Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 Pilihan Muslihat di Panggung Megah

Ruang VIP Lounge 1 terasa seperti terperangkap dalam keheningan yang mematikan.

Hanya suara napas Liora yang tersengal-sengal yang sesekali memecah udara. Tubuhnya masih terduduk di atas karpet tebal, kedua bahunya dikunci oleh seorang pengawal bertubuh kekar. Rambutnya berantakan, beberapa helai menempel di pipinya yang basah oleh air mata.

Di sudut ruangan, Damian berdiri santai seolah seluruh kekacauan itu hanyalah pertunjukan yang telah ia menangkan. Senyum tipis nan dingin menghiasi bibirnya, sementara sebuah remote kecil terus dipermainkan di antara jemarinya.

Satu tekanan.

Satu perintah.

Dan seluruh rahasia Evander Corp bisa tersebar ke dunia.

Tak jauh dari sana, Elara berdiri dengan postur sempurna. Wajahnya memancarkan ketenangan seorang pemenang.

"Dua menit lagi sesi konferensi pers dimulai, Ravian," suaranya terdengar lembut. Terlalu lembut untuk sebuah ancaman.

Elara mengulurkan sebuah pena berlapis emas, disertai draf surat pengalihan saham dan dokumen pertunangan yang telah disiapkan dengan begitu rapi.

"Tanda tangani sekarang," lanjutnya, "atau reputasi keluarga Evander akan hancur. Dan Liora akan kami seret ke kepolisian malam ini juga atas tuduhan pembocoran rahasia perusahaan."

Ravian tidak langsung menjawab. Pria itu memejamkan mata selama beberapa detik.

Di hadapannya, Liora menggeleng perlahan. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

'Jangan.'

'Jangan lakukan itu.'

Tatapan mereka bertemu.

Dalam sepasang mata cokelat Liora, Ravian bisa membaca satu permohonan yang tak sanggup diucapkan gadis itu.

'Jangan mengorbankan segalanya demi aku.'

Ketika Ravian membuka mata kembali, sesuatu telah berubah. Pendar kepanikan yang sebelumnya samar di sana telah lenyap.

Tak tersisa ketakutan.

Tak tersisa keraguan.

Yang ada hanya ketenangan dingin, pekat, dan nyaris tak terbaca.

"Baik," bisik Ravian datar.

Satu kata itu keluar begitu datar hingga membuat Elara tersenyum lebar.

Pria itu meraih pena dari tangan Elara.

Tanpa tergesa, tanpa sedikit pun keraguan, ia membubuhkan tanda tangannya di atas lembar kesepakatan dengan gerakan mantap.

Goresan terakhir selesai.

Elara mengembuskan napas lega, lalu tersenyum penuh kemenangan. "Pilihan yang sangat bijaksana."

"Lepaskan Liora," perintah Ravian dingin. Pandangan tajamnya beralih kepada Damian.

Damian mengangkat dagu sedikit, memberikan isyarat dengan matanya.

Pengawal yang menahan Liora akhirnya melepaskan cengkeramannya.

Tubuh Liora nyaris kehilangan keseimbangan saat ia berusaha bangkit. Napasnya masih memburu. Kedua tangannya gemetar saat ia menopang tubuh pada sisi sofa.

"Pak Ravian..." suaranya pecah dan matanya terlihat berkaca-kaca "Kenapa Bapak melakukan ini? Ini jebakan..."

Ravian tidak menjawab.

Ia justru melangkah mendekat. Tangannya terangkat, merapikan rambut Liora yang berantakan dengan gerakan lembut, bertolak belakang dengan tatapan dinginnya beberapa detik lalu.

Ravian menundukkan kepala. Bibirnya mendekati telinga Liora. Ia berbisik sangat pelan hingga hanya gadis itu yang mampu mendengarnya.

"Percaya pada saya, Little Miss Arwen," jari-jarinya menyentuh bahu Liora sekilas. "Tetap di sini. Jangan keluar sebelum Julian datang."

Liora terpaku di tempatnya.

Sebelum sempat membalas, Ravian telah berbalik.

Ia mengancingkan jas tiga lapisnya dengan gerakan tenang, merapikan manset kemeja, lalu melangkah keluar ruangan menuju ballroom utama.

Elara segera menyusul dan menggandeng lengannya dengan senyum penuh kemenangan. Seolah pria itu telah menjadi miliknya. Seolah permainan telah berakhir.

Padahal, justru saat itulah permainan Ravian baru dimulai.

***

Ballroom Grand Hyatt mendadak bergemuruh. Riuh tepuk tangan menyambut kedatangan Ravian dan Elara.

