Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi di Tepi Pantai dan Bintang Laut Hitam
Sinar matahari pagi memantul berkilauan di atas permukaan laut Azure Bay. Gulungan ombak kecil membasahi pasir putih yang bersih, membawa aroma garam yang menyegarkan.
Di teras vila pribadi mereka, Chiko duduk bersantai dengan kemeja pantai bermotif daun kelapa dan celana pendek. Ia sibuk mengoleskan tabur surya ke lengannya sambil menguap kecil. Di balik kacamata tebalnya, Lensa Pintar Chiko terus memperbarui status keamanan area Azure Bay:
[Status Keamanan: 2 Perahu Perompak Semalam Telah Diamankan Oleh Kepolisian Air.]
[Area Resort: Clean. Tidak Terdeteksi Sinyal Musuh Baru.]
Chiko tersenyum lega. Ia mematikan tampilan retina itu saat melihat Mila keluar dari dalam vila. Mila tampak begitu memesona dengan gaun pantai berwarna putih gading dan topi jerami lebar. Di tangannya, Mila membawa nampan berisi sandwich daging asap dan buah-buahan segar.
"Papa, ini sarapannya," kata Mila lembut, meletakkan nampan di atas meja kayu teras. "Lala mana, Papa?"
"Lala sedang bermain pasir di pinggir pantai bersama boneka pandanya, Bunda," jawab Chiko hangat seraya menunjuk ke arah pantai.
Beberapa meter dari teras, Lala sedang berjongkok manis di atas pasir. Bando telinga pandanya sesekali bergoyang diterpa angin laut. Di sampingnya, kotak pensil panda raksasanya terbuka sedikit, memancarkan gelombang pindaian mikro ke dalam pasir.
‘Hmm... Pasir pantai ini hangat sekali,’ batin Lala gembira sambil membuat istana pasir berbentuk panda.
Tiba-tiba, cetok plastik kecil Lala membentur sesuatu yang keras di balik pasir basah.
KLINK.
Lala berkedip, lalu mengeruk pasir di sekitarnya. Di balik tumpukan pasir, tersembunyi sebuah benda logam berbentuk bintang laut berwarna hitam legam dengan logo mengkilap di tengahnya: Bintang Laut Kuantum - Alat Perekam Suara & Pelacak Militer.
Mata bulat Lala menyipit tipis. Sensor di jam tangan Hello Panda-nya langsung mengenali barang tersebut.
‘Aisssh... Alat penyadap milik siapa ini?’ batin Lala heran. ‘Apa Paman Perompak semalam sempat menanam penyadap di pantai sebelum perahunya tenggelam?’
Lala menekan logo di tengah bintang laut logam itu secara perlahan.
BZZZT.
Sebuah suara transmisi radio yang agak terdistorsi keluar sangat halus dari speaker mikro alat tersebut, hanya bisa didengar oleh Lala melalui earpiece bando pandanya:
"Panggilan untuk Tim Alpha... Alat penyadap pesisir telah diaktifkan. Kami akan memantau seluruh pembicaraan target di Azure Bay Resort..."
Lala menyunggingkan senyuman paling cerdik dan menggemaskan.
‘Oho... Masih ada teman-teman Paman Perompak yang mau mengintai keluarga kita ya?’ batin Lala tertawa riang di dalam hati. ‘Bagus! Waktunya Lala beri hadiah kejutan untuk radio pemantau mereka!’
Lala mengetuk telinga pandanya dua kali. Ia tidak menghancurkan alat penyadap itu, melainkan meretas frekuensi pemancarnya menggunakan teknologi dari kotak pensil pandanya.
Lala mengubah jalur keluaran audio penyadap tersebut, menghubungkannya langsung ke mikrofon utama di bando pandanya.
Lala kemudian mendekatkan mulut kecilnya ke bintang laut hitam itu, lalu bernyanyi dengan suara anak-anaknya yang sangat nyaring dan imut:
"BALONKU ADA LIMA~ RUPA-RUPA WARNANYA~ HIJAU, KUNING, KELABU~ MELETUS BALON HIJAU... BAAAAAMM!!"
