Ivy Zhang, seorang pengacara cerdas, akhirnya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Leo Fung setelah kehilangan bayi mereka.
Namun Leo, suami yang masih mencintainya, menolak melepaskan Ivy.
Di saat yang sama, Calvin Duan, pria berkuasa sekaligus rival Leo, tiba-tiba menjadikan Ivy sebagai pengacara pribadinya. Dengan tujuan yang sulit ditebak, Calvin menyeret Ivy ke dalam perseteruan dengan suaminya sendiri.
Di antara suami yang berkuasa dan klien yang tak kalah berkuasa, siapa yang harus dibela Ivy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sebuah villa mewah terlihat megah. Beberapa pelayan rumah tangga sibuk melakukan pekerjaan mereka.
Di salah satu ruang pribadi, seorang pria bernama Leo Fung sedang duduk sambil membaca buku. Sementara itu, istrinya, Ivy Zhang, berdiri di sampingnya dengan wajah lesu.
“Gugurkan anak itu.”
Ucapan Leo yang keluar tanpa sedikit pun menatap istrinya membuat Ivy hampir tidak percaya.
“Beritahu aku alasannya!” ujar Ivy.
“Karena aku belum siap,” jawab Leo dengan dingin.
“Leo Fung, aku tahu sejak awal kau tidak berniat menikahiku, begitu juga denganku. Walau pernikahan ini terjadi atas permintaan orang tua kita, kau harus tahu anak ini tidak bersalah. Dia hanya datang pada waktu yang tidak tepat. Tapi bukan berarti dia harus dikorbankan hanya karena keegoisanmu” ucap Ivy.
“Aku akan mengatur jadwalnya. Jangan membantah perintahku,” kata Leo.
“Kau bukan atasanku. Aku adalah istrimu. Anak ini ada di dalam rahimku. Jadi aku juga berhak menentukan apakah aku akan melahirkannya atau tidak,” ujar Ivy, lalu hendak pergi dari sana.
“Dia tidak boleh dilahirkan.”
Ucapan Leo membuat langkah Ivy terhenti.
“Karena kau merasa anak ini akan menjadi bebanmu? Kalau begitu, aku sendiri yang akan merawatnya tanpa bantuanmu,” jawab Ivy.
“Aku juga berhak membuat keputusan, Ivy. Kau tidak punya pilihan. Atau keluargamu akan kehilangan dana investasi.”
Nada suara Leo tetap tenang, tetapi ancamannya membuat Ivy mengepalkan tangan.
Ia menoleh menatap suaminya.
“Leo Fung, kau hebat sekali. Selalu saja menggunakan kekuasaanmu untuk mengancamku. Menikah denganku, kau yang memutuskan. Menggugurkan anak ini pun kau yang memutuskan. Kalau begitu, untuk apa kau menikah denganku? Untuk apa? Untuk menyiksaku?”
Suara Ivy bergetar menahan emosi.
“Aku tidak pernah meminta kau menerimaku. Aku juga tahu kau dipaksa menikah denganku saat hatimu masih menjadi milik wanita itu. Tapi, Leo, jangan korbankan nyawa yang tidak berdosa hanya karena kau ingin bersamanya.”
Ivy menarik napas panjang.
“Aku bisa merawat anak ini sendiri dan bercerai denganmu. Kalau itu yang kau inginkan agar kau bisa kembali bersama cinta pertamamu.”
Ivy berbalik dan meninggalkan ruangan.
Leo tetap duduk di tempatnya. Wajahnya tenang seolah percakapan tadi tidak berarti apa-apa.
Ia menutup bukunya, lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
“Halo, Leo. Ada apa?” terdengar suara seorang pria dari seberang sana.
“Atur jadwal untuk melakukan aborsi terhadap istriku.”
Dokter di seberang sana terdiam sesaat.
“Kau sudah membuat keputusan? Leo, kau tahu risikonya, kan? Kondisi istrimu tidak begitu baik. Prosedur itu bisa membuatnya tidak bisa hamil lagi.”
