Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Curhat ke Yuni
Sekar
Dua hari setelah kejadian di rumah Bu Tumi, aku membawa kantong belanja ke kos Yuni dan menangis sebelum sempat duduk.
Yuni mengambil kantong dari tanganku, mengunci pintu, lalu memelukku tanpa bertanya. Kamar kosnya hanya cukup untuk kasur tipis, lemari plastik, dan meja kecil dengan kompor listrik. Di tempat sempit itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu aku tidak perlu menjaga wajah.
"Keluarkan semua," katanya. "Kalau mau nangis, nangis. Kalau mau maki orang, aku sediakan daftar nama."
Aku tertawa di sela isak. "Kau selalu begitu."
"Karena hidup sudah susah. Teman jangan ikut bikin susah."
Dia memberiku air putih dan duduk bersila di kasur. Aku menceritakan pertemuan dengan Fajar, pertanyaan Bu Yanti, serta kalimat bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Lalu kuceritakan Den Nara datang ke gang, membelaku, dan berkata aku bukan untuk mereka.
Yuni yang semula marah mendadak menyipitkan mata.
"Ulangi bagian terakhir."
"Tidak ada yang perlu diulang."
"Den Nara bilang apa?"
"Dia bukan untuk kalian."
"Dia? Maksudnya kau?"
"Jangan senyum begitu. Den hanya membela."
"Lalu menghapus air matamu juga bagian kontrak kerja?"
Pipiku panas. "Aku sedang sedih."
"Justru. Lelaki itu datang ketika kau ditemui calon, marah pada keluarganya, mengusir mereka, lalu mengusap air mata. Kalau ini sinetron, musiknya sudah naik."
Aku melempar bantal kecil. Yuni menangkapnya sambil tertawa.
Tawa itu tidak menghapus masalah, tetapi membuatnya terasa bisa dibawa bersama orang lain.
"Kami belum punya hubungan apa pun," kataku setelah tenang. "Itu yang membuatku takut. Semua orang bisa menuduh, tapi aku tidak punya nama untuk membela diri."
"Kau ingin dia memberi nama?"
Aku memandang jendela kecil. "Aku ingin hidupku tidak bergantung pada apa pun yang dia putuskan. Kalau suatu hari dia memilih keluarga, pekerjaan, atau perempuan yang sepadan, aku harus tetap bisa berdiri."
Yuni mengangguk. Kali ini dia tidak bercanda.
"Benar. Cinta boleh, tapi uang makan jangan ditaruh di saku lelaki."
"Aku belum bilang cinta."
"Aku juga belum bilang nama siapa."
Aku menutup wajah dengan bantal. Dia tertawa lagi, lalu menuangkan teh hangat.
Kami membicarakan tahun-tahun bekerja sebagai ART. Yuni pernah dimarahi karena memecahkan gelas yang sudah retak. Aku pernah tidak dibayar penuh karena majikan lama menganggap makan dan tempat tidur bagian dari gaji. Kami pernah menertawakan semuanya agar tidak menangis.
Yuni bercerita tentang majikan pertamanya yang menyimpan kunci kulkas, lalu menuduh pekerja mencuri susu setiap kali isinya berkurang. Aku menceritakan bagaimana dulu aku tidur di gudang dekat kandang ayam dan tetap dipanggil malas ketika sakit. Cerita kami saling menimpa sampai akhirnya kami tertawa begitu keras sehingga penghuni kamar sebelah mengetuk dinding.
"Maaf!" teriak Yuni, lalu berbisik kepadaku, "Kalau kita punya usaha, syarat pertama: tidak boleh pelit makan pekerja."
"Syarat kedua: gaji harus jelas tanggalnya."
"Syarat ketiga: gelas retak dibuang, bukan ditagihkan."
Kami menuliskan tiga aturan itu di bawah daftar modal. Tampak konyol, tetapi bagiku aturan tersebut adalah bentuk rumah kerja yang belum pernah kami miliki.
"Kita capek-capek tetap diinjak," kata Yuni. "Kalau begini terus, umur empat puluh kita masih minta izin untuk pulang melihat orang sakit."
"Lalu mau bagaimana?"
Dia menarik kotak biskuit dari bawah meja. Di dalamnya ada uang yang dilipat rapi dan buku tabungan.