BZZZZZZZT—BOOM!
Di sebuah markas tersembunyi berjarak lima kilometer dari pantai, tiga agen pengintai musuh yang sedang memakai headset canggih untuk mendengarkan penyadapan mendadak menjerit histeris! Tembakan frekuensi suara sonik tinggi dari nyanyian Lala merusak earpiece mereka dan membuat sirkuit radio pemantau musuh meledak mengeluarkan asap!
"ARGGGHH! TELINGAKU!" teriak pimpinan pengintai sambil melepas headset-nya yang terbakar. "Sinyal apa itu tadi?! Kenapa ada suara bocah bernyanyi dengan frekuensi menghancurkan sirkuit?!"
Di tepi pantai, Lala menimbun kembali bintang laut logam yang sudah korslet itu dengan pasir, lalu menepuk-nepuk tangannya yang kotor. Puk-puk-puk.
"Selesai! Sekarang radio Paman-Paman penyadap sudah rusak!" gumam Lala puas seraya berdiri.
Dari arah teras, Chiko dan Mila melambaikan tangan memanggil Lala.
"Lala Sayang! Ayo sarapan dulu! Nanti es krim kelapanya meleleh!" panggil Mila dengan suara merdu.
"Iya, Pahlawan Panda! Papa sudah siapkan es krim rasa cokelat dan keju!" tambah Chiko riang.
Lala berlari kecil menerjang pasir, melompat gembira ke arah Papa dan Bundanya.
"Datang, Papa! Bunda!" seru Lala manis, langsung masuk ke dalam pelukan hangat Chiko dan Mila.
Chiko memangku Lala, sementara Mila menyuapkan sepotong buah segar ke mulut putri kecil mereka. Di bawah naungan langit biru Azure Bay yang indah, Keluarga Leonhart menikmati momen liburan mereka dengan gelak tawa dan kehangatan yang tak ternilai.
Bagi dunia luar, mereka mungkin terlihat seperti keluarga kecil biasa yang sedang berlibur. Namun bagi siapa pun yang berani mengganggu kedamaian mereka, Keluarga Leonhart adalah perpaduan antara kekuatan siber terkuat, faksi mafia paling mematikan, dan bocah genius paling tak terkalahkan di muka bumi.
-----
Siang hari di Azure Bay ditutup dengan tiupan angin laut yang berhembus makin kencang. Di dalam vila pribadi yang sejuk, Lala tertidur lelap di sofa empuk dengan selimut tipis menyelimuti tubuhnya. Boneka panda kesayangannya dipeluk erat, sementara bando pandanya tergeletak tenang di atas meja kopi.
Di area teras depan yang menghadap langsung ke pantai, Chiko dan Mila berdiri bersisian. Keduanya menatap hamparan laut lepas yang perlahan berubah warna menjadi keemasan disiram sinar matahari sore.
Chiko membetulkan kacamata tebalnya, pura-pura meregangkan otot bahunya yang kaku. "Aduh, Bunda... udara laut memang bikin segar, tapi rasanya Papa makin kangen suasana rumah di nomor 12B, ya?"
Mila tersenyum sangat manis, melingkarkan tangannya di lengan Chiko dengan lembut. "Sama, Papa. Rasanya tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah kita sendiri. Lagi pula, besok kan Papa sudah harus kembali ke kantor kearsipan, dan Lala harus sekolah."
Namun, di balik kehangatan obrolan itu, kedua pimpinan dunia bawah tanah dan siber tersebut sedang menerima transmisi darurat yang sama secara tersembunyi.
Melalui Lensa Pintar di kacamatanya, Chiko membaca deretan kode merah yang dikirimkan oleh Rendy dari server pusat Leonhart Enterprises:
[Laporan Intelijen Siber: Sisa-sisa sindikat 'Black Kraken' di wilayah pesisir internasional telah terdeteksi hancur total.]
[Penyebab: Peretasan frekuensi lokal dan kegagalan sirkuit komunikasi massal dua jam lalu.]
