Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Ancaman dari Ibu Kota
Ruang kerja Direktur Utama Wibowo Group mendadak sunyi tatkala pintu kayu tebal itu terhempas menutup. Di luar koridor, Dion bersama dua pengawalnya telah pergi terburu buru dengan wajah pucat penuh ketakutan.
Maya berdiri mematung di balik meja kerjanya. Manik matanya menatap Arka yang sedang merapikan posisi cangkir teh di meja tamu dengan gerakan yang begitu tenang dan santai.
Kejadian yang baru saja berlangsung di depan matanya terasa sangat tidak nyata. Dion Nusantara, seorang anggota keluarga cabang dari konsorsium terbesar di negeri ini yang tadinya begitu angkuh, mendadak tersungkur berlutut hanya karena satu panggilan telepon pendek dari Arka.
Maya melangkah mendekati suaminya, menghentikan langkah tepat di hadapan Arka.
"Arka," panggil Maya dengan nada suara yang sangat halus namun menyimpan seribu pertanyaan.
Arka mendongak, menatap mata istrinya seraya mengulas senyum hangat yang selalu sanggup menenangkan hati Maya. "Iya, Maya? Ada apa?"
"Kakek Utama dari Dewan Pembina Nusantara Group..." bisik Maya seraya menatap lurus ke dalam manik mata Arka. "Bagaimana bisa seorang sesepuh tertinggi dari keluarga raksasa itu langsung mencabut hak waris cucunya sendiri hanya karena teguran darimu?"
Arka menghela napas panjang. Ia meraih lembut kedua belah tangan Maya, menggenggamnya dengan hangat.
"Maya," ujar Arka menyusun kalimatnya dengan sangat hati hati. "Di mata para petinggi dan sesepuh Nusantara Group, integritas dan nama baik konsorsium adalah harga mati. Saat aku bertugas menjadi kepala pengawal elite dulu, aku pernah menyelamatkan nyawa Kakek Utama dari serangan kelompok pemberontak di luar negeri. Beliau berutang nyawa padaku dan berjanji tidak akan pernah menoleransi anggota keluarganya yang bertindak sewenang wenang mengatasnamakan Nusantara Group."
Maya mendengarkan penjelasan tersebut dengan cermat. Matanya bergetar pelan. Penjelasan Arka kembali terasa sangat masuk akal dan selaras dengan alibi latar belakangnya sebagai mantan pengawal keselamatan tingkat tinggi.
"Jadi... Kakek Utama sangat menghormatimu karena jasa keselamatan itu?" tanya Maya memastikan.
"Benar," jawab Arka tegas seraya mengusap punggung tangan Maya. "Maka dari itu, kamu tidak perlu takut pada siapa pun yang mencoba menekanmu menggunakan nama Nusantara Group. Selama aku ada di sisimu, tidak akan ada satu pun pangeran atau pejabat cabang yang bisa menyentuhmu."
Rasa hangat mendadak mengalir menguasai dada Maya. Perlahan, kepalanya bersandar di dada bidang Arka. Sentuhan dan kehangatan dari tubuh suaminya memadamkan seluruh rasa cemas yang sempat membakar pikirannya.
"Terima kasih, Arka," bisik Maya tulus. "Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu."
Arka membalas dekapan itu dengan kelembutan yang dalam, meski di dalam benaknya, ia tahu bahwa munculnya Dion hanyalah pemantik kecil dari badai yang jauh lebih besar yang sedang bergerak dari ibu kota.
Pada saat yang sama, di lantai paling atas sebuah pencakar langit di pusat ibu kota.
Suasana di dalam aula pertemuan utama Keluarga Pusat Nusantara terasa sangat mencekam. Ruangan luas berarsitektur klasik modern itu hanya diterangi oleh lampu remang. Di ujung meja panjang berbahan kayu jati murni, seorang pria tua bertubuh tegap dengan rambut putih perak duduk menyandarkan kedua tangannya di atas tongkat kayu hitam.
Pria tua itu adalah Kakek Utama, pimpinan tertua dewan pembina yang baru saja mematikan sambungan telepon dari Dion.
Di samping kanan dan kiri meja panjang tersebut, puluhan anggota keluarga inti dan dewan komisaris pusat duduk membisu dengan wajah sangat tegang.
"Dion sudah melakukan kesalahan fatal," suara Kakek Utama terdengar sangat berat dan dalam, menggema di seluruh ruangan. "Dia berani melontarkan kata kata tidak sopan di hadapan Yang Mulia Executive Chairman dan istrinya di Wibowo Group."
Kasak kusuk!
Suasana aula seketika pecah oleh bisik bisik panik dari belasan petinggi keluarga pusat.
"Apa?! Dion menemui Yang Mulia?!"
"Bocah dungu itu! Berani beraninya dia mencari masalah dengan pendiri puncak kita!"
"Bagaimana jika Yang Mulia murka dan membekukan seluruh alokasi dana keluarga pusat?!"
Seorang pria paruh baya bersetelan jas merah marun bertabur pin emas—Darma Nusantara, ayah dari Dion sekaligus ketua dewan eksekutif cabang utama—berdiri berburu buru dari kursinya. Wajahnya yang biasa congkak kini dipenuhi keringat dingin.