“Aku tahu apa yang aku lakukan.”
Suara Leo terdengar tegas dan tanpa keraguan.
“Terserah dia menolak. Yang penting, kalian harus melakukannya.”
Tanpa menunggu jawaban, Leo langsung memutuskan panggilan.
Ivy kembali ke kamarnya dan duduk di atas ranjang sambil memeluk bantal erat.
“Tiga tahun pernikahan ternyata tidak berarti sama sekali, Leo Fung. Kenangan kita bersama tidak bisa dibandingkan dengan kebersamaanmu bersama mantanmu. Kau begitu tega mengorbankan anak kita. Apakah kau begitu membenciku sampai tidak menginginkannya?” gumam Ivy dengan suara lirih.
Ia mengeluarkan ponsel dan menekan sebuah nomor.
“Halo, Ivy?” terdengar suara seorang pria dari seberang sana.
“Kak Ferry, tolong siapkan berkas perceraian. Aku ingin bercerai dengan Leo!” kata Ivy.
“Ivy, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja?” tanya Ferry.
“Dia masih belum bisa melupakan mantannya. Dia bahkan tidak ingin aku melahirkan anaknya. Aku lebih rela kehilangan dia daripada kehilangan anakku,” jawab Ivy sambil mengusap air matanya.
“Baiklah, Ivy. Tapi jangan terlalu sedih. Kondisimu tidak sehat. Aku akan mengurus sisanya. Hanya saja, aku tidak yakin Leo akan menyetujuinya,” ujar Ferry.
“Dia tidak menolak karena keluarganya. Yang dia inginkan bukan aku. Terserah apa yang dia pikirkan. Saat ini aku hanya ingin mengutamakan anakku.”
Setelah mengatakan itu, Ivy memutuskan panggilan.
Tengah malam, tepat pukul dua.
Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponsel Ivy yang tergeletak di meja samping ranjang.
Ivy yang terbangun karena suara notifikasi langsung meraih ponselnya. Ia membuka pesan tersebut dan melihat sebuah foto.
Dalam sekejap, Ivy bangkit dari tempat tidur.
Matanya berkaca-kaca saat melihat foto itu.
Tanpa berpikir panjang, Ivy keluar dari kamarnya dan menuju kamar yang biasa digunakan Leo. Ia membuka pintu, tetapi tidak menemukan siapa pun di dalam.
“Leo Fung...” Suara Ivy bergetar. “Aku sedang mengandung anakmu. Kau bukan hanya tidak peduli padaku dan anak kita, tetapi kau malah bersama wanita lain.”
Air mata Ivy jatuh membasahi pipinya.
Seorang pelayan rumah tangga yang kebetulan lewat langsung menghampirinya.
“Nyonya, sudah malam. Kenapa Anda masih di sini?”
Ivy menoleh.
“Apakah Tuan sering keluar setiap malam?”
Pelayan itu ragu sejenak sebelum menjawab.
“Seminggu sekitar tiga kali, Nyonya. Tuan berpesan agar kami tidak memberitahukannya kepada Anda.”
Ivy kembali melihat pesan yang ia diterima tadi.
Tangannya gemetar ketika membuka pesan itu.
Leo.
Pria itu terlihat sedang berada di kamar mandi, dengan tubuh yang masih basah setelah mandi.
Di bawah foto tersebut, terdapat sebuah pesan.
“Suamimu bersamaku malam ini. Dia memintaku memuaskannya karena kau sedang hamil dan tidak bisa melayaninya.”
Wajah Ivy seketika memucat.
Dadanya terasa semakin sesak. Air matanya kembali mengalir tanpa mampu ia tahan.
Tiba-tiba—
Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Ivy memegangi perutnya.
Rasa sakit yang tajam tiba-tiba menyerang.
“Ahhh!”
sebagai penyemangat untuk memulai harimu😍😍😍😍😍
tambah lagi dooooong. supaya kita gak nunggu lanjutannya dengan penasaran.🙏🙏🙏🙏🙏