Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Anya buru-buru menyelinap keluar saat Kenji terhalang pilar besar.
Kriet.
Dia menutup pintu kayu gelap itu sepelan mungkin lalu memasang kembali gembok peraknya.
Klak.
Anya langsung berlari masuk ke lorong kecil di sebelah kanan tepat sebelum Kenji sampai di depan pintu.
Wusss.
Anya menempelkan punggungnya di dinding lorong yang gelap sambil menahan napas.
Dia bisa mendengar suara gembok dibuka oleh Kenji.
Klak.
Lalu suara pintu kayu terbuka menyusul setelahnya.
Anya memejamkan matanya dan berdoa agar Kenji tidak menyadari ada orang lain yang baru saja masuk ke sana.
Setelah dirasa aman, Anya berlari mengendap-endap kembali ke kamarnya.
Bruk.
Anya menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Jantungnya masih berdebar sangat kencang seperti mau meledak.
"Jadi itu rahasia besar yang selama ini disembunyikan Kenji," gumam Anya di balik selimut.
Pria itu tidak menyekap monster, dia justru sedang melindungi ibunya dari monster yang sebenarnya.
Malam itu Anya tidak bisa tidur dengan tenang.
Bayangan wajah ibu Kenji dan ancaman mematikan dari Paman Haris terus berputar di kepalanya.
Keesokan paginya, Anya bangun dengan mata yang sedikit membengkak kurang tidur.
Dia sedang menyisir rambutnya di depan cermin saat pintu penghubung dari kamar Kenji terbuka.
Cklek.
Kenji melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang sudah rapi.
Namun ada yang berbeda dengan penampilan pria itu pagi ini.
Mata Kenji terlihat memerah dan terdapat lingkaran hitam di bawahnya.
Pria itu pasti juga tidak tidur semalaman.
"Kau terlihat buruk hari ini, Anya," ucap Kenji langsung pada intinya.
"Kau sendiri juga terlihat seperti zombie," balas Anya tanpa ragu.
Kenji mendengus pelan mendengar balasan yang cukup berani dari tunangan palsunya itu.
Pria itu berjalan mendekati meja rias dan bersandar di sana sambil menatap Anya dari cermin.
"Minggu depan adalah acara puncak perayaan ulang tahun klan Bratadikara yang ke lima puluh."
"Seluruh tetua klan dan pemimpin cabang dari luar kota akan datang ke rumah ini."
Anya menghentikan gerakan sisirnya dan menatap pantulan Kenji di cermin.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Anya serius.
"Itu adalah malam di mana aku akan meresmikan posisiku sebagai ketua klan yang absolut."
"Dan itu juga berarti malam di mana Paman Haris akan mengerahkan semua kekuatannya untuk membunuhku."
Kenji menatap lurus ke dalam mata Anya melalui cermin besar itu.
"Kau akan menjadi target utamanya untuk mengacaukan konsentrasiku, Anya."
"Aku tahu, dia sudah mencobanya lewat bubur beracun kemarin," jawab Anya tenang.
Kenji membalikkan badannya dan menatap Anya secara langsung sekarang.
"Aku akan menyiapkan tiket pesawat dan paspor baru untukmu."
"Saat acara puncak dimulai, asistenku akan membawamu kabur dari rumah ini menuju bandara."
Anya melebarkan kedua matanya karena terkejut mendengar rencana pelarian itu.
"Kabur?" ulang Anya tidak percaya.
"Kenapa aku harus kabur?"
"Karena kontrak kita sudah tidak relevan lagi, situasinya sudah terlalu berbahaya untuk orang luar sepertimu."
Kenji mengusap wajahnya dengan kasar terlihat sangat lelah.
"Aku sudah menganggap lunas semua utang ayahmu."
"Kau bebas pergi dan memulai hidup baru jauh dari dunia berdarah ini."
Anya terdiam membisu mendengar tawaran kebebasan dari Kenji.
Ini adalah hal yang sangat dia inginkan sejak hari pertama dia dibawa ke tempat kumuh penagih utang itu.
Bebas dari utang dan bebas dari ancaman kematian.
Tapi entah kenapa, hatinya justru terasa menolak tawaran menggiurkan tersebut.
Bayangan ibu Kenji yang memohon padanya semalam kembali melintas di benaknya.
"Tolong jaga putraku, Nona Anya, dia sebenarnya adalah anak yang berhati lembut."
Anya menatap wajah lelah Kenji.
Pria ini sendirian melawan keluarganya sendiri yang kejam.
Jika Anya pergi, Kenji tidak akan punya siapa-siapa lagi di sisinya.
[Peringatan: Keputusan krusial untuk alur cerita.]
[Opsi 1: Terima tiketnya dan kabur menyelamatkan diri.]
[Opsi 2: Tolak tawarannya dan bertarung bersama Kenji sampai akhir.]
Anya tidak ragu sedikit pun saat mengabaikan opsi pertama.
Anya berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati Kenji.
"Aku tidak mau pergi," ucap Anya dengan suara yang sangat mantap dan jelas.
Kenji mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini.
"Kau bodoh ya?" bentak Kenji sedikit meninggikan suaranya.
"Aku bilang kau bisa mati jika tetap berada di sini minggu depan!"
"Aku tidak peduli," balas Anya sama kerasnya.
Anya menatap lurus ke mata tajam pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku sudah menandatangani kontrak enam bulan denganmu."
"Dan aku bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab hanya karena sedikit ketakutan."
Kenji terdiam seribu bahasa mendengar penolakan keras kepala tersebut.
Dia bisa melihat tekad yang sangat kuat menyala di kedua bola mata gadis itu.
"Lagipula, kau bilang aku adalah tamengmu."
Anya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus.
"Jika tamengnya kabur, siapa yang akan melindungimu dari serangan Paman Haris dari belakang?"
Kenji menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.
Pria itu menyerah untuk berdebat dengan gadis keras kepala ini.
"Kau benar-benar wanita paling gila yang pernah aku temui, Anya."
Kenji mengangkat tangan kanannya dan mengusap pipi Anya dengan ibu jarinya secara perlahan.
Sentuhan itu terasa sangat hangat dan lembut di kulit Anya.
"Baiklah, jika itu maumu."
"Tapi aku bersumpah dengan nyawaku sendiri, aku tidak akan membiarkan sehelai pun rambutmu disentuh oleh mereka."
Jantung Anya berdebar kencang mendengar sumpah yang diucapkan dengan sangat serius itu.
[Pemberitahuan Sistem: Anda telah membuka rute romansa sejati dengan Target Kenji.]
Anya tersenyum dalam hati membaca notifikasi tersebut.
"Aku pegang sumpahmu itu, Tuan Muda," balas Anya pelan.
Mulai hari ini, Anya bukan lagi sekadar sandera utang atau tunangan palsu.
Dia secara sukarela memilih untuk berdiri di sisi pria ini dan melawan seluruh dunia mafia bersamanya.
Perayaan ulang tahun klan minggu depan akan menjadi medan perang yang sesungguhnya.
Dan Anya sudah siap untuk itu.