Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Raungan murka Song Pojun menggelegar menembus atap genting giok Aula Musyawarah, mengguncang lereng Puncak Pedang Utama bagai guncangan gempa bumi.

Pecahan meja giok hijau masih berserakan di lantai pualam. Di tengah kepulan asap darah hitam yang mendesis panas, sang Leluhur berdiri tegak dengan jubah abu-abu berkibar liar diterpa pusaran angin tenaga dalam.

Sepasang mata orang tua itu memerah pekat, dipenuhi amarah liar yang membakar kesadarannya.

“Segel seluruh puncak gunung!” bentak Song Pojun dengan suara parau yang menggetarkan dada belasan tetua inti. “Siapa pun yang berani melangkah keluar satu jengkal, tebas di tempat!”

Patriark Song Tianhe segera memberi isyarat tangan dengan wajah pias.

Tetua Penegak Disiplin Tie Gang melompat keluar pintu aula, menghunus pedang petirnya dan melepaskan sinyal kabut merah ke angkasa. Dalam hitungan detik, formasi pelindung Puncak Utama menyala terang, mengunci seluruh jalur udara.

Song Pojun menutup matanya rapat-rapat.

Kesadaran spiritual ranah Puncak Transformasi Jiwa miliknya menyebar kilat melintasi radius sepuluh li. Gelombang energi kasat mata itu menyapu setiap jengkal lereng gunung, melacak sisa getah asam belerang yang baru saja membakar pembuluh darahnya.

Hanya butuh tiga tarikan napas bagi kesadaran spiritual sang Leluhur untuk menemukan jejak aroma yang identik.

Jejak residu racun itu tidak berasal dari musuh luar sekte.

Jejak tersebut mengarah lurus ke lantai dua Paviliun Awan Mengambang—tepat pada cawan porselen putih yang masih menyisakan separuh cairan teh melati di atas meja Gu Ran.

Mata Song Pojun seketika terbuka lebar. Rongga dadanya berdenyut ngilu dengan kengerian yang membuat darahnya terasa membeku.

Anjing-anjing keparat ini… mereka meracuni makanan Adik Gu! batin Song Pojun dengan gigi gemeretak keras.

Leluhur tua itu menyadari kebenaran yang mengerikan: setiap kali racun itu menyentuh lidah pemuda berambut putih tersebut, racun berlipat sepuluh langsung membakar jantungnya sendiri. Jika Gu Ran menelan racun mematikan sampai habis, ia sendiri yang akan tewas membusuk di aula ini!

“Tianhe!” raung Song Pojun dengan telunjuk gemetar menunjuk ke arah pintu gerbang. “Seret seluruh juru masak dapur utama dan tetua logistik luar ke pelataran ini sekarang juga!”

Sepuluh menit berselang, pelataran batu di depan tangga aula dipadati puluhan murid Balai Hukum bersenjata lengkap.

Tujuh belas staf dapur dan pengurus logistik luar sekte diseret paksa dan dipaksa berlutut berbaris di atas lantai pualam yang dingin. Wajah mereka pucat pasi, tak berani mengangkat kepala memandang aura membunuh yang mengepul tebal dari arah tangga.

Di barisan paling depan, seorang pria gemuk berjubah biru tua tampak gemetar hebat. Tetua Logistik Luar He, pejabat yang mengelola pasokan bahan makanan dan tanaman obat untuk paviliun puncak, terus menyeka keringat dingin di pelipisnya.

Langkah kaki berat terdengar menuruni anak tangga batu.

Song Pojun melangkah turun perlahan. Dari sudut bibirnya, sisa darah hitam telah mengering di janggut putihnya. Di belakangnya, Alkemis Bai berjalan tergesa-gesa membawa jarum perak penguji racun.

Sang tabib membungkuk di samping cawan teh porselen yang baru saja disita dari Paviliun Awan Mengambang, lalu mencelupkan ujung jarum perak ke dalamnya.

Ujung jarum perak itu seketika menghitam pekat dan mendesiskan uap tipis berbau asam belerang.

“Leluhur,” lapor Alkemis Bai dengan suara tercekat. “Ini adalah racun Rumput Pengurai Meridian. Getahnya sangat langka dan hanya disimpan di lemari terkunci gudang farmasi luar…”

Mendengar laporan itu, pandangan Song Pojun langsung beralih ke arah Tetua Luar He.

Urat-urat darah di leher sang Leluhur menegang keras. Tekanan spiritual yang luar biasa berat seketika menghantam punggung Tetua Luar He, membuat pria gemuk itu terjerembap mencium lantai batu kapur.

KRAK!

Dua ubin pualam di bawah dada Tetua Luar He retak hancur.

“He Shan,” desis Song Pojun dengan nada rendah yang membuat seluruh tetua inti menahan napas. “Siapa yang memberimu racun itu untuk menyusup ke cawan teh tamu agungku?”

Tetua Luar He menjerit histeris, air mata dan ingus mengotori wajahnya yang penuh lemak.

“L-Leluhur! Hamba tidak tahu apa-apa!” ratap Tetua Luar He dengan suara melengking panik. “Hamba hanya mengurus distribusi bahan mentah! Mungkin… mungkin para pelayan rendahan yang bersekongkol dengan mata-mata sekte musuh—”

“Masih berani menggonggong dusta di depanku?!” potong Song Pojun.

Alkemis Bai melangkah maju, lalu mengibaskan lengan baju Tetua Luar He dengan ujung tongkat kayu. Dari sela lipatan kantong jubah Tetua Luar He, sebutir bubuk hijau tua berbau belerang berhamburan ke lantai.

Bukti itu terhampar telak di depan mata.

Tetua Luar He membelalak ngeri. Menyadari kematian sudah berdiri di depan hidungnya, pria gemuk itu merayap maju hendak membuka mulut menyebut nama orang yang memerintahkannya:

“Patriark! Tolong hamba! Ini adalah pesanan Tuan Muda Song M—”

Ucapan itu tidak akan pernah selesai.

Song Pojun tidak butuh pengakuan panjang, dan ia tidak peduli pada proses persidangan dewan hukum. Baginya, siapa pun yang mendekatkan racun ke leher Gu Ran adalah ancaman pembunuh bagi dirinya sendiri.

Lengan kanan sang Leluhur terangkat ke udara.

Telapak tangan tuanya mengibaskan angin badai bermuatan energi pembunuh yang membelah udara pelataran.

BUMMM!

Sebuah cetakan telapak tangan raksasa tak kasat mata menghantam kepala Tetua Luar He dari atas dengan kecepatan kilat.

Dalam sekejap mata, kepala pejabat logistik luar itu meledak berkeping-keping di atas anak tangga pualam. Darah merah segar dan serpihan tulang putih menyembur ke segala arah, membasahi ujung jubah belasan staf dapur yang menjerit histeris ketakutan.

Tubuh tanpa kepala Tetua Luar He ambruk ke samping, mengejang dua kali di genangan darah sebelum akhirnya diam tak bernyawa.

Pelataran Puncak Utama kembali tenggelam dalam keheningan yang mencekam.

Song Pojun berdiri di puncak tangga dengan mata merah menyala menatap genangan darah di bawah kakinya. Napas orang tua itu tersengal berat saat ia menoleh perlahan ke arah Patriark Song Tianhe.

“Tianhe,” ucap Song Pojun dengan suara serak yang bergetar penuh amarah. “Bawa anak pembawa sialmu itu ke hadapanku sekarang juga.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!