhan tak mau kalah, memegang kedua pipi ayahnya dengan tangan mungilnya yang sedikit lengket oleh sisa biskuit.
Ammar terkekeh, mencium hidung mungil putranya. "Iya, Arkhan hebat sekali hari ini. Nanti sore Abi ajak jalan-jalan ke kolam ikan di belakang, mau?"
"Mauuu!" sorak Arkhan kegirangan.
Malam harinya, usai melaksanakan salat Isya berjamaah dan membacakan dongeng Islami hingga Arkhan tertidur lelap di kamarnya, kami kembali ke kamar utama. Udara malam terasa sedikit dingin karena hujan rintik-rintik sempat mengguyur area pesantren sejak petang tadi.
Aku berdiri di dekat meja rias, membersihkan sisa pencerah wajah dan merapikan rambutku yang terurai panjang. Dari cermin, aku bisa melihat Ammar yang baru saja selesai melepas sarung dan jubah salatnya. Ia mengenakan kaos katun lengan panjang berwarna biru gelap dan celana santai.
Ammar melangkah mendekatiku. Ia berdiri tepat di belakangku, melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, lalu menyandarkan dagunya di bahu kiriku. Tatapan mata cokelat mewahnya mengunci pandanganku melalui pantulan cermin.
"Capek ya hari ini?" tanya Ammar halus seraya mengecup leherku pelan.
Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, menikmati kehangatan tubuh suamiku yang menyelimuti seluruh lelahku. "Capek sedikit, Mas. Tapi rasa bahagianya jauh lebih besar. Melihat pesantren makin maju dan melihat Arkhan makin pintar, rasanya semua perjuangan kita terbayar tuntas."
Ammar memutar tubuhku perlahan hingga kami saling berhadapan. Ia merengkuh pinggangku lebih rapat, memangkas jarak di antara kami. Jemari tangannya yang lebar membelai lembut pipiku, mengusap alur rahangku dengan kelembutan yang teramat memabukkan.
"Aisyah..." panggil Ammar, suaranya berubah menjadi lebih dalam dan berat, sarat akan getaran emosi yang begitu pekat.
"Iya, Mas?"
"Terima kasih untuk dua tahun yang luar biasa ini," tuturnya tulus, menatap lurus ke dalam mataku. "Setiap hari bangun di sampingmu, melihat senyummu, mendengarkan tawamu... membuat saya sadar bahwa surga dunia itu benar-benar ada dalam bentuk rumah tangga yang dipenuhi berkah."
Aku tersenyum manis, mengalungkan kedua tanganku di leher tegasnya. "Aku juga terima kasih, Mas Ammar. Mas sudah jadi suami dan Abi yang sangat sempurna untuk keluarga kecil kita."
Ammar tersenyum tipis, lalu meraih tangan kananku dan meletakkannya tepat di dada kirinya. Di sana, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berembus kencang dan teratur.
"Jantung ini cuma berdetak untuk Allah, untukmu, dan untuk anak-anak kita," pangkas Ammar mantap.
Ia mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di dahiku, berpindah ke kedua mataku, lalu mendaratkan bibirnya di bibirku—sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan sarat akan kerinduan mendalam yang tak pernah padam meski waktu terus bergulir.
Di tengah kehangatan pautan kami, tiba-tiba rasa mual yang aneh memuncak mendadak dari dalam perutku. Sensasi berputar dan dorongan di tenggorokan membuatku refleks melepaskan pelukan Ammar dan menutup mulutku.
"Ugh...!"
Ammar seketika panik. "Aisyah? Kenapa, Sayang?"
Aku bergegas berlari kecil menuju wastafel kamar mandi. Ammar menyusul dengan sigap, memegangi dahiku dan mengusap punggungku dengan raut wajah yang diliputi rasa cemas luar biasa. Aku membungkuk di atas wastafel, mencoba memuntahkan sesuatu, namun yang keluar hanyalah cairan bening dan rasa asam yang tajam di lidah.
"Aisyah... kamu sakit? Kepala kamu pusing? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" cecar Ammar beruntun, suaranya gemetar panik persis seperti saat air ketubanku pecah dua tahun lalu.
Aku menarik napas dalam-dalam, membasuh mulutku dengan air mengalir, lalu tegak berdiri seraya menyandarkan tubuhku pada dada lapang Ammar.
"Tidak usah ke rumah sakit malam-malam begini, Mas..." bisikku pelan, mencoba menetralkan detak jantungku yang berdebar kencang.
"Tapi wajah kamu pucat sekali, Aisyah! Jangan menahan sakit sendiri," desak Ammar, meraih tanganku yang agak dingin.
Aku menatap wajah suamiku yang dipenuhi raut cemas mendalam itu, lalu sebuah kesadaran mendadak terlintas di benakku. Aku mengingat tanggal di kalender. Bulan ini aku belum mendapatkan siklus bulanku, dan rasa mual seperti ini... rasa mual yang sangat familiar yang pernah kurasakan saat awal mengandung Arkhan dulu.
Aku meraih jemari Ammar yang gemetar, lalu membimbing telapak tangannya yang lebar ke atas perut bagian bawahku.
Ammar bergeming. Binar matanya yang semula panik seketika membeku. Ia menatap telapak tangannya di perutku, lalu mengalihkan pandangannya menatap mataku dengan raut terkejut yang luar biasa.
"Aisyah... jangan bilang kalau..." suara bariton Ammar terputus, napasnya tertahan di tenggorokan.
Aku tersenyum lembut, air mata kebahagiaan seketika menggenang di sudut mataku. "Sepertinya... Arkhan bakal punya adik, Mas Ammar."
Dunia serasa berhenti berputar di dalam kamar mandi yang hangat itu. Ammar terpaku selama beberapa detik, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses berita membahagiakan tersebut. Lalu, sebuah senyuman paling lebar, paling indah, dan paling emosional merekah sempurna di wajah tampannya.
"Masya Allah... Masya Allah, Ya Allah!" seru Ammar parau.
Tanpa membuang waktu, Ammar merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya yang teramat erat namun penuh kehati-hatian. Ia mengangkat tubuhku sedikit dan memutarkannya pelan di udara seraya terkekeh bahagia, lalu mendaratkan kembali kakiku di lantai.
Ammar berlutut di hadapanku—persis seperti yang dilakukannya dua tahun lalu saat kami berada di vila pegunungan. Ia menempelkan dahinya di perutku, mencium kain gamisku berulang kali dengan lelehan air mata haru yang menetes riil di pipinya.
"Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih, Aisyah..." gumam Ammar berulang kali, suaranya parau oleh tangis bahagia. "Terima kasih sudah memberi saya kebahagiaan yang tak pernah habis ini..."
Aku menyusupkan jemariku ke rambut hitamnya, mengusap kepalanya penuh kehangatan seraya ikut meneteskan air mata bahagia. "Sama-sama, Mas Ammar... Semoga Allah selalu menjaga keluarga kecil kita."
Namun di tengah riak kebahagiaan yang membuncah malam itu, ponsel Ammar yang tergeletak di atas meja rias mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala terang menampilkan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal dengan kode luar negeri, menyebarkan kegelisahan tipis di tengah udara kamar yang damai.