Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Petunjuk Bernama Rian
Lampu meja remang-remang di ruang belakang ruko Katering Barokah menyinari layar laptop milik Maya.
Uap dari dua cangkir kopi hitam yang mulai dingin membumbung tipis ke udara.
Di luar, suara deru hujan deras yang mengguyur jalanan kota menciptakan latar suara yang mencekam, seolah selaras dengan tensi yang makin memuncak di dalam ruangan.
Intan Saputri duduk bersedekap di samping Maya, matanya menatap lekat-lekat baris demi baris kode dan arsip foto mentah (raw files) yang berhasil didapatkan Maya dari peretasan ringan pada basis data studio foto lokal, @KreatifStudio_Kota.
"Kamu beruntung, Intan."
Ujar Maya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Jemari tangannya yang cekatan bergerak lincah di atas papan ketik.
"Fotografer lapangan biasanya malas menghapus metadata foto lama."
"Lihat ini."
Maya mengklik sebuah berkas foto beresolusi tinggi. Gambar penyerahan unit alat berat dari CV Sinar Timur Utama dua tahun lalu yang tadi siang dilihat Intan dalam ukuran kecil kini terpampang jelas di layar.
Maya memperbesar bagian latar belakang foto—tempat pria berkemeja putih dengan topi keselamatan kuning itu berdiri.
Wajah pria itu kini terlihat jauh lebih detail dari sudut samping. Garis rahangnya yang tegas, bentuk hidungnya, hingga bekas luka kecil berbentuk titik di dekat daun telinga kirinya terpampang tanpa cela.
Jantung Intan berdegup kencang. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Ini dia..."
Bisik Intan, suaranya sarat akan kebekuan yang dingin.
"Ini benar-benar pria yang memanggil dirinya Rian."
"Tahan emosimu."
Tegur Maya pelan namun tegas.
"Foto saja tidak cukup untuk menyeretnya ke polisi atau memojokkannya."
"Kita butuh nama asli, nomor identitas, dan di mana dia bertengger sekarang."
Maya kemudian membuka perangkat lunak pemindai data eksif (EXIF data). Dalam hitungan detik, deretan teks teknis muncul di layar: tanggal pengambilan foto, jenis kamera, koordinat GPS lokasi, serta daftar nama berkas yang disimpan oleh staf studio foto pada hari itu.
Pada kolom daftar nama pemesan jasa dokumentasi, tertera sebuah nama lengkap dengan nomor kontak darurat yang ditulis tangan pada formulir pendaftaran yang di-pindai: Ardiansyah Putra – Supervisor Operasional.
"Ardiansyah Putra..."
Sebut Intan melafalkan nama itu perlahan.
"Ardiansyah... Rian."
"Nama 'Rian' cuma potongan dari nama aslinya."
Potong Maya, mengaitkan kedua tangannya di atas meja.
"Dia tidak sepenuhnya menciptakan identitas baru dari nol."
"Orang-orang seperti dia biasanya tetap menyisipkan sedikit unsur nama asli atau kebiasaan lama mereka agar tidak canggung saat dipanggil di depan umum."
Maya membuka basis data kependudukan rahasia yang biasa ia gunakan untuk melacak target-target auditnya.
Ia memasukkan nama Ardiansyah Putra, mengombinasikannya dengan ciri-ciri fisik, kisaran usia, serta jejak transaksi alat berat di kawasan industri kota ini.
Hanya butuh beberapa menit sampai layar laptop menampilkan sebuah profil lengkap: foto KTP, riwayat pekerjaan, hingga alamat domisili terakhir.
Foto di KTP itu mencocoki pria dalam foto dokumentasi seratus persen. Pria yang selama ini bersembunyi di balik nama manis 'Rian', pria yang menipunya sebesar dua juta rupiah dan meremukkan harga dirinya di Desa Sukamaju, kini memiliki nama nyata dan wajah yang tak lagi misterius: Ardiansyah Putra, usia 28 tahun.
