Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sret.

Seorang pria muda berwajah tampan namun terlihat sangat arogan berdiri tepat di depannya.

Pria itu mengenakan setelan jas merah marun yang mencolok dan menatap Anya dengan pandangan yang kurang ajar.

"Permisi, saya mau lewat," ucap Anya datar sambil menggeser tubuhnya ke kiri.

Tapi pria itu ikut bergeser ke kiri untuk memblokir jalannya lagi.

"Tunggu dulu, wanita secantik ini tidak boleh dibiarkan berkeliaran sendirian di pesta membosankan ini."

Pria itu menyodorkan tangan kanannya ke arah Anya dengan percaya diri yang berlebihan.

"Namaku Bagas, anggota dewan termuda di kota ini, dan kau pasti bidadari yang tersesat kan?"

Anya memutar bola matanya malas mendengar gombalan murahan ala politisi gadungan itu.

"Maaf, Tuan Bagas, tapi saya sudah punya tunangan," tolak Anya sopan tanpa menyambut jabatan tangannya.

Bagas malah tertawa pelan dan menarik tangannya kembali untuk dimasukkan ke dalam saku celana.

"Maksudmu si preman pasar Kenji Bratadikara itu?" ejek Bagas dengan suara yang cukup keras.

Beberapa tamu di sekitar mereka langsung menoleh karena mendengar nama ketua klan Bratadikara disebut.

"Sayang sekali bunga seindah dirimu harus jatuh ke tangan seorang pembunuh berdarah dingin."

Anya mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang mulai mendidih.

Dia sangat benci saat ada orang yang menghina Kenji di depannya.

"Jaga ucapan Anda, Tuan Bagas, Kenji adalah pria yang jauh lebih terhormat daripada orang yang merendahkannya dari belakang."

Anya berani membalas tatapan arogan Bagas dengan sorot mata yang tajam.

Bagas menyeringai tidak suka mendapat penolakan yang begitu keras dari seorang wanita.

"Kau punya nyali juga ya, pantas saja preman itu menyukaimu."

Bagas tiba-tiba melangkah maju dan dengan kurang ajar merangkul pinggang Anya.

Grep.

"Bagaimana kalau kau kutinggalkan pria kasar itu dan ikut bersamaku malam ini?" bisik Bagas tepat di dekat telinga Anya.

"Lepaskan tanganmu dari tubuhku, bajingan," desis Anya marah sambil mendorong dada pria itu sekuat tenaga.

Namun tenaga Anya jelas tidak sebanding dengan tenaga seorang pria dewasa.

Bagas malah semakin mengeratkan rangkulannya hingga membuat Anya meringis kesakitan.

"Kau tidak tahu siapa yang sedang kau tolak, wanita jalang," ancam Bagas dengan suara rendah.

Sebelum Anya sempat memberontak lagi, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram bahu Bagas dari belakang.

Cengkeraman itu begitu kuat hingga terdengar suara tulang yang sedikit bergeser.

Krek.

"Arghhh!" teriak Bagas kesakitan dan refleks melepaskan pelukannya dari pinggang Anya.

Anya terhuyung mundur sedikit, namun sebuah lengan lain dengan sigap menahan punggungnya agar tidak jatuh.

Aroma parfum maskulin yang sangat dia kenali langsung memenuhi indra penciumannya.

"Kenji," gumam Anya lega saat mendongak dan melihat wajah pria itu.

Kenji berdiri menjulang di belakang Bagas dengan aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuhnya.

Wajah tampan pria itu terlihat sekeras batu karang dan sorot matanya setajam pisau bedah.

"Siapa bajingan yang berani menyentuh pinggang tunanganku?" geram Kenji dengan suara baritonnya yang menggelegar.

Seluruh aula pesta seketika menjadi hening tanpa suara sedikit pun.

Musik orkestra bahkan ikut berhenti bermain karena para musisinya ketakutan.

Bagas membalikkan badannya sambil memegangi bahunya yang terasa mau patah.

Wajah arogan politisi muda itu langsung berubah pucat pasi saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

"K-Kenji Bratadikara, apa yang kau lakukan di sini?" gagap Bagas mundur selangkah.

Kenji tidak menjawab, dia melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah kemeja Bagas dengan satu tangan.

Sret.

Kenji mengangkat tubuh Bagas hingga ujung sepatu pria itu sedikit melayang dari lantai karpet.

"Aku bertanya, tangan mana yang baru saja kau gunakan untuk menyentuh milikku?"

Suara Kenji terdengar sangat pelan, namun ancaman di dalamnya membuat semua orang yang mendengarnya merinding ketakutan.

