Indonesia
NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - PENGUMUMAN DI GERBANG

Lin membuka toko sebelum matahari mencapai puncak atap. Ia menyapu ambang, memeriksa palang, lalu menulis waktu pada buku kecil. Hari keempat uji tinggal dimulai tanpa kejadian. Tidak ada kiriman salah alamat, dan para pembeli datang setelah Mo membuka pintu sepenuhnya.

Menjelang tengah hari, Mo menyerahkan secarik kuitansi kepada Lin. “Bawa ini ke meja asosiasi alkemis. Mereka mencatat pengembalian wadah untuk pesanan kemarin. Jangan serahkan kotak uang.”

“Baik.”

Mo menunjuk baris nama penerima. “Pastikan petugas memberi tanda pada kuitansi ini. Aku perlu menyimpan salinannya.”

Lin menyelipkan kertas itu ke dalam buku catatan. Ia berjalan melewati pasar, menghindari gerobak dan para pedagang yang memanggil pembeli. Di dekat gerbang alchemy association, beberapa orang berkumpul di depan papan pengumuman yang biasanya hanya berisi jadwal pemeriksaan pil dan nama anggota baru.

Satu lembar kertas merah baru ditempelkan pada papan. Lambang Azure Flame Sect terlihat di bagian atas. Lin berhenti untuk membaca.

Cabang sekte akan membuka pemeriksaan bakat kultivasi bagi pemuda kota dan desa sekitar pada pagi hari dua hari lagi. Pemeriksaan itu terbuka bagi orang berusia enam belas sampai sembilan belas tahun yang belum terdaftar sebagai murid. Peserta harus menyebutkan nama dan tempat asal, membayar biaya pemeriksaan dua keping tembaga, lalu mengikuti arahan petugas. Hasil pemeriksaan lama tidak melarang seseorang ikut kembali, tetapi hasil baru tidak menjamin penerimaan sebagai murid.

Lin membaca pengumuman itu sekali lagi. Tanggalnya jelas. Ia tidak perlu menebak apakah kesempatan tersebut sekadar rumor atau jadwal yang belum pasti.

Seorang lelaki berpakaian penjaga sekte berdiri di dekat papan, menjawab pertanyaan. Lin menunggu sampai dua orang selesai bertanya.

Ia mengingat anak-anak yang berdiri berbaris di desa, suara orang dewasa yang menunggu, dan rasa malu ketika namanya disebut biasa. Ingatan itu tidak menjelaskan alat atau angka, tetapi perasaan tertinggal masih melekat pada tubuh ini. Lin mengatur napas dan mengingat bahwa pemeriksaan nanti mengukur keadaan, bukan nilai dirinya sebagai manusia. “Pemeriksaan ini akan mengukur apa?” katanya.

“Resonansi spiritual dasar dan kecenderungan unsur. Bukan tingkat kultivasi, bukan kekuatan tubuh, dan bukan ujian masuk lengkap.”

“Kalau hasil lama saya disebut biasa, apakah saya tetap boleh ikut?”

“Pengumuman sudah menyebutkan: pemeriksaan lama tidak melarang pendaftaran ulang. Tapi jangan datang dengan anggapan hasilnya pasti berubah.”

Lin mengangguk. “Apakah saya harus membawa catatan pemeriksaan terdahulu?”

“Kalau punya, boleh dibawa. Kalau tidak, sebutkan tempat asal dan siapa yang memeriksa, sejauh yang kau ingat.”

Ia tidak punya nama utusan yang datang ke Sungai Abu, juga tidak tahu apakah orang itu masih hidup. Ia hanya mengingat bahwa pemeriksaan terjadi ketika ia masih kecil dan hasilnya disebut biasa. Kali ini ia akan memperoleh keterangan yang lebih spesifik, walau belum tentu membuka jalan ke sekte.

“Pendaftaran dilakukan sekarang?”

“Di meja samping gerbang sampai sore besok. Biayanya dua keping. Jika tidak datang pada hari pemeriksaan, biaya tidak dikembalikan.”

Lin melihat dua keping uang di kantongnya. Ia punya empat sebelum menerima upah hari ini. Biaya itu akan mengurangi simpanannya, tetapi ia tidak perlu meminjam atau menunda sampai pengumuman berikutnya. Ia mengucapkan terima kasih, menyerahkan kuitansi ke asosiasi, lalu kembali ke toko.

Mo memeriksa tanda terima yang telah dicap. “Kau terlambat sedikit.”

