Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:603
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Deru kepakan empat sayap bersisik besi membelah udara dingin, menciptakan gelombang angin bertekanan tinggi yang menekan permukaan jembatan gantung hingga melengkung ke bawah.

Aero-Wyrm itu meluncur menukik dari sudut buta di atas lapisan awan. Matanya yang berwarna kuning pekat dengan pupil vertikal mengunci rantai penyangga utama di sisi kiri jembatan. Cakar-cakar belati sepanjang satu meter yang melengkung tajam di bawah tubuhnya berderak saat bersiap mencengkeram dan memotong sambungan logam tebal itu.

“Tembak, Riku!” teriak Ren.

Di pelataran tebing batu, Riku menarik tali busurnya hingga batas kelenturan maksimal. Ujung anak panahnya terbungkus kantung kain berisi bubuk fosfor merah yang menyala terang begitu dilepaskan.

TRING!

Anak panah melesat menembus terpaan angin badai, meluncur tepat ke arah pelipis kanan sang predator.

Namun, binatang buas langit Lantai 16 itu bukan monster darat yang lamban. Dengan kibasan dua sayap sekundernya yang lebih kecil, monster itu memiringkan tubuhnya di udara sebesar empat puluh lima derajat dalam sepersekian detik.

Anak panah berapi Riku hanya menyerempet sisik pelindung di pundaknya, meletupkan percikan api kecil yang sama sekali tidak memperlambat laju luncurnya.

“Sial! Sisik lehernya terlalu licin!” seru Riku seraya buru-buru mencabut anak panah kedua dari tabung di punggungnya.

Monster itu telah berada dalam jarak lima belas langkah dari bentangan jembatan. Bau anyir darah kering dan ozon tajam dari paruhnya menyengat hidung para prajurit.

Vargas melompat ke depan sambungan rantai utama seraya menancapkan kedua kaki bajanya ke celah papan kayu. “Pasak Tameng: Pengunci Bumi!”

Kedua engsel di sisi bawah tameng baja berat Vargas melesat keluar, menancapkan dua paku besi tebal sepanjang tiga puluh sentimeter menembus kayu dan melilit ke sambungan rantai bawah. Sang veteran menyilangkan kedua lengannya di balik pelat baja tebal, bersiap menahan tabrakan udara langsung.

DUUUAAARRR!

Hantaman cakar pertama monster itu menghantam puncak tameng Vargas dengan kekuatan berton-ton. Benturan logam melawan cakar baja menghasilkan dentuman memekakkan telinga dan semburan bunga api yang menerangi kabut putih di sekeliling mereka.

Vargas menggeram hebat dari balik helm bajanya. Tekanan dorong yang luar biasa memaksa lututnya tertekuk beberapa inci, namun pasak baja yang tertanam di lantai berhasil menahan tubuhnya agar tidak terlempar ke jurang.

Akan tetapi, cakar kedua Aero-Wyrm itu tidak menghantam tameng.

Dengan kelicikan predator udara berpengalaman, cakar kirinya menyambar ke bawah, mencengkeram tiga bilah papan kayu dan merobek tali pengikat rantai samping dalam satu tarikan bertenaga raksasa.

KRAAAASSH!

Rantai samping jembatan terpelintir hebat. Separuh lantai kayu di belakang Ren hancur berkeping-keping, membuat lima prajurit pelopor yang terikat di barisan belakang tergantung melayang di udara, hanya tertahan oleh tali pengaman yang tersambung ke sabuk Ren.

“Ren! Talinya tidak akan kuat menahan beban lima orang sekaligus!” teriak Shizuka panik seraya berusaha meraih salah satu tali yang mulai meregang tipis.

Elise merapalkan mantranya secepat kilat. “Cahaya Pengikat Jiwa: Jangkar Suci!”

Tali-tali perak bercahaya melesat dari ujung tongkat Elise, melilit pinggang kelima prajurit yang tergantung dan menarik mereka perlahan ke arah tonjolan tebing terdekat.

Namun manuver itu membuat Elise terbuka tanpa perlindungan.

Aero-Wyrm itu memutar balik tubuhnya di udara dengan putaran tajam. Ekor panjangnya yang dipenuhi duri-duri tanduk meliuk liar seperti cambuk raksasa, menyapu lurus ke arah Elise dari sisi samping jembatan.

Ren melihat bayangan ekor maut itu melesat dengan kecepatan di luar batas persepsi manusia normal.

“Elise, merunduk—!”

