Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11_Kemenangan Beracun

BAB 11_Kemenangan Beracun

Pengawas ujian meletakkan bundel kertas soal di atas meja kayu dengan ketukan garing. Suasana di dalam ruang ujian seleksi Olimpiade mendadak hening menekan. Hanya ada sepuluh murid terpilih dari berbagai jenjang yang duduk saling berjauhan, dan di barisan paling belakang, Teo Ozawa duduk dengan posisi tegak penuh keangkuhan. Tatapan matanya yang tajam menancap lurus ke arah Lea yang duduk tiga baris di depannya.

Teo tersenyum miring. Ia tahu persis materi soal di depannya berisi kombinasi analisis hukum internasional dan kalkulasi fisika terapan tingkat tinggi. Bagi Teo, ini adalah jalur cepat untuk mempermalukan Alia di depan seluruh sekolah dan mematahkan harga dirinya sampai berkeping-keping.

Namun, di kursinya, Lea justru menyilangkan kaki dengan sangat santai.

`"Pengawasan dimulai. Waktu kalian sembilan puluh menit dari sekarang. Silakan buka lembar soal,"` perintah guru pengawas seraya mengaktifkan stopwatch di meja depan.

`Sret.`

Lea membuka lembar soal pertamanya. Matanya mengimbas deretan rumus fisika kuantum dan pasal-pasal hukum yang terlihat seperti cakar ayam baginya. Kepala Lea sejujurnya mulai terasa pening memikirkan betapa membosankannya tulisan-tulisan itu. Tapi Lea bukan anak polos yang gampang panik. Ia hanya perlu mengarahkan kamera kancing baju di blazernya tepat ke arah lembar kertas soal.

Hanya butuh waktu tiga detik sebelum suara Liam memecahkan keheningan di telinga kanannya melalui earpiece rahasia.

`"Soal nomor satu... analisis hukum perjanjian internasional bab tiga. Jawabannya opsi C. Alasan hukumnya adalah pasal 14 ayat dua. Tuliskan rumus pembuktiannya di lembar koretan supaya pengawas tidak curiga, sayang."`

Sudut bibir Lea terangkat sangat tipis. Ia memegang penanya, berpura-pura mengetuk-ngetukkan keningnya dengan raut wajah berpikir keras—sebuah akting sempurna anak berotak encer yang sedang mengingat teori—sebelum jemari cantiknya menari lincah menuliskan jawaban A sampai Z dengan sangat rapi.

Di barisan belakang, Teo sesekali melirik Lea. Alis Teo bertaut makin dalam saat melihat betapa cepatnya jemari Lea menggoreskan pena di atas kertas. `Tidak mungkin`, batin Teo resah. `Soal nomor empat itu butuh analisis setidaknya lima belas menit. Kenapa dia bisa menyelesaikannya dalam dua menit?!`

`"Soal nomor lima belas... kalkulasi medan magnetik terapan,"` bisik Liam lagi dari Melbourne, diselingi suara ketikan papan ketik yang sibuk. `"Jawabannya 4,8 x 10 pangkat minus enam Joule. Tuliskan langkah penurunannya, Lea. Jangan langsung tembak jawaban akhir."`

`"Hmm..."` Lea bergumam sangat pelan, berpura-pura mengusap lehernya seraya miring sedikit agar kameranya menangkap soal nomor berikutnya.

`"Bagus, sayang. Soal nomor enam belas jawabannya D..."`

Selama delapan puluh menit penuh, ruang ujian menjadi arena pertunjukan akting Lea. Ketika siswa-siswi lain di ruangan itu mulai berkeringat dingin dan mengacak rambut frustrasi karena rumitnya soal, Lea justru menguap kecil dengan gaya anggunnya. Ia bahkan sempat merapikan kuku tangannya sebelum menyandarkan punggung ke kursi, menunggu waktu habis dengan tenang.

Di sebelahnya, Teo baru saja menyelesaikan nomor terakhirnya dengan napas sedikit memburu. Dahi pria itu dibasahi keringat tipis. Ia menatap Lea dengan tatapan tidak percaya yang bercampur amarah. `Dia pasti cuma mengisi asal-asalan`, hibur Teo dalam hatinya, berusaha mempertahankan egonya. `Gadis beasiswa itu pasti cuma menggertak!`

`Teeet!`

Bel tanda ujian berakhir bergema nyaring. Pengawas ujian mengumpulkan seluruh lembar jawaban dan langsung memasukkannya ke dalam sistem pemindai komputer sekolah untuk mendapatkan hasil skor otomatis secara real-time.

`"Hasil seleksi langsung keluar dalam lima menit di papan pengumuman digital aula utama,"` pengumuman dari pengawas membubarkan ruangan.

Murid-murid berhamburan keluar dengan wajah lesu. Teo berdiri dari kursinya, melangkah cepat menghampiri Lea dan memotong jalur jalannya di depan pintu.