"Ayah Utama!" seru Darma dengan suara gemetar memohon. "Mohon ampuni kelakuan Dion! Anak itu tidak tahu bahwa pria yang menikahi Maya Wibowo adalah Sang Penguasa Puncak yang sedang menyamar!"
Kakek Utama menatap Darma dengan pandangan mata yang sangat dingin dan tajam bagaikan pedang.
"Ketidaktahuan bukanlah alasan untuk dimaafkan, Darma," tegur Kakek Utama keras hingga membuat Darma bungkam seketika. "Yang Mulia sengaja menyembunyikan identitas resminya dan hidup sederhana bersama Nona Maya untuk menyelesaikan konflik internal Wibowo Group serta membersihkan pengkhianat di daerah. Tapi anakmu justru pergi ke sana untuk memamerkan kekuasaan dan menggoda istri beliau!"
Darma berlutut di samping meja, menundukkan kepalanya rapat rapat ke atas karpet. "Saya bersedia menerima hukuman apa pun, Ayah Utama! Tapi tolong... jangan usir keluarga kami dari silsilah!"
Kakek Utama menghela napas berat, mengetukkan tongkat kayunya ke lantai marmer dua kali.
"Nasib keluargamu tergantung pada keputusan Yang Mulia sendiri saat beliau kembali ke ibu kota nanti," kata Kakek Utama dingin. "Tapi sebelum momen itu tiba, ada masalah lain yang jauh lebih mendesak."
Kakek Utama merogoh sebuah dokumen berkerah merah dari mejanya, melemparkannya ke tengah meja panjang.
"Organisasi pembunuh bayaran Serigala Hitam yang gagal menyerang Yang Mulia dua hari lalu ternyata dikendalikan oleh jaringan rahasia milik Keluarga Wijaya dan sekutu gelap mereka di ibu kota," lanjut Kakek Utama. "Mereka sadar bahwa posisi mereka terancam setelah Megah Pratama Group runtuh. Sekarang, mereka sedang menyewa pasukan mercenary asing untuk melakukan tindakan nekat di area Proyek Wibowo Park!"
Seluruh anggota dewan pusat terperanjat kaget.
"Mereka berani merencanakan serangan terbuka?!" seru salah seorang komisaris senior.
"Mereka tidak tahu bahwa Arka adalah sang Dewa Perang yang menguasai pilar militer tertinggi," ujar Kakek Utama seraya berdiri dari kursinya. "Namun, keselamatan Nona Maya adalah titik lemah satu satunya yang bisa dimanfaatkan oleh musuh."
Kakek Utama menatap langsung ke arah kepala pasukan pengawal khusus ibu kota yang berdiri di dekat pintu.
"Kirimkan Pasukan Bayangan Tingkat Satu ke kota tempat Yang Mulia berada," perintah Kakek Utama tegas. "Amankan seluruh area perimeter Wibowo Park secara rahasia. Jangan biarkan ada satu pun lalat musuh yang bisa mendekati Nona Maya!"
"Siap, laksanakan Kakek Utama!" jawab kepala pengawal tegas seraya memberi penghormatan militer penuh sebelum berbalik pergi.
Keesokan harinya, pukul sepuluh pagi.
Cuaca di lokasi konstruksi Proyek Wibowo Park sangat cerah. Ratusan pekerja bangunan tampak sibuk mengoperasikan mesin dan menyelesaikan pondasi tahap pertama. Maya berdiri di lantai dua bangunan kantor pengawas lapangan, mengamati kemajuan proyek dengan senyum puas.
Arka berdiri tepat di sampingnya, memegang dua botol air mineral.
"Proyek ini berjalan dua kali lebih cepat dari perkiraan awal, Arka," ujar Maya gembira seraya menerima botol air dari suaminya. "Jika ritme ini bertahan, bulan depan kita sudah bisa memulai pemancangan tiang utama."
"Itu semua karena kepemimpinanmu yang luar biasa, Maya," puji Arka lembut.
Namun, tepat saat Maya hendak meminum airnya, suara gemuruh angin yang sangat kencang mendadak melintas di atas langit lokasi proyek.
tiga buah helikopter tempur tanpa tanda pengenal melaju rendah melintasi batas udara area konstruksi!
Vroooam!
Para pekerja bangunan di bawah seketika berhamburan panik tatkala melihat pintu samping helikopter tersebut terbuka, memperlihatkan belasan pria berseragam taktis hitam dengan senjata laras panjang otomatis siap tembak!
Maya membelalakkan matanya dengan napas menegang. "Ar... Arka! Helikopter apa itu?!"
Arka menyipitkan matanya rapat rapat. Iris matanya seketika memancarkan aura membunuh yang teramat pekat. Pria itu menarik tubuh Maya rapat ke dalam pelukannya, memblokir tubuh istrinya dari jendela kaca.
"Pasukan tentara bayaran asing," bisik Arka dingin. "Surya Wijaya dan sekutunya benar benar menghantar nyawa mereka sendiri."
itu.