Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.
Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—
*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*
Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.
Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**
Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:
*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*
Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**
Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.
Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**
Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**
Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:
*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*
Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.
——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
KTP Milik Sendiri
“Tulisanmu tajam. Kenapa baru melamar sekarang?”
Kirana Wisatha menutup portofolio Laras di ruang wawancara Fortuna.
“Karena sebelumnya saya perlu bekerja yang menghasilkan uang lebih cepat.”
“Jawaban jujur.”
“Jawaban cantik tidak membayar sewa.”
Kirana tersenyum. Ia meminta Laras membedah satu artikel ekonomi. Laras menunjukkan data lemah, judul menyesatkan, dan suara pekerja perempuan yang tidak diwawancarai. Dua puluh menit kemudian, Kirana menawarkan posisi reporter kontrak.
“Gajinya tidak besar,” katanya.
“Tapi namanya milik saya.”
“Mulai Senin.”
“Tidak perlu tanya rekomendasi siapa?” Laras bertanya.
“Portofoliomu sampai lewat seorang teman, tapi keputusan ini punya saya.” Kirana membuka tulisan Laras tentang pekerja perempuan pasar tradisional. “Kamu membuat data ekonomi terasa punya wajah. Itu langka.”
“Temannya Naren?”
Kirana mengamati reaksinya. “Saya kenal Naren sejak lama. Dia cuma bilang ada penulis bagus yang terlalu lama membuang kemampuan. Tidak minta saya menerima.”
“Tetap saja dia ikut membuka pintu.”
“Semua orang masuk lewat pintu yang dibuka seseorang. Yang menentukan kamu bertahan adalah kerja.”
Kirana menyerahkan contoh tugas: menelusuri dampak kenaikan harga bahan pangan pada UMKM perempuan. Laras langsung menyebut tiga sumber data dan dua pasar yang bisa dikunjungi.
“Nah,” kata Kirana. “Itu alasan kamu diterima. Bukan karena Naren.”
Laras menerima kartu akses sementara. Di permukaannya tertulis REPORTER. Ia mengusap kata itu dengan ibu jari, jauh lebih lama daripada saat menerima kartu akses apartemen Galih.
Di lift, Laras memandangi surat penawaran. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pintu yang terbuka tidak dibelikan Galih atau dipaksa Naren. Ia lolos dengan pikirannya sendiri.
Ponselnya berbunyi. Naren bertanya hasil wawancara.
Diterima, balas Laras.
Bagus.
Hanya satu kata, tetapi balasan kedua datang: Aku tahu kamu bisa.
Laras menyimpan layar itu sebelum sempat tersenyum.
Sore hari, Fahmi menunggunya di lobi.
“Mbak Laras, ada dokumen yang harus diterima.”
Ia membawa Laras ke kantor kecamatan untuk memeriksa pembaruan domisili. Semua jalur resmi telah dilalui, hanya jadwalnya dipercepat lewat koneksi administratif Naren. Petugas mengambil foto, memeriksa biometrik, dan menyerahkan tanda terima KTP baru.
“Kenapa pindah domisili?” Laras bertanya.
“Baca map berikutnya,” kata Fahmi.
Di dalam amplop cokelat ada dokumen hak milik unit apartemen kecil dekat PIK. Nama pemegang hak tertulis jelas: Larasati. Nilai transaksi Rp650 juta.
Kunci jatuh dari sela kertas ke pangkuannya.
“Saya tidak pernah setuju.”
“Pak Naren meminta notaris memastikan hibah sah dan tanpa utang. Mbak tetap harus menandatangani penerimaan. Kalau menolak, proses berhenti.”
Setidaknya ia masih punya pilihan. Laras menelepon Naren.
“Apa maksudnya?”
“Namamu harus punya sesuatu sendiri. Biar tidak selalu menumpang nama orang.”
“Saya punya tanah Rumah Puspa.”
“Itu untuk yayasan.”
“Saya punya kontrakan.”
“Sewa.”
“Saya tidak butuh apartemen dari Anda.”
“Bukan untuk mengikatmu.”
“Semua pemberian Anda punya tali.”
Naren diam sejenak. “Kalau begitu potong talinya. Unit itu atas namamu, tidak bisa kutarik. Jadikan harta bawaanmu. Jual kalau benci.”
“Kenapa?”
“Karena kalau semua ini hancur, aku tidak mau kamu pulang ke kontrakan hanya dengan satu tas.”
Laras berhenti di trotoar. Itu pengakuan bahwa Naren memikirkan akhir mereka dan tetap ingin ia selamat sesudahnya.
“Anda sedang menyiapkan saya pergi?”
“Aku sedang memastikan kamu bisa pergi kalau mau.”
