Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : BENCANA REPUTASI

Namun, eksperimen sosial yang digagas oleh kepolosannya itu justru bertransformasi menjadi bencana reputasi yang luar biasa.

Hubungan pertamanya terjadi dengan seorang pria dari divisi IT bernama Aris. Hubungan itu hanya bertahan tepat tujuh hari. Aris akhirnya menyerah dan meminta putus karena frustrasi berat.

Pria itu mengeluh bahwa Raisha tidak pernah membalas pesan singkatnya dengan emotikon romantis, selalu membalas pesan lima jam sekali dengan jawaban seadanya seperti 'oh gitu' atau 'ya sudah', dan sering lupa mengabari saat akhir pekan tiba karena Raisha lebih memilih tidur seharian atau membaca buku.

"Kamu tuh sebenarnya pacaran sama aku atau cuma kasihan sih, Ra?" protes Aris malam itu saat mereka duduk di sebuah kedai kopi. Wajah Aris tampak sangat terluka.

"Aku ngerasa berjuang sendirian. Kamu nggak pernah nyariin aku kalau aku hilang seharian!"

Raisha yang mendengar omelan itu hanya menatap Aris dengan mata jernihnya yang polos. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada keinginan untuk membela diri.

"Oh... gitu ya? Yaudah kalau kamu ngerasa gak nyaman, kita selesai aja. Maaf ya."

Aris melongo melihat betapa santainya Raisha menerima kata putus itu, seolah-olah mereka baru saja membatalkan pesanan makanan, bukan mengakhiri sebuah hubungan.

Hubungan keduanya tidak jauh lebih baik. Dengan seorang kawan lama kampus yang kembali mendekatinya, hubungan itu hanya bertahan dua minggu.

Pria itu menyudahi hubungan karena merasa terintimidasi dan diabaikan. Ketika sang pria mencoba bersikap romantis dengan menggenggam tangannya saat menonton film di bioskop, Raisha bukannya tersipu malu, melainkan malah bertanya dengan nada datar apakah tangan pria itu sedang kram karena terasa begitu berkeringat.

Hubungan terlamanya hanya berhasil menyentuh angka dua bulan. Itu pun terjadi semata-mata karena sang pria adalah seorang pengusaha muda yang sangat sibuk, sehingga butuh waktu delapan minggu bagi pria itu untuk menyadari bahwa pacarnya sama sekali tidak pernah merindukannya, tidak pernah cemburu saat dia pergi bersama teman wanitanya, dan tidak pernah memikirkannya saat mereka sedang tidak berdua.

Dan pola dari berakhirnya setiap hubungan itu selalu identik.

Saat para pria itu mengucapkan kata putus dengan raut wajah penuh emosi, kekecewaan mendalam, atau bahkan kemarahan yang meluap-luap, Raisha hanya akan merapikan tasnya, menyeduh minumannya, mengangguk sopan, lalu berkata dengan nada tenang,

"Oke, makasih ya buat waktunya selama ini. Semoga kamu nemuin yang lebih cocok."

Tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Tidak ada fase galau berhari-hari di mana dia mengurung diri di kamar. Tidak ada daftar lagu sedih yang diputar berulang-ulang di Spotify miliknya.

Begitu kata putus diucapkan, detik itu juga Raisha kembali menjalani rutinitas harian dengan normal seolah keberadaan pria itu sebelumnya hanyalah sebuah angin lalu yang menumpang lewat.

Bagi Raisha, kepasrahan dan ketenangannya saat berpisah adalah bentuk penerimaan atas ketidakmampuannya merasakan cinta. Dia tahu dirinya bersalah karena tidak bisa memberikan perasaan yang dicari pria-pria itu, jadi dia merasa tidak berhak untuk berpura-pura sedih saat mereka memilih pergi.

Namun bagi lingkungan sosial di sekitarnya yang hanya melihat dari luar, sikap tenang tanpa beban itu diartikan sebagai bentuk kekejaman tertinggi dari seorang wanita.

Dalam waktu singkat, narasi tentang sosok Raisha di kantor berbalik seratus delapan puluh derajat. Label "gadis cuek yang lugu" runtuh seketika, berganti menjadi sebuah stempel baru yang mengerikan.

"Eh, lu jangan coba-coba dekat sama si Raisha anak operasional itu ya," bisik seorang staf senior wanita di area pantry pada suatu siang. Suaranya terdengar cukup keras, menembus dinding sekat pantry tepat saat Raisha sedang berjalan mendekati pintu membawa cangkir keramiknya yang kosong.

"Kenapa emangnya, Mbak? Kelihatannya dia pendiam dan polos gitu kok," sahut suara staf lain yang lebih muda.

Tawa miring yang dingin terdengar menyusul. "Polos dari mananya? Kelihatannya aja lempeng dan lugu, tapi aslinya dia itu playgirl parah! Hobi banget gonta-ganti cowok. Kemarin anak IT diputusin gitu aja baru seminggu, terus nggak lama jadian sama anak pengusaha, diputusin lagi dua bulan kemudian. Yang gila tuh, tiap kali putus, mukanya lempeng banget tanpa rasa bersalah sedikit pun! Kayak cowok-cowok itu cuma mainan yang dibuang kalau dia udah bosan. Hatinya dingin banget, kayak gak punya perasaan!"

Raisha berdiri bergeming di balik pintu besi pantry yang terbuka sedikit. Jemarinya meremas gagang cangkir keramik yang dingin.

Dia tidak mendobrak pintu itu untuk membela diri. Dia juga tidak menangis atau merasa tersinggung oleh tuduhan kejam tersebut. Raisha hanya menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang teramat getir dan penuh keputusasaan.

Orang-orang di luar sana memanggilnya playgirl, sebuah julukan keren namun sinis yang biasanya disematkan untuk wanita mahir yang suka mempermainkan dan meremukkan hati para pria. Padahal kenyataan pahitnya justru bertolak belakang dan jauh lebih tragis dari itu:

Raisha bukannya mahir mempermainkan perasaan pria. Dia hanyalah seorang gadis naif yang hatinya mati rasa, terperangkap dalam ketidakmampuan alami untuk mencintai siapa pun di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!