Ren melompat menerjang tubuh sang putri untuk mendorongnya keluar dari lintasan sapuan ekor. Tubuh Elise berhasil terdorong jatuh ke pelataran tebing yang aman, namun kibasan duri tanduk ekor monster itu menghantam dada Ren secara telak.

BUUUKKK!

Pelat zirah dada Ren pecah berkeping-keping. Tulang rusuknya remuk menghujam paru-paru dan jantungnya dalam satu detik kehancuran total.

Napasnya terputus seketika. Tubuh Ren terpental melintasi udara terbuka sebelum akhirnya meluncur jatuh ke dalam kegelapan palung awan yang dingin.

[Pemicu Fatal Terpenuhi.]

[Kemampuan Khas: Byōkan Kaiki (Regresi Mikro) Diaktifkan.]

[Memundurkan Waktu: 35 Detik Sebelum Kematian.]

HAAAH!

Ren tersentak bangun, tersedak udara dingin yang membakar tenggorokannya. Rasa sakit akibat remuknya rongga dada masih meninggalkan denyutan ngilu yang teramat tajam di setiap tarikan napasnya. Tetesan darah hangat mengalir deras dari lubang hidung kanannya, menandakan batas toleransi saraf otaknya semakin tipis.

Di hadapannya, monster itu baru saja mulai menukik turun dari balik awan.

Riku baru saja menarik tali busurnya untuk melepaskan anak panah fosfor pertama.

“Riku, jangan tembak kepalanya!” teriak Ren seraya mencabut sebilah belati pendek dari pinggang kirinya. “Tembak sudut tiga puluh derajat di bawah sayap kiri bawah saat dia memiringkan tubuh!”

Riku yang sempat ragu sepersekian detik langsung mempercayai instruksi Ren tanpa banyak tanya. Ia menggeser sudut bidikannya ke arah kiri bawah.

TRING!

Anak panah berapi Riku meluncur tepat pada detik ketika sang monster memiringkan tubuhnya untuk menghindari lintasan lurus.

CLEB!

Anak panah fosfor menancap telak di lipatan kulit tipis antara pangkal sayap sekunder dan tubuh monster itu. Api fosfor menyembur membakar selaput terbangnya, membuat monster itu menjerit melengking dan kehilangan keseimbangan terbang luncurnya.

Tukikan maut yang tadinya mengarah ke rantai utama kini bergeser sejauh tiga meter ke sisi luar jembatan.

“Vargas, jangan kunci pasak ke bawah! Geser tamengmu ke sudut kiri atas dan pantulkan hantaman sayapnya!” seru Ren seraya berlari menyongsong arah jatuhnya monster.

Vargas langsung membatalkan penguncian pasak dan menyondongkan sisi miring tamengnya ke arah sapuan sayap monster yang oleng.

BRAAANG!

Bukannya menabrak langsung di tengah, hantaman tubuh monster itu hanya menyerempet permukaan lengkung tameng Vargas. Energi tumbukannya terbuang ke udara bebas di samping jembatan, menjaga struktur papan kayu tetap utuh tanpa merusak rantai pengaman belakang.

Monster itu terhempas mendarat di atas bentangan jembatan sekitar tujuh langkah di depan Ren. Cakar-cakar besinya mencengkeram papan kayu dengan geram, berusaha memulihkan keseimbangannya seraya membuka paruh bergeriginya untuk menyemburkan gelombang kejut udara.

“Shizuka, tiup bubuk lada buta ke arah angin! Elise, ikat kakinya dengan tombak perak!” perintah Ren tanpa jeda.

Shizuka melemparkan segenggam bubuk herbal menyengat ke udara. Embusan angin ketinggian meniup bubuk itu tepat ke dalam mata kuning dan lubang hidung monster yang sedang menganga.

Monster itu tersedak hebat dan menggelengkan kepalanya liar. Pada saat yang sama, tiga bilah tombak sihir perak ciptaan Elise melesat dari langit, menghunjam menembus kedua cakar belakang monster dan menguncinya mati ke balok besi penopang jembatan.

KREEEEKKK!

Monster itu meronta panik, namun tubuhnya terkunci rapat di atas jembatan sempit.

Ren melangkah maju dalam tiga lompatan cepat. Mengabaikan rasa ngilu di dadanya yang masih berdenyut sisa kematian tadi, Ren menghunus pedang perak pemberian Elise dengan kedua tangan.

Memanfaatkan celah milimeter di antara lempengan sisik leher yang terbuka saat monster itu meronta kesakitan, Ren menusukkan mata pedangnya sekuat tenaga lurus ke pangkal tenggorokan sang predator.