“Maaf. Ada pengumuman baru di gerbang sekte.” Lin membuka catatan dan menunjukkan salinan tanggal yang ia tulis. “Mereka mengadakan pemeriksaan bakat dua hari lagi. Usia saya masuk. Biaya dua keping.”

Mo membaca catatan itu, bukan pengumumannya. “Kau yakin ini tes yang kau cari?”

“Mereka akan mengukur resonansi spiritual dasar dan kecenderungan unsur. Katanya bukan tingkat kultivasi atau ujian penerimaan lengkap.”

“Setidaknya kau tahu batasnya sebelum membayar.”

“Saya ingin mendaftar.”

“Kalau begitu, lakukan setelah menimbang biayanya. Jangan menyangka hasilnya akan berbeda hanya karena kau sekarang merasa seperti orang lain.”

Lin terdiam. Mo tidak mengatakan jiwa baru Lin dapat mengubah hasil, dan ia juga tak menolaknya. Ia mengingat batas yang telah ia tulis sendiri: tidak ada bukti bahwa tubuh berubah. Namun ia tetap ingin melihat hasil dengan istilah yang lebih jelas daripada kata biasa.

“Saya tidak berharap hasilnya berubah,” katanya. “Saya hanya ingin tahu apa yang diukur.”

“Alasan yang masuk akal.” Mo mengembalikan kuitansi ke buku toko. “Hari pemeriksaan buka saat fajar. Kalau kau bisa kembali sebelum toko ramai, aku akan membuka pintu sendiri. Tapi upahmu hari itu bergantung pada jam kerja yang kau selesaikan.”

Lin mengangguk. “Saya bisa mengganti waktu setelahnya.”

“Jangan berjanji kalau belum tahu berapa lama pemeriksaan berlangsung. Tanyakan batas waktunya saat mendaftar.”

Sore itu, setelah menyelesaikan penimbangan bahan, Lin kembali ke gerbang cabang sekte. Ia menunggu giliran dan menyebut nama lengkap serta desa asalnya. Petugas menulis keterangan itu pada daftar, menerima dua keping tembaga, lalu memberikan tanda kayu kecil dengan nomor peserta.

“Datang sebelum matahari terbit,” katanya. “Jangan membawa barang yang tidak diperlukan. Pemeriksaan berlangsung satu per satu. Hasil dicatat pada lembar pribadi; kalau lulus persyaratan dasar untuk pertimbangan penerimaan, kami memberi keterangan tambahan.”

“Kalau tidak?”

“Kau tetap mendapat hasil resonansimu. Tidak semua orang yang ikut pemeriksaan menjadi murid.”

Lin memasukkan tanda kayu ke kantong. Nomornya sederhana, tanpa tulisan istimewa. Ia memastikan angka itu sama dengan yang tertulis di daftar sebelum pergi.

Saat kembali ke toko, Mo sedang memeriksa sampel daun yang dikeringkan. Ia tidak menanyakan apakah Lin membayar. Lin meletakkan tanda kayu di meja dan menyebut bahwa ia sudah mendaftar.

“Berapa uangmu tersisa?”

“Dua keping dari tabungan, lalu upah hari ini satu keping. Jadi tiga.”

Mo mengangguk. “Pastikan tanda itu tidak hilang. Kalau hilang, mereka mungkin tidak menemukan namamu.”

Lin menyimpan tanda kayu itu bersama catatan pribadi, tetapi tidak menempelkannya pada halaman yang bisa robek. Ia mencatat nomor peserta dan waktu kedatangan yang diminta. Di sampingnya, ia menulis: “Pemeriksaan mengukur resonansi spiritual dan kecenderungan unsur. Bukan penerimaan murid.”

Ia juga menambahkan kalimat yang lebih pribadi: “Pemeriksaan masa kecil disebut biasa. Hasil berikutnya belum diketahui.”

Malamnya, ia makan di belakang toko dan menyimpan tiga keping uangnya. Sebagian simpanan memang berkurang, tetapi sekarang ia memiliki jadwal dan nomor untuk pemeriksaan yang resmi. Dua hari lagi, seseorang akan menguji tubuh ini dengan alat yang tidak pernah muncul dalam catatan gamenya.

Lin berbaring di loteng dan mencoba membayangkan seperti apa rasanya merasakan resonansi spiritual. Ia berhenti sebelum membangun jawaban yang tidak ia miliki. Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu mempunyai waktu dan tempat yang jelas.

Ia akan datang saat fajar. Lalu ia akan mencatat hasilnya, apa pun bunyinya.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!