"Kita menangkap petunjuk utamanya."
Kata Maya, menoleh menatap Intan.
"Dia bukan cuma penipu lepas."
"Riwayat pekerjaannya menunjukkan dia pernah bekerja di tiga perusahaan kontraktor berbeda sebelum akhirnya dipecat karena kasus penggelapan dana."
"Dan sekarang... coba kamu lihat di mana dia bekerja."
Maya menggeser kursor ke bawah, menunjuk kolom pekerjaan dan status aktif saat ini.
> Status Pekerjaan: Konsultan Pengadaan Mandiri – Mitra Kerja Proyek Pembangunan Mall & Apartemen Pandawa (Zona Empat).
>
Intan membelalakkan matanya sedikit. Zona Empat. Itu adalah kawasan megaproyek yang lokasinya hanya berjarak lima kilometer dari ruko katering ini—sebuah area yang bahkan lebih besar dari Zona Tiga tempat Intan mengantar katering kemarin.
"Dia berada sangat dekat dengan kita."
Ujar Intan, suaranya terdengar makin tajam.
"Ya."
Sahut Maya.
"Dan yang lebih menarik lagi, berdasarkan catatan transaksi vendor, Ardiansyah ini sedang menyusun skenario penipuan baru."
"Dia sedang mencari pemasok bahan makanan dan katering skala besar untuk pekerja proyek Zona Empat secara tidak resmi."
Sebuah senyuman tipis yang sarat kecerdikan perlahan terukir di bibir Intan.
Tiba-tiba, semua potongan puzzle di kepala Intan menyatu dengan sempurna. Takdir seolah sedang menyusun panggung yang luar biasa.
Pria itu kini sedang beroperasi di wilayah perburuannya, membutuhkan layanan katering, dan sama sekali tidak tahu bahwa gadis desa yang dulu dibodohinya kini memegang kendali atas katering yang siap memancingnya masuk ke dalam perangkap.
"Mbak Maya..."
Panggil Intan pelan, menatap sang mentor dengan mata yang berbinar penuh keteguhan.
"Apa yang ada di dalam kepalamu, Budak Kecil?"
Tanya Maya, menyilangkan tangannya di dada dengan raut penasaran.
"Dia sedang mencari katering untuk proyek Zona Empat, kan?"
Kata Intan mantap.
"Kalau begitu, jangan biarkan dia mencari vendor lain."
"Kita yang akan mendatanginya."
"Kita yang akan menyodorkan penawaran katering itu secara langsung."
Maya mengangkat alisnya, lalu sebuah senyuman puas terbit di wajahnya yang tegas.
"Kamu mau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan?"
"Bukan sebagai Intan yang lugu dari Desa Lao-Lao"
Jawab Intan seraya berdiri tegak. Ia merapikan blazer abu-abunya yang menggantung di sandaran kursi.
"Tapi sebagai staf pemasaran Katering Barokah yang baru, yang siap menandatangani kontrak kerja sama secara tatap muka dengannya."
Maya mengangguk pelan, mematikan layar laptopnya. Keheningan malam bertambah pekat, namun di dalam dada Intan, api tekadnya telah berkorbankan menjadi nyala yang membakar habis sisa-sisa keraguan.
Intan merogoh saku blazernya, mengambil buku catatan hitam kecilnya. Dengan pena bertinta tebal, ia menggarisbawahi nama Ardiansyah Putra dan menuliskan satu pesan penutup di bawahnya:
> Topengmu sudah terlepas, Ardiansyah. Petunjuk ini sudah memandu jalanku. Sampai jumpa di Zona Empat.
>
Intan menutup buku itu dengan satu dentuman kecil yang mantap. Perburuan ini tak lagi bergerak di balik bayang-bayang jejak digital.
Besok, ia akan melangkah langsung ke hadapan sang serigala—siap menjeratnya dengan perangkap yang telah ia rancang sendiri.
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe 🤗
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya