Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Hujan badai menghantam dinding kaca kediaman utama Blackwood Manor dengan hempasan angin yang kencang. Pendar kilat sesekali menyambar dari kejauhan, membiaskan bayangan jeruji-jeruji jendela kuno ke atas lantai kayu jati tempat Dominic dan Evangeline berdiri.

Sentuhan ciuman Dominic di kening Eva masih menyisakan hawa hangat yang memabukkan, sebuah kontra-reaksi yang aneh bagi seorang wanita yang dilatih untuk membunuh pria tersebut.

Eva merasakan detak jantungnya sendiri berpacu tidak teratur. Setiap sel dalam tubuhnya menyuruhnya untuk mundur dua langkah, menjaga jarak dan menegaskan kembali batasan sebagai seorang agen The Crow's Veil.

Namun, pelukan Dominic yang erat di pinggangnya serta kelelahan tersembunyi yang terpancar dari aura pria itu menahan langkah Eva di tempat.

Dominic perlahan menurunkan pandangannya dari kening Eva, mengunci sepasang kelereng hazel yang berpendar lembut di dalam kegelapan kamar.

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Evie," bisik Dominic rendah. Jemari tangannya yang hangat merayap perlahan naik dari punggung Eva, menyusuri tengkuknya dengan tekanan yang begitu halus hingga membuat bulu kuduk Eva berdiri.

"Setiap kali kau menatapku, ada kemarahan yang membara... tapi malam ini, ada ketakutan yang terselip di antaranya."

Eva menahan napasnya seraya memaksa topeng ketenangannya tetap terpasang sempurna. Ia tidak boleh curiga bahwa aku tahu tentang identitas keluarga Cross.

"Aku tidak takut padamu, Dominic," sahut Eva dengan suara merdu yang ditata sehalus mungkin.

"Aku hanya takut pada bayang-bayang di balik dinding rumah ini. Kata-kata Lady Eleanor di perpustakaan tadi... membuatku sadar betapa rapuhnya kedudukanku di sini."

"Apa yang dikatakan Nenek padamu?" tanya Dominic, matanya menyempit tipis seraya ibu jarinya melembutkan usapan di garis rahang Eva.

"Dia bilang... orang yang membunuh ibumu empat belas tahun lalu masih berkeliaran di dalam hierarki konsorsium ini," kata Eva perlahan, menyebutkan separuh dari kebenaran tanpa membocorkan keterkaitan nama keluarganya sendiri. "Dan dokumen di vault itu adalah satu-satunya hal yang ditakuti oleh mereka."

Dominic membisu selama beberapa detik. Tatapan matanya yang sangat dalam meneliti setiap lekuk raut wajah Eva, seolah berusaha membaca sandi rahasia yang tersembunyi di balik ketenangan wanita itu.

Namun alih-alih menekan lebih jauh dengan pertanyaan taktis, Dominic justru memiringkan kepalanya. Wajahnya mendekat perlahan, mengikis sisa udara yang membentang di antara mereka hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan secara halus.

Napas Dominic hangat, beraroma kayu cendana dan sedikit jejak wiski mahal.

Eva terpaku. Seluruh insting defensifnya lumpuh selama sepersekian detik ketika Dominic mendaratkan ciuman yang sangat perlahan di sudut bibirnya, bukan ciuman tuntutan seorang penguasa mafia, melainkan sebuah sentuhan ragu yang diwarnai oleh keasingan dan kerinduan yang ditahan sekian lama.

Bibir Dominic bergeser ke permukaan bibir Eva, menekan pelan dengan kelembutan yang menyengat saraf.

Eva menahan rintihan kecil di tenggorokannya. Rasanya ironis sekaligus berbahaya, pria yang memegang kunci jawaban atas kematian ibunya kini menciumnya di tengah malam, sementara tangan kiri Eva di balik gaun tidurnya mengepal kaku menahan refleks untuk meraih belati tersembunyi.

Ada jarak yang tak kasat mata, dinding kebohongan yang sangat tebal di antara mereka namun sentuhan fisik ini begitu nyata hingga membakar batas ketahanan batin Eva.

Dominic menarik bibirnya kembali secara perlahan, menyandarkan dahi mereka satu sama lain. Napas kedua manusia itu terengah pelan di dalam hening malam.

"Jika musuh di balik bayangan itu menginginkan dokumen ibuku..." bisik Dominic pelan di depan bibir Eva, "...maka mereka harus melangkahi mayatku terlebih dahulu sebelum bisa menyentuhmu, Evie."

