Indonesia
NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Matahari pagi di Desa Kertajaya merayap naik perlahan, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah genting dan menyinari lantai semen kamar nomor empat. Suara kokokan ayam jantan dari pekarangan tetangga bersahut-sahutan dengan deru mesin traktor mini milik petani yang melintas di jalan utama dusun.

Suasana desa tampak hidup, penuh dengan rutinitas harian yang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.

Namun, di dalam kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter itu, suasana pagi ini terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Di atas meja kecil, kotak kayu jati tua berukir sederhana masih terbuka, memperlihatkan selembar kain beludru merah kusam dan sebuah bros kecil berbentuk bulan sabit perak yang memantulkan cahaya lampu bohlam gantung. Di sampingnya, surat bertanggal 12 Oktober 1987 yang robek di bagian bawah terbentang rapi, menjadi pusat perhatian ketiga pemuda dan satu jin bangsawan yang berdiri mengelilinginya.

Bayu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menatap surat tua itu dengan dahi berkerut dalam. "Jadi... kesimpulannya, tahun 1987 ada seorang perempuan asing dari batas hutan desa yang menitipkan bros perak itu ke kantor desa, lalu suratnya disembunyikan di balik lemari arsip sampai kita temukan semalam?"

Dimas melipat tangannya di dada, menatap tajam ke arah kertas menguning tersebut.

"Bukan cuma disembunyikan, Bay. Kotak itu ditaruh di tempat yang sengaja dibuat tidak terlihat. Artinya, ada orang desa zaman dulu yang menganggap bros itu penting sekaligus berbahaya kalau sampai ditemukan sembarang orang."

Raka mengalihkan pandangannya dari kotak kayu itu, lalu melirik ke arah Mira. Sejak malam tadi setelah membaca surat tersebut, sang putri jin lebih banyak diam membisu.

Tidak ada gerutuan, tidak ada nada angkuh, dan tidak ada protes soal fasilitas kamar kos yang sempit. Mira berdiri di sudut meja dengan tatapan kosong yang tertuju lurus pada bros perak berbentuk bulan sabit di dalam kotak.

"Mira," panggil Raka pelan, memecah keheningan pagi yang tegang. "Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa soal bros ini? Atau mungkin... lambang bulan sabit perak ini punya arti khusus di dunia asalmu?"

Mendengar panggilan Raka, Mira seolah tersadar dari lamunannya. Ia mengerjap cepat, lalu menegakkan dagunya dengan gerakan kaku yang dipaksakan. Ia segera memasang ekspresi angkuh untuk menutupi gemetar kecil di ujung jemarinya.

"Jangan bodoh, manusia praktis!" sanggah Mira dengan nada suara yang agak ditekan, berusaha terdengar biasa saja. "Simbol bulan sabit itu biasa digunakan oleh siapa saja. Tidak berarti aku mengenal semua perhiasan berbentuk seperti itu."

"Tapi kamu sempat terkejut waktu pertama kali melihatnya semalam, Mir," sela Dimas dengan nada datarnya yang tenang, menatap lurus mata Mira tanpa gentar. "Bahkan ekspresimu beda dari biasanya."

Mira mendengus tajam, melotot ke arah Dimas untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Itu karena aku melihat benda itu begitu kotor dan berdebu! Sudah, hentikan pembicaraan tidak penting ini. Kita punya urusan yang jauh lebih mendesak daripada memikirkan sepotong perhiasan berdebu!"

Raka menghela napas panjang. Ia tahu Mira sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi ia juga sadar mendesak sang putri jin saat ini tidak akan membuahkan hasil. Raka melirik jam dinding plastik di atas pintu yang menunjukkan pukul delapan pagi.

"Benar kata Mira. Kita harus segera bersiap," ujar Raka mengambil alih situasi. Ia meraih kotak kayu itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel bersama surat tuanya. "Pagi ini kita harus pergi ke balai desa untuk menemui Pak RT, menyerahkan kunci gudang yang sudah dibersihkan, sekaligus mengambil upah dua ratus ribu rupiah kita."

Mendengar kata 'upah dua ratus ribu', semangat hidup Bayu yang tadinya sempat surut seketika melompat kembali ke permukaan. Ia langsung menyambar handuk kecil di gantungan dan menyenggol lengan Raka girang.

"Nah! Itu benar-benar prioritas utama! Urusan bros misterius dan perempuan asing tahun 1987 bisa kita simpan dulu di dalam ransel. Yang penting lembaran merah dua ratus ribu itu harus mendarat selamat di dompet kita pagi ini!" seru Bayu penuh semangat.

