Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Raga Baru, Jiwa Lama
Cahaya putih terang dari lampu chandelier kristal berukuran raksasa membuat mata Lu Jingyan mengerjap cepat, beradaptasi dengan silau yang menusuk. Bau khas cairan disinfektan rumah sakit yang bercampur dengan keharuman minyak aromaterapi mahoni langsung menyerbu indra penciumannya. Berbeda jauh dengan bau semen basah, debu pelabuhan, dan karat besi yang melekat di pakaian kerjanya selama bertahun-tahun sebagai buruh kasar, udara di ruangan VVIP Rumah Sakit Sentral ini terasa begitu steril, bersih, dan mahal.
Jemari tangannya yang lentik, bersih, tanpa bekas luka bakar, goresan kasar, atau kapalan tebal akibat pecahan batu bata, terkepal pelan di atas selimut sutra bertekstur lembut berwarna putih tulang. Jingyan—yang kini jiwa di dalam raganya adalah Chen Guowei—bangkit setengah duduk dengan gerakan hati-hati. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan perasaan asing yang menyesakkan dada. Ini bukan tangannya. Ini adalah raga seorang pemuda bangsawan berusia 28 tahun, pewaris sah tunggal dari imperium bisnis Lu Group yang baru saja melewati masa kritis dari koma panjang akibat kecelakaan misterius setahun silam.
"Tuan Muda Lu! Anda sudah sadar?!"
Suara serak penuh kelegaan yang luar biasa memecah kesunyian ruangan yang luas itu. Seorang pria paruh baya berjas rapi dengan kacamata berbingkai emas—Sekretaris Han, asisten pribadi kepercayaan keluarga Lu—langsung melangkah tergesa-gesa dari sofa sudut ruangan, nyaris menjatuhkan cangkir porselen di meja kecil. Di belakangnya, seorang dokter spesialis senior berjas putih dan dua perawat bergegas mendekat, memeriksa monitor tanda-tanda vital di dinding yang langsung berbunyi ritmis normal dengan cepat.
Jingyan mengangkat wajahnya, menatap Sekretaris Han dengan tatapan tajam yang membuat asisten senior berpengalaman itu bergidik ngeri seketika. Ada aura kewibawaan yang berat, kelelahan hidup, serta ketajaman mental seorang kepala keluarga yang terpancar dari mata pemuda itu—sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlihat pada diri Lu Jingyan yang manja dan arogan sebelum ia jatuh koma.
"Berapa... hari aku tidak sadarkan diri?" suara Jingyan terdengar serak, berat, dan dalam, seolah menggembalikan beban hidup buruh kasarnya ke dalam pita suara bangsawan tersebut.
"Tiga ratus enam puluh hari, Tuan Muda," jawab Sekretaris Han dengan nada gemetar penuh takjub, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tim dokter bahkan sudah menyatakan peluang Anda tipis dan menyarankan pemutusan alat pendukung hidup bulan lalu. Tapi mukjizat benar-benar terjadi tepat sebelum batas waktu satu tahun penuh ini."
Tiga ratus enam puluh hari.
Di dalam benaknya, Guowei langsung tersentak dan teringat pada ucapan sang penjaga jiwa, Shen Wuming. Waktu pinjaman hidup yang diberikan padanya adalah tepat 365 hari. Artinya, sisa waktu di dunia ini baginya bukanlah sekadar anugerah hidup baru tanpa beban, melainkan hitungan mundur yang kejam. Sisa lima hari dari satu tahun penuh koma itu kini menjadi batas mutlak eksistensinya di raga ini. Ia hanya punya waktu kurang dari sepekan sebelum genap setahun masa koma Lu Jingyan berakhir di dunia medis.
Saat para perawat sibuk memeriksa tekanan darah, mengganti selang infus, dan mencatat data medis, ingatan tentang keluarga kecilnya kembali menghantam kepala Jingyan seperti gelombang pasang di pelabuhan. Istrinya, Lin Meiying, dan kedua anak mereka. Bagaimana nasib mereka malam ini? Apakah kontrakan sempit itu sudah digusur oleh pemiliknya? Apakah obat sesak napas ibunya sudah terbeli? Pikiran itu membuatnya hampir kehilangan kendali atas raga baru ini.
Sekretaris Han melangkah maju begitu para tenaga medis mundur memberi ruang. Asisten itu membungkuk hormat, menyodorkan sebuah salinan dokumen perusahaan beramplop tebal di atas nampan perak berlapis kulit.
"Petinggi direksi sudah menunggu kabar kebangkitan Anda di kantor pusat, Tuan," lapor Sekretaris Han dengan suara berbisik serius. "Perebutan kendali saham di internal Lu Group sedang memanas semenjak insiden kecelakaan proyek pencakar langit lantai 35 tahun lalu. Ada indikasi sabotase internal yang sengaja ditutupi oleh para pemegang saham mayoritas untuk melengserkan garis keturunan utama."
Mendengar kata proyek lantai 35 dan sabotase internal, rahang Jingyan mengeras seketika. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut. Itu adalah tempat yang sama di mana raganya sebagai buruh kasar dihantam rangka baja berat atas perintah busuk para petinggi korporat yang kini memegang kendali perusahaan di hadapannya.
Takdir benar-benar mempermainkannya dengan cara yang paling kejam. Ia mati dihancurkan oleh keserakahan Lu Group, dan kini ia dihidupkan kembali tepat di dalam singgasana tertinggi keluarga yang menjadi dalang utama pembunuhannya. Lingkaran karma ini tertutup rapat di sekelilingnya.
Jingyan menarik napas panjang, menstabilkan emosi yang bergejolak di dadanya. Tatapannya menerobos kaca jendela kamar VVIP yang sangat besar, menatap gemerlap lampu-lampu kota metropolitan di luar sana yang tampak begitu megah dari ketinggian, namun menyimpan sejuta busuk di dasarnya.
"Siapkan mobil sekarang," ujar Jingyan dingin, suaranya mengandung otoritas mutlak yang membuat Sekretaris Han terpaku. "Kita keluar dari rumah sakit hari ini juga. Aku punya banyak urusan yang harus diselesaikan dengan orang-orang yang mencoba menguburku hidup-hidup."