“Padahal Anda menyuruh saya putus dari Mas Galih.”
“Dua hal bisa benar sekaligus.”
“Anda ingin menguasai saya dan memberi jalan keluar.”
“Iya.”
Kejujuran itu menghilangkan amarah Laras tanpa memberi ketenangan.
Ia tetap meminta salinan akta, bukti pajak, dan surat pernyataan hibah. Kirana, yang ia hubungi sebagai orang netral, merekomendasikan pengacara properti untuk memeriksa. Setelah dipastikan tak ada klausul tersembunyi, Laras menandatangani penerimaan.
“Bukan karena saya menerima hubungan kita,” katanya kepada Naren lewat telepon.
“Aku tahu.”
“Bukan pengganti pekerjaan.”
“Aku tahu.”
“Dan saya yang menentukan apa yang dilakukan dengan unit ini.”
“Laras, itu arti namamu tertulis di sana.”
Malam menjelang ketika Fahmi mengantarnya ke bangunan apartemen. Unitnya kecil, jauh dari kemewahan Senopati Suites, tetapi cahaya sore masuk lebar melalui jendela. Tidak ada furnitur kecuali satu meja.
Laras memeriksa setiap sudut. Keran berfungsi, meter listrik aktif, sertifikat cocok dengan nomor unit. Balkon menghadap deretan rumah dan jalan ramai, bukan gedung-gedung kaca. Ia bisa membayangkan pulang dengan ojek, menaruh sepatu dekat pintu tanpa takut seseorang menemukannya, dan tidur tanpa ponsel di baki.
“Pak Naren memilih unit ini sendiri,” ujar Fahmi.
“Kenapa bukan unit mewah?”
“Katanya Mbak akan menolak kalau terlalu besar.”
“Dia benar.”
“Katanya juga tempat ini dekat jalur ke kantor Fortuna dan mudah dijual kembali.”
Jadi Naren tidak memilih berdasarkan selera sendiri. Ia menghitung kehidupan Laras, termasuk kemungkinan bahwa Laras akan menjual pemberiannya.
“Mas Fahmi, apakah dia melakukan ini kepada semua orang yang dia tekan?”
Fahmi menimbang jawaban. “Saya bekerja dengan Pak Naren delapan tahun. Beliau memberi bonus, rumah dinas, biaya pengobatan keluarga staf. Tapi baru kali ini saya melihat beliau memastikan sebuah pemberian bisa dipakai seseorang untuk meninggalkan beliau.”
“Itu tidak romantis.”
“Saya tidak bilang romantis.”
“Bagus.”
“Tapi mungkin itu cara beliau mengakui bahwa pilihan Mbak penting.”
Laras menatap balkon. “Dia perlu belajar mengatakannya sendiri.”
“Setuju.” Fahmi segera berdeham. “Maaf, saya terlalu banyak bicara.”
“Saya tidak akan lapor.”
Mereka tertawa kecil. Interaksi itu membuat Naren terasa bukan hanya kekuasaan besar, melainkan pria sulit yang sudah delapan tahun dipahami orang-orang di sekitarnya.
Laras menaruh surat penawaran kerja, KTP sementara, sertifikat, dan kunci di atas meja. Empat benda, empat bentuk identitas yang tidak bergantung pada panggilan sayang siapa pun.
Ia memotret semuanya, lalu mengirim foto kepada Nadia. Balasan datang berupa belasan tanda seru dan satu pesan: Cek pengacara, cek pajak, cek semua. Jangan meleleh dulu.
Laras menjawab: Sudah dicek. Belum meleleh.
Nadia: Kata belum mencurigakan.
Ia menelepon Eyang Sri.
“Yang, aku dapat kerja.”
“Alhamdulillah, Nduk. Eyang bilang juga apa? Kamu itu pinter.”
“Aku juga punya tempat tinggal sendiri.”
“Jangan lupa tetap pulang menjenguk Eyang.”
Laras tertawa sambil menyeka mata. “Pasti.”
Setelah panggilan berakhir, ia berdiri di bawah gedung, kunci dalam genggaman. Ia belum siap naik lagi, belum tahu apakah apartemen itu hadiah, permintaan maaf, atau jalan keluar.
Namun untuk pertama kalinya, pintunya hanya bisa dibuka dengan kunci atas namanya sendiri.
Di seberang kota, pesan dari Naren masuk: Sudah lihat?
Laras memotret pintu yang terbuka dari dalam.
Sudah. Ini tetap milik saya.
Balasannya datang tanpa jeda: Memang itu tujuannya.
Laras menggenggam kunci lebih erat, kali ini tangannya tidak gemetar.