Indonesia
NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat / Tamat
Popularitas:484.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Suara lantang Raga memecah keheningan sore di lingkungan perumahan. Kedua tangan Sella mencengkeram erat setir kemudi, wajahnya menegang. Ia menatap wajah Raga yang dipenuhi amarah di balik kaca, lalu dengan tenang menurunkan kaca jendela.

‎‎"Apa-apaan sih, Raga? Mengemudi sembarangan dan menghalangi jalan masuk orang? Kamu mau bikin keributan di depan rumahku, hah?" tanya Sella dengan nada dingin dan tegas, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

‎‎Raga menunduk mendekat, matanya melotot tajam seolah ingin menembus pandangan. "Jangan berpura-pura tidak tahu! Aku baru saja dari rumah orang tua Risa, tapi Risa tidak pulang kesana. Dimana dia sekarang? Katakan dimana kamu menyembunyikannya!" sergahnya dengan suara lantang.

‎‎Sella justru tersenyum tipis, senyum yang terasa mengejek dan membuat Raga semakin geram. "Risa sudah memutuskan pergi. Dia punya hak penuh untuk menentukan kemana dia tinggal dan dengan siapa dia merasa aman."

‎‎"Dia masih istriku! Jadi hakku untuk tahu keberadaannya dan membawanya pulang!" bentak Raga, suaranya semakin keras dan napasnya semakin memburu.

‎‎"Pulang kemana?" balas Sella cepat, suaranya kini meninggi sedikit. "Ke rumah tempat dia selalu disalahkan karena tidak bisa punya anak? Jangan bicara soal hak, Raga! Kamu sudah kehilangan hak itu sejak pertama kali kamu memilih untuk mengkhianatinya!"

‎‎Wajah Raga memerah karena malu dan marah. Ia melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi geraman penuh ancaman. "Jangan ikut campur urusan rumah tangga kami, Sella. Kalau kamu menyembunyikannya, aku tidak akan segan melaporkanmu ke polisi karena menghalangi hak suami."

‎‎Sella tersenyum kecut. Ia menatap mata Raga dengan pandangan yang tak tergoyahkan.

‎‎"Silakan saja lapor. Tapi ingat, kalau sampai masuk jalur hukum, semua kebenaran juga akan terungkap. Semua orang akan tahu kenapa Risa sampai mengambil keputusan berpisah. Siapa yang akhirnya akan malu dan dicemooh nanti. Kamu atau dia?" ucapnya tajam. "Dan satu hal lagi. Risa sudah mengajukan gugatan cerai secara resmi. Mulai saat ini, dia sudah mulai berjalan di jalurnya sendiri. Semakin kamu memaksakan kehendak, semakin dia akan menjauh darimu."

‎‎Mendengar itu, amarah Raga bercampur dengan rasa takut yang mulai tumbuh. Ia menyadari posisinya semakin lemah.

‎‎"Kamu akan menyesal telah membantunya pergi," gumamnya dengan nada tertekan sebelum mundur selangkah.

‎‎"Justru dia akan menyesal kalau masih bertahan bersamamu," balas Sella tegas. "Sekarang minggirkan mobilmu. Aku ingin masuk ke halaman rumahku. Kalau tidak, aku yang akan memanggil petugas keamanan sekarang juga."

‎‎Raga menatapnya tajam sekali lagi, lalu dengan gerakan kasar ia berbalik dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia membanting pintu keras-keras, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak debu di belakangnya.

‎‎Sella menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia menunggu sampai suasana kembali tenang, lalu perlahan memarkirkan mobilnya di garasi. Begitu turun, ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Risa.

‎‎[Raga sudah kesini. Tapi jangan khawatir, aku sudah mengusirnya. Tetaplah tenang dan jaga dirimu ya.]

-

-

-

‎Risa baru saja selesai melipat tumpukan pakaian dan menyusunnya ke dalam lemari ketika getaran halus terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas meja kecil. Ia berjalan mendekat, lalu membuka layar dengan tenang.

‎‎Ia membaca pesan singkat dari Sella. Jemarinya menyentuh layar sejenak, lalu ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

‎‎"Apapun usahamu akan sia-sia, Mas… keputusanku sudah bulat," gumamnya pelan, "Tidak ada jalan kembali untuk hubungan kita. Semua sudah berakhir sejak lama, hanya saja aku baru punya keberanian untuk mengakuinya pada diriku sendiri."