Ballroom itu telah dipenuhi ratusan tamu undangan, investor, petinggi perusahaan, dan wartawan dari berbagai media nasional. Sorotan kamera terus memburu setiap gerakan di atas panggung.

Blitz kamera wartawan menyala bertubi-tubi tanpa henti.

Ravian dan Elara berdiri berdampingan di balik podium utama.

Di mata semua orang, pemandangan itu tampak seperti sebuah pengumuman besar mengenai penyatuan dua kekuatan bisnis.

Elara melangkah maju. Senyumnya sempurna ke arah sorotan kamera. "Selamat malam, rekan-rekan media dan para tamu undangan yang terhormat."

Suaranya terdengar jernih melalui pengeras suara.

"Malam ini, dengan penuh rasa bangga, kami mengumumkan kemitraan strategis antara Arabell Group dan Evander Corp..."

Tepuk tangan kembali bergemuruh.

Hanya saja, di balik gemerlap panggung itu, sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang bergerak.

Di dalam ruang VIP, Liora masih terduduk lemas di sofa.

Damian berdiri tak jauh dari pintu, ponsel masih berada di tangannya. Jempolnya menggantung tepat di atas layar.

Satu gerakan.

Hanya satu gerakan.

Lalu seluruh rahasia yang selama ini ia simpan akan dilepaskan ke dunia.

Tapi, tiba-tiba...

Klik.

Pintu VIP terbuka.

Tanpa ketukan.

Damian menoleh tajam.

Julian masuk lebih dulu.

General Counsel Evander Corp itu melangkah dengan wajah setenang permukaan danau yang tak terusik angin. Di belakangnya terdapat dua anggota tim siber dan tiga aparat kepolisian berseragam lengkap.

Wajah Damian spontan berubah. "Apa-apaan ini?!"

Ia mengangkat ponselnya. "Satu langkah maju dan aku sebarkan..."

"Sebarkan apa, Saudara Damian Alaric?" suara Julian memotong ancaman itu tanpa sedikit pun meninggi.

Ia mengangkat sebuah tablet. Pada layarnya tampak deretan kode enkripsi bergerak cepat.

"Seluruh pemancar sinyal portabel dan server cloud milikmu di gedung ini sudah kami isolasi lima menit lalu," tatapan Julian mengeras. "Perangkat di tanganmu sekarang tak lebih dari mainan yang sudah kehilangan fungsinya."

Mata Damian membelalak. "Tidak mungkin..."

"Sayangnya," jawab Julian tenang, "sangat mungkin."

Dalam hitungan detik, tiga aparat kepolisian menerjang maju.

Damian bahkan tidak sempat menekan layar. Tubuhnya dilumpuhkan. Kedua tangannya ditarik ke belakang.

Klik.

Borgol mengunci pergelangan tangannya.

Liora hanya mampu menatap dengan napas tertahan. Kini, ia merasakan secercah harapan.

Ravian ternyata tidak kalah.

Pria itu hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk membalikkan papan permainan.

Sementara itu, di atas panggung....

Elara baru saja menyelesaikan bagian pembuka pidatonya.

"Dan sebagai puncak acara malam ini..." ia menoleh kepada Ravian. Senyumnya semakin lebar. "...kami ingin mengumumkan acara pertunangan resmi kami... "

"Terima kasih, Bu Elara," suara Ravian memotong kalimatnya. Ia melangkah maju dan mengambil alih mikrofon utama.

Mendadak seluruh ballroom hening.

Elara menoleh. Senyumnya perlahan menghilang.

"Memang benar," ujar Ravian dengan suara bariton yang tenang dan menggema ke seluruh penjuru ruangan, "ada pengumuman penting malam ini."

Ia berhenti sejenak. "Tetapi bukan mengenai pertunangan."

Raut wajah Elara serta merta berubah. "Ravian..." bisikannya nyaris tak terdengar. "Apa yang kamu lakukan?"

Ravian tidak menoleh kepadanya.

Tatapannya justru lurus menembus ratusan lensa kamera yang kini tertuju padanya.

"Surat kesepakatan yang baru saja saya tanda tangani di balik panggung..." ia mengangkat dokumen tersebut. "...adalah bukti adanya pemerasan dan intimidasi hukum yang dilakukan oleh pihak Arabell Group."

Suasana ballroom pecah.

Desis kaget terdengar dari berbagai penjuru. Para wartawan saling berbisik. Kamera menyala tanpa henti.

Wajah Elara kehilangan warnanya.

Ravian melanjutkan tanpa memberi sedikit pun ruang baginya untuk menyela.

