Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Seni Menyembunyikan Diri
Srek srek srek.
Suara pisau bergesekan dengan talenan kayu terdengar berirama di dapur apartemen mewah tersebut.
Jiang Ming sedang mengiris tipis sisa akar ginseng raksasa hasil panen gaibnya pagi ini.
Pisau baja tahan karat itu terasa agak tumpul saat memotong serat akar yang sangat padat dan keras.
"Bahkan serat tanamannya saja sekeras kayu jati, wajar saja jika energinya sangat meledak-ledak," gumam Jiang Ming.
Dia meletakkan irisan tipis itu ke atas loyang dan memasukkannya ke dalam oven listrik.
Suhu diatur pada tingkat rendah agar kandungan nutrisi herbalnya tidak rusak oleh panas buatan.
Sambil menunggu, Jiang Ming menyeduh teh hijau murahan yang dia beli di minimarket bawah apartemen.
Ting.
Suara bel oven berbunyi nyaring menandakan proses pengeringan telah selesai.
Jiang Ming mengeluarkan loyang itu dan menumbuk irisan ginseng kering tersebut menggunakan cobek batu kecil.
Bubuk halus berwarna keemasan kini tersaji di depannya, memancarkan aroma tanah yang sangat menenangkan.
Dia mengambil sejumput kecil bubuk itu dan menaburkannya ke dalam cangkir teh hijaunya.
Warna teh yang tadinya bening kehijauan langsung berubah menjadi sedikit pekat dan beraroma sangat kuat.
Jiang Ming meniup uap panasnya perlahan lalu menyesap teh racikannya itu sedikit demi sedikit.
Gluk.
Rasa hangat yang lembut mengalir menyusuri kerongkongannya menuju ke perut.
Kali ini tidak ada ledakan energi yang menyakitkan atau lonjakan suhu tubuh yang ekstrem.
Hanya ada rasa segar luar biasa yang membuat matanya terbuka lebar dan otot-ototnya terasa sangat rileks.
"Sempurna. Kadar energinya sudah menurun drastis dan sangat aman untuk dikonsumsi manusia berpenyakit," ucap Jiang Ming tersenyum puas.
Dia mengemas sisa bubuk itu ke dalam sebuah toples kaca kecil dan menyimpannya di rak bumbu.
Produk andalan pertama untuk Perusahaan Alam Hijau sudah siap dipasarkan kapan saja.
Jiang Ming melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang.
Sudah waktunya dia pergi ke Galeri Bintang Langit untuk menghadapi ujian dari para elit dunia seni.
Setengah jam kemudian, taksi yang ditumpanginya berhenti di depan bangunan megah galeri tersebut.
Jiang Ming merapikan kemejanya yang sangat biasa dan melangkah masuk dengan santai.
Asisten kurator baru yang menggantikan pria sombong tempo hari langsung menyambutnya dengan senyum hormat.
"Selamat siang, Tuan Jiang. Nona Su dan tamunya sudah menunggu di ruang VIP lantai dua," sapa asisten wanita itu dengan ramah.
"Terima kasih atas informasinya," jawab Jiang Ming singkat.
Dia menaiki tangga spiral dan langsung mendorong pintu ruang VIP tanpa banyak basa-basi.
Kriet.
Di dalam ruangan itu, Su Qingxue sedang duduk mendampingi seorang pria tua berambut putih.
Pria tua itu mengenakan setelan jas tradisional Tiongkok berwarna biru gelap yang terlihat sangat mahal.
Wajah keriputnya memancarkan aura arogansi dan wibawa dari seseorang yang terbiasa dihormati.
"Kau sudah datang, Jiang Ming. Silakan duduk," sapa Su Qingxue dengan nada datarnya yang khas.
Jiang Ming menarik kursi di seberang mereka dan duduk bersandar dengan posisi yang sangat santai.
"Perkenalkan, ini adalah Master Liu Tua, salah satu dewan penasihat tertinggi dari Asosiasi Seni Nasional," ucap Su Qingxue membuka jalan.
Master Liu menatap Jiang Ming dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Jadi kau perantara dari seniman misterius bernama Wu Ming itu, anak muda?" tanya Master Liu dengan suara berat yang menekan.
"Benar, Master Liu. Ada urusan apa Asosiasi Seni Nasional mencari guruku?" jawab Jiang Ming tanpa sedikit pun rasa gugup.
Master Liu mendengus pelan mendengar nada bicara Jiang Ming yang terlalu santai untuk ukuran pemuda biasa.
"Asosiasi kami telah meneliti foto dari lukisan Puncak Tiga Alam dan lukisan naga hitam milik Ketua Zhao."
"Teknik sapuan kuas dan percampuran warnanya sangat mustahil dilakukan oleh seniman modern zaman sekarang," tuduh Master Liu terang-terangan.
Jiang Ming menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi mengejek.
"Hanya karena seniman di asosiasimu tidak mampu melakukannya, bukan berarti itu mustahil, kan?"
Brak.
Master Liu memukul meja kaca itu dengan telapak tangannya karena merasa sangat tersinggung.
Su Qingxue sedikit tersentak kaget, namun Jiang Ming sama sekali tidak berkedip menatap pria tua itu.
"Jaga mulutmu, anak muda! Asosiasi kami curiga bahwa lukisan itu adalah artefak kuno curian yang kalian klaim sebagai karya baru!" bentak Master Liu dengan wajah memerah.
"Atau lebih buruk lagi, itu adalah hasil karya dari puluhan pelukis bayaran yang kalian manipulasi untuk menipu pasar!"
Ini adalah masalah besar dari dunia fana.
Orang-orang normal tidak akan pernah bisa menerima fakta bahwa keajaiban itu nyata.
Mereka akan selalu mencari alasan logis yang paling buruk untuk menjatuhkan sesuatu yang tidak mereka pahami.
Jiang Ming mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap langsung ke dalam mata Master Liu.
"Master Liu, kau menyebut dirimu sebagai dewan penasihat tertinggi, tapi pengetahuanmu ternyata sangat dangkal."
"Coba katakan padaku, bagaimana cara menyatukan warna hitam legam minyak dengan bubuk emas tanpa membuat warnanya menjadi pudar atau kusam?" tanya Jiang Ming menguji.