"Aku kumpulkan hampir enam juta."
Aku terkejut. "Sejak kapan?"
"Dua tahun. Sedikit-sedikit. Tadinya mau beli motor bekas, tapi aku kepikiran jualan."
"Jual apa?"
"Pakaian rumahan. Daster, mukena sederhana, mungkin baju anak. Aku punya sepupu yang bisa jahit. Kau teliti menghitung, meski harus belajar lagi."
Aku teringat percakapan dengan Fajar tentang pasar pakaian dan pembukuan. Kali ini gagasan itu datang dari kami sendiri, bukan sebagai jalan untuk menjadi istri seseorang.
"Tabunganku baru dua juta lebih," kataku.
"Tidak harus langsung sewa toko. Mulai dari sepuluh potong. Foto pakai ponsel, jual lewat WhatsApp."
"Kita masih bekerja."
"Malam kita urus pesanan. Libur kita cari bahan. Kalau laku, tambah."
Yuni mengambil kertas bekas tagihan listrik dan membaliknya. Kami menulis kebutuhan: bahan, ongkos jahit, kemasan, transportasi, kuota internet. Angkanya kecil dibanding bisnis keluarga Adiwijaya, tetapi setiap baris membuat dadaku berdebar.
Yuni membuka ponsel dan memperlihatkan beberapa akun penjual. Kami membandingkan foto yang terang dan foto yang menipu warna. Aku mencatat ukuran harus ditulis lengkap agar pembeli tidak merasa dipermainkan. Yuni mengusulkan sistem pre-order untuk mengurangi stok, sementara aku khawatir pelanggan tidak mau menunggu.
"Kita tes lima model dulu," kataku. "Masing-masing dua potong."
"Kalau semuanya tidak laku?"
"Kita pakai sendiri sampai tua."
Yuni menatap motif bunga yang sangat ramai di layar. "Kalau yang itu tidak laku, kuberikan ke orang yang pernah menahan gajiku."
Kami tertawa lagi. Di sela gurauan, rencana kami mulai punya bentuk: siapa menghubungi penjahit, siapa mencatat uang, di mana barang disimpan, dan bagaimana menjawab pelanggan ketika kami sedang bekerja.
Aku sadar belajar bukan hanya duduk membaca buku. Malam ini kami belajar membayangkan risiko tanpa langsung menyerah kepadanya.
"Kita butuh nama," kata Yuni.
"Belum sekarang."
"Kenapa?"
"Aku ingin belajar dulu. Jangan sampai nama bagus, hitungan berantakan."
"Baik, Bu Direktur."
Aku mencubit lengannya. "Jangan mengejek."
"Aku serius. Daripada terus melihat muka orang, lebih baik kita usaha sendiri."
Kalimat itu membuat kamar kecil seakan mempunyai jendela baru. Aku membayangkan meja lipat berisi kain, pesanan pertama, uang hasil kerja yang tidak bisa ditarik hanya karena seseorang marah kepadaku.
Harapan itu menakutkan. Ia juga terasa sangat hidup.
Kami menghitung sampai azan Magrib terdengar. Yuni melipat kertas rencana dan memberikannya kepadaku.
Sebelum pulang, kami membagi tugas pertama. Yuni akan meminta contoh jahitan dari sepupunya. Aku akan mencatat harga bahan dari pasar dan belajar memakai tabel sederhana di ponsel. Tidak ada janji muluk. Hanya dua tugas yang bisa kami selesaikan sebelum libur berikutnya.
"Simpan. Kau yang paling rapi."
"Kalau gagal?"
"Kita hitung kenapa gagal, lalu coba lagi."
Aku duduk di sampingnya dekat jendela. Di luar, lampu kos satu per satu menyala. Tidak ada marmer, pendingin udara, atau pagar tinggi. Hanya suara orang memasak dan anak kecil berlari di lorong.
Kertas lusuh itu kami pegang bergantian, seolah daftar kecil tersebut menjadi kunci pertama yang sepenuhnya kami buat dengan tangan sendiri berdua.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak tampak seperti pintu yang harus dibukakan orang lain. Ia tampak seperti daftar sederhana di atas kertas yang bisa kami kerjakan baris demi baris.