‎‎Ia mematikan layar ponsel dan meletakkannya kembali ke tempat semula, seolah pesan itu tidak membawa beban apapun untuknya. Matanya beralih menatap ke luar jendela yang menghadap ke halaman kecil di depan kontrakan. Cahaya lampu jalan yang lembut menerangi halaman yang sepi dan tenang, menciptakan suasana yang damai, jauh dari hiruk pikuk masalah masa lalunya.

‎‎"Langkah ini sudah aku pilih, dan aku akan melangkah maju tanpa menoleh ke belakang lagi."

-

-

‎Pukul delapan lewat tiga puluh pagi, Risa sudah tiba di depan gedung megah RTF Corp. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah muda gading dengan model kerah yang diikat menjadi pita rapi di bagian depan, dipadukan dengan rok selutut berwarna putih bersih yang pas membentuk lekuk tubuhnya. Wajahnya tampak tenang meski di dalam hati ada sedikit kegugupan.

‎‎Setelah memastikan penampilannya di pantulan kaca pintu masuk, ia melangkah masuk menuju meja resepsionis. Ditangannya ia memegang tas tangan putih yang berisi map lamaran serta portofolio desain yang sudah ia siapkan semalam.

‎‎"Selamat pagi, Bu," sapa petugas resepsionis dengan senyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu?"

‎‎"Selamat pagi," jawab Risa sopan. "Nama saya Risa Anindita. Saya dipanggil untuk wawancara pukul sembilan pagi ini oleh Bapak Regan Maheswara."

‎‎Petugas itu segera memeriksa daftar jadwal di layar komputernya, lalu mengangguk. "Baik, Bu Risa. Mohon tunggu sebentar, saya akan menghubungi bagian terkait."

‎‎Belum lama menunggu, terdengar langkah kaki mendekat. Juna datang berjalan dengan senyum lebar dan ramah di wajahnya.

‎‎"Ris, kamu sudah datang," sapa Juna. "Ayo ikut aku, aku akan mengantarkanmu langsung ke ruangan Pak Regan."

‎‎Risa tersenyum lega. "Terimakasih banyak, Juna. Maaf merepotkanmu."

‎‎"Sama sekali tidak merepotkan. Ayo jalan," jawab Juna.

‎‎Mereka berjalan beriringan menuju lift. Begitu sampai, Juna menekan tombol, dan tak lama kemudian pintu lift terbuka secara otomatis. Keduanya masuk, lalu Juna menekan tombol bertuliskan angka 25 - lantai paling atas.

‎‎Pintu lift tertutup pelan, meninggalkan suasana yang tenang di dalam ruangan yang bergerak perlahan ke atas.

‎‎"Tenang saja, Ris. Pak Regan memang tegas, tapi beliau menilai dari kemampuan dan kejujuran. Jawab saja apa adanya, tunjukkan apa yang kamu bisa." ucap Juna tiba-tiba, seolah bisa melihat kegugupan dari wajah Risa.

‎‎"Terimakasih informasinya. Jujur saja, aku memang sedikit gugup," akunya dengan senyum tipis.

‎‎Juna tertawa kecil, lalu menepuk pundaknya pelan untuk menenangkan. "Itu wajar, semuanya pasti akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar. Aku percaya pada kemampuanmu, Ris."

‎‎Belum sempat Risa membalas, lampu indikator sudah berhenti di angka 25. Pintu lift terbuka lebar, menampakkan lorong yang lebih luas, lebih mewah, dan terasa sangat tenang.

‎‎"Ayo, kita jalan sedikit lagi," ajak Juna sambil melangkah lebih dulu.

‎‎Mereka berjalan melewati beberapa ruangan dengan pintu tertutup rapat. Sesampainya di depan pintu besar bertuliskan RUANG DIREKTUR UTAMA, Juna berhenti dan mengetuk pintu tiga kali dengan ritme teratur.

‎‎"Masuk," terdengar suara berat, tegas namun tenang dari balik pintu.

‎‎Juna membuka pintu sedikit, melongok sebentar lalu berkata, "Permisi, Pak Regan. Calon peserta wawancara, Risa Anindita, sudah tiba."