Pernyataan itu mendarat bagaikan pukulan tak kasat mata di dada Eva.

Dia berjanji melindungiku dari musuh-musuhnya, tanpa tahu bahwa salah satu musuh paling mematikan yang disusupkan ke dalam kamarnya.

"Jangan berjanji pada sesuatu yang mungkin tak bisa kau tepati, Blackwood," bisik Eva pelan, menyilangkan jemarinya di atas dada bidang Dominic, mendorong pria itu ke belakang secara halus untuk meregangkan jarak di antara mereka kembali.

Dominic menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin, memperlihatkan kembali sosok pemimpin yang berbahaya. "Aku selalu menepati janjiku, Nyonya Blackwood. Sekarang, tidurlah. Pagi nanti, kita punya masalah baru yang harus diselesaikan di distrik selatan."

...****************...

Pukul 06.00 pagi.

Kabut pagi menggantung tebal di atas hamparan hutan cemara yang memagari sisi timur Blackwood Manor. Aroma tanah basah dan jelaga tipis membumbung dari arah pintu gerbang utama.

Eva terbangun oleh suara ketukan keras pada pintu kayu tebal kamar utama.

Dominic sudah berdiri di dekat meja rias, mengenakan kemeja serba hitam dengan holster pistol kulit melingkari bahunya. Pria itu menyambar mantel panjang berkerah tinggi sebelum melangkah membuka pintu.

Viktor berdiri di luar dengan wajah kaku dan pakaian yang sedikit bernoda lumpur.

"Tuan Dominic," kata Viktor dengan suara rendah yang mendesak. "Laporan dari distrik selatan baru saja masuk. Fasilitas pemurnian obat milik Faksi Valenti di pinggiran kota diserang oleh kelompok tak dikenal satu jam lalu."

Dominic memicingkan matanya. "Siapa pelakunya? Apakah orang-orang Madam Vane yang tersisa?"

"Bukan," jawab Viktor seraya menyerahkan sebuah kantong plastik transparan berisi barang bukti dari tempat kejadian. "Penyusup tidak menyentuh brankas uang atau pasokan bahan baku. Mereka hanya membakar ruang arsip teknis dan meninggalkan sebuah simbol di dinding utama."

Eva yang telah mengenakan jubah mandi sutranya berdiri di ambang pintu kamar mandi, menyimak pembicaraan itu dari jarak aman.

Dominic meraih kantong plastik dari tangan Viktor. Di dalamnya terdapat sekeping koin perak tua yang permukaannya telah tergores dalam. Pada permukaan koin itu, terukir jelas lambang mawar dengan lima duri mencolok, simbol resmi The Five Thorns.

"Mereka sengaja meninggalkan jejak," desis Dominic, rahangnya mengepal rapat. "Madam Vane hanyalah umpan pengalih perhatian agar kelompok utama mereka bisa bergerak menghancurkan arsip logistik Valenti."

"Lebih dari itu, Tuan," tambah Viktor, melirik singkat ke arah Eva sebelum melanjutkan keterangannya dengan suara yang makin diperhalus. "Di lokasi kebakaran, tim pemadam menemukan jenazah salah satu mantan kurir informasi distrik St. Jude tahun 2012. Dia tewas dengan belati bertakik lima duri menancap di dadanya."

Jantung Eva terhentak keras di balik dadanya.

Mereka sedang membantai semua saksi hidup yang tersisa dari peristiwa St. Jude 2012.

Setiap orang yang memiliki keterkaitan dengan manifes rahasia Lady Vivienne atau pembunuhan Clara Cross sedang diburu dan dihabisi satu per satu oleh faksi The Five Thorns. Ini berarti waktu untuk membongkar teka-teki kotak kayu berukir mawar di dalam kamar ini semakin menipis.

"Siapkan konvoi sektor dua," perintah Dominic tegas pada Viktor. "Aku dan Vincent Valenti akan memeriksa lokasi kebakaran secara langsung sepuluh menit lagi."

"Bagaimana dengan Nyonya Evie?" tanya Viktor.

Dominic memutar tubuhnya, menatap Eva yang berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi. Pandangan mata pria itu mengeras kembali, mengembalikan jarak pengawasan ketat yang sempat melunak tadi malam.

"Evie tetap di dalam manor di bawah pengawalan dua belas penjaga senior," jawab Dominic dingin.