"L-lepaskan aku, aku ini anggota dewan, kau tidak bisa sembarangan padaku!" teriak Bagas mencoba berontak.

"Anggota dewan atau bukan, di mataku kau hanya serangga yang berani menodai barangku."

Kenji melemparkan tubuh Bagas dengan kasar hingga pria itu menabrak meja minuman di belakangnya.

Brak. Prang.

Gelas-gelas kristal berisi sampanye hancur berserakan di lantai mengenai jas mahal Bagas.

"Akh!" rintih Bagas kesakitan terkena pecahan kaca.

Dua orang penjaga keamanan hotel mencoba berlari mendekat untuk melerai, namun tatapan mematikan Kenji membuat mereka langsung membeku di tempat.

Kenji membersihkan tangannya seolah baru saja menyentuh sampah yang menjijikkan.

Pria itu lalu berbalik dan berjalan menghampiri Anya yang masih berdiri mematung.

Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang sedang menatap mereka, Kenji menarik pinggang Anya dan mendaratkan bibirnya di dahi gadis itu.

Cup.

Kecupan itu tidak berlangsung lama, namun cukup membuktikan pada semua orang siapa pemilik sah dari gadis ini.

"Kau tidak terluka kan?" tanya Kenji pelan sambil merapikan anak rambut Anya yang berantakan.

"Aku baik-baik saja, kau datang di saat yang sangat tepat," jawab Anya dengan wajah merona merah.

Kenji menoleh kembali ke arah Bagas yang sedang ditolong berdiri oleh beberapa pelayan hotel.

"Dengar ini baik-baik, kalian semua," ucap Kenji dengan suara lantang yang ditujukan ke seluruh tamu undangan.

"Wanita ini adalah Anya, Ratu masa depan dari klan Bratadikara."

"Siapa pun yang berani menyentuhnya, memandangnya dengan tidak sopan, atau bahkan menyebut namanya dengan mulut kotor kalian."

Kenji memberikan jeda sejenak untuk membiarkan ancamannya meresap ke dalam otak semua orang.

"Akan kucabut nyawanya saat itu juga, tidak peduli apa pangkat dan jabatan kalian di kota ini."

Keheningan yang mencekam kembali mendominasi ruangan tersebut.

Bahkan Nyonya Ratna yang biasanya arogan pun hanya bisa menelan ludah ketakutan melihat dominasi absolut dari pria muda ini.

Kenji memeluk pinggang Anya posesif dan membawanya berjalan menuju pintu keluar tanpa mempedulikan acara pesta yang belum selesai.

Kerumunan tamu secara otomatis membelah dan memberikan jalan untuk sang raja mafia beserta ratunya.

Anya menyandarkan kepalanya di bahu Kenji saat mereka berjalan keluar.

Jantungnya berdebar sangat kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena perasaan aman yang luar biasa.

"Kau berlebihan sekali tadi, Kenji," bisik Anya saat mereka sudah masuk ke dalam mobil limosin.

"Pria berengsek itu berani menyentuh pinggangmu, aku sudah cukup menahan diri untuk tidak mematahkan lehernya di sana," balas Kenji dingin.

Mobil mulai bergerak meninggalkan pelataran hotel perlahan.

[Misi Utama Tahap Pertama Selesai: Berhasil mendapat simpati istri Walikota.]

[Bonus Kejadian: Reputasi Anda di kalangan elit meningkat tajam karena perlindungan absolut Target.]

[Hadiah: Poin Kecerdasan +5, Poin Pesona +5.]

Anya tersenyum tipis melihat notifikasi sistem yang muncul di depannya.

"Tadi kau membelaku saat bajingan itu menghinaku," ucap Kenji tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.

Anya menoleh dan menatap wajah Kenji dari samping.

"Kau mendengarnya?" tanya Anya kaget.

"Aku selalu memperhatikanmu sejak aku melangkah masuk ke ruangan itu."

Kenji meraih tangan kanan Anya dan menggenggamnya erat di atas pangkuannya.

"Terima kasih sudah membela kehormatanku di depan musuh, Anya."

"Itu bukan apa-apa, aku hanya mengatakan kebenarannya," jawab Anya tersipu malu.

Kenji menarik tangan Anya dan mengecup punggung tangannya dengan sangat lembut.

Perang melawan Walikota dan klan Naga Hitam mungkin akan menjadi perang yang sangat panjang dan melelahkan.

Namun dengan tangan yang saling menggenggam ini, Anya merasa dia bisa menghadapi apa pun rintangan di depan sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!