`"Kamu mengisi semua soal itu dengan asal-asalan, kan?"` desis Teo dingin, menatap Lea dari atas ke bawah. `"Jangan berpura-pura tenang, Alia. Aku tahu kamu cuma asal silang jawaban demi menutupi ketakutanmu."`

Lea menghentikan langkahnya, mendongak menatap Teo dengan pandangan penuh rasa kasihan yang sangat mengejek.

`"Kenapa? Kamu takut, Tuan Muda?"` goda Lea halus. `"Seharusnya kamu khawatir pada kemampuan otakmu sendiri daripada memikirkan jawabanku."`

`"Jaga mulutmu!"` bentak Teo, matanya menyala murka. `"Kita lihat di aula sekarang!"`

Aula utama Ozawa School sudah dipadati oleh puluhan murid dari berbagai kelas. Berita tentang taruhan terbuka antara Teo Ozawa dan 'Alia' sudah menyebar luas ke seluruh penjuru sekolah seperti api menyambar jerami. Reno dan Bagas berdiri di barisan terdepan dengan senyum cengengesan, siap merekam momen kejatuhan Alia untuk dijadikan bahan perundungan baru.

`"Lihat tuh, si Alia beneran berani datang!"`

`"Palingan nilainya hancur. Mana ada yang bisa ngalahin Kak Teo di olimpiade?"`

`"Siap-siap aja ntar sore liat dia berlutut nyembah Kak Teo di depan aula, wkwkwk!"`

Teo melangkah ke tengah aula dengan gaya bak penguasa tunggal. Lea menyusul di belakangnya, berdiri dengan keanggunan yang tidak tergoyahkan.

`Bzzzt!`

Layar proyektor raksasa di dinding aula menyala. Kepala sekolah dan tim pengawas berjalan ke panggung, menggeser tampilan papan peringkat nilai seleksi Olimpiade.

`"Berikut adalah hasil pemindaian nilai otomatis untuk perwakilan Olimpiade Sains dan Hukum,"` suara kepala sekolah terdengar keras melalui pengeras suara.

Grafik nilai teratas mulai muncul di layar.

`PERINGKAT 2: TEO OZAWA — SKOR: 92/100`

Sorak-sorai anak-anak geng Teo langsung pecah di aula. Reno bertepuk tangan heboh. `"Tuh kan! 92! Kak Teo emang gak ada tandingannya! Mampus kau Alia!"`

Teo menyunggingkan senyum kemenangan paling sombong. Ia membalikkan badan, menatap Lea dengan pandangan menghina. `"Lututmu sudah siap, Alia? Kamu mau berlutut sekarang atau—"`

Ucapan Teo terhenti seketika saat gemuruh bisikan kaget mendadak melingkupi seluruh ruangan aula. Senyuman di wajah Teo membeku saat melihat mata Reno dan Bagas mendadak membelalak lebar seperti mau melompat keluar.

Teo memutar kepalanya perlahan, menatap lurus ke layar proyektor raksasa.

Di barisan paling atas, nama yang tertera di peringkat pertama membakar pandangan matanya.

`PERINGKAT 1: ALIA ANGGITA — SKOR: 98/100`

Suasana aula mendadak berubah menjadi sepi seperti kuburan. Tidak ada satu pun murid yang berani bersuara. Skor 98 dari 100—sebuah angka fantastis yang hampir mustahil dicapai dalam ujian tingkat rumit tersebut.

`"T-tidak mungkin..."` bisik Teo, wajah tampannya mendadak pucat pasi. Seluruh egonya hancur berkeping-keping dalam satu detik. `"Ini pasti salah! Sistemnya pasti rusak! Dia tidak mungkin dapat 98!!"`

Di tengah syok berat yang melanda Teo dan seluruh sekolah, Lea melangkah maju dengan santai. Sepatu haknya berketuk nyaring di atas lantai aula yang hening.

Di dalam telinganya, suara Liam kembali berbisik riang: `"Skor 98, sayang! Satu kesalahan sengaja kubuat supaya tidak terlalu mencurigakan. Kinerjaku bagus, kan? Mana hadiahku?"`

`"Nanti malam ya, sayang,"` bisik Lea sangat pelan pada earpiece-nya tanpa ada yang mendengar.

Lea berhenti tepat di hadapan Teo yang masih mematung menatap layar dengan mata memerah. Lea menunduk sedikit, menyetarakan pandangannya dengan Teo yang shock, lalu menyunggingkan senyum kemenangan paling manis namun beracun.

Lea mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk pipi Teo pelan—sebuah tindakan penghinaan paling telak di depan seluruh murid Ozawa School.

`"Aduh, Tuan Muda... sepertinya otakmu tidak sehebat kesombonganmu,"` bisik Lea dengan nada suara yang begitu renyah. Lea lalu mundur satu langkah dan merapikan rok seragamnya.

`"Sesuai taruhan kita..."` Lea memiringkan kepalanya, menatap Teo dengan pandangan superioritas mutlak. `"Ambilkan tas sekolahku di kelas, lalu bawakan ke sini. Mulai hari ini... kamu adalah pelayanku, Teo Ozawa."`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!