Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan
Leon masuk ke ruang kerjanya dengan wajah penuh amarah.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berjalan menuju meja kerja, lalu menghantam permukaannya dengan kepalan tangan.
Brakh!
Tatapannya tajam. Rahangnya mengeras.
Ia tidak menyangka Elena akan berani menantangnya secara terang-terangan.
Awalnya, ia hanya berniat menakut-nakuti wanita itu. Ia ingin melihat berapa lama Elena mampu mempertahankan penyamarannya setelah tahu bahwa dirinya sudah dicurigai.
Namun, reaksi Elena justru jauh di luar dugaan.
Wanita itu tetap tenang. Tidak gugup atau terlihat panik.
Bahkan, sedikit pun tidak terlihat takut saat ia menyebut kemungkinan akan membongkar identitasnya di depan Victor. Seolah-olah Elena sudah tahu bahwa ia tidak akan benar-benar mengatakan semuanya kepada Victor.
Leon menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya.
"Sial!" umpatnya.
Entah kenapa, wanita itu selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali.
Tapi, belum sempat ia menenangkan pikirannya, terdengar ketukan dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Leon menoleh ke arah pintu. Ia berjalan mendekat, lalu membukanya.
Seorang pelayan berdiri di sana dengan kepala tertunduk. Begitu melihat tatapan Leon yang tajam, pelayan itu tampak semakin gugup.
"Ada apa?" tanya Leon dingin.
"I-itu..." Pelayan tersebut menelan ludah. "Tuan Victor meminta Anda datang ke ruangannya, Tuan."
Leon terdiam sejenak. Tatapannya berubah serius.
"Baik. Aku akan segera ke sana."
Pelayan itu membungkuk hormat. "Kalau begitu, saya permisi, Tuan."
Pelayan itu pergi meninggalkan Leon yang masih berdiri di ambang pintu. Beberapa saat kemudian, Leon menarik napas, lalu menutup pintu ruang kerjanya sebelum menemui ayahnya.
Tidak berapa lama, Leon akhirnya sampai di depan ruang kerja Victor.
Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya. Namun, saat masuk, langkahnya terhenti.
Tatapannya tertuju pada Daniel yang sudah berada di dalam ruangan.
Leon sempat terdiam, lalu menghela napas pelan. Ia menutup pintu di belakangnya sebelum berjalan mendekat.
"Ada apa, Dad? Kenapa memintaku datang?" tanyanya.
"Kamu sangat tahu kenapa aku memanggilmu, Leon." Victor menatapnya tajam dari balik meja kerjanya. "Kamu sudah menemukan orang-orang yang menyerang istriku?"
Leon mengepalkan kedua tangannya.
Lagi-lagi, kata 'istriku' itu.
Setiap kali Victor menyebut Maria dengan sebutan tersebut, ada sesuatu yang mengusik hatinya. Seolah-olah ia tidak pantas menjadi anak Maria dan juga sebagai pengingat tentang posisinya.
Dan, ini bukan pertama kalinya.
Sudah berkali-kali Victor melakukan hal yang sama. Tapi, Leon tidak pernah mempermasalahkannya karena ia sangat tahu posisinya.
"Maaf, Dad." Leon berusaha mengendalikan ekspresinya. "Aku belum menemukan siapa mereka. Tapi, dari penyelidikan sementara, sepertinya benar mereka memang mengincar Elena."
Victor terdiam. Jarinya mengetuk-ngetuk sisi kursi secara perlahan.
"Ini pertama kalinya musuh berani menyerang secara terang-terangan di tempat terbuka," ucap Victor akhirnya.
Tatapannya beralih kepada Leon. "Jika mereka benar-benar mengincar istrimu, kemungkinan besar mereka menyimpan dendam padamu."
Leon tetap diam.
Victor kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya. "Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi," ucapnya dengan suara yang terdengar tegas. "Jadi, jaga baik-baik istrimu. Jangan sampai keberadaannya justru membuat keluargaku terluka."
Kepalan tangan Leon semakin erat. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi, semuanya ia tahan.
"Aku mengerti," ucap Leon.
Tanpa menambahkan apa pun, Leon berbalik dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia sempat melirik Daniel yang sejak tadi hanya diam memperhatikan percakapan mereka.
Tatapan keduanya bertemu sesaat. Tapi, Leon segera mengalihkan pandangan. Ia membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut.
Tapi, Leon belum benar-benar pergi. Ia berdiri di depan pintu beberapa saat dengan wajah yang berubah dingin.
Ucapan Victor terus terngiang di kepalanya.
Ia merasa kalimat itu bukan sekadar perintah, melainkan sebuah peringatan agar ia dan Elena tidak membuat masalah untuk mereka. Atau mungkin, tidak menjadi ancaman untuk mereka.
Sementara itu, di dalam ruangan. Daniel mengalihkan pandangannya kepada Victor.
"Dad, Kenapa kita tidak memanfaatkan masalah ini untuk menyingkirkan Leon?"
Victor menggeleng pelan. "Belum waktunya, Niel."
Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap yang mengepul ke udara.
"Kita masih membutuhkan Leon untuk organisasi."
Daniel mengepalkan tangan. "Tapi, Dad... Bagaimana kalau Leon merebut semuanya dariku?"
"Itu tidak akan terjadi." Victor menatap putranya dengan tenang. "Meskipun banyak orang mengakui kemampuan Leon, wibawanya sudah hancur sejak skandal itu mencuat. Kepercayaan beberapa anggota padanya juga tidak lagi sama seperti sebelumnya."
Victor menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Selama kita masih memegang kendali, Leon tidak akan bisa mengambil apa pun darimu."
Daniel terdiam, tetapi raut wajahnya masih menunjukkan kegelisahan.
Victor kemudian menatapnya tajam. "Kamu hanya perlu fokus pada perusahaan. Begitu kamu berhasil menguasainya, mengambil alih organisasi akan jauh lebih mudah."
"Tapi, Dad..."
"Kamu tidak perlu khawatir, Niel." Victor kembali mengisap rokoknya. "Asalkan Daddy masih menjadi pemimpin, tidak ada satu pun anggota organisasi yang berani membangkang."
Victor kembali menghembuskan asap rokok perlahan lalu, tersenyum tipis.
"Daddy sudah mengatur semuanya. Dan, semua orang di organisasi hanya tunduk pada satu orang." Victor menyeringai. "Mereka hanya tunduk padaku."
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