CRUUUSSH!

Bilah pedang perak menembus tenggorokan dan meremukkan simpul saraf utama monster itu hingga ke dasar tulang lehernya.

Darah hitam kental menyembur membasahi jubah dan wajah Ren. Tubuh raksasa Aero-Wyrm itu mengejang kaku selama dua detik sebelum akhirnya terkulai lemas di atas papan jembatan.

[Monster Khusus Lantai 16: Aero-Wyrm Berhasil Dieliminasi.]

[Pengalaman Tempur Diperbarui. Status Garis Depan: Bertahan Hidup.]

Para prajurit pelopor menatap bangkai monster raksasa itu dengan mata terbelalak dan napas tertahan. Dari saat monster itu menukik hingga tewas terkulai, seluruh pertempuran berlangsung tidak lebih dari tiga puluh detik tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak mereka.

“Luar biasa…” gumam Danan seraya menurunkan tombaknya dengan tangan yang gemetar lega. “Bahkan para ksatria pengawal bangsawan pun tidak akan sanggup menjatuhkan monster terbang secepat ini di atas jembatan sempit.”

Namun, Ren tidak merayakan kemenangan itu. Matanya terpaku pada suara berderak halus yang datang dari bawah perut monster.

Beban bangkai seberat hampir dua ton yang menimpa titik tengah jembatan yang rapuh membuat sambungan rantai utama di depan mereka mulai meregang melewati batas elastisitasnya. Baut-baut besi kuno mulai melompat lepas satu per satu dan jatuh ke dalam jurang kabut.

KRAAAK… KRAAAKK!

“Rantai depannya tidak akan tahan menahan beban bangkai ini!” seru Vargas seraya melirik sambungan logam yang mulai merekah retak.

“Semuanya, potong tali pengaman antar-kawan sekarang juga!” perintah Ren lantang. “Lompat ke tepian pulau karang di depan! JANGAN MEMBAWA PETI LOGISTIK YANG TERLALU BERAT!”

Para prajurit bergerak gesit memotong tali rami di sabuk mereka dan melompat satu per satu melintasi celah lima langkah menuju undakan batu karang pulau melayang Lantai 16-A.

Vargas menopang Shizuka dan mendorong prajurit-prajurit terakhir melintasi batas patahan jembatan. Elise melayang mundur dengan sihir peredam gravitasi, memastikan barisan belakang telah mendarat dengan selamat di daratan batu.

Ren melompat di urutan paling akhir.

Tepat saat ujung sepatu bot Ren menjejak permukaan tebing karang, sambungan rantai utama jembatan putus dengan dentuman keras seperti ledakan meriam.

KABRUUUGGG!

Separuh bentangan jembatan gantung itu runtuh dan jatuh terayun ke dalam palung awan hampa, membawa serta bangkai raksasa Aero-Wyrm yang meluncur hilang ditelan kabut pekat tanpa dasar.

Sunyi kembali menguasai udara ketinggian, hanya menyisakan desau angin dingin yang menyapu pelataran batu tempat mereka berdiri.

Ren berlutut di atas tanah berbatu, menumpukan kedua tangannya di atas lutut seraya mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Darah di hidungnya telah mengering menjadi kerak tipis, namun rasa pening di bagian belakang kepalanya masih berdenyut menyengat.

Paman Vargas berjalan mendekat, meletakkan tangan kekarnya di bahu Ren seraya mengamati jurang hampa di belakang mereka dengan tatapan muram.

“Jembatan penghubung ke gerbang utama sudah putus total,” ucap Vargas seraya menunjuk ke arah ujung jembatan yang kini hanya menyisakan beberapa utas rantai gantung yang bergoyang lunglai di udara. “Tidak ada jalan kembali ke lift garnisun bawah. Kita resmi terdampar di pulau melayang ini.”

Ren menyeka keringat dingin di dahinya, lalu mengangkat pandangannya menatap hamparan tebing karang hitam yang membentang di hadapan mereka.

“Sejak awal kita memang tidak berniat untuk kembali, Paman,” sahut Ren seraya berdiri tegak dan merapikan sarung pedangnya. “Jalan kita hanya satu: terus bergerak ke atas.”

Di depan mereka, jalur setapak sempit yang diapit oleh tebing batu obsidian menjalar masuk ke dalam celah gua berlumut perak, membawa hawa misterius dari wilayah Lantai 16 yang belum pernah terjamah oleh peta resmi ekspedisi kekaisaran.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!