Chiko menahan senyum tipis di balik raut wajah lugunya. ‘Sisa-sisa perompak yang mencoba memasang penyadap di pantai tadi pagi... langsung korslet total hanya karena mencoba meretas area tempat tinggal keluarga saya,’ batin Chiko bangga luar biasa atas sistem perisai siber otomatis miliknya.
Di saat bersamaan, jarum jam tangan Mila bergetar sangat halus dalam pola tiga kali getaran singkat—kode sandi darurat dari faksi Black Crimson.
Sambil pura-pura memijat pelipisnya karena silau matahari, Mila membaca pesan mikro di layar sensor tasnya:
[Laporan Khusus Viper: Sisa-sisa anggota perompak pesisir di markas rahasia lima kilometer dari pantai dilaporkan mengalami kebingungan massal akibat ledakan sirkuit audio. Seluruh aset mereka telah dilikuidasi oleh tim pembersih.]
Mila menyipitkan mata anggunnya seraya menahan tawa dingin. ‘Pengintai amatir... Mereka pikir mereka bisa mengintai keluarga Leonhart tanpa menerima balasannya?’ batin Mila puas.
Keduanya saling melirik dari sudut mata, lalu dengan cepat kembali tersenyum hangat dan lugu saat mendengar suara geliatan halus dari arah sofa.
"Papa... Bunda..." panggil Lala dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur.
Chiko dan Mila spontan berbalik bersamaan, melangkah cepat menghampiri putri kecil mereka.
"Iya, Lala Sayang? Sudah bangun?" tanya Mila lembut sambil mengelus dahi Lala.
"Ayo, Pahlawan Panda! Kita kemasi mainan dan siap-siap pulang ke rumah," ajak Chiko hangat sambil menggendong Lala ke dalam pelukannya.
Lala mengucek matanya yang bulat, lalu tersenyum sangat manis sambil memeluk leher Papanya.
"Horeee! Pulang ke rumah nomor 12B!" seru Lala riang.
Di balik pelukan hangat Papa dan Bundanya, Lala melirik bando pandanya yang berkedip halus di meja kopi.
‘Paman-paman perompak sudah dibereskan, radio penyadap sudah meledak pakai lagu Balonku Ada Lima, dan sekarang waktunya pulang makan masakan Bunda!’ batin Lala tertawa riang di dalam hati.
Malam harinya, mobil sedan hitam milik keluarga Leonhart kembali membelah jalanan perumahan Griya Indah Permai yang tenang. Pagar besi rumah nomor 12B terbuka mulus saat Chiko memarkirkan mobilnya di garasi.
Bau wangi rumput malam dan kehangatan rumah yang familier menyambut kedatangan mereka. Bagi Chiko, Mila, dan Lala, tidak ada vila mewah atau resort berbintang yang sanggup menandingi kenyamanan rumah kecil ini.
Setelah menurunkan koper dan memastikan seluruh pintu serta jendela terkunci rapat (tentu saja lengkap dengan sistem pertahanan siber Chiko dan perangkap taktis Mila yang kembali diaktifkan), mereka bertiga duduk bersama di ruang tengah.
Mila menyajikan secangkir teh hangat untuk Chiko dan segelas susu cokelat hangat untuk Lala.
"Terima kasih, Bunda," ucap Chiko tulus, memegang jemari tangan Mila yang lembut di atas meja.
"Sama-sama, Papa," balas Mila manis, memberikan tatapan penuh kasih sayang yang hangat.
Lala menyeruput susu cokelatnya sampai menyisakan bintik putih di atas bibir mungilnya. Puk-puk-puk.
"Papa! Bunda! Liburan kemarin seru sekali ya!" kata Lala polos dengan mata berbinar. "Tapi Lala paling suka saat kita bertiga kumpul begini di rumah!"
Chiko dan Mila saling pandang, lalu terkekeh renyah bersamaan. Chiko merangkul bahu Mila, sementara Mila menyandarkan kepalanya di bahu Chiko, dan keduanya memeluk Lala di tengah-tengah mereka.
Di balik gaun rumah tangga yang sederhana, kemeja kantor yang biasa, dan ransel panda yang menggemaskan, mereka adalah Keluarga Leonhart.
Bersambung..