Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Tolong Aku…

Ainun duduk diam di bangku taman, menatap langit malam yang bertabur bintang. Angin berembus pelan.

“Ehem....”

Suara dehaman itu membuat Ainun menoleh.

Jantungnya berdegup pelan saat mendapati Sagara berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi.

‘Mas Sagara...’

Ainun segera mengalihkan pandangan kembali ke langit. Tak ada keinginan sedikit pun untuk memulai percakapan.

“Kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya Sagara dengan nada dingin.

Ainun mengembuskan napas pelan.

“Iya,” jawabnya lirih tanpa menoleh. “Aku tahu.”

Belum sempat ia melanjutkan ucapan, tiba-tiba jemari Sagara mencengkeram dagunya.

Dengan sedikit kasar, pria itu memaksanya menatap wajahnya.

“Apa?” tanyanya tajam.

Ainun meringis pelan karena cengkeraman itu.

“Karena aku ke sini nggak bilang sama Mas Sagara,” jawabnya pelan.

“Lalu?”

Kening Ainun berkerut.

“Lalu apa?” tanyanya balik dengan bingung.

Sagara mencondongkan tubuhnya sedikit. Jarak mereka kini jauh lebih dekat hingga Ainun dapat merasakan embusan napas pria itu.

“Kamu keluyuran.”

Nada suaranya tetap rendah, tetapi terdengar penuh tekanan.

“Berdua di taman dengan seorang pria, lalu baru pulang sore.”

Tubuh Ainun menegang.

Matanya membulat tanpa bisa disembunyikan.

‘Bagaimana Mas Sagara bisa tahu?’

Sagara masih menatapnya tanpa berkedip.

“Saya bisa tahu ke mana pun kamu pergi, Ainun,” ucapnya datar. “Dengan siapa kamu bertemu, di mana, bahkan kapan itu terjadi. Jadi, jangan pernah berpikir kamu bisa menyembunyikan apa pun.”

Perlahan, ia mengangkat tangannya lalu melepaskan cengkeraman Sagara dari dagunya.

Sentuhan itu membuat kulitnya terasa perih.

Ainun menatap pria itu dengan sorot mata yang jauh lebih tenang.

“Bukankah Mas Sagara pernah bilang,” ucapnya pelan, “jangan mengurus kehidupan satu sama lain?”

Tatapan Sagara tetap dingin.

Ainun mengulas senyum tipis yang terasa pahit.

“Aku cuma menjalankan apa yang Mas Sagara katakan.”

Keheningan kembali turun di antara mereka.

Tak ada jawaban.

Hanya suara angin malam yang sesekali berembus pelan, sementara sorot mata Sagara tetap mengunci wajah Ainun tanpa sedikit pun bergeser.

Ainun balas menatap Sagara yang kini kembali berdiri tegak. Jarak di antara mereka kembali terbentang, sedingin tatapan pria itu..

Meski jantungnya terus berdegup semakin cepat, kali ini ia memilih untuk tidak mengalihkan pandangan.

“Pulang sendiri,” ucap Sagara datar. “Saya tidak mau pulang bersamamu.”

Nada suaranya begitu dingin, tanpa sedikit pun memberi ruang untuk dibantah.

Belum sempat Ainun menjawab, Sagara sudah berbalik.

Ainun hanya mampu memandang punggung pria itu.

Sorot matanya mengikuti setiap langkah Sagara hingga pria itu membuka pintu mobil yang terparkir tak jauh dari halaman rumah, lalu masuk ke dalamnya.

Tak lama kemudian, deru mesin terdengar.

Mobil itu perlahan bergerak meninggalkan taman dan dirinya sendiri, lalu menghilang di balik gelapnya jalan malam.

‘Pulang bersama?’

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terasa pahit.

‘Bahkan selama menikah, aku belum pernah sekali pun duduk di mobil Mas Sagara.’

Ia menundukkan kepala.

‘Semua yang dimiliki Mas Sagara selalu dipersiapkan untuk Mbak Liona. Termasuk tempat di sampingnya.’

Napasnya berembus pelan.

‘Jadi... buat apa aku berharap?’

Perlahan Ainun kembali mendongakkan kepala. Tatapannya lurus menembus langit malam yang bertabur bintang.

“Aku ingin di sini sebentar saja,” gumamnya lirih sambil memeluk dirinya sendiri. “Sampai hatiku benar-benar tenang.”

Ia kembali terdiam.

Membiarkan angin malam menyapu wajahnya, berharap kegelisahan yang memenuhi dadanya ikut terbawa pergi bersama embusan angin.

Sementara itu, mobil Sagara terus melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang.

Sagara menggenggam kemudi dengan satu tangan, sedangkan tatapannya lurus menembus jalan di hadapannya.

Brak!

Tangan kanannya menghantam setir dengan keras.

Rahangnya mengatup.

“Ainun... wanita sial,” gumamnya dengan napas berat. “Berani sekali membantahku.”

Jemarinya kembali mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.

“Terserah,” desisnya pelan. “Bukan urusanku lagi. Mau diculik, dibegal, atau terjadi apa pun di jalan... saya tidak peduli.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Namun, semakin jauh mobil melaju, bayangan Ainun yang masih duduk seorang diri di taman justru terus memenuhi benaknya.

Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir bayangan itu. Namun, pikirannya justru semakin kacau.

Tangannya mengetuk pelan kemudi, lalu lidahnya berdecak kesal.

“Sial.”

Tanpa berpikir panjang, ia memutar setir ke arah berlawanan.

Mobil itu berbelok di persimpangan, meninggalkan jalur yang semula menuju rumah.

“Aku cuma ingin memastikan,” gumamnya pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Kalau dia tidak pulang bersamaku... apa yang akan terjadi padanya.”

.