‎‎"Suruh dia masuk," jawab suara itu lagi.

‎‎Juna menoleh ke arah Risa, memberi isyarat dengan senyum penyemangat. "Silakan masuk. Semoga berhasil."

‎‎Risa mengangguk pelan. ‎‎Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat kakinya melangkah melewati ambang pintu. Udara di dalam ruangan terasa lebih sejuk dan sunyi, hanya diisi kesunyian yang terasa berat, ditambah tatapan tajam yang langsung tertuju padanya.

‎‎"Selamat pagi, Pak,"

-

-

-

Bersambung...

1
Heny
Bagus risa pergi yg jauh biar waktu yg menentukan mrk akan menyesal
Turi77 Turi77
selesai ini km akan menyesali semua perbuatan mu raga,
fatmiatun sahono
begitu suami nya pergi ke luar kota. mending lah tinggal pergi saja itu suami nya
toh barbuk sdh ditangan
lsg cerai....wanita skrg hrs kuat percaya diri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri...hehhehehe💪
Edy Sulaiman
inilah yg namanya manusia serakah SDH merusak rmh tangga orang tapi masih tetap m rasa kurang
Edy Sulaiman
masih menyimak saja dulu nmpknya bagus nih cerita.
Ranny
Amelia dasar perempuan perek murahan gampangan lobang mu itu sdh seperti wc umum ya 😄😄😄
Ranny
mandul teriak mandul 😄😄😄 nanti setelah terbongkar kalau dia sendiri yg mandul malu gak ya 🤭
Ranny
dasar pak Harun ortu lucnat ayah kandung berasa ayah tiri woiii punya otak kagak kok malah membela anak mantu tak beradab yg suka obral perkututnya his jijik deh dengan kelakuan mu itu
Ranny
Amelia kau mau dapat kecebong dr mana...paling kau akan dapat dr selingkuhan ya soalnya sekali kau merebut suami orang pasti akan ketagihan dan penasaran mau merasakan burung perkututnya pria lain lagi 😄😄😄
Ranny
lah dah betul kan perkiraan ku kalau Regan itu cucunya Oma yg hampir di tabrak dan di tolong Risa ☺️
🔥Violetta🔥: /Ok//Ok//Grin/
total 1 replies
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
🔥Violetta🔥: Sama-sama kakak 🙏😁
total 1 replies
Ranny
mungkinkah Regan ini cucunya Oma yg hampir di tabrak oleh Risa
Murni Sumiarti
Dibawah kendali asisten suami kok di noveltoon nggak ada?
🔥Violetta🔥: Iya kakak... saya hapus dulu karena kemarin sempat gak lolos kontrak.. mau direvisi total. Nanti saya up ulang kalau sudah direvisi 🙏😁
total 1 replies
Violet
Bersyukurlah utk para wanita yg bisa merdeka bercerai dr suami modelan Raga. Tetangga kompleks rumah sini ada sprti Risa yg sehat tp dicaci maki mandul pdhal sp*rma suaminya encer, nikah 20thn pilih cerai mlh ditekan mentalnya oleh suami & kluarga mlh sang ortu wanitanya jg ga dukung, smuanya blg kalo cerai ga ada yg bakalan mau sama janda yg ga bisa kasih anak. Sedih bgt tiap kali didoktrin gitu menciut lg nyalinya utk cerai 😭
🔥Violetta🔥: Amin... Kita doakan sama-sama untuk kakaknya yang disana... semoga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menjalani ujian kehidupan 🙏😊
total 3 replies
Khansa Andini
kak buatin versi Raga untuk bisa nemuin wanita tulus lagu
🔥Violetta🔥: Nanti coba ya kak 😁🙏
total 1 replies
Agus Tina
Kamu menjaga harga diri suami kamu tapi kamu tifak jujur padanya Risa, seharusnya kamu jujur pada suamimu duku baru outuskan untuk menutupi semuanya pada mertuamu ...
Yunita Asep
uuhh serru..! author kerren..., suxes dan sehat slalu, lov yu...
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak 😁🙏
total 1 replies
Yunita Asep
ahaay deh., jadi malu2.., Gas langsung Regaann...!
Yunita Asep
lanjuutt..
Yunita Asep
syukurriin... makanyaa jangn ambil suami orang..!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!