"Tidak ada yang boleh masuk atau keluar dari lantai tiga tanpa izin tertulis dari tanganku sendiri."

Eva menahan kejengkolannya. Dominic kembali mengurungnya dalam kurungan emas ini demi keselamatan taktis, sekaligus untuk memastikan Eva tidak melakukan pergerakan independen di luar pengawasannya.

"Viktor, pastikan lingkungan kediaman aman," tambah Dominic sebelum berbalik melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Eva.

Klek.

Pintu ganda kamar utama terkunci dari luar. Suara langkah kaki berderap dari barisan pengawal yang mengambil posisi siaga di sepanjang koridor luar lantai tiga.

Dua jam setelah keberangkatan Dominic.

Suasana di dalam kamar utama terasa sangat sunyi. Rintik hujan gerimis membasahi dinding kaca, menciptakan aura pengasingan yang pekat.

Eva memanfaatkan waktu ini dengan sangat efisien. Setelah memastikan sensor gerak dinding luar tidak menunjukkan pergerakan mencurigakan, ia melangkah menuju meja kerja besar milik Dominic.

Di balik dinding panel kayu meja tersebut, tersimpan kompartemen tersembunyi tempat Dominic menyimpan kotak kayu berukir mawar peninggalan almarhumah Lady Vivienne.

Eva menyentuh kompartemen rahasia itu dengan jemari terlatihnya. Dengan rabaan yang sangat halus pada sambungan serat kayu, ia menemukan pemicu pegas tersembunyi.

Panel kayu bergeser pelan, menampilkan kotak kayu berukir mawar tanpa duri yang misterius itu.

Eva mengangkat kotak tersebut dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja kopi sofa. Empat roda angka kuningan berukir simbol-simbol kuno terpampang di bagian gemboknya.

Eva menyipitkan matanya, mengamati empat simbol kuno yang terukir di atas roda kuningan tersebut.

Roda Pertama: Simbol Pedang Terbalik / Mawar / Mahkota / Jangkar.

Roda Kedua: Simbol Matahari / Bulan Meredup / Bintang Delapan / Kilat.

Roda Ketiga: Simbol Burung Gagak / Ular / Serigala / Singa.

Roda Keempat: Simbol Timbangan / Salib / Kompas / Jam Pasir.

Empat kombinasi simbol...

Eva mengingat kembali kalimat Lady Eleanor di perpustakaan kemarin sore, "Kunci untuk membaca sandi manifes tersebut terikat pada silsilah sebuah keluarga yang lenyap di St. Jude malam itu. Keluarga Cross."

Apakah ibunya, Clara Cross, meninggalkan sebuah petunjuk atau kode keluarga yang pernah diajarkan pada Eva sewaktu ia masih kecil?

Eva memejamkan matanya rapat-rapat, menggali ingatan masa kecilnya di rumah tua perbatasan St. Jude sebelum malam berdarah empat belas tahun lalu terjadi.

Ia teringat sebuah lagu pengantar tidur yang selalu dinyanyikan oleh ibunya setiap kali badai menghantam distrik perbatasan.

"Saat Mahkota jatuh ke balik bukit,

hanya Bulan Meredup yang memandu jalan.

Jangan percaya pada Burung Gagak di malam pekat,

karena hanya Jam Pasir yang tahu kapan kebenaran akan bersuara..."

Mata Eva membelalak lebar seketika.

Lagu pengantar tidur itu bukan sekadar nyanyian nina bobo biasa, Ibunya Clara Cross telah menanamkan kombinasi sandi rahasia ini ke dalam ingatan bawah sadarnya sejak Eva masih kecil.

Dengan jemari yang gemetar hebat oleh kebenaran yang mulai terkuak, Eva memutar roda-roda angka kuningan tersebut satu per satu.

Roda Pertama diputar ke simbol: Mahkota.

Roda Kedua diputar ke simbol: Bulan Meredup.

Roda Ketiga diputar ke simbol: Burung Gagak.

Roda Keempat diputar ke simbol: Jam Pasir.

Klik!

Suara mekanisme per internal kotak itu berdenting nyaring, gembok kuningan tua itu terbuka secara otomatis.

Jantung Eva berdentang bagaikan drum perang. Dengan perlahan, ia mengangkat tutup kayu berukir mawar tersebut.

Di dalam kotak berlapisan kain beludru merah tua yang telah mengusang oleh waktu, terbaring dua benda.

