Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Saat waktunya berganti shift.Alya melepaskan apron kerjanya, merapikan pakaian sederhananya, lalu menggendong tas lusuhnya.
Dan ia juga harus menjemput Alisya pulang sekolah.
Namun, baru saja Alya melangkah keluar dari pintu belakang
SREK!
Seseorang dari arah belakang mencengkeram dan menarik baju bagian belakang Alya dengan kasar, menghentikan langkahnya secara mendadak.
Alya menghentikan gerakannya. Matanya memicing tajam seketika, namun ia menahan refleks bertarungnya agar tidak mematahkan tangan orang tersebut.
Ia berbalik perlahan dan mendapati Dinda berdiri di sana dengan tangan bersedekap dada dan raut wajah penuh kekesalan.
"Alya, kamu apain Ratna dan Wiwin sampai mereka ketakutan begitu?" tanya Dinda, suaranya melengking menuntut jawaban.
"Aku tidak melakukan apa pun pada mereka," kata Alya sambil mengangkat bahunya santai.
"Bohong!" seru Dinda, melangkah satu pijakan lebih dekat dengan wajah menantang. "Dari tadi pagi mereka berdua kayak cacing kepanasan tiap kali kamu lewat! Ratna bahkan sampai gemetaran waktu numpuk piring kotor di meja kamu! Kamu ngancam mereka, kan?!"
Alya menatap Dinda dengan raut tenang. "Kalau kamu penasaran, kenapa tidak tanya langsung pada Ratna dan Wiwin? Kenapa harus menahanku di sini?"
"Karena mereka nggak mau cerita! Mereka cuma bilang 'jangan cari masalah sama Alya'!" bentak Dinda, matanya melotot. "Aku ini pelayan senior di sini, Alya! Aku tahu betul perangai Ratna dan Wiwin. Mereka nggak mungkin takut setengah mati sama cewek lugu dan miskin kayak kamu kalau kamu nggak pakai cara kotor!"
Alya menghela napas pelan, menatap Dinda dengan tatapan dingin yang datar. "Terserah kamu mau mikir apa, Dinda. Aku mau pulang. Anakku sudah menunggu di sekolah."
Alya berbalik hendak melanjutkan langkahnya, tetapi Dinda dengan lancang kembali mencengkeram lengan Alya, menahannya kuat-kuat.
"Jangan jalan dulu! Urusan kita belum selesai!" gertak Dinda dengan nada menyebalkan. "Jangan sok jual mahal deh! Kamu pikir karena Pak Herman baik, kamu bisa semena-mena di sini?! Kamu itu cuma tukang cuci piring baru yang nggak punya harga diri!"
DEG.
Alya berhenti.
Alya memiringkan kepalanya sedikit, menatap jemari Dinda yang mencengkeram lengannya. Di dunia bawah tanah dulu, tangan siapa pun yang berani menahannya tanpa izin akan patah dalam hitungan detik.
Alya berbalik sepenuhnya. Sorot matanya kini berubah.
"Dinda..." bisik Alya.
Suaranya rendah, namun membawa tekanan intimidasi yang begitu berat hingga udara di sekitar mereka serasa mendadak mendingin.
Dinda mendadak membeku. Cengkeraman tangannya di lengan Alya mengendur secara refleks.
Bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak.
"K-kenapa kamu lihat-lihat aku kayak gitu?!" cicit Dinda, berusaha menutupi rasa takut luar biasa yang secara tiba-tiba.
Alya melangkah satu pijakan mendekati Dinda. Langkahnya begitu ringan tanpa suara.
"Ratna dan Wiwin cukup pintar untuk tahu kapan harus tutup mulut demi keselamatan mereka sendiri," kata Alya pelan, menatap tepat ke dalam manik mata Dinda yang mulai berkaca-kaca ketakutan. "Tapi sepertinya... kamu tidak sepintar mereka."
"K-kamu... kamu mau ngapain?!" gertak Dinda, suaranya gemetar hebat saat ia mencoba mundur, namun punggungnya justru menabrak dinding bata.
Alya mengangkat tangan kirinya perlahan, lalu menepuk-nepuk bahu Dinda secara halus, sebuah gerakan sederhana yang justru terasa seperti ancaman pencabutan nyawa bagi Dinda.
"Pekerjaanmu adalah melayani pelanggan di depan, Dinda. Bukan mencampuri urusan orang lain," bisik Alya tepat di dekat telinga Dinda. "Jangan sampai rasa penasaranmu itu... membawamu ke tempat yang tidak ingin kamu kunjungi."
Dinda menelan ludah dengan sangat susah payah. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa mengerikannya tatapan mata wanita di depannya ini.
"P-paham, Alya... aku paham..." jawab Dinda dengan suara tercekat, benar-benar kehilangan seluruh keangkuhannya.
"Bagus," kata Alya sambil tersenyum tipis, sebuah senyuman yang amat sangat berbahaya. "Selamat siang, Dinda."
Alya berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Dinda yang merosot terduduk di tanah sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
Dinda menatap punggung Alya yang perlahan menghilang di ujung gang dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
"D-dia... dia bukan manusia biasa..." bisik Dinda histeris pada dirinya sendiri. "Ratna benar... dia... dia iblis..."
Di sepanjang jalan menuju rumah kontrakannya, Alya menyusuri trotoar yang sepi. Angin siang menyapu wajahnya.
"Tunggu Mama ya, Alisya..." batin Alya hangat. "Mama akan menjemput mu."