.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Ainun masih duduk di bangku taman yang sama. Suasana semakin sepi. Angin malam berembus semakin kencang, menembus pakaian yang dikenakannya hingga tubuhnya menggigil pelan.

“Dingin sekali,” gumamnya lirih sambil mengusap kedua lengannya.

Perlahan, ia mengangkat pergelangan tangan untuk melihat jam.

Pukul 22.30.

“Jam segini... apa masih ada kendaraan yang lewat?” bisiknya pelan.

Tatapannya menyapu jalan di depan taman yang mulai lengang.

Sesekali hanya tampak satu atau dua kendaraan melintas, lalu kembali menghilang dalam gelapnya malam.

Ainun meraih tas selempang yang tadi diletakkannya di samping bangku.

Namun, jemarinya hanya menyentuh permukaan bangku yang dingin.

Keningnya langsung berkerut. Tangannya kembali meraba sisi bangku itu.

Kosong.

Perlahan ia menoleh ke kanan dan kiri.

“Tasku...?”

Ainun segera berdiri. Tatapannya menyapu tanah di sekitar bangku, berharap tasnya terjatuh tanpa disadarinya.

“Nggak ada....”

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

“Apa ketinggalan?”

Ia mencoba mengingat kembali.

Beberapa saat yang lalu tas itu masih berada di bahunya. Ia bahkan yakin telah meletakkannya di samping saat duduk.

“Nggak mungkin,” gumamnya sambil menggeleng pelan. “Aku ingat membawanya.”

Ainun terdiam.

“Jangan-jangan...” Bibirnya mengatup rapat. “Mas Sagara sengaja membawa tasku.”

Ainun memijat pelipisnya pelan.

“Kalau harus jalan kaki...” bisiknya lirih. “Berapa jam baru sampai rumah?”

Ia mengangkat wajah, menatap jalan yang mulai sepi.

Tak ada uang.

Tak ada ponsel untuk memesan ojek.

Tak ada siapa pun yang bisa dihubungi.

Perlahan, Ainun mengembuskan napas panjang.

“Apa aku kembali ke rumah Ayah dan Ibu?”

Ia langsung menggeleng. “Nggak... mereka pasti menyuruhku pergi lagi.”

Tatapannya beralih ke arah jalan raya.

“Kalau memang nggak memungkinkan pulang malam ini,” gumamnya pelan, “lebih baik aku menginap di masjid.”

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hambar.

“Sekalian salat Isya dan tahajud.”

Setidaknya, menurutnya, rumah Allah adalah tempat yang jauh lebih menenangkan daripada harus kembali menghadapi penolakan.

Dengan menguatkan hati, Ainun menarik napas panjang, lalu mulai melangkah meninggalkan taman, membiarkan angin malam terus mengiringi langkahnya yang pelan.

.

Kini, Ainun berjalan menyusuri tepi jalan tanpa berhenti.

Satu-satunya tujuan yang ada di pikirannya hanyalah menemukan masjid terdekat agar bisa beristirahat dengan aman.

Namun...

“Hehehe... ada Eneng cantik jalan sendirian.”

Langkah Ainun langsung terhenti.

Matanya membelalak saat melihat tiga pria bertubuh besar berdiri beberapa meter di depannya.

“M-mau apa kalian?” tanyanya dengan suara bergetar.

Ketiga pria itu saling berpandangan, lalu tertawa.

“Mau nemenin Eneng saja,” ujar salah seorang dari mereka sambil melangkah mendekat. “Malam-malam begini nggak baik perempuan cantik jalan sendirian.”

Ainun menggeleng cepat.

“J-jangan mendekat.”

Ia mundur selangkah demi selangkah, berusaha menjaga jarak.

Namun, ketiga pria itu justru semakin mendekat sambil menyeringai.

“Aduh, malu-malu lagi.”

Napas Ainun mulai memburu.

‘Ya Allah...’

Begitu melihat celah untuk melarikan diri, ia langsung berbalik hendak berlari.

Brak!

Seseorang menarik jilbabnya dari belakang.

“Ah...!”

Tubuh Ainun kehilangan keseimbangan.

Ia terjatuh hingga lutut dan telapak tangannya membentur aspal. Rasa nyeri langsung menjalar, disusul perutnya yang mendadak terasa menegang.

Refleks, kedua tangannya melindungi perutnya.

‘Anakku...’

Jantungnya berdetak begitu kencang.

“Tolong!” teriaknya sekuat tenaga.

Salah satu pria itu justru tertawa terbahak-bahak.

“Ayo teriak lagi. Yang keras sekalian. Mau Abang carikan mikrofon?”

Air mata Ainun akhirnya luruh.

“Tolong...!”

Suaranya mulai pecah oleh tangis.

‘Ya Allah... selamatkan aku dan anakku.’

Ia mencoba bangkit. Namun, salah seorang pria itu lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.

“Ayo, Eneng. Sudah malam,” ujarnya sambil menarik paksa tubuh Ainun. “Ikut sama Abang saja. Kita senang-senang di tempat yang lebih nyaman.”

Ainun menggeleng kuat-kuat.

“Lepaskan saya...!” pintanya dengan napas tersengal.

Ia berusaha melepaskan diri. Namun, tenaga mereka jauh lebih besar. Rasa takut membuat seluruh tubuhnya gemetar.

‘Mas Sagara... kalau saja tasku nggak hilang... mungkin aku bisa minta tolong.’

Air matanya semakin deras mengalir. Ia tidak berani melawan terlalu keras.

Ketiga pria itu terus menyeretnya menjauh dari jalan utama.

“Lepaskan saya... tolong...!” teriak Ainun dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Lepaskan dia!”

Suara seorang pria menggema dari kejauhan, membuat langkah ketiga preman itu terhenti seketika.

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!