Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

*DOR!*

Suara tembakan pertama bergelombang keras memantul di dinding beton ruangan bawah tanah. Peluru latihan itu menghantam pinggir papan sasaran, memicu kepulan debu tipis.

Hentakan pistol membuat lengan Ruby terlempar ke atas, nafasnya tercekat kaget. Tubuhnya refleks goyah ke belakang, namun sebelum ia kehilangan keseimbangan, dada tegap Luca yang berdiri rapat di belakangnya menahan punggungnya dengan kokoh.

"Jangan melamun, Ruby!" tegur Luca keras tepat di samping telinganya. Tangannya yang berurat melingkari lengan Ruby, menekan siku gadis itu agar kembali lurus dan terkunci. "Genggam gagangnya lebih kuat. Bahu kamu terlalu lemas!"

Ruby meringis pelan, merasakan otot-otot lengannya yang mulai menegang dan pegal.

"S-susah, Tuan... Hentakannya keras sekali."

"Musuh kamu di luar sana tidak akan peduli kalau tangan kamu pegal," balas Luca dingin tanpa mengurangi tekanan tangannya. Ia membetulkan posisi jemari Ruby di gagang senjata, memandu ibu jari gadis itu agar memeluk kunci pengaman dengan benar. "Sekali lagi. Fokus pada titik merah di tengah sasaran."

Ruby membasahi bibirnya yang kering. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat Luca yang menerpa lehernya, menciptakan kontras yang membingungkan antara ketegangan latihan militer ini dan desir halus di dadanya.

Gadis itu membusungkan dada, menegakkan posisinya, dan mengunci tatapannya pada sasaran tembak.

"Tarik napas..." bisik Luca rendah, suaranya kini seperti irama pembimbing. "Hembuskan pelan... lalu bidik."

Ruby menarik napas dalam-dalam, menahan getaran di tangannya, lalu menekan pelatuknya kembali.

*DOR!*

Kali ini pelurunya menancap tepat di lingkaran dalam papan sasaran, hanya berjarak beberapa senti dari titik tengah.

Luca menyunggingkan senyum samar yang tak terlihat oleh Ruby. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan gadis itu, membiarkan Ruby berdiri mandiri dengan senjatanya.

"Tidak buruk untuk pemula," puji Luca singkat, meski suaranya tetap terdengar datar.

Ruby berbalik dengan mata berbinar pucat, ada rasa bangga yang menyelinap di antara rasa lelahnya. "Saya... saya berhasil, Tuan?"

"Baru satu peluru yang tepat sasaran, Ruby. Jangan cepat puas," pangkas Luca seraya mengambil majalah peluru baru dari meja dan melemparkannya ke arah Ruby. "Habiskan tiga majalah peluru lagi sebelum kita pindah ke latihan fisik dan pertarungan jarak dekat."

Ruby menerima majalah peluru itu, menatap Luca dengan tatapan penuh kepatuhan yang makin dalam. "Baik, Tuan Luca."

Luca mundur beberapa langkah, menyandarkan tubuhnya di tepi meja seraya mengawasi setiap gerak-gerik Ruby yang mulai mengisi ulang pelurunya. Di dalam hatinya, Luca tahu pertempuran dengan Kavano sudah di depan mata, dan ia sedang menempa Ruby menjadi sosok yang tidak akan pernah bisa dihancurkan lagi oleh siapa pun.

Setengah jam berlalu dalam kepungan suara dentuman peluru yang memecah keheningan ruang bawah tanah. Tangan Ruby mulai gemetar hebat, peluh dingin membasahi pelipis dan lehernya, membasahi pakaian latihan taktis yang membungkus tubuhnya.

*Klik.*

Suara mekanisme pistol yang terkunci menandakan magazine terakhir telah habis. Ruby menurunkan senjatanya dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.

Luca melangkah mendekat, menghentikan ketukan langkah sepatunya tepat di depan Ruby. Ia meraih pistol dari tangan gadis itu, meletakkannya kembali ke atas meja besi dengan gerakan santai.

"Cukup untuk senjata api pagi ini," kata Luca, tatapan matanya meneliti wajah Ruby yang memerah karena lelah. "Sekarang, pertarungan jarak dekat."

Ruby mendongak kaget, menyapu peluh di dahinya dengan punggung tangan.

"P-pertarungan jarak dekat, Tuan? Tapi... saya tidak punya dasar bela diri sama sekali."

"Musuh tidak akan selalu memberi kamu jarak sepuluh meter untuk membidik, Ruby," balas Luca dingin seraya melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di meja. Ia melangkah ke tengah matras, lalu berbalik menghadap Ruby. "Kavano bisa saja menyergap kamu dari belakang di lorong sempit. Apa yang mau kamu lakukan kalau dia mencengkeram leher kamu?"

Nama itu kembali membuat dada Ruby berdesir perih, membangkitkan ingatan pahit yang membakar nyalinya. Ia melangkah ragu-ragu menuju tengah matras.

"Serang saya," perintah Luca singkat, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.

"Maksud Tuan?" Ruby mengerutkan kening.

"Gunakan apa pun yang kamu bisa. Pukul, tendang, atau dorong saya dari tempat saya berdiri sekarang," tegas Luca dengan nada menantang. "Jangan ragu. Kalau kamu ragu-ragu di hadapan saya, kamu sudah mati

di tangan musuh."

Ruby mengepalkan kedua tangannya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia melangkah maju dan melayangkan pukulan lurus ke arah dada Luca. Namun, sebelum kepalan tangannya menyentuh kain kaus Luca, dengan satu gerakan secepat kilat, tangan kiri Luca mencengkeram pergelangan tangan Ruby, memutarnya pelan lalu menarik tubuh mungil itu hingga membentur dadanya yang tegap.

"Terlalu lambat," bisik Luca rendah tepat di atas kepala Ruby, mencengkeram kedua lengan gadis itu dari belakang hingga tak bisa berkutik. "Langkah kamu terbaca. Bahu kamu memberi tanda sebelum kamu memukul."

Ruby meringis pelan, merasakan kehangatan dan kekuatan mutlak dari tubuh Luca yang menguncinya rapat. "Lepaskan, Tuan..."

"Kavano tidak akan melepaskan kamu cuma karena kamu minta tolong, Ruby!" bisik Luca tegas, suaranya mengalun berbahaya di telinga sang gadis. "Gunakan berat tubuh kamu. Injak kakinya, sikut perutnya, gunakan celah sekecil apa pun!"

Mendengar bisikan itu, Ruby menarik napas panjang. Ia menghentakkan kakinya ke bawah, lalu melempar siku kanannya ke belakang menuju perut Luca.

Luca sedikit terkejut dengan respons cepat itu. Ia menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindar, dan celah singkat itu dimanfaatkan Ruby untuk membalikkan badan dan mendorong dada Luca sekuat

tenaga.

Luca mundur setengah langkah, menatap Ruby dengan mata menyipit—terkejut sekaligus bangga atas perlawanan singkat itu.

"Seperti itu, Tuan?" cicit Ruby, napasnya memburu seraya menatap Luca dengan binar keberanian yang mulai menyala di matanya.

Luca perlahan menyunggingkan senyum tipis yang penuh pesona berbahaya. Pria itu merapikan kerah kausnya, lalu melangkah pelan mendekati Ruby yang masih memasang kuda-kuda canggung.

"Bagus," gumam Luca pelan, tangannya terangkat untuk mengusap setetes keringat di pipi Ruby dengan ibu jarinya yang kasar. "Pertahankan rasa benci dan dorongan untuk bertahan hidup itu. Karena besok... latihannya akan jauh lebih keras dari ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!