"Saat ini, tim hukum Evander Corp bersama pihak Kepolisian telah mengamankan barang bukti beserta pelaku pemerasan di area gedung ini."

Ia menatap lurus ke depan.

"Segera setelah acara ini selesai, Evander Corp secara resmi membatalkan seluruh bentuk kerja sama dengan Arabell Group."

Jeda singkat.

"Dan kami akan mengajukan gugatan pidana atas tindakan sabotase korporasi serta pemerasan yang dilakukan terhadap perusahaan kami."

Ruangan meledak.

Pertanyaan wartawan bertubi-tubi. Lampu kamera berkedip seperti hujan cahaya.

Elara terduduk lemas di panggung. Tangannya gemetar.

Para pengawal dan aparat hukum mulai bergerak mendekati panggung.

Kemenangan yang sedari tadi ia bayangkan telah runtuh dalam hitungan menit.

Di balik pintu samping ballroom, Liora berdiri dengan tubuh masih lemah. Matanya mengikuti Ravian. Napas lega mengalir dari dadanya.

Ia akhirnya mengerti.

Tanda tangan tadi bukan bentuk kekalahan.

Itu adalah jebakan di dalam jebakan.

Ravian sengaja membiarkan dirinya terlihat kalah agar Elara menurunkan pertahanannya sendiri.

Dan ketika waktunya tiba, ia membalikkan seluruh permainan.

Dalam satu gerakan.

Matang.

Presisi.

Mematikan.

Tetapi...

Bzzzzt!

Suara gangguan elektronik mendadak menggelegar.

Semua kepala menoleh.

Layar raksasa di tengah ballroom, yang sebelumnya menampilkan logo Evander Corp, berkedip hebat. Tampilannya berubah.

Ravian berhenti melangkah. Wajahnya perlahan menegang.

Bukan rekaman kecelakaan lima tahun lalu yang muncul.

Melainkan rekaman CCTV.

Sudut pengambilan gambar berasal dari atas ruang kerja CEO.

Gambar itu begitu jernih. Terlalu jernih. Dan hanya berlangsung selama lima belas detik.

Di dalam rekaman, Ravian terlihat berlutut di hadapan Liora. Tangannya mengusap air mata di pipi gadis itu dengan kelembutan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Jari-jari mereka kemudian terlihat saling menggenggam.

Tatapan Ravian tertuju kepada Liora dengan ekspresi yang sarat perlindungan dan kedekatan.

Momen pribadi yang seharusnya tak pernah dilihat siapa pun. Tapi ternyata seseorang telah menyimpannya dan meretasnya.

Di sudut lain layar, muncul sebuah foto.

Lembar evaluasi magang Liora. Berkas akademisnya. Dan tanda tangan Ravian tercetak jelas di atas dokumen-dokumen tersebut.

Ballroom yang sebelumnya riuh tiba-tiba berubah menjadi lautan kegemparan.

"Astaga, lihat layar itu!"

"Itu Pak Ravian dengan mahasiswa magangnya!"

"Jadi selama ini mereka punya hubungan rahasia?"

"Dia CEO sekaligus dosen!"

"Jangan-jangan ada transaksi nilai!"

"Ini penyalahgunaan wewenang!"

Suara-suara itu semakin keras. Semakin liar. Semakin kejam.

Ravian membeku di tengah kerumunan. Perlahan, ia mengangkat wajah menatap layar raksasa itu.

Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah tajam.

Bukan karena malu.

Melainkan karena ia tahu persis siapa yang berada di balik serangan terakhir itu.

Pandangan Ravian bergerak cepat menyusuri sudut lorong. Di antara kerumunan wartawan, sesosok pria berdiri beberapa meter jauhnya.

Seorang peretas bayaran. Ia tersenyum sinis.

Tatapan mereka bertemu. Selanjutnya pria itu berbalik dan menghilang di antara lautan manusia.

Ravian mengepalkan tangan.

Elara mungkin telah kehilangan kendali atas perusahaan.

Damian mungkin telah diborgol.

Rencana pemerasan mereka mungkin telah gagal total.

Tetapi Elara belum menyerah.

Ia baru saja membuka medan perang yang jauh lebih berbahaya.

Bukan lagi tentang saham. Bukan lagi tentang kontrak. Bukan lagi tentang perusahaan.

Kini yang mereka serang adalah kehidupan pribadi Ravian.

Reputasinya.

Kariernya.

Dan yang paling berbahaya...

Liora.

Malam itu, di bawah gemerlap lampu ballroom dan sorotan ratusan kamera, sebuah skandal baru resmi lahir.

Dan kali ini, seluruh negeri akan menjadi saksinya.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!