Lima belas menit kemudian, Raka, Bayu, dan Dimas sudah berjalan meninggalkan pelataran kos Bu Ratna, menyusuri gang utama Desa Kertajaya menuju kompleks balai desa. Di samping mereka, Mira mengekor dengan langkah anggun, meskipun pikirannya tampak masih melayang memikirkan benda yang tersimpan di dalam ransel Raka.

Suasana pagi di sekitar balai desa tampak cukup ramai. Beberapa warga terlihat duduk-duduk di warung kopi seberang jalan, sementara suara perangkat desa dari pengeras suara internal sedang mengumumkan jadwal posyandu balita untuk minggu depan.

Begitu sampai di halaman balai desa, mereka bertiga langsung disambut oleh Pak RT yang sedang berdiri di dekat teras kantor sambil memegang secangkir kopi hitam hangat. Lelaki paruh baya berkumis tebal itu langsung tersenyum lebar begitu melihat kedatangan tiga pemuda kos nomor empat.

"Wah, anak-anak muda Pemuda Mandiri Kertajaya! Datang tepat waktu rupanya," sapa Pak RT ramah, meletakkan cangkirnya di atas meja kecil teras. "Bagaimana hasil pekerjaan semalam? Gudang arsip belakang sudah beres?"

Raka melangkah maju, tersenyum sopan sambil menyerahkan anak kunci gudang yang tergantung pada gantungan besi kecil.

"Sudah beres semua, Pak RT. Karung sampahnya juga sudah kita kumpulkan di samping pintu luar, tinggal diangkut sama petugas kebersihan."

Pak RT menerima kunci tersebut dengan ekspresi sangat puas. Ia mengnodali kepala sambil tersenyum lebar. "Hebat kalian! Padahal kemarin saya pikir kalian bakal nyerah tengah malam karena tempatnya terkenal pengap dan bikin merinding. Ternyata kerjanya cepat dan bersih."

Pak RT kemudian merogoh saku celana kainnya, mengeluarkan selembar uang kertas merah bernominal dua ratus ribu rupiah yang masih baru dan bersih, lalu menyerahkannya langsung kepada Raka.

Raka menerima uang tersebut dengan kedua tangannya, merasakan lembaran kertas itu nyata di telapak tangannya. "Terima kasih banyak, Pak RT."

"Sama-sama. Itu memang hak kalian karena sudah bekerja keras," kata Pak RT tersenyum lebar. "Oh ya, kemarin ibu dari sebelah balai desa yang kalian bersihin garasinya juga sempat muji-muji kerjaan kalian ke saya.

Katanya kalian bisa diandalkan. Ini, kemarin ada tetangga saya yang nitip kartu nama kelompok kalian ke pos ronda, katanya mau minta tolong rapikan halaman belakang juga minggu depan."

Pak RT menyerahkan secarik kartu nama darurat bertuliskan Pemuda Mandiri Kertajaya yang sempat mereka sebar sebelumnya.

Bayu langsung menyenggol lengan Dimas dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan.

"Wah, kartu nama kita mulai beredar luas, Dim! Strategi pemasaran kita resmi go international tingkat RT!" bisik Bayu bangga.

Dimas mengangguk tenang sambil menerima kembali kartu nama tersebut.

"Siap, Pak RT. Minggu depan kami pasti datang kalau warga butuh bantuan."

Setelah mengobrol sebentar dan berpamitan dengan Pak RT, Raka, Bayu, dan Dimas berjalan meninggalkan halaman balai desa dengan langkah penuh kemenangan.

Di tangan Raka, lembaran uang dua ratus ribu rupiah itu dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam saku kemejanya, sementara di saku Dimas terselip satu panggilan kerja baru.

"Dua ratus ribu kontan plus pelanggan baru!" bisik Bayu girang sepanjang perjalanan pulang menyusuri gang. "Hari ini kita resmi jadi orang kaya baru di kos. Mau traktir apa nih kita?"

"Traktir mi instan pakai telur dobel di warung depan," jawab Dimas tenang.

"Kurang mewah! Minimal kita beli kerupuk udang dua bungkus!" balas Bayu cengengesan.

Mira berjalan di sisi kanan Raka, mengamati ekspresi lega yang terpancar di wajah ketiga pemuda manusia itu. Meskipun mereka hidup dalam kesederhanaan yang serba pas-pasan, tawa dan kebersamaan yang mereka tunjukkan selalu berhasil membuat sang putri jin merasa ada kehangatan aneh yang meresap ke dalam hatinya.

Namun, di balik kegembiraan pagi itu, Mira kembali melirik sekilas ke arah ransel di punggung Raka. Entah kenapa, sejak melihat bros bulan sabit itu, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!