Sebuah cetakan foto hitam-putih tua yang memperlihatkan dua wanita muda berseragam medis sedang berdiri tersenyum di depan Klinik Darurat St. Jude tahun 2008. Wanita di sebelah kiri adalah ibu Eva, Clara Cross. Dan wanita di sebelah kanan yang merangkul bahu Clara adalah... Lady Vivienne Blackwood.

Sebuah dokumen tebal berstempel segel lilin perak bertuliskan Manifes Gabungan St. Jude 2012 - Kode Otorisasi Utama.

Eva meraih foto tua itu terlebih dahulu. Air mata hangat tanpa sadar menetes di pipinya saat melihat senyuman lembut ibunya di foto tersebut.

Clara Cross dan Lady Vivienne bukan sekadar kenalan, ereka adalah sahabat karib yang mengelola jaringan bantuan medis rahasia di distrik perbatasan.

Namun saat Eva hendak membuka lipatan dokumen manifes tebal tersebut, sebuah detail kecil di sudut bawah dokumen membuat tubuhnya membeku seketika.

Di bawah lembar lembar persetujuan transaksi logistik St. Jude 2012, tertera tiga tanda tangan otorisasi tertinggi dari pihak pemohon dana darah.

Tanda Tangan 1: Lady Vivienne Blackwood (Disetujui)

Tanda Tangan 2: Don Sergio Rossi (Disetujui)

Tanda Tangan 3: Nama pimpinan rahasia Faksi The Five Thorns yang ditutup oleh segel lilin perak tebal bertanda lambang keluarga inti Blackwood.

Tiba-tiba, sebelum Eva sempat mengikis segel lilin perak tersebut untuk melihat nama di baliknya, suara dentuman keras dari balik pintu kamar utama memecah keheningan.

Bam! Bam!

Suara tembakan berperedam suara terdengar beruntun dari balik koridor luar, diikuti oleh suara tubuh-tubuh pengawal berpakaian lengkap yang roboh menghantam lantai beton secara berurutan.

"Sektor tiga jebol! Ada penyusup di dalam koridor lantai tiga!" teriak suara salah satu pengawal di luar sebelum suaranya terputus oleh desisan racun kontak.

Eva bereaksi dengan kecepatan kilat.

Ia memasukkan dokumen tebal dan foto tua itu kembali ke dalam kotak kayu, menyergap gemboknya hingga terkunci, lalu memasukkan kembali kotak tersebut ke dalam kompartemen tersembunyi di balik meja kerja Dominic.

Dalam waktu kurang dari lima detik, Eva telah menyambar pistol Glock 19 dari balik bantal tempat tidur dan menyelinap di balik bayangan tirai raksasa di dekat jendela utama kamar.

Pintu ganda kamar utama yang terbuat dari kayu jati tebal mendadak terdorong terbuka pelan.

Asap tebal berwarna kelabu meluncur masuk membasahi lantai kamar. Dari balik asap tersebut, tiga figur berpakaian serba hitam dengan topeng baja bertakik lima duri melangkah masuk tanpa suara. Di tangan mereka masing-masing, terikat senapan submesin berperedam suara tipe MP5SD.

Salah satu penyusup bergerak menuju tempat tidur, sementara dua penyusup lainnya mengarahkan moncong senjata mereka ke arah meja kerja pribadi Dominic.

"Target wanita tidak ada di tempat tidur!" desis penyusup pertama dengan suara mekanis dari balik topeng bajunya.

"Cari kotak kayu mawar di sekitar meja!" perintah penyusup kedua dengan nada dingin. "Perintah dari Atasan Utama jelas, musnahkan kotak itu dan habisi wanita itu jika dia melihat isinya!"

Dari balik bayangan tirai, mata hazel Eva menyempit tajam.

Musuh telah melangkahi barisan pertahanan Blackwood Manor saat Dominic sedang berada di luar. penyusup ini dikirim secara khusus untuk memusnahkan bukti manifes St. Jude sebelum Dominic atau Eva sempat membacanya.

Eva memperketat genggamannya pada gagang Glock 19.

Untuk melindungi petunjuk tentang pembunuh ibunya dan mempertahankan alibinya sebagai Nyonya Blackwood, Eva harus menghabisi ketiga penyusup ini di dalam kegelapan kamar sendirian, sebelum Dominic kembali dan menemukan pertumpahan darah ini.

Eva menarik napas dalam-dalam, mensejajarkan pistolnya ke arah kepala penyusup terdekat, dan menyenggol pelatuk senjata dengan gaya bertarung Ghost Rose.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!